
<h2>Utang emas</h2>
<p>Ustadz, saya mau tanya. Dulu, waktu istri saya masih kecil, ibunya meminjam kalung emas dari temannya untuk dijual, dalam rangka membiayai kuliah kakak-istri saya. Setelah berlalu beberapa belas tahun, ibu mertua saya baru bisa melunasi utangnya dengan kredit, seharga total 4 jutaan (seharga emas dulu ketika meminjam). Tapi beberapa hari kemarin, teman ibu mertua datang lagi ke rumah dan mengatakan secara kekeluargaan langsung kepada anak-anaknya (termasuk istri saya) bahwa dulu ‘kan bukan uang yang dipinjam tapi emas, dia pengennya kembali juga sebagai kalung yang serupa (gram ataupun mata)-nya, sedangkan dengan uang harga tadi (4 jutaan) di hari ini kalau dibelikan kalung yang serupa tidaklah cukup. Bagaimana solusinya, Ustadz? Apakah kalung diganti dengan kalung yang serupa ataukah cukup uang 4 juta yang dibayarkan ibu mertua saya? <em>Jazakallahu khairan</em>, Ustadz.</p>
<p><em>Abu Muhammad (abi**@***.com)</em><br>
<!--more--><br>
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Kaidah dalam masalah ini:</p>
<blockquote><p><strong>Utang emas wajib dibayar dengan emas.</strong><br>
<strong>Utang uang wajib dibayar dengan uang. </strong></p></blockquote>
<p>***</p>
<h3>Catatan redaksi perihal utang</h3>
<p>Menghutangi orang lain adalah murni transaksi sosial. Karena itu, orang yang menghutangi orang lain tidak diperkenankan mengambil tambahan sedikitpun. Bahkan dia harus rela dan siap dengan konsekwensi terjadinya penurunan mata uang.. Karena itu, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memberikan banyak janji pahala kepada orang yang sanggup menghutangi orang lain dan bersedia untuk tidak mengejar-ngejar orang yang <a href="https://konsultasisyariah.com/beli-emas-dengan-cek" target="_blank">berhutang</a>.</p>
<p>Diantara dalil yang menunjukkan keutamaan bersikap mudah dalam menghutangi orang lain adalah:</p>
<p><strong>Pertama,</strong> Hadis dari Ibn Mas’ud, Nabi s<em>hallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">كل قرض صدقة</p>
<p><em>“Setiap menghutangi orang lain adalah sedekah.”</em> (HR. Thabrani dengan sanad hasan, al-Baihaqi, dan dishahihkan al-Albani)</p>
<p><strong>Kedua,</strong> Dari Abu Umamah, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada seseorang yang masuk surga, kemudian dia melihat ada tulisan di pintunya,</em></p>
<p class="arab">الصدقة بعشر أمثالها والقرض بثمانية عشر</p>
<p><em>“Sedekah itu nilainya sepuluh kalinya dan hutang nilainya 18 kali.”</em> (HR. Thabrani, al-Baiihaqi dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih Targhib)</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> Dari Ibn Mas’ud, bahwa nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">ما من مسلم يقرض مسلما قرضا مرتين إلا كان كصدقتها مرة</p>
<p><em>“Tidaklah seorang muslim memberi utangan kepada muslim yang lain sebanyak dua kali, kecuali nilainya seperti bersedekah sekali.” </em>(Hr. Ibn Majah, Ibn Hiban dalam shahihnya dan al-Baihaqi.)<br>
<em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="https://konsultasisyariah.com" target="_blank">Ustadz Aris Munandar, M.A.</a></strong><br>
<strong>Artikel <a rel="nofollow" href="https://konsultasisyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
 