
<p>Bahasan berikut adalah berisi penjelasan mengenai haramnya memangkas jenggot bahkan hal ini disuarakan oleh ulama Syafi’iyah yang jadi rujukan Kyai atau Ulama di negeri kita. Simak dalam tulisan sederhana berikut.</p>

<h2>
<strong>Bukti</strong> <strong>Perintah Memelihara</strong><strong> Jenggot</strong> <strong>dalam</strong><strong> Hadits </strong>
</h2>
<p><strong>Hadits pertama</strong>, dari Ibnu Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 18pt;"><span style="color: #800000;"><strong>أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى</strong></span></span></p>
<p>“<em>Potong pendeklah kumis dan biarkanlah (peliharalah) jenggot</em>.”</p>
<p>Dalam lafazh lain,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 18pt;"><strong><span style="color: #800000;">خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَوْفُوا اللِّحَى</span></strong></span></p>
<p>“<em>Selisilah orang-orang musyrik. Potong pendeklah kumis dan biarkanlah jenggot.</em>”</p>
<p><strong>Dalam lafazh lainnya lagi,</strong></p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="color: #800000; font-size: 18pt;"><strong>أَنَّهُ أَمَرَ بِإِحْفَاءِ الشَّوَارِبِ وَإِعْفَاءِ اللِّحْيَةِ</strong></span></p>
<p>“<em>Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintahkan untuk memotong pendek kumis dan membiarkan (memelihara) jenggot</em>.”<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p><strong>Hadits </strong><strong>kedua</strong>, dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 18pt;"><strong><span style="color: #800000;">جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ</span></strong></span></p>
<p>“<em>Pendekkanlah kumis dan biarkanlah (perihalah) jenggot dan selisilah Majusi.</em>”<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p><strong>Hadits </strong><strong>ketiga</strong>, dari Ibnu Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="color: #800000; font-size: 18pt;"><strong>انْهَكُوا الشَّوَارِبَ ، وَأَعْفُوا اللِّحَى</strong></span></p>
<p>“<em>Cukur habislah kumis dan biarkanlah (peliharalah) jenggot.</em>”<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p><strong>Hadits </strong><strong>keempat</strong>, dari Ibnu Umar, Nabi <em>shallallahu</em> <em>‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="color: #800000; font-size: 18pt;"><strong>خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ ، وَفِّرُوا اللِّحَى ، وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ</strong></span></p>
<p>“<em>Selisilah orang-orang musyrik. Biarkanlah jenggot dan pendekkanlah kumis</em>.”<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Ulama besar Syafi’iyah, Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Kesimpulannya ada lima riwayat yang menggunakan lafazh,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="color: #800000; font-size: 18pt;"><strong>أَعْفُوا وَأَوْفُوا وَأَرْخُوا وَأَرْجُوا وَوَفِّرُوا</strong></span></p>
<p>Semua lafazh tersebut bermakna membiarkan jenggot sebagaimana adanya.”<a href="#_ftn5">[5]</a> Artinya menurut Imam Nawawi merapikan atau memendekkan jenggot pun tidak dibolehkan.</p>
<h2>
<strong>Alasan Terlarang</strong><strong> Memangkas Jenggot</strong>
</h2>
<p>Berikut adalah beberapa alasan lainnya mengapa jenggot dilarang dipangkas dan tetap harus dibiarkan sebagaimana adanya.</p>
<p><strong>Pertama</strong>: Mencukur jenggot termasuk tasyabbuh (menyerupai) orang kafir, sebagaimana sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang telah lewat,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="color: #800000; font-size: 18pt;"><strong>جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ</strong></span></p>
<p>“<em>Pendekkanlah kumis dan biarkanlah (perihalah) jenggot dan selisilah Majusi</em>.”</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Mencukur jenggot termasuk tasyabbuh (menyerupai) wanita. Kita ketahui bersama bahwa secara normal, wanita tidak berjenggot. Sehingga jika ada seorang pria yang  memangkas jenggotnya hingga bersih, maka dia akan serupa dengan wanita.<a href="#_ftn6">[6]</a> Padahal dalam hadits disebutkan,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="color: #800000; font-size: 18pt;"><strong>لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ</strong></span></p>
<p>“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita</em>.”<a href="#_ftn7">[7]</a> Imam Al Ghozali berkata, “Dengan jenggot inilah yang membedakan pria dari wanita.”<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p><strong>Ketiga</strong>: Mencukur jenggot berarti telah menyelisihi fitroh manusia. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 18pt;"><strong><span style="color: #800000;">عَشْرٌ مِنَ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الأَظْفَارِ وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ وَنَتْفُ الإِبْطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ</span></strong></span></p>
