
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000; font-size: 21pt;"><strong>Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz</strong></span></p>
<p><b>Soal:</b></p>
<p>Kami mendengar dari sebagian ulama bahwa <i>Ahlussunnah wal Jama’ah</i> melakukan <i>takwil</i> terhadap sebagian ayat-ayat tentang sifat-sifat Allah. Apakah benar bahwa madzhab mereka demikian? Mohon beri petunjuk kepada kami. Semoga Allah membalas kebaikan Anda.</p>
<p><b>Jawab:</b></p>
<p>Yang benar adalah yang telah ditetapkan oleh ulama <i>Ahlussunnah wal jama’ah</i> bahwasanya mereka tidak melakukan <i>ta’wil</i> (penyelewengan makna) terhadap ayat maupun hadits tentang sifat-sifat Allah.  Yang melakukan <i>ta’wil</i> adalah kelompok <i>Jahmiyah</i> dan <i>Mu’tazilah</i>. Demikian pula kelompok <i>‘Asyairah</i> yang melakukan <i>ta’wil</i> terhadap sebagian sifat Allah. Adapun <i>Ahlussunnah wal jamaah</i>  dikenal bahwasanya akidah mereka meyakini dengan benar dan tidak melakukan <i>ta’wil</i>. Mereka meyakini terhadap ayat dan hadits tentang sifat sebagaimana adanya tanpa melakukan <i>tahrif</i>, <i>ta’thil</i>, dan tidak pula <i>takyif</i> maupun <i>tamtsil</i>. Hal itu semua tidak pernah dilakukan terhadap sifat-sifat Allah seperti sifat <i>al istiwa’</i>, <i>al</i> <i>qadam</i> (telapak kaki), <i>al yad</i> (tangan), <i>al ashabi</i>’ (jari-jamari), <i>ad dhahak</i> (tertawa), <i>ar ridha</i> (ridha), <i>al ghadhab</i> (marah). Sifat-sifat tersebut mereka yakini sebagaimana adanya dengan iman yang benar bahwasanya itu semua dalah sifat Allah <i>Ta’ala</i>, wajib ditetapkan untuk Allah sesuai dengan keagungan-Nya tanpa melakukan <i>tahrif, ta’thil, takyif</i>, dan <i>tamtsil</i>.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong><span style="color: #000000;">Baca juga:</span> <a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/14139-penyimpangan-terhadap-al-asma-al-husna.html">Penyimpangan Terhadap Al Asma Al Husna</a></strong></span></p>
<p>Sebagian manusia melakukan <i>ta’wil</i> terhadap sifat tertawa dengan sifat ridha, sifat <i>mahabbah</i> (cinta) dengan <i>iradah</i> (berkehendak) untuk memberi pahala, begitu pula dengan sifat rahmat. <i>Ahlussunnah</i> tidak meridhai perbuatan semacam itu. Kewajiban seorang muslim adalah tetap mengimaninya seperti apa yang ada dalam Al Quran dan hadits, dan meyakini bahwa itu semua benar. Allah <i>Ta’ala</i> mencintai dengan kecintaan yang hakiki sesuai dengan keagungan-Nya, tidak seperti rasa cinta yang ada pada makhluknya. Demikian pula sifat Allah yang lainnya seperti sifat ridha, marah, dan benci. Itu semua adalah sifat yang hakiki yang Allah telah sifatkan untuk diri-Nya sesuai dengan keagungan Allah dan sama sekali tidak serupa dengan sifat yang ada pada makhluk-Nya. Allah <i>Ta’ala</i> berfirman:</p>
<p class="arab" style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِير</span></p>
<p>“<i>Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah. Dia Zat Yang Maha mendengar lagi Maha Meliha</i>t” (Asy Syuura:11).</p>
<p>Demikian pula sifat tertawa dan <i>istiwa’</i> bagi Allah yang terdapat dalam nash merupakan sifat tertawa dan <i>istiwa’</i> yang hakiki sesuai dengan keagungan-Nya, tidak  serupa dengan satupun dari sifat makhluknya.</p>
<p>Tidak boleh melakukan <i>ta’wil</i> menurut <i>Ahlussunnah wal jama’ah</i>. Seorang muslim wajib membiarkan ayat dan hadits tentang sifat sesuai makna yang ada, disertai keimanan bahwasanya sifat tersebut benar merupakan sifat bagi Alah yang sesuai dengan keagungan-Nya. Adapun melakukan <i>tafwidh</i> maka juga tidak boleh. Imam Ahmad berkata tentang <i>ahlu tafwidh</i> (orang yang melakukan <i>tafwidh</i>):</p>
<p class="arab" style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إنهم شر من الجهمية</span></p>
<p>“Ahlu tafwidh lebih rusak daripada Jahmiyyah”</p>
<p>Yang dimaksud <i>tafwidh</i> adalah seseorang mengatakan, “Makna ayat dan hadits tentang sifat <i>Allahu ‘alam</i> (Allah yang lebih tahu) “. Yang demikian ini tidak boleh, karena makna tentang ayat dan hadits sifat sudah jelas diketahui oleh para ulama.</p>
<p>Imam Malik<i> rahimahullah</i> pernah berkata:</p>
<p class="arab" style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الاستواء معلوم، والكيف مجهول</span></p>
<p>“Sifat istiwa’ sudah maklum (jelas diketahui maknanya), dan kaifiyahnya majhul (tidak diketahui bagaimana caranya)<i>.</i>”</p>
<p>Perkataan serupa juga diriwayatkan dari Imam Rabi’ah bin Abdirrahman dan yang lain dari para ulama. Makna tentang sifat <i>istiwa’</i> sudah jelas diketahui. <i>Ahlussunah</i> mengetahui maknanya, demikian juga sifat ridha, marah, <i>mahabbah, istiwa’</i>, tertawa, dan sifat yang lain. Maknanya sudah diketahui dan tidak mengandung makna yang lain. Makna tertawa bukanlah ridha, makna ridha bukan marah, makna marah bukan mahabbah, makna melihat bukan mendengar. Seluruh sifat-sifat tersebut sudah jelas maknanya bagi Allah <i>Ta’ala</i>, akan tetapi tidak sama dengan sifat para makhluk-Nya. Allah <i>Ta’ala</i> berfirman:</p>
<p class="arab" style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فَلاَ تَضْرِبُواْ لِلّهِ الأَمْثَالَ</span></p>
<p>“<i>Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”</i> (An Nahl:74).</p>
<p class="arab" style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ</span></p>
<p>“<i>Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat</i>“ (Asy Syuura :11).</p>
<p class="arab" style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ</span></p>
<p>“<i>Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia</i>” (Al Ikhlas:4).</p>
<p>Inilah keyakinan yang benar yang diyakini oleh <i>Ahlussunnah wal jama’ah</i> dari kalangan para sahabat Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> dan para pengikut mereka yang mengikuti mereka dengan baik. Barangsiapa yang melakukan <i>ta’wil </i>maka telah menyelisihi <i>Ahlussunnah wal Jama’ah.</i></p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;"><span style="color: #000000;">Baca juga:</span> </span><a href="https://muslim.or.id/38054-sifat-allah-apakah-hanya-tujuh-atau-dua-puluh-01.html"><span style="color: #ff0000;">Sifat Allah: Apakah hanya Tujuh atau Dua Puluh? (Bag. 1)</span></a></strong></p>
<p>***</p>
<p>Sumber : http://www.ibnbaz.org.sa/mat/4744</p>
<p>Penerjemah : dr. Adika Mianoki</p>
<p>Artikel Muslim.Or.Id</p>
 