
<p>Biduk rumah tangga tidak akan selamanya berlayar di lautan yang tenang</p>

<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Bahaya Mengingkari Kebaikan Suami</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika seorang istri melihat ada satu kesalahan yang dilakukan suami, atau ada satu perbuatan suami yang kurang menyenangkan bagi dirinya, hendaklah seorang istri selalu mengingat (banyak) kebaikan-kebaikan suaminya yang lain. Dan hendaknya tidak mengingkari kebaikan suaminya selama ini.</span></p>
<p><strong>Mengingkari kebaikan-kebaikan suami dengan bahasa general (negasi general) adalah di antara sebab yang memasukkan para wanita ke neraka. </strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Contoh, ucapan istri, “Mas, mas kok<strong> TIDAK PERNAH</strong> perhatian sama saya.” (Padahal kondisinya, istri baru sangat butuh suami, dan bisa jadi saat itu suaminya baru capek. Dan biasanya, suaminya sangat memperhatikan kebutuhan istrinya.)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Contoh lain, ucapan istri, “Mas, mas kok<strong> TIDAK PERNAH</strong> ingin melihat saya bahagia.” (Padahal kondisinya, sang istri minta dibelikan barang tersier agak mahal, dan suami keberatan karena ada kebutuhan lain yang lebih mendesak untuk diperhatikan.)</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/52770-istriku-dengan-siapa-engkau-di-surga-nanti.html" data-darkreader-inline-color="">Istriku, dengan Siapa Engkau di Surga Nanti?</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Mengapa Banyak Wanita Menghuni Neraka?</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhuma, </span></i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَأُرِيتُ النَّارَ، فَلَمْ أَرَ مَنْظَرًا كَاليَوْمِ قَطُّ أَفْظَعَ، وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Diperlihatkan kepadaku neraka, dan aku tidaklah melihat pemandangan yang lebih mengerikan pada hari itu. Aku melihat mayoritas penghuninya adalah para wanita.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Para sahabat mengatakan, “Wahai Rasulullah, apa sebabnya?” </span><b>[1]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">بِكُفْرِهِنَّ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dengan sebab kekafirannya.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Para sahabat bertanya lagi, “Karena kekafiran mereka terhadap Allah?”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">menjawab,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَكْفُرْنَ العَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ كُلَّهُ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Karena mereka mengingkari (kebaikan) suami, mereka mengingkari kebaikan (orang lain). Jika Engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka bertahun-tahun lamanya, kemudian mereka melihat darimu sesuatu (satu kesalahan), maka mereka mengatakan, </span><b>‘Tidaklah aku melihat satu kebaikan pun darimu sama sekali.’”</b> <b>(HR. Bukhari no. 1052 dan Muslim no. 907)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits di atas, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan sebab mengapa wanita banyak menghuni neraka. Yaitu, ketika sang suami berbuat satu saja kesalahan, kemudian sang istri mengingkari kebaikan-kebaikan suaminya selama ini –bertahun-tahun lamanya- dengan bahasa general, yaitu </span><i><span style="font-weight: 400;">“Tidaklah aku melihat satu kebaikan pun darimu sama sekali.”</span></i></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/52540-apakah-poligami-perlu-izin-istri-dan-haruskah-memberi-tahu.html" data-darkreader-inline-color="">Apakah Poligami Perlu Izin Istri dan Haruskah Memberi Tahu?</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Ibarat Panas Setahun Dihapus Hujan Sehari</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Padahal, sudah banyak kebaikan yang suami lakukan untuk sang istri. Dalam kata-kata bijak disebutkan, </span><b>“Panas setahun dihabiskan hujan sehari.”</b><span style="font-weight: 400;"> Artinya, kebaikan yang banyak menjadi hilang dan tidak ada nilainya karena satu kesalahan yang diperbuat. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Siapa saja, hendaklah bersikap adil. Kalau memang frekuensinya “kadang-kadang”, katakanlah “kadang-kadang”. Kalau memang frekuensinya “jarang”, katakanlah “jarang”. Kalau “kadang-kadang” suami pulang terlambat tanpa memberi kabar karena lupa, katakanlah kadang-kadang, jangan dikatakan “selalu terlambat tanpa memberi kabar.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Janganlah seorang istri menyakiti hati suaminya, dia ingkari kebaikan suami hanya satu kesalahan saja, itu pun bisa jadi bukan karena sengaja. Lalu dia ingkari kebaikan-kebaikan suami dan pengorbanan suami selama ini. