
<p><strong>Baca penjelasan sebelumnya pada artikel <a href="https://muslim.or.id/74281-ya-allah-aku-tidak-kuasa-menjalani-ramadhan-tanpa-pertolongan-mu-bag-1.html">Ya Allah, Aku Tidak Kuasa Menjalani Ramadan tanpa Pertolongan-Mu (Bag. 1)</a>.</strong></p>
<p><em>Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.</em></p>

<h2><strong>Resep apakah untuk bisa mendapatkan pertolongan Allah dalam menjalankan ibadah pada bulan Ramadan? (lanjutan)</strong></h2>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><strong>Prinsip kedua: menghayati nama Allah <em>Al-Qoyyuum</em> dan sifat-Nya <em>Al-Qoyyuumiyyah</em></strong></span></h3>
<p><em>Al-Qoyyuum</em> adalah salah satu nama Allah yang <em>husna</em> (terindah). Ibnul Qoyyim <em>Rahimahullah </em>menjelaskan kesimpulan makna <em>Al-Qoyyuum</em> yang mengandung dua makna pokok, yaitu:</p>
<p><strong>1) Yang Maha mandiri,</strong> sehingga tidak membutuhkan kepada sesuatu apapun dan tidak butuh kepada selain-Nya. Hal ini berarti nama Allah <em>Al-Qayyuum</em> mengandung sifat kaya yang sempurna. Allah tidak membutuhkan seluruh makhluk-Nya.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> tidak membutuhkan kita dalam mengurus seluruh makhluk-Nya. Allah <em>Ta’ala</em> tidak membutuhkan ketaatan dan ibadah kita. Ketaatan kita tidak bermanfaat bagi Allah <em>Ta’ala</em> dan kemaksiatan hamba juga tidak membahayakan bagi Allah <em>Ta’ala</em> sedikit pun.</p>
<p><strong>2) Yang Maha mengurus segala sesuatu,</strong> sehingga semuanya membutuhkan kepada-Nya. Tidak ada satu pun di antara makhluk-Nya dapat bertahan di muka bumi kecuali diurus dan dipelihara oleh-Nya. Tiada satupun hamba-Nya dapat taat kepada-Nya, melaksanakan perintah-Nya, dan menghindari larangan-Nya kecuali dengan pertolongan Allah <em>Ta’ala</em>.</p>
<p>Hal ini menunjukkan kemahakuasaan Allah <em>Ta’ala</em>. Nama Allah <em>Al-Qayyuum</em> juga mengandung sifat kuasa yang sempurna. Dengan demikian, <em>Al-Qoyyuum</em> bermakna yang Maha mandiri lagi Maha mengurus segala sesuatu.</p>
<p><em>Al-Qoyyuum</em> termasuk <em>Al-Asma’ul Husna</em>. Sedangkan Allah <em>Ta’ala</em> memerintahkan kita untuk berdoa kepada Allah dengan <em>Asma’ul Husna</em>. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَا</span></p>
<p><em>“Dan hanya milik Allah-lah Al-Asma’ul Husna (nama-nama yang terindah), maka berdoalah kepada-Nya dengan Al-Asma’ul Husna tersebut”</em> (QS. Al-A’raf: 180).</p>
<p>Selain berdoa dengan menyebut nama Allah <em>Ta’ala</em> yang sesuai dengan isi doa, kita juga harus beribadah dengan melaksanakan tuntutan ibadah yang terkandung dalam nama <em>Al-Qoyyuum</em>. Setiap nama dan sifat Allah <em>Ta’ala</em> mengandung tuntutan ibadah kepada Allah <em>Ta’ala</em> semata.</p>
<p>Oleh karena itu, Ibnul Qoyyim <em>Rahimahullah</em> menyatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وأكمل الناس عبودية المتعبد بجميع الأسماء والصفات التي يطلع عليها البشر</span></p>
<p>“Manusia yang paling sempurna ibadahnya adalah orang yang beribadah dengan melaksanakan tuntutan peribadahan dari seluruh nama dan sifat Allah yang diketahui oleh manusia.”</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong><a href="https://muslim.or.id/56390-bertekad-kuat-mengkhatamkan-al-quran-selama-ramadhan.html">Bertekad Kuat Mengkhatamkan Al-Quran Selama Ramadhan</a></strong></p>
<h4><strong>Tuntutan peribadatan apa yang terkandung dalam nama <em>Al-Qoyyuum</em>?</strong></h4>
<p>Tuntutannya adalah seorang hamba meyakini kemahamandirian-Nya, kemahakayaan-Nya, kemahakuasaan-Nya, dan kemahapengurusan-Nya terhadap segala sesuatu. Dengan demikian, hal tersebut melahirkan sikap selalu membutuhkan-Nya dan berusaha meraih segala kebaikan dengan maksimal disertai menyandarkan hatinya kepada Allah semata. Selain itu, selalu berusaha memohon pertolongan kepada-Nya semata dan tidak bergantung kepada dirinya sendiri. Tidak pula bergantung kepada seluruh makhluk. Buah dari hal tersebut adalah ia tidak merasa besar di sisi Allah, memandang dirinya tidak memiliki kekuatan sama sekali kecuali dengan pertolongan Allah, dan tidak membangga-banggakan dirinya sendiri.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Prinsip ketiga: </strong><strong>Islam itu agama mudah, tapi ketaatan itu berat jika bukan karena Allah yang memudahkan</strong></span></h2>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">اِنَّا سَنُلْقِيْ عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيْلًا</span></p>
