
<p>Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya <em>Robbul ‘Alamin.</em> Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi was sallam.</em></p>
<p>Kaum muslimin sepakat bahwa shalat lima waktu harus dikerjakan pada waktunya, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا</span></p>
<p>“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu/wajib yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. [ QS. An Nisa’ (4) : 103]
</p>
<p>Berikut penjelasan waktu-waktu shalat.</p>

<h2>Shalat Zhuhur</h2>
<p>Secara bahasa Zhuhur berarti waktu Zawal yaitu waktu tergelincirnya matahari (waktu matahari bergeser dari tengah-tengah langit) menuju arah tenggelamnya (barat).</p>
<p>Sholat zhuhur adalah sholat yang dikerjakan ketika waktu zhuhur telah masuk. Sholat zhuhur disebut juga sholat Al Uulaa (<strong>الأُوْلَى</strong>) karena sholat yang pertama kali dikerjakan Nabi <em>shollallahu ‘alaihi was sallam </em>bersama Jibril <em>‘Alaihis salam</em>. Disebut juga sholat Al Hijriyah (<strong>الحِجْرِيَةُ</strong>) (Berdasarkan hadits riwayat Al Bukhori No. 541).</p>
<h3><strong>Awal Waktu Shalat Zhuhur</strong></h3>
<p>Awal waktu zhuhur adalah ketika matahari telah bergeser dari tengah langit menuju arah tenggelamnya (barat). Hal ini merupakan kesepakatan seluruh kaum muslimin, dalilnya adalah hadits Nabi <em>Shollallahu ‘alaihi was sallam </em>dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr <em>rodhiyallahu ‘anhu,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>وَقْتُ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَ ظِلُّ الرَّجُلِ كَطُولِهِ مَا لَمْ يَحْضُرِ الْعَصْرُ……..</strong></span></p>
<p>“Waktu Sholat Zhuhur adalah ketika telah tergelincir matahari (menuju arah tenggelamnya) hingga bayangan seseorang sebagaimana tingginya selama belum masuk waktu ‘Ashar……….” (HR. Muslim No. 612).</p>
<h3>Akhir Waktu Shalat Zhuhur</h3>
<p>Para ulama bersilisih pendapat mengenai akhir waktu zhuhur namun pendapat yang lebih tepat dan ini adalah pendapat jumhur/mayoritas ulama adalah hingga panjang bayang-bayang seseorang semisal dengan tingginya (masuknya waktu ‘ashar). Dalil pendapat ini adalah hadits Nabi <em>Shollallahu ‘alaihi was sallam </em>dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr <em>rodhiyallahu ‘anhu </em>di atas.</p>
<p>Catatan :</p>
<p>Waktu sholat zhuhur dapat diketahui dengan menghitung waktu yaitu dengan menghitung waktu antara terbitnya matahari hingga tenggelamnya maka waktu zhuhur dapat diketahui dengan membagi duanya.</p>
<h3>Disunnahkan Hukumnya Menyegerakan Sholat Zhuhur di Awal Waktunya</h3>
<p>Hal ini berdasarkan hadits Jabir bin Samuroh <em>rodhiyallahu ‘anhu,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى الظُّهْرَ إِذَا دَحَضَتِ الشَّمْسُ</span></p>
<p>“Nabi Shollallahu ‘alaihi was sallam biasa mengerjakan sholat zhuhur ketika matahari telah tergelincir” (HR. Muslim No. 618).</p>
<h3>Disunnahkan Hukumnya Mengakhirkan Sholat Zhuhur Jika Sangat Panas</h3>
<p>Hal ini berdasarkan hadits Nabi <em>Shollallahu ‘alaihi was sallam</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا اشْتَدَّ الْبَرْدُ بَكَّرَ بِالصَّلاَةِ ، وَإِذَا اشْتَدَّ الْحَرُّ أَبْرَدَ بِالصَّلاَةِ</span></p>
