
<p><iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1063446022&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe></p>
<h1><b>Tradisi Pecah Kendi di Acara Peresmian</b></h1>
<p><em><span style="font-weight: 400;">Mohon pencerahan mengenai tradisi pecah kendi ketika melepas jamaah haji.</span></em></p>
<p><b>Jawab:</b></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terkait pecah kendi, kita sepakat ini berangkat dari budaya. Islam sama sekali tidak pernah mengajarkannya, baik dalam bentuk dalil tegas maupun isyarat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selanjutnya kita akan bicara masalah budaya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam melakukan sebuah budaya, ada dua motivasi yang menjadi pertimbangan bagi pelakunya,</span></p>
<h2><span style="font-weight: 400;">[1] Karena disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan dan selera masyarakat.</span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Seperti budaya pakaian, jenis makanan, bentuk tempat tinggal, jenis pekerjaan, dan seterusnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Melakukan kegiatan budaya semacam ini, pada asalnya tidak dilarang selama tidak melanggar syariat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana dinyatakan dalam hadis,</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Kalian lebih paham tentang urusan dunia kalian.” (HR. Muslim 6277)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan seperti yang kita maklumi, sebab keberadaan hadis ini berkaitan dengan masalah pekerjaan. Di mana para sahabat asli Madinah, mereka mengkawinkan kurma, yang itu membutuhkan banyak effort dalam melakukannya. Karena petani harus naik ke kurma jantan, ambil benang sari, lalu turun, kemudian naik lagi ke pohon kurma betina, untuk menaruhnya di putik.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Melihat ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang aslinya penduduk Mekah merasa terheran, dan menurut beliau itu tindakan yang terlalu banyak buang-buang tenaga. Sehingga beliau sarankan kepada mereka untuk dibiarkan saja, jika memang sudah ditaqdirkan berbuah, pasti akan berbuah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Walhasil, di tahun itu, banyak kurma gagal berbuah. Dari situlah, beliau menyatakan bahwa urusan dunia, masyarakat lebih paham.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Budaya semacam ini sangat mungkin mengalami perubahan seiring dengan perkembangan interaksi masyarakat dan asimilasi budaya diantara mereka.</span></p>
<h2><span style="font-weight: 400;">[2] Karena dorongan keyakinan tertentu.</span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita menyebutnya dengan filosofi budaya. Lalu dianggap sebagai bagian dari kearifan lokal.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mengingat berangkat dari filosofi budaya, masing-masing daerah bisa jadi berbeda-beda, tergantung budaya masing-masing.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pamali yang berlaku di Jogja, berbeda dengan pamali yang berlaku di Sumatra, berbeda pula dengan yang berlaku di Papua atau Lombok.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian pula yang kaitannya dengan sebab keberuntungan. Di Solo, sebab keberuntungan adalah kerbau. Di Papua, sebab keberuntungan adalah babi. Dan mungkin akan berbeda dengan sebab keberuntungan yang berlaku di Lombok ataupun Bali.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Itulah efek dari keberadaan mitos mereka yang berbeda-beda antara satu masyarakat dengan masyarakat lain.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan umumnya budaya semacam ini tidak mengalami perubahan. Dari dulu sampai sekarang, sama.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sekalipun orang menyebut zaman IT, masyarakat sudah modern, budaya dengan latar belakang mitos ini, protap-nya tetap sama.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang menjadi persoalan adalah budaya semacam ini seringnya dikait-kaitkan dengan takdir, baik berupa keberuntungan maupun kecelakaan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di masyarakat Jogja misalnya, mengadakan hajatan saat bulan Suro (Muharram) adalah sumber ciloko (kecelakaan). Sehingga dijadikan pantangan. Rumah menghadap ke utara dianggap lambang keberkahan, dan seterusnya. Pecah kendi dianggap mendatangkan rizki, dan seterusnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Padahal bagi seorang muslim, kita meyakini bahwa takdir adalah ketetapan Allah, di mana tidak ada satupun makhluk yang tahu. Sehingga ketika takdir itu dikaitkan dengan budaya tertentu, kita bisa sebut, ini seperti nekad meraba ‘perbuatan Allah’ dengan aktivitas makhluk-Nya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari mana anda tahu melakukan hajatan saat bulan Muharram adalah sumber musibah?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari mana anda tahu saat melepas merpati lalu terbang lurus adalah tanda berkah?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari mana anda tahu pecah kendi akan membuka pintu rizki?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena itulah, melestarikan budaya semacam ini tidak diperkenankan dalam Islam. Dalam kajian aqidah, ini disebut tiyaroh, meyakini keberuntungan dan kesialan disebabkan kejadian tertentu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Abdullah bin Mas’ud </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">الطِّيَرَةُ شِركٌ ، الطِّيَرَةُ شِركٌ ، الطِّيَرَةُ شِركٌ ، وما منا إلا ، ولكنَّ اللهَ يُذهِبُه بالتَّوَكُّلِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Thiyarah adalah kesyirikan, thiyarah adalah kesyirikan, thiyarah adalah kesyirikan.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kata Ibnu Mas’ud, “dan setiap kita pasti pernah mengalaminya. Namun Allah hilangkan itu dengan memberikan tawakkal (dalam hati)” (HR. Abu Daud no. 3910).</span></p>
<h2><b>Sebab Musibah adalah Durhaka</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Bukan berarti tidak ada sebab musibah. Islam juga mengajarkan adanya sebab musibah bagi manusia, yaitu durhaka kepada Sang Pencipta. Sebaliknya sebab keberuntungan adalah ketaatan kepada Sang Pencipta.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari mana anda tahu hal ini?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al-Quran yang menyebutkan itu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah berfirman,</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. as-Syuro: 30)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mengenai sebab keberuntungan, Allah berfirman,</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. al-A’raf: 96)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian, semoga bermanfaat…</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Allahu a’lam.</span></i></p>
<p><strong>Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)</strong></p>
<p><strong>Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Tanya Ustadz untuk Android</a>. <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Download Sekarang !!</a></strong></p>
<p><strong>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</strong></p>
<ul>
<li>
<strong>REKENING DONASI </strong>: BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK</li>
</ul>
 