
<p><iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1178217367&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe></p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>(Untuk, <em>red.</em>) wanita yang sedang haid, apakah (dia, <em>red.</em>) boleh membaca Alquran dan memasuki masjid?</p>
<p><em>Yanti (yanti**@***.com)</em><br>
<!--more--><br>
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah.</em></p>
<p>Ulama berselisih pendapat tentang hukum wanita haid yang masuk masjid. Ada yang memperbolehkan dan ada yang melarang. <strong>Pendapat yang mendekati kebenaran adalah pendapat yang memperbolehkan wanita haid masuk masjid</strong>. Di antara dalilnya adalah:</p>
<p><strong>Dalil pertama</strong>: Disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari, bahwa di zaman Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ada seorang wanita berkulit hitam yang tinggal di masjid. Sementara, tidak terdapat keterangan bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintahkan wanita ini untuk meninggalkan masjid ketika masa haidnya tiba.</p>
<p><strong>Dalil kedua</strong>: Ketika melaksanakan haji, Aisyah mengalami haid. Kemudian, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintahkan beliau untuk melakukan kegiatan apa pun, sebagaimana yang dilakukan jamaah haji, <strong>selain</strong> tawaf di Ka’bah. Sisi pengambilan dalil: Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> hanya melarang Aisyah untuk tawaf di Ka’bah dan tidak melarang Aisyah untuk masuk masjid. Riwayat ini disebutkan dalam <em>Shahih Bukhari</em>.</p>
<p><strong>Dalil ketiga</strong>: Disebutkan dalam <em>Sunan Sa’id bin Manshur</em>, dengan sanad yang sahih, bahwa seorang tabi’in, Atha bin Yasar, berkata, “Saya melihat beberapa sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> duduk-duduk di masjid, sementara ada di antara mereka yang junub. Namun, sebelumnya, mereka berwudhu.” Sisi pemahaman dalil: Ulama meng-<em>qiyas</em>-kan (<em>qiyas</em>:analogi) bahwa status junub sama dengan status haid; sama-sama hadats besar.</p>
<p><strong>Dalil keempat</strong>: Diriwayatkan dari Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em> bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah berkata kepadanya, “Ambilkan sajadah untukku di masjid!” Aisyah mengatakan, “Saya sedang haid.” Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Sesungguhnya, haidmu tidak berada di tanganmu.</em>” (HR. Muslim). Sebagian ulama menjadikan hadis ini sebagai dalil tentang bolehnya wanita haid masuk masjid.</p>
<p><strong>Dalil kelima</strong>: Tidak terdapat larangan tegas agar wanita haid tidak masuk masjid. Dalil yang dijadikan alasan untuk melarang wanita masuk masjid tidak lepas dari dua keadaan:<br>
1. Tidak tegas menunjukkan larangan tersebut.<br>
2. Sanadnya lemah, sehingga tidak bisa dijadikan dalil.</p>
<p><em>Allahu a’lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br>
<strong>Artikel <a href="https://konsultasisyariah.com" target="_blank" rel="noopener noreferrer">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
 