
<p>Allah <em>Ta’ala</em> telah mengumpulkan dalam diri Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>berupa <em>jawaami’ kalim, </em>yaitu ucapan beliau yang singkat, namun penuh dengan makna dan faidah. Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>memiliki wasiat-wasiat yang agung, kalimat yang indah. Siapa pun yang berusaha menggali dan mengamalkannya, niscaya dia akan beruntung di dunia dan di akhirat.</p>
<p>Salah satunya adalah hadits yang diceritakan dari sahabat Abu Ayyub Al-Anshari <em>radhiyallahu ‘anhu, </em>ada seseorang yang mendatangi Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>kemudian mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>عِظْنِي وَأَوْجِزْ</strong></span></p>
<p>“Berilah aku nasihat, namun ringkas saja.”</p>
<p>Dalam riwayat lain dikatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي وَأَوْجِزْ</strong></span></p>
<p>“Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku ilmu yang singkat dan padat.”</p>
<p>Lalu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ وَأَجْمِعْ الْيَأْسَ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ</strong></span></p>
<p>“Apabila kamu (hendak) mendirikan shalat, maka shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak berpisah. Janganlah kamu mengatakan suatu perkataan yang akan kamu sesali (di kemudian hari). Dan kumpulkan rasa putus asa dari apa yang di miliki orang lain.” <strong>(HR. Ahmad no. 23498, Ibnu Majah no. 4171. Lihat <em>Ash-Shahihah </em>no. 401)</strong></p>
<p>Dalam hadits tersebut, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>menyebutkan tiga perkara yang mengumpulkan seluruh kebaikan.</p>

<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong>Pertama, wasiat untuk menjaga shalat dan mendirikan shalat dalam kondisi yang paling sempurna.</strong></span></h2>
<p>Wasiat yang pertama, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda bahwa siapa saja yang hendak mendirikan shalat, hendaklah dia shalat sebagaimana shalat orang-orang yang hendak berpisah. Kita tentu mengetahui bahwa orang yang akan bepergian jauh dengan niat tidak akan pernah kembali, tentu berbeda kondisinya dengan orang yang bepergian namun akan segera kembali pulang.</p>
<p>Demikian pula orang yang sedang mendirikan shalat. Jika dia menghadirkan dalam hatinya, seolah-olah shalat tersebut adalah shalat yang terakhir, tentu dia akan berusaha untuk shalat sebaik mungkin, dia akan sungguh-sungguh, membaguskan gerakan dan bacaannya, dan berusaha <em>khusyu’</em> dalam semua posisi shalat. Oleh karena itu, hendaknya setiap mukmin berusaha untuk memperhatikan wasiat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>yang satu ini dalam setiap shalat yang dia dirikan. Dia merasa bahwa shalat tersebut adalah shalat yang terahir, dia merasa tidak akan shalat lagi setelah itu, dia shalat sebagaimana orang yang akan bepergian jauh dan tidak akan pernah kembali. Jika perasaan semacam ini hadir, diharapkan dia akan mendirikan shalat secara sempurna.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/56717-kewajiban-seorang-ayah-dalam-menasihati-sang-anak.html" data-darkreader-inline-color="">Kewajiban Seorang Ayah dalam Menasihati Sang Anak</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong>Kedua, wasiat untuk menjaga lisan.</strong></span></h2>
<p>Wasiat kedua adalah wasiat untuk menjaga lisan. Lisan adalah perkara paling berbahaya dalam diri seorang manusia. Jika ada kalimat yang keluar dari lisan seseorang, maka dia harus bertanggung jawab alias menanggung akibatnya. Oleh karena itu, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengatakan, “Janganlah kamu mengatakan suatu perkataan yang akan kamu sesali (di kemudian hari).” Maksudnya, kita menyesal kemudian sibuk meminta maaf kepada orang lain sebagai akibat dari kalimat yang kita ucapkan tersebut.</p>
<p>Ya, hari ini kita mengucapkan suatu kalimat, lalu di kemudian hari kita sibuk meminta maaf atas kalimat yang kita ucapkan. Atau di kemudian hari kita sibuk membuat klarifikasi atas pernyataan yang kita buat. Hal ini karena ternyata kalimat tersebut menyakiti orang lain, misalnya.</p>
<p>Ini pula yang diwasiatkan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>kepada Mu’adz <em>radhiyallahu ‘anhu. </em>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>أَلَا أُخْبِرُكَ بِمَلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ ؟ قُلْتُ: بَلَى يَا نَبِيَّ اللَّهِ، فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ قَالَ: كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا ، فَقُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ؟ فَقَالَ: ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ</strong></span></p>
<p>“Maukah kamu aku kabarkan dengan sesuatu yang menguatkan itu semua?”</p>
