
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Tolong jelaskan <em>walimah</em> yang sesuai dan yang tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em><br>
<!--more--><br>
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Walimah-walimah</em> yang disebutkan oleh para ulama di atas, hukum asalnya adalah <em>mubah</em>, karena <em>walimah</em> termasuk urusan keduniaan, yaitu urusan yang biasa dilakukan oleh manusia karena bermanfaat di dunia ini. Karena hukumnya <em>mubah</em>, maka jangan sampai dianggap sunnah, apalagi wajib, sehingga orang yang meninggalkannya dicela. Atau menganggapnya <em>makruh</em> atau haram, sehingga orang yang melakukannya dicela. Kecuali <em>walimah</em> yang diperintahkan atau dianjurkan oleh agama, sehingga menjadi ibadah wajib atau<em> mustahab</em>, atau <em>walimah</em> yang dilarang, sehingga menjadi haram atau <em>makruh</em>.</p>
<p>Di antara walimah yang diperintahkan atau dianjurkan oleh syariat yaitu <em>walimatul ‘ursy</em> (<em>walimah</em> pernikahan) dan <em>walimah aqiqah</em> pada hari ke tujuh kelahiran bayi. Dalilnya adalah sebagai berikut:</p>
<p>Ketika Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengetahui bahwa Abdurrahman bin ‘Auf telah menikah, Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda kepadanya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ</p>
<p>“<em>Buatlah walimah walaupun walimah (sekadar) dengan seekor kambing</em>.” (HR. Bukhari, no. 5167)</p>
<p>Tentang<em> walimah aqiqah</em>, Nabi Muhammad<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">كُلُّ غُلاَمٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى</p>
<p>“<em>Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan (kambing) darinya pada hari ketujuh (dari kelahirannya), dicukur, dan diberi nama</em>.” (HR. Abu Daud, no. 2838; Tirmidzi, no. 1522; Ibnu Majah, no. 3165; dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani)</p>
<p>Di antara<em> walimah</em> yang dilarang syariat, yaitu <em>al-wadhimah </em>(<em>walimah</em> saat tertimpa musibah), seperti: selamatan kematian yang dilakukan oleh banyak umat Islam.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ اَلْبَجَلِي قَالَ كُنَّا نَرَى اْلإِجْتِمَاعِ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَةَ الطَّعَامِ (بَعْدَ دَفْنِهِ) مِنَ النِّيَاحَةِ</p>
<p><em>Dari Jarir bin Abdullah Al-Bajali, dia berkata, “Kami–yakni para sahabat–berpandangan bahwa berkumpul di tempat keluarga mayit dan membuat makanan (setelah penguburan mayit) adalah termasuk meratap</em>.” (HR. Ibnu Majah, no. 1612; dalam kurung tambahan riwayat Ahmad)</p>
<p>Syekh Dr. Shalih bin Ghanim As-Sadlan berkata, “<em>Wadhimah</em>, yaitu makanan kumpulan orang-orang kesusahan (yakni<em> walimah</em> saat musibah), tidak disyariatkan dan tidak disukai.”</p>
<p>Demikian juga,<em> walimah khitan</em>, sebaiknya ditinggalkan. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Dalam <em>Musnad</em> Ahmad, dari hadis Utsman bin Abul ‘Ash, tentang <em>walimah khitan</em> (dinyatakan), ‘Tidak pernah diundang untuknya <em>(walimah khitan</em>).’”</p>
<p>Sumber: Majalah As-Sunnah, Edisi Khusus, Tahun VIII 1425 H/2004 M.<br>
Dengan pengeditan oleh redaksi <a href="www.KonsultasiSyariah.com" target="_self">www.KonsultasiSyariah.com</a></p>
 