
<p>Rasa aman merupakan salah satu nikmat yang besar dari Allah <em>Ta’ala</em>  bagi umat manusia. Bahkan hal ini merupakan kebutuhan primer seorang hamba. Berkat rasa aman seorang hamba akan terbebas dari rasa takut dan khawatir sehingga bisa beribadah kepada Allah <em>Ta’ala</em> dengan tenang dan sempurna. Lain halnya jika hidup seseorang diliputi rasa takut dan was-was, kondisi ini akan berdampak pada ketidaksempurnaan ibadah yang ia lakukan. Demikian pula keamanan lingkungan akan membuahkan ketenangan jiwa, ketentraman batin, kebahagiaan serta kedamaian hati. Tidak mungkin suatu umat bisa hidup dengan baik dan kondusif tanpa adanya stabilitas keamanan di dalamnya.</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><strong>Nikmatnya Rasa Aman</strong></span></h4>
<p>Nabi yang mulia <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda</p>
<p dir="rtl" align="right">مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا</p>
<p>“ <em>Barangsiapa di antara kalian berada di waktu pagi dalam keadaan sehat badannya, aman pada keluarganya, dan dia memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka seolah-olah seluruh kenikmatan dunia dikumpulkan untuknya</em><em>.</em>” (HR. Ibnu Majah, hasan).</p>
<p>Dalam hadits ini, Nabi menjelaskan tentang salah satu nikmat dari Allah <em>Ta’ala</em>, yaitu rasa aman pada keluarga.</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><strong>Keamanan Bagi Ahli Tauhid</strong></span></h4>
<p>Seseorang yang bertauhid dengan benar akan mendapatkan rasa aman dan petunjuk. Allah <em>Ta’ala</em> menegaskan dalam firman-Nya:</p>
<p dir="rtl" align="right">الَّذِينَ ءَامَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُوْلَئِكَ لَهُمُ اْلأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ</p>
<p>“<em>Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang </em><em>berhak </em><em>mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang </em><em>berhak </em><em>mendapa</em><em>tkan </em><em> petunjuk.</em>” (Al An’am: 82).</p>
<p>Yang dimaksud dengan kezaliman dalam ayat di atas adalah adalah syirik, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika menafsirkan ayat ini. Ibnu Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu</em> mengatakan, “Ketika ayat ini turun, terasa beratlah di hati para sahabat, mereka mengatakan siapakah di antara kita yang tidak pernah menzalimi dirinya sendiri (berbuat maksiat), maka Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa salaam</em> bersabda, “Tidak demikian, akan tetapi yang dimaksud (dengan kezaliman pada ayat tersebut) adalah kesyirikan. Tidakkah kalian pernah mendengar ucapan Luqman kepada anaknya, “<em>Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar</em>” (Luqman: 13) (Lihat <em>Fathul Majid</em> 39-40).</p>
<p>Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan keimanan mereka dengan kezaliman (kesyirikan) merekalah ahli tauhid. Mereka akan mendapatkan rasa aman di dunia dan akhirat serta mendapatkan petunjuk baik di dunia maupun di akhirat. Mereka akan mendapatkan keamanan di dunia berupa ketenangan hati, dan juga keamanan di akhirat dari hal-hal yang ditakuti yang akan terjadi di hari akhir. Petunjuk yang mereka dapatkan di dunia berupa ilmu yang bermanfaat dan amal shalih, sedangkan petunjuk di akhirat berupa petunjuk menuju jalan yang lurus. Tentunya kadar keamanan dan petunjuk yang mereka dapatkan sesuai dengan kadar tauhidnya. Semakin sempurna tauhid seseorang, semakin besar keamanan dan petunjuk yang akan diperoleh.</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><strong>Jaminan Bagi Masyarakat yang Bertauhid</strong></span></h4>
<p>Kebaikan tauhid ternyata tidak hanya bermanfaat bagi individu. Jika suatu masyarakat benar-benar merealisasikan tauhid dalam kehidupan mereka, Allah <em>Ta’ala</em> akan memberikan jaminan bagi mereka sebagaimana firman-Nya:</p>
<p dir="rtl" align="right">وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ، لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ، وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ، وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً، يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً</p>
<p>“<em>Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. </em><em>Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku</em>”.  (An-Nur: 55).</p>
<p>Dalam ayat yang mulia ini Allah memberikan beberapa jaminan bagi suatu masyarakat yang mau merealisasikan tauhid yaitu:</p>
<ul>
<li>Mendapat kekuasaan di muka bumi.</li>
<li>Mendapat kemantapan dan keteguhan dalam beragama.</li>
<li>Mendapat keamanan dan dijauhkan dari rasa takut.</li>
</ul>
<p>Inilah sebagian diantara jaminan yang akan didapatkan oleh ahli tauhid. Semoga janji Allah dan Rasul-Nya di atas, semakin memotivasi kita untuk terus mempelajari tauhid dan mengamalkannya.</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><strong>Syirik Merupakan Sumber Ketakutan</strong></span></h4>
<p>Tauhid adalah sumber rasa aman, sedangkan syirik adalah sumber ketakutan. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="rtl" align="right">سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنزلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ</p>
<p>“<em>Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka melakukan perbuatan syirik </em><em>yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim</em>”. (Ali Imran: 151).</p>
<p>Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, “Kemudian Allah memberikan kabar gembira bagi orang-orang mukmin bahwa Allah akan memasukkan ke dalam hati musuh-musuh kaum mukminin rasa takut kepada mereka dan ketundukan kepada mereka disebabkan kekafiran dan kesyirikan yang telah dilakukan oleh orang-orang kafir tersebut, dan kemudian Allah akan menyelamatkan kaum mukminin di akhirat dari azab-Nya” (Tafsir Ibnu Katsir)</p>
<p>Syaikh Nashir As Sa’di <em>rahimahullah</em> berkata, “ Kemudian Allah menyebutkan sebab masuknya rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman :</p>
<p dir="rtl" align="right">بما أشركوا بالله ما لم ينزل به سلطانا</p>
<p>“… <em>disebabkan mereka melakukan perbuatan syirik </em><em>yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu</em><em>…</em> “.</p>
<p>Itu semua disebabkan mereka mengambil selain Allah baik berupa sekutu dan berhala, yang kemudian mereka jadikan sesembahan selain Allah sesuai dengan hawa nafsu mereka dan keinginan mereka yang rusak tanpa adanya hujjah dan tanpa dasar ilmu.</p>
<p>Mereka telah merusak wilayah kekuasaan Allah Ar Rahman. Siapa saja yang musyrik pasti akan memiliki rasa takut kepada orang-orang mukmin. Mereka tidak bersandar pada pokok yang kuat dan tidak memiliki tempat berlindung ketika dilanda kesusahan dan kesempitan. Inilah kondisi mereka di dunia.</p>
<p>Adapun di akhirat maka kondisinya lebih parah dan lebih berat. Oleh karena itu Allah befirman : { <strong>ومأواهم النار</strong> } (<em>tempat kembali mereka adalah neraka</em>). Maksudnya mereka menetap di dalamya dan tidak akan keluar. Itulah seburuk-buruk tempat kembali bagi orang-orang yang zalim disebabkan kezaliman dan pertentangan mereka sehingga tempat kembali mereka di neraka” ( <em>Taisiir Karimir Rahman</em> )</p>
<p>Semoga Allah <em>Ta’ala</em> senantiasa menjadikan kita istiqomah di atas jalan tauhid dan menjauhkan kita dari berbagai perbuatan syirik.</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: dr. Adika Mianoki</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
 