<p>Aku (Mu’adz) menjawab, “Ya, wahai Nabi Allah.”</p>
<p>Lalu beliau memegang lisannya, dan bersabda, “Tahanlah lidahmu ini.”</p>
<p>Aku bertanya, “Wahai Nabi Allah, (apakah) sungguh kita akan diazab disebabkan oleh perkataan yang kita ucapkan?”</p>
<p>Beliau menjawab, “(Celakalah kamu), ibumu kehilanganmu wahai Mu’adz. Tidaklah manusia itu disungkurkan ke dalam neraka di atas muka atau hidung mereka melainkan karena hasil ucapan lisan mereka?” <strong>(HR. Tirmidzi no. 2616. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam <em>Shahih Al-Jaami’ </em>no. 5136)</strong></p>
<p>Dalam hadits yang lain, diceritakan oleh shabat Abu Sa’id Al-Khudhri <em>radhiyallahu ‘anhu, </em>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنْ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا</strong></span></p>
<p>“Bila manusia berada di waktu pagi, seluruh anggota badan menutupi (kesalahan) lisan lalu berkata, “Takutlah pada Allah tentang kami, kami bergantung padamu. Apabila Engkau lurus, kami pun lurus. Dan apabila Engkau bengkok, kami pun (ikut) bengkok.” <strong>(HR. Ahmad no. 11908, Tirmidzi no. 2407. Dinilai hasan oleh Al-Albani dalam <em>Shahih Al-Jaami’ </em>no. 351)</strong></p>
<p>Wasiat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “Janganlah kamu mengatakan suatu perkataan yang akan kamu sesali (di kemudian hari)”; mengingatkan kita untuk selalu muhasabah dengan diri kita sebelum mengucapkan suatu perkataan. Hendaklah dia merenungkan, apakah ada kebaikan dalam kalimat yang akan dia ucapkan? Jika yang dia dapati hanya keburukan, tentu dia akan segera menahan lisannya. Begitu pula jika dia tidak tahu apakah dampaknya akan baik atau buruk, dia pun akan menahan diri sampai perkara tersebut jelas baginya.</p>
<p>Oleh karena itu, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>مَنْ كانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيصْمُتْ</strong></span></p>
<p>“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” <strong>(HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47)</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/56433-10-nasihat-penyubur-iman-di-tengah-wabah-pandemi-corona.html" data-darkreader-inline-color="">10 Nasihat Penyubur Iman di Tengah Wabah Pandemi Corona</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong>Ketiga, wasiat untuk memiliki sifat <em>qana’ah</em>.</strong></span></h2>
<p>Wasiat ketiga mengandung pelajaran untuk bersikap <em>qana’ah</em>, dan menggantungkan hati sepenuhnya kepada Allah <em>Ta’ala</em>, bukan kepada manusia, siapa pun mereka. Kumpulkanlah rasa putus asa atas apa yang dimiliki oleh orang lain, jangan berharap kepada mereka, dan gantungkanlah harapanmu hanya untuk Allah <em>Ta’ala</em> saja. Engkau tidak meminta, kecuali hanya meminta kepada Allah <em>Ta’ala</em>. Engkau tidak berharap, kecuali hanya berharap kepada Allah <em>Ta’ala</em> saja. Engkau berputus asa dari siapa pun, kecuali Allah <em>Ta’ala</em>. Sehingga Engkau pun hanya berharap kepada Allah <em>Ta’ala</em> saja. Shalat adalah penghubung antara seseorang dengan Allah <em>Ta’ala</em>, sehingga shalat adalah sarana utama untuk mendapatkan pertolongan dari Allah <em>Ta’ala</em>.</p>
<p>Jika seseorang hanya berharap kepada Allah <em>Ta’ala</em>, dia akan hidup dengan <em>qana’ah</em>, dia hanya bertawakkal kepada Allah <em>Ta’ala</em>. Allah <em>Ta’ala</em> pun akan mencukupinya di dunia dan di akhirat.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ</strong></span></p>
<p>“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya?” <strong>(QS. Az-Zumar [39]: 36)</strong></p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ</strong></span></p>
<p>“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” <strong>(QS. Ath-Thalaq [65]: 3)</strong></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/32493-saling-memberikan-nasihat-untuk-mempelajari-al-quran.html" data-darkreader-inline-color="">Saling Memberikan Nasihat untuk Mempelajari Al Qur’an</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/43582-nasihat-kepada-para-penuntut-ilmu.html" data-darkreader-inline-color="">Nasihat kepada para Penuntut Ilmu</a></strong></li>
</ul>
</div>
</div>
<p><strong>***</strong></p>
<p>@Rumah Kasongan, 17 Shafar 1442/ 4 Oktober 2020</p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></strong></p>
<p><strong> Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="http://Muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p> </p>
<p><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<p>Disarikan dari kitab <strong><em>Ta’zhiim Ash-Shalaat </em></strong><em> </em>hal. 46-49, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr <em>hafidzahullahu Ta’ala, </em>cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.</p>
 