<p><em>“Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu”</em> (QS. Al-Muzzammil: 5).</p>
<p>Ulama <em>tabi’in</em>, Al-Hasan Al-Bashri dan Qotadah <em>Rahimahumallah </em>menyatakan bahwa maksud ayat ini adalah Al-Qur’an itu berat pengamalannya. Sebagaimana ditafsirkan oleh ulama tafsir Muqotil dan Qotadah<em> Rahimahumallah</em> dalam ucapan yang lain bahwa kewajiban, perintah, dan larangan, serta batasan syariat yang ada dalam Al-Qur’an itu berat pengamalannya.</p>
<p>Memang syariat Islam ini mudah. Namun berat diamalkan jika bukan Allah <em>Ta’ala</em> yang memudahkan. Oleh karena itu, jangan sombong dan merasa seolah-olah pasti bisa beribadah dengan baik pada bulan Ramadan. Allah <em>Ta’ala</em> akan memudahkan pengamalan Islam ini pada bulan Ramadan dan pada bulan selainnya bagi orang yang mendapatkan taufik-Nya. Orang yang mendapatkan taufik adalah orang yang bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah <em>Ta’ala</em> semata sembari bertawakal kepada-Nya dan memohon pertolongan kepada-Nya semata.</p>
<p>Mari kita renungkan beberapa contoh sikap Rasulullah<em> Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> yang menunjukkan bahwa beliau akan berat mengamalkan ketaatan, jika tidak Allah mudahkan. Bahkan beliau menunjukkan sikap mustahil melakukannya tanpa pertolongan dari Allah <em>Ta’ala</em>. Padahal beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> adalah utusan Allah yang terbaik. Rasulullah Muhammad bin Abdillah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> adalah manusia yang paling paham ilmu syariat, paling sempurna amal salehnya, dan paling bertakwa kepada Allah <em>Ta’ala</em>.</p>
<p>Al-Bara’ bin ‘Aazib<em> Radhiyallahu ‘anhu </em>meriwayatkan, “Dahulu Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> pada perang Ahzab ikut serta memindahkan tanah galian Khandaq bersama kami. Bahkan tanah tersebut sampai menutupi kulit putih perut beliau. Beliau melantunkan syair,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَاللَّهِ لَوْلَا أَنْتَ ما اهْتَدَيْنَا… وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا فَأَنْزِلَنْ سَكِينَةً عَلَيْنَا</span></p>
<p><em>‘Demi Allah, kalaulah bukan karena Engkau (Ya Allah), tentulah kami tidak akan mendapatkan hidayah # Dan kami tidak bisa bersedekah, dan kami tidak pula bisa menunaikan salat. Maka sungguh turunkanlah kepada kami ketenangan’</em> (HR. Bukhari dan Muslim).”</p>
<p>Oleh karena itu, Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam </em>berwasiat kepada Mu’adz bin Jabal <em>Radhiyallahu ‘anhu</em> agar selalu meminta pertolongan kepada Allah pada setiap salatnya. Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">يا مُعاذُ، واللَّهِ إنِّي لأحبُّكَ، واللَّهِ إنِّي لأحبُّك</span></p>
<p><em>“Wahai Mu’adz, </em><em>Demi Allah, sesungguhnya benar-benar saya mencintaimu. Demi Allah, sesungguhnya benar-benar saya mencintaimu!”</em></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong><a href="https://muslim.or.id/56316-perbanyak-baca-al-quran-di-saat-wabah-dan-bulan-ramadhan.html">Perbanyak Baca Al-Quran Di Saat Wabah dan Bulan Ramadhan </a></strong></p>
<p>Lalu beliau bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أوصيكَ يا معاذُ لا تدَعنَّ في دُبُر كلِّ صلاةٍ تقولُ: اللَّهمَّ أعنِّي على ذِكْرِكَ، وشُكْرِكَ، وحُسنِ عبادتِكَ</span></p>