<p>“Nabi Shollallahu ‘alaihi was sallam biasanya jika keadaan sangat dingin beliau menyegerakan sholat dan jika keadaan sangat panas/terik beliau mengakhirkan sholat” (HR. Bukhori No. 906 dan Muslim No. 615).</p>
<p><strong>Batasan</strong> dingin berbeda-beda sesuai keadaan selama tidak terlalu panjang hingga mendekati waktu akhir sholat.</p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/6361-rukun-rukun-shalat.html" target="_blank" rel="noopener">Rukun-Rukun Shalat</a></strong></em></p></blockquote>
<h2>Shalat ‘Ashar</h2>
<p>‘Ashar secara bahasa diartikan sebagai waktu sore hingga matahari memerah yaitu akhir dari dalam sehari.</p>
<p>Sholat ‘ashar adalah sholat ketika telah masuk waktu ‘ashar, sholat ‘ashar ini juga disebut sholat woshtho (<strong>الوُسْطَى</strong>).</p>
<h3><strong>Awal Waktu Shalat ‘Ashar</strong></h3>
<p>Jika panjang bayangan sesuatu telah semisal dengan tingginya (menurut pendapat jumhur ulama). Dalilnya adalah hadits Nabi <em>shollallahu ‘alaihi was sallam</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">وَقْتُ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَ ظِلُّ الرَّجُلِ كَطُولِهِ مَا لَمْ يَحْضُرِ الْعَصْرُ وَوَقْتُ الْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ…….</span></p>
<p>“Waktu Sholat Zhuhur adalah ketika telah tergelincir matahari (menuju arah tenggelamnya) hingga bayangan seseorang sebagaimana tingginya selama belum masuk waktu ‘ashar dan waktu ‘ashar masih tetap ada selama matahari belum menguning………” (HR. Muslim No. 612).</p>
<h3>
<strong>A</strong><strong>khir</strong><strong> Waktu Shalat ‘Ashar</strong>
</h3>
<p>Hadits-hadits tentang masalah akhir waktu ‘ashar seolah-olah terlihat saling bertentangan.</p>
<ul>
<li>Dalam hadits yang diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah <em>rodhiyallahu ‘anhu </em>ketika Jibril ‘<em>alihissalam</em> menjadi imam bagi Nabi <em>shollallahu ‘alaihi was sallam</em>,</li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">جَاءَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ زَالَتْ الشَّمْسُ فَقَالَ قُمْ يَا مُحَمَّدُ فَصَلِّ الظُّهْرَ حِينَ مَالَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ مَكَثَ حَتَّى إِذَا كَانَ فَيْءُ الرَّجُلِ مِثْلَهُ جَاءَهُ لِلْعَصْرِ فَقَالَ قُمْ يَا مُحَمَّدُ فَصَلِّ الْعَصْرَ ثُمَّ مَكَثَ حَتَّى إِذَا غَابَتْ الشَّمْسُ……مَا بَيْنَ هَذَيْنِ وَقْتٌ كُلُّهُ</span></p>
<p>“Jibril mendatangi Nabi <em>shollallahu ‘alaihi was sallam </em>ketika matahari telah tergelincir ke arah tenggelamnya kemudian dia mengatakan, “Berdirilah wahai Muhammad kemudian shola zhuhur lah. Kemudian ia diam hingga saat panjang bayangan seseorang sama dengan tingginya. Jibril datang kemudian mengatakan, “Wahai Muhammad berdirilah sholat ‘ashar lah”. Kemudian ia diam hingga matahari tenggelam………….diantara dua waktu ini adalah dua waktu sholat seluruhnya” (HR. Nasa’i No. 526, hadits ini dinilai shahih oleh Al Albani <em>rohimahullah </em>dalam Al Irwa’ hal. 270/I).</p>
<ul>
<li>Dalam hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin ‘Amr <em>rodhiyallahu ‘anhu,</em>