<p>“<em>Ada sepuluh macam fitroh, yaitu memendekkan kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung), memotong kuku, membasuh persendian, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, istinja’ (cebok) dengan air</em>.”<a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Di antara definisi fitroh adalah ajaran para Nabi, sebagaimana yang dipahami oleh kebanyakan ulama.<a href="#_ftn10">[10]</a> Berarti memelihara jenggot termasuk ajaran para Nabi. Kita dapat melihat pada Nabi Harun yang merupakan Nabi Bani Israil. Dikisahkan dalam Surat Thaha bahwa beliau memiliki jenggot. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="color: #800000; font-size: 18pt;"><strong>قَالَ يَا ابْنَ أُمَّ لَا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِي وَلَا بِرَأْسِي</strong></span></p>
<p>“<em>Harun menjawab’ “Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang jenggotku dan jangan (pula) kepalaku</em>.“ (QS. Thaha: 94). Dengan demikian, orang yang memangkas jenggotnya berarti telah menyeleweng dari fitroh manusia yaitu menyeleweng dari ajaran para Nabi <em>‘alaihimush sholaatu was salaam</em>.</p>
<h2><strong>Bukti dari Ulama Syafi’iyah</strong></h2>
<p>Imam Asy Syafi’i dalam <em>Al Umm</em> berpendapat bahwa memangkas jenggot itu diharamkan sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Ar Rif’ah ketika menyanggah ulama yang mengatakan bahwa mencukur jenggot hukumnya makruh. Begitu pula Az Zarkasyi dan Al Hulaimiy dalam <em>Syu’abul Iman</em> menegaskan haramnya memangkas jenggot. Juga Ustadz Al Qoffal Asy Syasyi dalam <em>Mahasinus Syari’ah</em> mengharamkan memangkas jenggot. <a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p>Sebagaimana dinukil sebelumnya, Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Kesimpulannya ada lima riwayat yang menggunakan lafazh <strong><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">“أَعْفُوا وَأَوْفُوا وَأَرْخُوا وَأَرْجُوا وَوَفِّرُوا”.</span></span></strong> Semua lafazh ini bermakna membiarkan jenggot tersebut sebagaimana adanya.”<a href="#_ftn12">[12]</a> Artinya jenggot dibiarkan lebat dan tidak dipangkas sama sekali.</p>
<p>Mengenai hadits perintah memelihara jenggot dalam hadits Ibnu ‘Umar, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>katakan<strong><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;"> “خَالَفُوا الْمُشْرِكِينَ</span></span></strong>” (selisilah orang-orang musyrik). Dan dalam riwayat Muslim disebut <span style="font-size: 14pt;"><strong><span style="color: #800000;">“خَالَفُوا الْمَجُوس</span></strong></span>” (selisilah  Majusi). Jadi yang dimaksud adalah orang Majusi dalam hadits Ibnu ‘Umar. Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> katakan bahwa dahulu orang Majusi biasa memendekkan jenggot mereka dan sebagian mereka memangkas jenggotnya hingga habis.<a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Bahkan Ibnu Hazm <em>rahimahullah</em> menyatakan adanya ijma’ (kesepakatan ulama) akan haramnya memangkas jenggot. Beliau mengatakan,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="color: #800000; font-size: 18pt;"><strong>واتفقوا أن حلق جميع اللحية مثلة لا تجوز</strong></span></p>
<p>“Para ulama sepakat bahwa memangkas habis jenggot tidak dibolehkan.”<a href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p><em>Wallahu waliyyut taufiq.</em></p>
<p>Cuplikan dari buku penulis “<span style="color: #ff0000;">Mengikuti Ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> Bukanlah Teroris</span>” yang akan diterbitkan oleh <a title="Pustaka Muslim" href="http://pustaka.muslim.or.id/" target="_blank" rel="noopener"><strong>Pustaka Muslim-Jogja</strong></a>, insya Allah.</p>
<p>Panggang-Gunung Kidul, 13 Jumadats Tsaniyah 1432 H</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/">www.rumaysho.com</a></p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Baca Juga:</strong></span></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/9119-istri-menyuruh-memotong-jenggot.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Istri Menyuruh Memotong Jenggot</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/1744-hukum-merapikan-jenggot.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Hukum Merapikan Jenggot</strong></span></a></li>
</ul>
<hr>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> HR. Muslim no. 259</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> HR. Muslim no. 260</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> HR. Bukhari no. 5893</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> HR. Bukhari no. 5892</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 3/151</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Hal ini tidak menunjukkan bahwa orang yang tidak memiliki jenggot -secara alami- menjadi tercela. Perlu dipahami bahwa hukum memelihara jenggot ditujukan bagi orang yang memang ditakdirkan memiliki jenggot.</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> HR. Bukhari no. 5885.</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Ihya’ Ulumuddin, 1/144.</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> HR. Muslim no. 261.</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 3/147-148</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Lihat I’anatuth Tholibin, 2/386.</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 3/151.</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> Fathul Bari, 10/349.</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> Marotibul Ijma’, 157.</p>
 