
<p>Sahabat muslim, syariat Islam adalah syariat yang sempurna dan tidak ada kontradiksi di dalamnya</p>

<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Prinsip Seorang Muslim</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Prinsip yang harus diketahui dan diyakini oleh seorang muslim adalah bahwa tidak ada pertentangan (kontradiksi) dalam syariat Islam, baik yang didapatkan dari Al-Qur’an ataupun hadits yang shahih dari Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam.  </span></i><span style="font-weight: 400;">Tidak ada kontradiksi antara ayat Al-Qur’an yang satu dengan yang lain; atau antara hadits shahih yang satu dengan hadits shahih yang lain; dan tidak ada pula pertentangan antara ayat Al-Qur’an dengan hadits yang shahih. </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/52655-syariat-cadar.html" data-darkreader-inline-color="">Apakah Syariat Cadar Bertentangan dengan Perintah untuk Saling Mengenal?</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Petunjuk Al-Qur’an</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Prinsip tersebut didapatkan dari Al-Qur’an, di antaranya firman Allah Ta’ala,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” </span><b>(QS. An-Nisa’ [4]: 82)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala juga berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakang, yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” </span><b>(QS. Fushshilat [41]: 42)</b></p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Al-Qur’an Selamat dari Kontradiksi dan Terjaga dari Kebatilan.</strong></span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/46140-hukum-berobat-dalam-tinjauan-syariat-bag-1.html" data-darkreader-inline-color=""><strong>Hukum Berobat dalam Tinjauan Syariat</strong></a></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Hadits yang Shahih</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian pula hadits yang shahih dari Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">juga selamat dari kontradiksi. Hal ini karena hadits Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">juga wahyu yang berasal dari Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى ؛ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” </span><b>(QS. An-Najm [53]: 3-4)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” </span><b>(QS. An-Nahl [16]: 44)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sehingga As-Sunnah itu kedudukannya sama dengan Al-Qur’an, selama hadits tersebut shahih (valid) dari Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam.</span></i></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/45827-apakah-orang-kafir-terkena-kewajiban-syariat-bag-1.html" data-darkreader-inline-color=""><strong>Apakah Orang Kafir Terkena Kewajiban Syariat?</strong></a></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Jika Ada “kesan” Kontradiksi</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalil-dalil di atas jelas menunjukkan bahwa tidak ada kontradiksi dari dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kalau ada “kesan” kontradiksi dalam syariat, maka bisa jadi karena beberapa kemungkinan: (1) kurangnya pemahaman </span><b><i>(al-fahmu)</i></b> <span style="font-weight: 400;">dalam menelaah dalil-dalil tersebut; (2) karena kurangnya ilmu </span><b><i>(al-‘ilmu)</i></b><span style="font-weight: 400;">; dan (3) kurangnya usaha untuk memahami dan merenungkan dalil </span><b><i>(at-tadabbur)</i></b><b>.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika tiga hal ini </span><i><span style="font-weight: 400;">(al-fahmu, al-‘ilmu, </span></i><span style="font-weight: 400;">dan </span><i><span style="font-weight: 400;">at-tadabbur) </span></i><span style="font-weight: 400;">terkumpul dalam diri seorang muslim, maka tidaklah mungkin ada kesan yang muncul dalam diri seseorang bahwa ada kontradiksi dalam syariat, baik yang berasal dari Al-Qur’an ataupun hadits yang valid dari Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Dan masalah ini pun dipelajari secara mendalam dalam ilmu ushul fiqh.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/44565-beda-benci-syariat-poligami-dan-benci-poligami.html" data-darkreader-inline-color="">Beda “Benci Syariat Poligami” dan “Benci Poligami”</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/40773-hukum-asal-ibadah-adalah-terlarang-sampai-ada-dalil-dari-syariat.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Asal Ibadah adalah Terlarang, sampai Ada Dalil dari Syariat</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 3 Jumadil awwal 1441/ 29 Desember 2019</span></p>
<p><b>Penulis:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color=""> M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><b>Referensi:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Disarikan dari kitab </span><b><i>Ghayatul Ma’muul fi Syarhi Al-Bidaayah fil Ushuul, </i></b><span style="font-weight: 400;">hal. 458-460 (penerbit Daar Ibnu Rajab, cetakan pertama tahun 1433)</span></p>
 