</li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">وَوَقْتُ الْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ</span></p>
<p>“Dan waktu ‘ashar masih tetap ada selama matahari belum menguning………” (HR. Muslim No. 612).</p>
<ul>
<li>Hadits Nabi <em>Shollallahu ‘alaihi was sallam </em>yang diriwayatkan dari sahabat Abu Huroiroh <em>rodhiyallahu ‘anhu,</em>
</li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الْعَصْرَ</span></p>
<p>“Barangsiapa yang mendapati satu roka’at sholat ‘ashar sebelum matahari tenggelam maka ia telah mendapatkan sholat ‘ashar” (HR. Bukhori No. 579 dan Muslim No. 608).</p>
<p>Kompromi dalam memahami ketiga hadits yang seolah-olah saling bertentangan ini adalah :</p>
<p>Hadits tentang sholat Nabi <em>shollallahu ‘alaihi was sallam </em>dan Jibril <em>‘Alaihissalam</em> dipahami sebagai penjelasan tentang akhir waktu terbaik dalam melaksanakan sholat ‘ashar. Adapun hadits ‘Abdullah bin ‘Amr dipahami sebagai penjelasan atas waktu pelaksanaan sholat ‘ashar yang masih boleh. Sedangkan waktu hadits Abu Huroiroh sebagai penjelasan tentang waktu pelaksanaan sholat ‘ashar jika terdesak artinya makruh mengerjakan sholat ‘ashar pada waktu ini kecuali bagi orang yang memiliki udzur maka mengerjakan sholat ‘ashar pada waktu itu hukumnya tidak makruh. Allahu a’lam.</p>
<h3>
<strong>Disunnahkan Hukmnya Menyegerakan </strong><strong>Sholat ‘Ashar</strong>
</h3>
<p>Hal ini berdasarkan hadits Nabi <em>Shollallahu ‘alaihi was sallam </em>yang diriwayatkan dari Sahabat Anas bin Malik <em>rodhiyallahu ‘anhu,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُصَلِّى الْعَصْرَ وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ حَيَّةٌ</span></p>
<p>“Rosulullah <em>shollallahu ‘alaihi was sallam </em>sering melaksanakan sholat ‘ashar ketika matahari masih tinggi” (HR. Bukhori No. 550 dan Muslim No. 621).</p>
<p>Sunnah ini lebih dikuatkan ketika mendung, hal ini berdasarkah hadits yang diriwayatkan dari Sahabat Abul Mulaih <em>rodhiyallahu ‘anhu</em>. Dia mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">كُنَّا مَعَ بُرَيْدَةَ فِى غَزْوَةٍ فِى يَوْمٍ ذِى غَيْمٍ فَقَالَ بَكِّرُوا بِصَلاَةِ الْعَصْرِ فَإِنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ</span></p>
<p><em>“</em>Kami bersama Buraidah pada saat perang di hari yang mendung. Kemudian ia mengatakan, “Segerakanlah sholat ‘ashar karena Nabi <em>shollallahu ‘alaihi was sallam </em>mengatakan, “Barangsiapa yang meninggalkan sholat ‘ashar maka amalnya telah batal” (HR. Bukhori No. 553)<em>.</em></p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan betapa bahayanya meninggalkan sholat ‘ashar.</p>
<h2>Shalat Maghrib</h2>
<p>Secara bahasa maghrib berarti waktu dan arah tempat tenggelamnya matahari. Sholat maghrib adalah sholat yang dilaksanakan pada waktu tenggelamnya matahari.</p>
<h3>Awal Waktu Sholat Maghrib</h3>
<p>Kaum Muslimin sepakat awal waktu sholat maghrib adalah ketika matahari telah tenggelam hingga matahari benar-benar tenggelam sempurna.</p>
<h3>Akhir Waktu Sholat Maghrib</h3>
<p>Para ulama berselisih pendapat mengenai akhir waktu maghrib.</p>
