
<p>Ingatlah bahwa orang yg paling sempurna imannya adalah orang yg paling baik akhlaknya (HR. Abu Dawud: 4682).</p>
<p>Syeikh Abdul Aziz bin Baz –<em>rohimahulloh</em>– mengatakan:</p>
<p>“Apabila dalil telah tegak dalam suatu masalah, maka wajib hukumnya mengambil pendapat yang sesuai dengan dalil tersebut, baik dalil dari Kitabullah ataupun dari sunah Rasul –<em>shallallahu alaihi wasallam</em>-, meskipun pendapat itu menyelisihi imam besar, bahkan walaupun menyelisihi sebagian sahabat.</p>
<p>Karena Allah menfirmankan (yang artinya):</p>
<p>“<em>Jika kalian berselisih dalam suatu masalah, maka kembalikanlah masalah itu kepada Allah dan RasulNya</em>“.</p>
<p>Allah –<em>subhanah</em>– TIDAK mengatakan: “kembalikanlah kepada orang ini dan orang itu”.</p>
<p>Akan tetapi, sudah seharusnya ada langkah memastikan kabar yang sampai kepada kita, serta menghormati dan menjaga adab terhadap para ulama.</p>
<p>Jika seseorang menemukan pendapat yang lemah dari salah satu imam, atau ulama, atau ahli hadits yang tepercaya; (harusnya dia ingat bahwa) hal itu tidak menurunkan kedudukan mereka.</p>
<p>Harusnya dia menghormati para ulama, menjaga adab terhadap mereka dan mengatakan perkataan yg baik, serta tidak mencela dan merendahkan mereka.</p>
<p>Tapi seharusnya dia menjelaskan yang benar beserta dalilnya, sekaligus mendoakan kebaikan utk ulama tersebut, juga mendoakan agar dirahmati dan diampuni.</p>
<p>Beginilah harusnya akhlak seorang ulama terhadap ulama lainnya, (yaitu) menghormati para ulama karena kedudukan mereka, dan mengerti akan keagungan, keutamaan, dan kemuliaan mereka”.</p>
[<em>Majmu’ Fatawa Ibnu Baz</em> 26/305].
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Musyaffa Ad Darini, Lc., MA.</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
 