<p><em>“Saya wasiatkan kepadamu wahai Mu’adz, janganlah sekali-kali Engkau tinggalkan di akhir setiap salat, sebuah doa, ‘Ya Allah, tolonglah aku dalam mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu (dengan baik)’”</em> (HR. Abu Dawud, sahih).</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bukan saja memohon pertolongan untuk bisa beribadah kepada Allah dan beramal saleh, namun -dalam hadis yang lain- beliau juga berdoa memohon perlindungan kepada Allah dari berbuat buruk dan berbagai macam dosa serta mengikuti hawa nafsu yang tercela. Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">اللَّهمَّ إنِّي أعوذُ بِكَ من منكراتِ الأَخلاقِ والأعمالِ والأَهْواءِ</span></p>
<p><em>“Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung kepada-Mu dari akhlak batin yang mungkar, amal zahir yang mungkar, dan hawa nafsu yang mungkar” </em>(HR. At-Tirmidzi, sahih).</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam </em>memohon perlindungan kepada Allah dari segala kemungkaran, terkait dengan akhlak batin, amal zahir, dan hawa nafsu. Akhlak batin yang mungkar misalnya hasad, sombong, buruk sangka kepada saudaranya yang beriman, dan yang semisalnya. Amal zahir yang mungkar misalnya mencela, menuduh tanpa bukti, zina, membunuh, zalim, dan lainnya. Sedangkan hawa nafsu yang mungkar yakni seluruh sikap mengikuti hawa nafsu yang dibenci oleh Allah dan diingkari pelakunya.</p>
<p>Dalam hadis lainnya, Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> mengkhawatirkan terkena tipu daya setan yang menyesatkan manusia dari jalan Allah. Tipu daya setan terbagi menjadi dua, yaitu:</p>
<p><strong>1) Mengikuti syubhat,</strong> yang menjerumuskan kepada kekafiran atau bid’ah dan merusak kekuatan ilmiyyah hati.</p>
<p><strong>2) Mengikuti syahwat,</strong> yang menjerumuskan kepada dosa besar maupun kecil, terutama syahwat perut dan kemaluan. Keduanya adalah pokok syahwat dan merusak kekuatan kehendak baik hati yang membuahkan amal saleh.</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إن مما أخشى عليكم شهوات الغي في بطونكم وفروجكم ومضلات الهوى</span></p>
<p><em>“Sesungguhnya termasuk perkara yang aku khawatirkan atas diri kalian adalah syahwat yang menyimpang pada perut dan kemaluan kalian, serta hawa nafsu yang menyesatkan.”</em></p>
<p>Di antara bentuk ketergantungan Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> kepada Allah semata adalah Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> pernah berdoa,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنا على طاعَتِكَ</span></p>
<p><em>“Ya Allah, sang pengatur hati, arahkan hati kami kepada ketaatan kepada-Mu” </em>(HR. Muslim).</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam </em>memohon kepada Allah yang Maha mengatur hati manusia agar mengarahkan hati beliau kepada segala bentuk ketaatan kepada Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan, zahir maupun batin, yang dicintai oleh Allah <em>Ta’ala</em>.</p>
<p>Bahkan untuk urusan hati, Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> tetap berdoa agar ditetapkan di atas agama Islam. Ini pun beliau sering berdoa kepada Allah agar menetapkan hati beliau di atas agama-Nya.</p>
<p>Syahr bin Hausyab <em>Radhiyallahu ‘anhu </em>bertanya kepada Ummu Salamah, “Wahai Ummu Mukminin, apakah doa yang paling banyak diucapkan oleh Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> saat berada disisimu?”</p>
<p>Ummu Salamah <em>Radhiyallahu ‘anha </em>berkata, “Dahulu doa yang paling banyak beliau ucapkan adalah,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">يا مُقلِّبَ القلوبِ ثبِّت قلبي على دينِكَ</span></p>
<p><em>‘Wahai Sang Pembolak balik hati </em><strong>[1],</strong><em> tetapkan hatiku di atas agama-Mu.'”</em></p>
<p>Ummu Salamah berkata, “Saya bertanya, ‘Wahai Rasulullah mengapa doa yang paling banyak Engkau ucapkan adalah <em>Ya Muqallibal Quluub, tsabbit qalbi ‘ala diinika</em>?'”</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">يا أمَّ سلمةَ إنَّهُ لَيسَ آدميٌّ إلّا وقلبُهُ بينَ أصبُعَيْنِ من أصابعِ اللَّهِ، فمَن شاءَ أقامَ، ومن شاءَ أزاغَ</span></p>
