
<p></p>
<p><em>Awalnya  Facebook hanyalah situs yang ditujukan untuk mahasiswa Harvard, tapi  sekarang hampir semua orang menjadi bagian darinya. Dengan 800 juta </em><em>lebih  anggota terdaftar dan popularitas yang luar biasa, rasanya ada sesuatu  yang bisa diambil oleh para pengusaha muslim dari situs yang baru  berusia delapan tahun ini.</em></p>
<h2>The Facebook dan Sekelumit sejarahnya</h2>
<p>Pada  tanggal 4 Februari tahun 2004, sebuah situs baru mengudara di dunia  maya. Namanya singkat, thefacebook.com. Pada awalnya, situs yang  menggunakan kombinasi warna putih-biru ini hanya diperuntukkan bagi para  mahasiswa Harvard University dan warganya. Tapi kemudian, berkat  kesuksesannya mengurus interkonektivitas warga Harvard melalui medium  web, akhirnya nama thefacebook.com mulai merayap hingga ke universitas  beken di USA lainnya seperti Stanford, Yale, Boston University, dan MIT.  Sampai saat tulisan ini dibuat, proses terbukanya situs dengan lalu  lintas (baca: traffic) terpadat sedunia ini terbukti sukses. Sebuah  angka fantastis yang hanya bisa dikalahkan oleh populasi penduduk RRC  alias Republik Rakyat China.</p>
<p><strong>Ambil ilmunya</strong></p>
<p>Di  Rubrik “Ngopi di Silicon Valley” ini, saya lebih tertarik untuk  menyeduh ilmu atau hikmah yang bisa kita ambil dari sejarah pendirian  dan pengembangan facebook ketimbang menguraikan sejarah mereka secara  detil. Lagi pula, di internet sudah banyak yang melakukan itu. <em>Ready? Here we go …..</em></p>
<p><strong>1. Berani kecil</strong></p>
<p>Banyak perusahaan yang dibangun oleh <em>founder</em> dengan semangat sedikit keliru. Mereka hanya ingin melihat perusahannya  langsung besar dan menjadi mega dalam sekejap, tapi terkadang mereka  tidak sabar atau bahkan tidak mau melewati proses untuk sampai ke situ.  Untuk facebook, Mark dan teman-teman sudah menunjukkan semangat yang  benar. Mereka memulai facebook dengan mimpi dan visi yang besar, tapi  mengawalinya dengan lingkup yang sangat kecil, yakni kampus mereka  sendiri, Harvard University.</p>
<p>Mark membutuhkan waktu sekitar dua  tahun untuk benar-benar yakin bahwa facebook memang siap untuk menerima  semua orang, tanpa melihat status akademisnya. Situs yang awalnya hanya  untuk anak-anak kampus dan SMA, akhirnya berubah menjadi jejaring sosial  yang terbuka untuk umum. Pada waktu itu terjadi, semua orang di  Indonesia yang sudah sering online pasti tahu bahwa saat itu sebenarnya  adalah eranya Friendster yang sangat terkenal dengan tagline tak  resminya, “jangan lupa testimoninya ya ….”</p>
<p>Sungguh sangat  mengejutkan dan mungkin agak sulit membayangkan bahwa pada akhirnya  Facebook bisa mengalahkan Friendster. Tidak hanya di Indonesia, tapi  juga dunia.</p>
<p><strong>2. Jangan malu meniru (baca: tidak apa-apa menjadi tukang contek)</strong></p>
<p>Di  sekolah, ada yang bilang kalau mencontek itu sesuatu yang nista, tapi  di dunia bisnis, setidaknya menurut Mark dan rekan, mencontek itu adalah  hal yang lumrah. Dan memang itulah yang dilakukan oleh Mark bersama  timnya. Fitur Status di Facebook sepertinya meniru Status yang ada di  Twitter, Newsfeed tampaknya mengambil ide dari Friendfeed (yang akhirnya  dibeli oleh facebook pada tahun 2009), Facebook Place mirip dengan  Foursquare, Facebook Share mirip Delicious atau Digg. Dan Facebook Deals  mirip Groupon.</p>
<p>Bahkan secara umum pun kita yang melek dengan  perkembangan dunia teknologi informasi tahu bahwa dari segi ide, Mark  dan rekan-rekannya tidak oroginal. Mereka hanya meniru beberapa situs  jejaring sosial yang sebelumnya sudah eksis seperti MySpace dan  Friendster.</p>
