
<p><em>Bismillah … Alhamdulillah, allahumma sholli ‘ala Muhammad wa a’la aalihi wa shohbihi wa sallam.</em></p>
<p>Bagaimana tata cara tayamum yang benar dan sesuai tuntunan Rasul kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebelumnya remajaislam.com telah mengulas <a href="http://localhost/remajaislam/?p=204" title="6 Sebab Dibolehkan Tayamum"><strong>beberapa sebab yang membolehkan tayamum</strong></a>. Sekarang kita lihat ulasan mengenai tata cara tayamum. Moga bermanfaat bagi remaja sekalian.  <!--more-->  </p>
<p>Mengenai tata cara tayamum sudah dijelaskan dengan amat jelas oleh Nabi kita <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em></p>
<p>Tata cara tayamum yang shahih dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>adalah:</p>
<ol>
<li>Menetup      telapak tangan ke <strong><em>sho’id</em></strong> (contoh: debu) sekali tepukan.</li>
<li>Meniup      kedua tangan tersebut.</li>
<li>Mengusap      wajah sekali.</li>
<li>Mengusap      punggung telapak tangan sekali.</li>
</ol>
<p>Dalil pendukung dari tata cara di atas dapat dilihat dalam hadits ‘Ammar bin Yasir berikut ini.</p>
<p align="center">جَاءَ رَجُلٌ إِلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَقَالَ إِنِّى أَجْنَبْتُ فَلَمْ أُصِبِ الْمَاءَ . فَقَالَ عَمَّارُ بْنُ يَاسِرٍ لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَمَا تَذْكُرُ أَنَّا كُنَّا فِى سَفَرٍ أَنَا وَأَنْتَ فَأَمَّا أَنْتَ فَلَمْ تُصَلِّ ، وَأَمَّا أَنَا فَتَمَعَّكْتُ فَصَلَّيْتُ ، فَذَكَرْتُ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ هَكَذَا » . فَضَرَبَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بِكَفَّيْهِ الأَرْضَ ، وَنَفَخَ فِيهِمَا ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ وَكَفَّيْهِ</p>
<p>Ada seseorang mendatangi ‘Umar bin Al Khottob, ia berkata, “Aku junub dan tidak bisa menggunakan air.” ‘Ammar bin Yasir lalu berkata pada ‘Umar bin Khottob mengenai kejadian ia dahulu, “Aku dahulu berada dalam safar. Aku dan engkau sama-sama tidak boleh shalat. Adapun aku kala itu mengguling-gulingkan badanku ke tanah, lalu aku shalat. Aku pun menyebutkan tindakanku tadi pada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, lantas beliau bersabda, “Cukup bagimu melakukan seperti ini.” Lantas beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mencontohkan dengan menepuk kedua telapak tangannya ke tanah, lalu beliau tiup kedua telapak tersebut, kemudian beliau mengusap wajah dan kedua telapak tangannya. (HR. Bukhari no. 338 dan Muslim no. 368)</p>
<p>Dalam riwayat Muslim disebutkan,</p>
<p align="center">ثُمَّ ضَرَبَ بِيَدَيْهِ الأَرْضَ ضَرْبَةً وَاحِدَةً ثُمَّ مَسَحَ الشِّمَالَ عَلَى الْيَمِينِ وَظَاهِرَ كَفَّيْهِ وَوَجْهَهُ</p>
<p>“Kemudian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>menepuk kedua telapak tangannya ke tanah dengan sekali tepukan, kemudian beliau usap tangan kiri atas tangan kanan, lalu beliau usap punggung kedua telapak tangannya, dan mengusap wajahnya.”</p>
<p>Namun dalam riwayat Muslim ini didahulukan mengusap punggung telapak tangan, lalu wajah. Ini menunjukkan bahwa urutan antara wajah dan kedua telapak tangan tidak dipersyaratkan mesti berurutan.</p>
<p>Hadits ‘Ammar di atas menunjukkan tayamum cukup sekali tepukan untuk wajah dan telapak tangan. Jadi kurang tepat dilakukan dengan cara satu tepukan untuk wajah dan satu lagi untuk telapak tangan hingga siku. Mengapa dinyatakan kurang tepat?</p>
<ol>
<li>Hadits      yang membicarakan dua kali tepukan dan mengusap tangan hingga siku berasal      dari hadits yang <strong><em>dho’if</em></strong>, tidak ada hadits marfu’ sampai Nabi      <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</li>
<li>Dalam      ayat dan hadits hanya dimutlakkan <strong>telapak tangan</strong>, sehingga <span style="text-decoration: underline;">tidak      mencakup</span> bagian telapak hingga siku. Ibnu ‘Abbas berdalil bahwa bagian      tangan yang dipotong bagi pencuri adalah hanya telapak tangan. Beliau      berdalil dengan ayat tayamum. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1: 203)</li>
</ol>
<p>Semakin kita berpedomanpada dalil, itulah yang lebih selamat. Hanya Allah yang memberi taufik.</p>
<p> </p>
<p>@  Ummul Hamam, Riyadh KSA, 7 Muharram 1433 H</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel <a href="../../undefined/">www.remajaislam.com</a></p>
 