<p><em>‘Wahai Ummu Salamah, sesungguhnya tidak ada seorang manusia pun kecuali hatinya berada di antara dua jari dari jari jemari Allah. Barang siapa yang Allah kehendaki (kebaikan), niscaya Allah akan menegakkan hati tersebut. Sedangkan barang siapa yang Allah kehendaki (keburukan), niscaya Allah akan menyimpangkannya.'”</em></p>
<p>Lalu Mu’adz pun membaca doa,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنا</span></p>
<p><em>“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau simpangkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk kami” </em>(HR. At-Tirmidzi, sahih).</p>
<p>Ash-Shan’ani <em>Rahimahullah</em> menyatakan bahwa hati itu menyimpan rahasia-rahasia. Tidak ada yang mengetahui semuanya kecuali Allah semata. Oleh karena itu, selagi masih hidup, janganlah kita merasa aman dari fitnah syubhat maupun syahwat. Sesungguhnya rahasia hati itu akan muncul tandanya di akhir hayat kita.</p>
<p>Apabila Allah mengetahui apa yang tersimpan di hati seorang hamba adalah kelurusan niat dan kejujuran hati, maka Allah akan tutup akhir hayatnya <em>husnul khatimah</em> dengan Allah beri taufik untuk beramal saleh di akhir hayatnya. Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إنَّما الأعْمالُ بالخَواتِيمِ</span></p>
<p><em>“Sesungguhnya amal itu ditentukan di akhir hayat seseorang</em>” (HR. Bukhari).</p>
<p>Maksudnya, sesungguhnya amal seorang hamba di akhir hayatnya itu lebih berhak dan inilah yang jadi patokan penilaian. Barang siapa yang beralih dari amal keburukan, meninggalkannya, dan beralih kepada ketaatan di akhir hayatnya, berarti dia sudah bertaubat. Barang siapa yang beralih dari ketaatan kepada keburukan di akhir hayatnya, maka dia <em>su’ul khatimah</em>. Dan barang siapa yang beralih dari keimanan kepada kekafiran, maka berarti ia murtad. <em>Wal’iyaadzu billah.</em></p>
<p>Al-Baji <em>Rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">لا عليكم أن لا تعجبوا بعمل أحد حتى تنظروا بم يختم له</span></p>
<p>“Tidak masalah bagi kalian untuk tidak kagum pada amalan seseorang sampai kalian melihat amal akhir hayatnya.”</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong><a href="https://muslim.or.id/47161-semoga-kita-diampuni-selama-ramadhan.html">Semoga Kita Diampuni Selama Ramadhan</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kesimpulan</strong></span></h2>
<p>Sebagaimana yang disampaikan Ibnu Rajab dalam <em>Jami’ul Ulum wal Hikam</em> bahwa seorang hamba butuh untuk terus memohon pertolongan kepada Allah <em>Ta’ala</em> dalam setiap melakukan perintah dan meninggalkan larangan. Begitu pun terus memohon dalam setiap sabar terhadap semua takdir, baik di dunia maupun saat menghadapi kengerian di alam <em>barzakh</em> dan hari kiamat.</p>
<p>Tidak ada yang mampu menolong kecuali Allah ‘<em>Azza wa jalla</em>. Barang siapa yang benar-benar memohon pertolongan kepada Allah atas semua hal itu, maka Allah <em>Ta’ala</em> akan menolongnya. Barang siapa yang tidak memohon pertolongan kepada Allah <em>Ta’ala</em> dan justru minta pertolongan kepada selain-Nya, niscaya Allah <em>Ta’ala</em> akan alihkan urusannya kepada selain-Nya. Dengan demikian, ia jadi ditelantarkan dan tidak medapat pertolongan dari Allah <em>Ta’ala</em>.</p>
<p><strong>[Bersambung]</strong></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li class="jeg_post_title"><strong><a href="https://muslim.or.id/47065-tetap-rajin-ibadah-meskipun-di-luar-ramadhan.html">Tetap Rajin Ibadah Meskipun di Luar Ramadhan</a></strong></li>
<li class="jeg_post_title"><strong><a href="https://muslim.or.id/46845-gerakan-membela-ramadhan.html">Gerakan Membela Ramadhan</a></strong></li>
</ul>
<p>***</p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color="">Sa’id Abu Ukkasyah</span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</span></strong></p>
<p> </p>
<p><strong>Catatan Kaki:</strong></p>
<p><strong>[1]</strong>  Allah membolak-balikkan hati hamba-Nya sesuai dengan kehendak, kebijaksanaan dan keadilan serta karunia-Nya antara keimanan dan kekafiran, ketaatan dan kemaksiatan, serta hati-hati dan lalai.</p>
 