
<h2><strong>Ternyata Puasa di Bulan Syuro Adalah Puasa Paling Afdol Setelah Puasa Ramadhan</strong></h2>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam ‘ala Rasulillah wa ba’du.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bulan Syuro atau dalam kalender Islam disebut bulan Muharram, yang dikenal mistis atau sial ini, ternyata menyimpan limpahan keberkahan. Menepis anggapan khurofat yang telah membudaya di masyarakat tanah air. Di antara lapis-lapis keberkahan di bulan Syuro adalah melakukan puasa di bulan ini, nilai pahalanya, puasa paling afdhol setelah puasa Ramadhan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalilnya hadis dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</span></p>
<p class="arab">أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Puasa yang paling afdol setelah puasa Ramadhan adalah puasa yang dilakukan di bulannya Allah, yaitu Muharram.” (HR. Muslim)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menjelaskan hadis di atas dengan menukil pernyataan Abu Ubaid.</span></p>
<p class="arab">قال أبو عبيد: إنَّما نسبه إلى الله عز وجل- والشُّهور كلها له – لتشريفه وتعظيمه ، وكل معظم ينسب إليه</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Abu Ubaid menerangkan: “Bulan Muharram dinisbatkan oleh Nabi kepada Allah Yang Maha Mulia padahal seluruh bulan adalah milik Allah, untuk menunjukkan kemuliaan dan keagungan bulan ini. Segala yang mulia, selalu dinisbatkan kepada Allah.” (Kasyful Musykil jilid 3, hal. 597, tahqiq: Dr. Ali Husain Al-Bawab)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bagaimana dengan puasa di bulan Sya’ban? Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak puasa di bulan tersebut sebagai indikasi afdolnya puasa di bulan Sya’ban?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian yang diceritakan Aisyah radhiyallahu’anha.</span></p>
<p class="arab">فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Bukhari dan Muslim)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, hadis di atas bukan berarti puasa di bulan Sya’ban adalah yang terafdol setelah puasa Ramadhan, melebihi puasa bulan Muharram. Alasannya dijelaskan Imam Nawawi rahimahullah berikut.</span></p>
<p class="arab">قوله صلى الله عليه وسلم (أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّم) تصريح بأنَّه أفضل الشهور للصَّوم، وقد سبق الجواب عن إكثار النَّبي صلى الله عليه وسلم من صوم شعبان دون المُحرَّم وذكرنا فيه جوابين، أحدهما: لعله إنِّما علم فضله في آخر حياته. والثاني: لعله كان يعرض فيه أعذار من سفر أو مرض أو غيرهما</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Puasa yang paling afdol setelah puasa Ramadhan adalah puasa yang dilakukan di bulannya Allah, yaitu Muharram” adalah sebagai dalil tegas bahwa bulan Muharram adalah bulan paling afdol untuk melakukan puasa. Telah kami jelaskan jawaban pertanyaan tentang Nabi memperbanyak puasa di bulan Sya’ban bukan di bulan Muharram, kami paparkan dua poin jawaban:</span></p>
<p><b>Pertama</b><span style="font-weight: 400;">, bisa jadi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui keutamaan Muharram di akhir hayat beliau.</span></p>
<p><b>Kedua</b><span style="font-weight: 400;">, atau saat bertemu dengan bulan Muharram, beliau sedang berada dalam kondisi uzur tidak puasa. Bisa karena safar, sakit, atau yang lainnya.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(Shahih Muslim Bi Syarhi An-Nawawi 8/55)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menambahkan penjelasan, bahwa pembagian afdoliyah puasa setelah puasa Ramadhan ada dua macam.</span></p>
<ol>
<li><span style="font-weight: 400;"> Puasa bulanan yang paling afdol adalah puasa di bulan Muharram.</span></li>
<li><span style="font-weight: 400;"> Puasa harian yang paling afdol adalah puasa di hari-hari khusus yang dianjurkan puasa, seperti puasa Arofah, puasa Syawal, dan lain-lain.</span></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam kitab karyanya yang berjudul Lathoiful Ma’arif, beliau rahimahullah menjelaskan:</span></p>
<p class="arab">وهذا الحديث صريحٌ في أنَّ أفضل ما تُطوع به من الصِّيام بعد رمضان صوم شهر الله المحرَّم، وقد يحتمل أن يراد : أنَّه أفضل شهر تطوع بصيامه كاملا بعد رمضان، فأمَّا بعض التَّطوع ببعض شهر فقد يكون أفضل من بعض أيامه كصيام يوم عرفه، أو عشر ذي الحجة، أو ستة أيام من شوال، و نحو ذلك</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Hadis tersebut (tentang keutamaan puasa di bulan Muharram) sebagai dalil tegas bahwa puasa tathowwu’/sunah yang paling afdol setelah puasa Ramadhan adalah puasa yang dilakukan di bulannya Allah yaitu Muharram. Dan mungkin saja maksudnya adalah puasa di bulan Muharram adalah puasa bulanan penuh yang paling afdol setelah puasa di bulan Ramadhan. Adapun puasa pada sebagian hari yang terdapat dalam bulan-bulan maka pahalanya lebih afdol daripada puasa di hari yang selainnya, seperti puasa Arofah, puasa di sepuluh hari pertama Dzulhijjah, puasa enam hari Syawal, dan yang lainnya.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 77, tahqiq: Yasin Muhammad Sawwas)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Puasa apa yang bisa kita lakukan di bulan Syuro ini?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ya bisa puasa sunah yang populer seperti puasa Dawud, puasa Senin Kamis, puasa tiga hari setiap bulan, atau puasa Ayyamul Bidh.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Atau bisa juga puasa tathowwu’, yaitu berniat puasa sunah yang tidak terikat oleh hari. Atau bisa diisi dengan puasa Qodo’ bagi yang memiliki hutang puasa Ramadhan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Wallahul muwaffiq.</span></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori<br>
</strong><strong>(Alumnus Universitas Islam Madinah, Pengajar di <a href="http://hamalatulquran.com/" target="_blank" rel="nofollow noopener noreferrer">PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta</a></strong></p>
<p><strong>Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Tanya Ustadz untuk Android</a>. <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Download Sekarang !!</a></strong></p>
<p><strong>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</strong></p>
<ul>
<li>
<strong>REKENING DONASI </strong>: BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK</li>
</ul>
 