
<p><strong>URUTAN NAMA-NAMA TERBAIK</strong></p>
<p>Disunnahkan memilih nama terbaik, demikian dinyatakan oleh Imam Nawawi rahimahullah .<a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a> Dengan urutan-urutannya, seperti dipaparkan Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah, secara ringkas sebagai berikut.</p>
<p><strong><em>Pertama.</em></strong> Dianjurkan penamaan dengan dua nama berikut, yaitu: ‘Abdur-Ra<u>h</u>mân dan ‘Abdullah. Keduanya merupakan nama yang paling dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena mengandung makna <em>‘ubudiyah</em> yang merupakan sifat hakiki manusia.</p>
<p>Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma meriwayatkan, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>إِنَّ أَحَبَّ الْأَسْمَاءِ إِلَى اللَّهِ عَبْدُ اللَّهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ</strong></p>
<p><em>Nama-nama yang paling disukai oleh Allah ialah ‘Abdullah dan Abdur-Ra<u>h</u>m</em><em>â</em><em>n</em>. [HR Muslim 2132, dan lainnya]</p>
<p><strong><em>Kedua.</em></strong> Dianjurkan menggunakan nama <em>ta’bid</em> (penisbatan kata ‘abdan)  kepada nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lain, seperti ‘Abdul-‘Aziz, ‘Abdul-Mâlik, ‘Abdul-Ghafuur, ‘Abdul-Kariim, dan lain-lain. Kata <em>‘abdun</em> (hamba), wajib dikaitkan dengan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala . Karena itu, nama-nama semisal ‘Abdur-Rasuul, ‘Abdul-Ka’bah, ‘Abdu ‘Ali, semua initerlarang (haram). Ibnu Hazm t telah mengutip ijma’ para ulama tentang pengharamannya.<a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a></p>
<p><strong><em>Ketiga.</em></strong> Nama-nama para nabi dan rasul Allah. Sebab mereka itu merupakan tokoh-tokoh terkemuka umat manusa. Mereka memiliki moralitas yang amat tinggi dan amalan yang bersih. Penamaan dengan nama-nama para nabi dan rasul akan membuat sifat-sifat dan perilaku baik mereka senantiasa terkenang.</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>وُلِدَ لِي اللَّيْلَةَ غُلَامٌ فَسَمَّيْتُهُ بِاسْمِ أَبِي إِبْرَاهِيمَ </strong></p>
<p><em>Malam ini telah lahir anakku. Aku menamainya dengan nama ayahku, Ibr</em><em>â</em><em>h</em><em>î</em><em>m</em>. (HR Muslim).</p>
<p>Dari Yuusuf bin ‘Abdillah bin Salaam, ia berkata: <em>“Nabi memberiku nama dengan nama Yuusuf”</em>. [HR. al-Bukhâri dalam <em>al-Adabul-Mufrad</em>, dan at-Tirmidzi dalam <em>asy-Syam</em><em>â</em><em>`il</em>. Al-Hâfizh Ibnu Hajar berkata: “<em>Sanadnya sha<u>h</u></em><em>î</em><em><u>h</u></em>“].</p>
<p>Dan nama nabi yang paling utama, tentu nama-nama Rasulullah Mu<u>h</u>ammad bin Abdillah Shallalahu ‘alaihi wa sallam  .</p>
<p><strong><em>Keempat.</em></strong> Nama-nama dari orang-orang <em>sh</em><em>â</em><em>lih</em>.<br>
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda tentang orang-orang terdahulu: <em>“Mereka itu memberi nama (anak-anaknya) dengan nama-nama nabi-nabi dan orang-orang sh</em><em>â</em><em>lih sebelumnya”</em>. [HR. Muslim].</p>
<p>Dalam konteks ini, para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah para pelaku utama sebagai kaum yang <em>sh</em><em>â</em><em>lih</em>.</p>
<p>[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XII/1429H/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]<br>
_______<br>
Footnote<br>
<a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a>  <em>Shahih al-Adzkaar an-Nawawiyyah </em>hal. 289 Dar al-Minhaaj  Cet. I 1426H-2005M<br>
<a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a>  <em>asy-Syar<u>h</u>ul Mumti’</em> (7/496)</p>
 