<p>Pendapat pertama mengatakan bahwa waktu maghrib hanya merupakan satu waktu saja yaitu sekadar waktu yang diperlukan orang yang akan sholat untuk bersuci, menutup aurot, melakukan adzan, iqomah dan melaksanakan sholat maghrib. Pendapat ini adalah pendapat Malikiyah, Al Auza’i dan Imam Syafi’i. Dalil pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan dari Jabir ketika Jibril mengajarkan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>sholat,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">ثُمَّ جَاءَهُ لِلْمَغْرِبِ حِينَ غَابَتْ الشَّمْسُ وَقْتًا وَاحِدًا لَمْ يَزُلْ عَنْهُ فَقَالَ قُمْ فَصَلِّ فَصَلَّى الْمَغْرِبَ…..</span></p>
<p>“Kemudian Jibril mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi was sallam ketika matahari telah tenggelam (sama dengan waktu ketika Jibril mengajarkan sholat kepada Nabi pada hari sebelumnya) kemudian dia mengatakan, “Wahai Muhammad berdirilah laksanakanlah sholat maghrib………..” (HR. Nasa’i No. 526, hadits ini dinilai shahih oleh Al Albani <em>rohimahullah </em>dalam Al Irwa’ hal. 270/I).</p>
<p>Pendapat kedua mengatakan bahwa akhir waktu maghrib adalah ketika telah hilang sinar merah ketika matahari tenggelam. Pendapat ini adalah pendapatnya Sufyan Ats Tsauri, Imam Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, Mahzab Hanafi serta sebahagian mazhab Syafi’i dan inilah pendapat yang dinilai tepat oleh An Nawawi <em>rohimahumullah.</em> Dalilnya adalah hadits ‘Abdullah bin ‘Amr <em>rodhiyallahu ‘anhu</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">….وَقْتُ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ مَا لَمْ يَغِبِ الشَّفَقُ…..</span></p>
<p>“Waktu sholat maghrib adalah selama belum hilang sinar merah ketika matahari tenggelam” (HR. Muslim No. 612).</p>
<p>Pendapat inilah yang lebih tepat Allahu a’lam.</p>
<h3>Disunnahkan Menyegerakan Sholat Maghrib</h3>
<p>Hal ini berdasarkan hadits Nabi <em>shollallahu ‘alaihi was sallam </em>dari Sahabat ‘Uqbah bin ‘Amir <em>rodhiyallahu ‘anhu</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">لاَ تَزَالُ أُمَّتِى بِخَيْرٍ – أَوْ قَالَ عَلَى الْفِطْرَةِ – مَا لَمْ يُؤَخِّرُوا الْمَغْرِبَ إِلَى أَنْ تَشْتَبِكَ النُّجُومُ</span></p>
<p>“Umatku akan senantiasa dalam kebaikan (atau fithroh) selama mereka tidak mengakhirkan waktu sholat maghrib hingga munculnya bintang (di langit)” (HR. Abu Dawud No. 414 dll. dan dinilai shohih oleh Al Albani dalam Takhrij beliau untuk Sunan Ibnu Majah).</p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/8092-tips-khusyu-dalam-shalat.html" target="_blank" rel="noopener">Tips Khusyu’ dalam Shalat</a></strong></em></p></blockquote>
<h2>Shalat ‘Isya’</h2>
<p>‘Isya’ adalah sebuah nama untuk saat awal langit mulai gelap (setelah maghrib) hingga sepertiga malam yang awal. Sholat ‘isya’ disebut demikian karena dikerjakan pada waktu tersebut.</p>
<h3>Awal Waktu Sholat ‘Isya’</h3>
<p>Para ulama sepakat bahwa awal waktu sholat ‘isya’ adalah jika telah hilang sinar merah di langit.</p>
<h3>Akhir Waktu Sholat ‘Isya’</h3>
<p>Para ulama’ berselisih pendapat mengenai akhir waktu sholat ‘isya’.</p>