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari sahabat Mu’adz bin Jabal </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لَا تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا، إِلَّا قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الحُورِ العِينِ: لَا تُؤْذِيهِ، قَاتَلَكِ اللَّهُ، فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكَ دَخِيلٌ يُوشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidaklah ada seorang istri yang menyakiti suaminya di dunia, kecuali istrinya dari bidadari surga berkata, “Janganlah kamu menyakitinya. Semoga Allah membalasmu. Dia adalah tamumu, yang sebentar lagi akan meninggalkanmu dan mendatangi kami”.” </span><b>(HR. Tirmidzi no. 1174, dinilai shahih oleh Al-Albani)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Al-Hushain bin Mihshan, bahwa bibinya pernah mendatangi Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> untuk suatu keperluan. Setelah urusannya selesai, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> pun bertanya kepadanya, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ؟</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Apakah kamu mempunyai suami?” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dia menjawab, “Ya.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau bertanya lagi,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Bagaimanakah sikapmu terhadapnya?” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dia menjawab, “Saya sungguh-sungguh melayani suamiku, kecuali terhadap sesuatu yang memang aku tidak sanggup.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فَانْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Perhatikanlah selalu posisimu terhadap suamimu. </span><b>Sesungguhnya yang menentukan surga dan nerakamu adalah (sikapmu terhadap) suamimu.”</b> <b>(HR. Ahmad 31: 341)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Musthafa Al-‘Adawi </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata, “Maksudnya, </span><i><span style="font-weight: 400;">wallahu a’alam, </span></i><span style="font-weight: 400;">jika Engkau bertakwa kepada Allah berkaitan dengan (hak) suamimu, maka ketakwaanmu kepada Allah itu adalah sebab yang memasukkanmu ke dalam surga. Sebaliknya, jika Engkau tidak bertakwa kepada Allah Ta’ala berkaitan dengan (hak) suamimu, dengan tidak menunaikan hak suami, maka hal itu adalah sebab yang memasukkanmu ke dalam neraka.” </span><b>(</b><b><i>Fiqh ta’aamul baina az-zaujain, </i></b><b>hal. 21)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/47427-kewajiban-suami-kepada-istri-untuk-mengajarkan-perkara-agama.html" data-darkreader-inline-color="">Kewajiban Suami kepada Istri dalam Mengajarkan Perkara Agama </a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Jika Istri Menemui Kesalahan pada Suami</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika kita melihat ada sikap atau perilaku suami yang tidak pas di sisi istri, hendaklah sang istri ridha terhadap akhlak suami yang lainnya. Hal ini karena memang tidak ada sosok manusia yang sempurna. Dia memiliki kesalahan, keburukan, atau kekurangan di satu sisi, namun dia memiliki (banyak) kebaikan di sisi yang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ أَوْ قَالَ: غَيْرَهُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Janganlah seorang mukmin membenci wanita mukminah. Jika dia membenci salah satu perangainya, niscaya dia akan ridha dengan perangainya yang lain.” </span><b>(HR. Muslim no. 1469) [2]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan hal ini di antara sebab yang menyebabkan awetnya rumah tangga pasangan suami istri tersebut.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/33913-berhubungan-badan-suami-istri-itu-sedekah.html" data-darkreader-inline-color="">Berhubungan Badan Suami-Istri Itu Sedekah</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/29821-hukum-onani-menggunakan-tangan-istri.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Onani Menggunakan Tangan Istri</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Kantor YPIA Jogja, 25 Shafar 1441/24 Oktober 2019</span></p>
<p><strong>Penulis:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color=""> M. Saifudin Hakim</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><b>Catatan Kaki</b></span></h2>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Dari kalimat ini, kita bisa melihat akhlak para sahabat. Ketika dikabarkan bahwa mayoritas penghuni neraka adalah wanita, maka para sahabat memahami bahwa hal itu disebabkan karena diri mereka sendiri. </span></p>
<p><b>[2] </b><span style="font-weight: 400;">Disarikan dari kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Fiqh ta’aamul baina az-zaujain, </span></i><span style="font-weight: 400;">hal. 20-21 karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullahu Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">(penerbit Maktabah Makkah, tahun 1424 H)</span></p>
 