<p><strong>3. Gagal is Good</strong></p>
<p>Dari sekian  banyak hal yang dicontek oleh facebook, beberapanya memang sukses.  Facebook Status dan Newsfeed adalah contoh besarnya. Tapi beberapa  percobaan menduplikat yang sudah dilakukan oleh perusahaan yang berpusat  di Palo Alto ini juga tidak selamanya bisa bertahan. Diantaranya bahkan  ada yang bernasib tragis seperti Place dan Deals yang sudah ditutup  meski baru berusia kurang dari satu tahun. <em>This was tragically good!</em></p>
<p><strong>4. Kalau bosan meniru, buatlah sesuatu yang baru</strong></p>
<p>Selain  meniru, facebook juga bisa membuat sesuatu yang benar-benar baru dan  akhirnya bisa menjadi trend setter. Bahkan hingga sekarang. Contoh  terbaiknya adalah facebook like. Siapa sih yang tidak tahu frase “like  this” hari ini? Sebenarnya banyak sih yang tidak tahu. Tapi bila Anda  adalah salah satu pengguna facebook, saya tebak Anda tidak mungkin tidak  tahu apa artinya facebook like. Itu lho, sebuah tombol kecil berbentuk  jempol yang akan Anda klik bila melihat status, komen, foto, video,  situs, atau apa saja yang Anda anggap menarik di dalam ekosistem <em>social network </em>dengan populasi 845 juta pengguna ini.</p>
<p><strong>5. Luwes (untuk urusan <em>platform</em>)</strong></p>
<p>Untuk  memuluskan misi dan visinya sebagai situs penghubung umat manusia  sejagat, Mark dan semua staff di facebook selalu berusaha untuk membuat  facebook menjadi sebuah situs yang fleksibel atau luwes. Dengan kata  lain, situs yang memiliki beberapa <em>data center</em> ini juga tetap menjaga eksistensi mereka di semua <em>platform</em> populer seperti iOS, Android, dan Blackberry.</p>
<p>Jadi,  alih-alih memaksa penggunanya untuk terhubung ke situsnya hanya dengan  satu cara, yakni melalui web browser via url beken www.facebook.com,  Mark justru berani membuatkan beberapa aplikasi khusus yang biasanya  disediakan secara gratis untuk para pengguna setia facebook yang juga  menjadi konsumen fanatik salah satu <em>platform</em> terkenal yang  disebutkan di atas. Sikap seperti ini adalah sesuatu yang sangat  strategis bagi eksistensi facebook di masa depan karena bisa jadi para  pengguna yang saat ini masih setia <em>fesbukan</em> dari laptop atau PC dengan bantuan <em>web browser</em> akan beralih ke aplikasi native masing-masing OS di ponsel cerdasnya.</p>
<p><strong>6. Situsnya wong cilik</strong></p>
<p>Dari  ratusan juta penggunanya, Mark sadar bahwa tidak semuanya  berpenghasilan tinggi. Diantaranya pasti ada yang datang dari kalangan  ekonomi menengah ke bawah. Untuk kalangan seperti ini, Facebook tetap  berinovasi dengan cara membuatkan facebook zero di alamat  http://0.facebook.com. Url dengan angka 0 di depan ini adalah senjata  facebook untuk menangkap para penggunanya yang mengakses fb dengan  sistem bayar per kilobyte. Jadi bukan hanya partai politik yang bisa  dekat dengan wong cilik bukan? Startup juga bisa.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Untuk  para pengusaha muslim, janganlah malu memulai mimpi yang besar dengan  sesuatu yang berskala kecil. Bila ada contoh yang baik, tirulah. Ketika  bosan meniru, berinovasilah. Berusahalah untuk terus adaptif dan  fleksibel dengan perubahan. <em>Bismillah</em> dan selamat memulai! <strong>[MPM]</strong></p>
<p><strong>Penulis: Wim Permana, S.Kom</strong></p>
<p>Dapatkan Segera Majalah Pengusaha Muslim</p>
<p><strong><a title="majalah pengusaha" href="http://majalah.pengusahamuslim.com/">Edisi Cetak</a></strong></p>
<p><strong><a title="majalah bisnis" href="http://shop.pengusahamuslim.com/">Edisi Digital</a></strong></p>
 