<p>Pendapat pertama mengatakan bahwa akhir waktu sholat ‘isya’ adalah sepertiga malam. Ini adalah pendapatnya Imam Syafi’i dalam al Qoul Jadid, Abu Hanifah dan pendapat yang masyhur dalam mazhab Maliki. Dalilnya adalah hadits ketika Jibril mengimami sholat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">….ثُمَّ جَاءَهُ لِلْعِشَاءِ حِينَ ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ الْأَوَّلُ…..</span></p>
<p>“……Kemudian Jibril mendatangi Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi was sallam</em> untuk melaksanakan sholat ‘isya’ ketika sepertiga malam yang pertama………..” (HR. Nasa’i No. 526, hadits ini dinilai shahih oleh Al Albani <em>rohimahullah </em>dalam Al Irwa’ hal. 270/I).</p>
<p>Pendapat kedua mengatakan bahwa akhir waktu sholat ‘isya’ adalah setengah malam. Inilah pendapatnya Sufyan Ats Tsauri, Ibnul Mubarok, Ishaq, Abu Tsaur, Mazhab Hanafi dan Ibnu Hazm <em>rohimahumullah</em>. Dalil pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Amr <em>rodhiyallahu ‘anhu,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">…وَقْتُ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الأَوْسَطِ….</span></p>
<p>“Waktu sholat ‘isya’ adalah hingga setengah malam” (HR. Muslim No. 612).</p>
<p>Pendapat ketiga mengatakan bahwa akhir waktu sholat ‘isya’ adalah ketika terbit fajar shodiq. Inilah pendapatnya ‘Atho’, ‘Ikrimah, Dawud Adz Dzohiri, salah satu riwayat dari Ibnu Abbas, Abu Huroiroh dan Ibnul Mundzir <em>Rohimahumullah</em>. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan dari Abu Qotadah <em>rodhiyallahu ‘anhu,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">…إِنَّمَا التَّفْرِيطُ عَلَى مَنْ لَمْ يُصَلِّ الصَّلاَةَ حَتَّى يَجِىءَ وَقْتُ الصَّلاَةِ الأُخْرَى….</span></p>
<p>“Hanyalah orang-orang yang terlalu menganggap remeh agama adalah orang yang tidak mengerjakan sholat hingga tiba waktu sholat lain” (HR. Muslim No. 681).</p>
<p>Pendapat yang tepat menurut Syaukani dalam masalah ini adalah akhir waktu sholat ‘isya’ yang terbaik adalah hingga setengah malam berdasarkan hadits ‘Abdullah bin ‘Amr sedangkan batas waktu bolehnya mengerjakan sholat ‘isya’ adalah hingga terbit fajar berdasarkan hadits Abu Qotadah. Sedangkan pendapat yang dinilai lebih kuat menurut Penulis Shahih Fiqh Sunnah adalah setengah malam jika hadits Anas adalah hadits yang tidak shohih.</p>
<h3>Disunnahkan Mengakhirkan Sholat ‘Isya’</h3>
<p>Hal ini berdasarkan hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِى لأَمَرْتُهُمْ أَنْ يُؤَخِّرُوا الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ أَوْ نِصْفِهِ</span></p>
<p>“Jika sekiranya tidak memberatkan ummatku maka akan aku perintah agar mereka mengakhirkan sholat ‘isya’ hingga sepertiga atau setengah malam” (HR. Tirmidzi No. 167, Ibnu Majah No. 691, dinyatakan shohih oleh Al Albani di Takhrij Sunan Tirmidzi).</p>
<p>Akan tetapi hal ini tidak selalu dikerjakan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam, </em>sebagaimana dalam hadits yang lain,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">وَالْعِشَاءُ أَحْيَانًا يُقَدِّمُهَا ، وَأَحْيَانًا يُؤَخِّرُهَا : إذَا رَآهُمْ اجْتَمَعُوا عَجَّلَ ، وَإِذَا رَآهُمْ أَبْطَئُوا أَخَّرَ</span></p>
