
<p><span style="font-weight: 400;">Dalil <strong>tawakal</strong> (berserah diri)  adalah firman Allah <em>Ta’ala</em>:</span></p>
<p style="text-align: right;">وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan hanya kepada Allah-lah kalian betawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Al-Maidah : 23).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan firman-Nya:</span></p>
<p style="text-align: right;">وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Dialah Yang Mencukupinya</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Ath-Thalaq: 3).</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Kesimpulan Dalil</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Kedua ayat tersebut merupakan dalil yang menunjukkan bahwa tawakal adalah ibadah. Pada ayat yang pertama juga terdapat dalil bahwa tidak boleh seorang hamba bertawakal kepada selain Allah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Barangsiapa yang bertawakal kepada selain Allah, maka telah menyembah selain-Nya, karena telah mempersembahkan ibadah tawakal kepada selain-Nya. Oleh karena itu, dalam ayat pertama, Allah jadikan tawakkal sebagai syarat keimanan.</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Penjelasan Dalil</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat yang pertama, terdapat dua alasan pendalilan, yaitu: </span></p>
<ol>
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Didahulukannya </span><b>{عَلَى اللَّهِ} </b><span style="font-weight: 400;">sebelum </span><b>{فَتَوَكَّلُوا} </b><span style="font-weight: 400;">menunjukkan makna pembatasan, maksudnya Allah memerintahkan hamba-Nya untuk bertawakal hanya kepada Allah saja.</span>
</li>
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Dalam petikan ayat </span><b>{إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ}</b><span style="font-weight: 400;">, Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">menjadikan tawakal kepada-Nya sebagai syarat keimanan. Jadi, barangsiapa yang bertawakal kepada selain Allah, maka berarti ia bukan orang yang beriman kepada Allah.</span>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun alasan pendalilan dalam ayat yang kedua yaitu Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">menjanjikan kecukupan bagi orang yang bertawakal kepada-Nya saja. Janji tersebut menunjukkan bahwa tawakal kepada Allah saja merupakan ibadah, mengapa? Karena tidaklah Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjanjikan suatu janji untuk balasan dari sebuah sikap, kecuali menunjukkan bahwa sikap tersebut adalah suatu ibadah yang tertuntut untuk dilakukan oleh seorang hamba. Allah memotivasi hamba-Nya agar bertawakal kepada-Nya dengan janji kecukupan dari-Nya.</span></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
 