
<p style="text-align: justify;">Imam Ibnul Qoyyim <em>rahimahullahu</em> berkata:</p>
<p style="text-align: justify;">“Seorang hamba apabila bertekad untuk melakukan suatu perkara maka wajib atasnya untuk pertama kali melihat; apakah hal itu termasuk ketaatan kepada Allah atau bukan?</p>
<p style="text-align: justify;">Apabila ternyata hal itu bukan ketaatan hendaklah tidak dia lakukan. Kecuali apabila hal itu adalah suatu perkara yang hukumnya mubah/boleh-boleh saja dan digunakan untuk membantu terlaksananya ketaatan. Dalam kondisi seperti ini maka sesuatu yang asalnya mubah tadi berubah menjadi bernilai ketaatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian apabila tampak jelas baginya bahwa hal itu merupakan ketaatan, hendaklah dia melihat kembali hal itu apakah dirinya diberikan bantuan/pertolongan dari Allah untuk melakukan hal itu atau tidak? Apabila dia belum atau tidak mendapatkan bantuan/pertolongan dari Allah untuk melakukannya maka janganlah dia memaksakan diri melakukan hal itu karena hal itu justru akan menghinakan dirinya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Apabila dia mendapatkan bantuan/pertolongan dari Allah untuk hal itu maka masih ada perkara lain yang harus diperhatikan; yaitu hendaklah dia mendatangi/memulai perbuatan itu dari pintu/jalan yang semestinya. Karena apabila dia menghampiri perbuatan dan masalah itu tidak melalui pintu/jalan yang semestinya maka dia pasti akan menyia-nyiakan, tidak menunaikan haknya, atau bahkan merusak salah satu bagian di dalamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketiga perkara ini adalah pokok kebahagiaan dan sumber keberuntungan hamba. Inilah makna yang tersimpan dalam ucapan hamba ‘<i>Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus</i>’. (QS. Al-Fatihah 5-6).</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh sebab itu manusia yang paling berbahagia adalah orang yang menegakkan ibadah –<i>ahlul ‘ibadah</i>-, senantiasa memohon pertolongan Allah –<i>ahlul isti’anah</i>-, dan orang yang menadapatkan curahan hidayah –<i>ahlul hidayah</i>– terhadap segala hal yang dituntut. Dan orang yang paling binasa adalah orang yang kehilangan ketiga perkara ini sekaligus.”</p>
<p style="text-align: justify;">Dari keterangan di atas, dapatlah kita tarik kesimpulan, bahwa kebahagiaan itu ditegakkan di atas tiga pilar utama, yaitu: Ibadah kepada Allah [baca; tauhid], <i>Isti’anah</i> kepada Allah [baca; tawakal], Hidayah menuju jalan yang lurus [baca; ilmu dan amal].</p>
<p style="text-align: justify;">**<br>
Disalin dari buku “<b>Tauhid: Kunci Kebahagiaan yang Terlupa</b>”, Abu Mushlih Ari Wahyudi, hlm. 105-106, Pustaka Muslim, Yogyakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Dipublikasikan ulang oleh Muslimah.Or.Id<br>
Artikel Muslimah.Or.Id</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 