<p>“Terkadang (Nabi) menyegerakan sholat isya dan terkadang juga mengakhirkannya. Jika mereka telah terlihat terkumpul maa segerakanlah dan jika terlihat (lambat datang ke masjid)” (HR. Bukhori No. 560, Muslim No. 233).</p>
<h3>Dimakruhkan Tidur Sebelum Sholat ‘Isya’ dan Berbicara yang Tidak Perlu Setelahnya</h3>
<p>Hal ini berdasarkan hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَهَا وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا</span></p>
<p>“Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>membenci tidur sebelum sholat ‘isya’ dan melakukan pembicaraan yang tidak berguna setelahnya (HR. BukhoriNo. 568, Muslim No. 237)”.</p>
<h2>Shalat Shubuh/Fajar</h2>
<p>Fajar secara bahasa berarti cahaya putih. Sholat fajar disebut juga sebagai sholat shubuh dan sholat <em>ghodah</em>.</p>
<p>Fajar ada dua jenis yaitu fajar pertama (fajar kadzib) yang merupakan pancaran sinar putih yang mencuat ka atas kemudian hilang dan setelah itu langit kembali gelap.</p>
<p>Fajar kedua adalah fajar shodiq yang merupakan cahaya putih yang memanjang di arah ufuk, cahaya ini akan terus menerus menjadi lebih terang hingga terbit matahari.</p>
<h3>
<strong>Awal Waktu Sholat</strong> <strong>Shubuh/Fajar</strong>
</h3>
<p>Para ulama sepakat bahwa awal waktu sholat fajar dimulai sejak terbitnya fajar kedua/fajar shodiq.</p>
<h3>
<strong>Akhir Waktu Sholat</strong> <strong>Shubuh/Fajar</strong>
</h3>
<p>Para ulama juga sepakat bahwa akhir waktu sholat fajar dimulai sejak terbitnya matahari.</p>
<h3>
<strong>Disunnahkan Menyegerakan Waktu Sholat</strong> <strong>Shubuh/Fajar Pada Saat Keadaan Gholas (Gelap yang Bercampur Putih)</strong>
</h3>
<p>Jumhur ulama’ berpendapat lebih utama melaksanakan sholat fajar pada saat gholas dari pada melaksanakannya ketika ishfar (cahaya putih telah semakin terang). Diantara ulama yang berpendapat demikian adalah Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Ishaq dan Abu Tsaur rohimahumullah. Diantara dalil mereka adalah hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – غَزَا خَيْبَرَ ، فَصَلَّيْنَا عِنْدَهَا صَلاَةَ الْغَدَاةِ بِغَلَسٍ</span></p>
<p>“Sesungguhnya Rosulullah <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>berperang pada perang Khoibar, maka kami sholat ghodah (fajar) di Khoibar pada saat <em>gholas</em>” (HR. Bukhori No. 371, Muslim No. 1365).</p>
<p>Demikianlah pembahasan singkat ini, mudah-mudahan bermanfaat. Amin</p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/5403-jagalah-shalatmu-wahai-saudaraku.html" target="_blank" rel="noopener">Jagalah Shalatmu, Wahai Saudaraku!</a></strong></em></p></blockquote>
<p>—</p>
<p>Diringkas dari Kitab <em>Shohih Fiqh Sunnah</em> karya <a href="https://rumaysho.com/2992-ilmuwan-yang-menjadi-ulama-1.html" target="_blank" rel="noopener">Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim</a> hal. 237-249/I Cet. Maktabah Tauqifiyah, Kairo, Mesir</p>
<p>Sigambal, Sebelum Subuh, 10 Mei 2011 M.</p>
<p><strong>Penulis: Aditya Budiman bin Usman</strong></p>
<p><strong>Artikel muslim.or.id</strong></p>
 