
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Saya menyimpan uang di bank syariah, karena alasan keamanan. Tiap  bulan, saya hitung bagi hasilnya untuk saya pisahkan karena, menurut  para ustadz yang saya tanya, bagi hasil dari bank syariah hanya namanya  saja, sesungguhnya itu masih seperti bunga pada bank konvensional. Yang  ingin saya tanyakan, bolehkah uang hasil bagi hasil bank syariah saya  gunakan untuk membayar Pajak Pendapatan Pribadi karena saya mempunyai  NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak, red) pribadi? <em>Syukran</em> sebelumnya.</p>
<p>Ningsih</p>
<p>***</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah.</em></p>
<p>Jika kita telah memahami bahwa uang bagi hasil itu hakikatnya adalah  riba maka uang tersebut tidak boleh digunakan untuk kepentingan yang  manfaatnya kembali ke pemilik uang (riba), apapun bentuknya, termasuk  pembayaran pajak.<br> Karena itu, uang bagi hasil tadi tidak boleh digunakan untuk membayar Pajak Penghasilan Pribadi. <em>Allahu a’lam.</em></p>
<p>Ustadz Ammi Nur Baits, S.T.<br> Tim Dakwah PM</p>
<p>***</p>
<p>Tanggapan:</p>
<p>Sedikit menambahkan pertanyaan bagi Ustadz Ammi <em>hafizhahullahu wa nafa’allahu bihi</em>.</p>
<p>Ustadz, bagaimana istinbat pengharaman uang riba yg digunakan sebagai pembayaran pajak, padahal:</p>
<p>Pertama, berkenaan dengan pajak, bukankah pajak dalam artian seperti  yg diterapkan oleh negeri ini adalah pajak yang tidak diterima di dalam <em>syara</em>‘ (syariat Islam, red), dan bahkan termasuk kezaliman terhadap kaum muslimin –sebagaimana yang pernah dijelaskan oleh <em>Fadhilatul Ustadz </em>DR.  Arifin Badri–. Jadi, pajak itu sendiri adalah bentuk kezaliman, berupa  perampasan harta terhadap kaum muslimin dengan cara yang tidak <em>haq</em>.</p>
<p>Kedua, bukankah pajak –sebagian besarnya– ditarik oleh pemerintah  untuk dialokasikan bagi pembangunan fasilitas umum, jalan raya, santunan  fakir miskin, dan lain-lain, yang mana mayoritas anggaran pembelanjaan  negara juga sebagian besar dari pajak? CMIIW (<em>correct me if I’m wrong,</em> mohon benarkan jika saya salah, red). Jadi, bukankah banyak fatwa para  ulama yang memperbolehkan mengeluarkan uang riba untuk pembangunan  fasilitas umum, atau bahkan diinfakkan bagi fakir miskin, sebagaimana  salah satu jawaban antum tentang hal ini?</p>
<p>Lantas, F<em>adhilatul Ustadz</em>, bagaimanakah <em>wijhatun nazhar</em> (sudut pandang, red) pengharaman menggunakan uang riba untuk pajak? Di  mana kita sama-sama tahu bahwa pajak itu adalah suatu yang tidak  diterima oleh <em>syara’,</em> dan pemerintah pun menggunakan pajak tersebut untuk kepentingan umum.</p>
<p>Adakah fatwa atau jawaban dari para ulama yang mungkin Ustadz ketahui??? Atas penjelasan dan jawaban dari <em>Fadhilatil Ustadz</em>, saya ucapkan <em>jazakallahu khayral jazaa’</em>.</p>
<p>NB: Bagi para pembaca, jangan sampai salah paham. Walaupun pajak  adalah suatu hal yang menyelisihi syariat dan suatu bentuk kezaliman  terhadap kaum muslimin, namun kita tetap wajib menaatinya sebagai bagian  dari ketaatan terhadap penguasa kaum muslimin, sebagai pengejawantahan  terhadap hadits-hadits yang sangat banyak jumlahnya, yang menuntunkan  agar kita tetap sabar, mendengar, dan taat walaupun penguasa merampas  hak kita dan memukul punggung kita. W<em>allahu a’lam.</em></p>
<p>Ustadz Abu Salma</p>
<p>***</p>
<p>Jawaban:</p>
<p><em>Bismillah.</em></p>
<p>Fatwa yang saya temukan adalah sebagai berikut:</p>
<p>Fatwa pertama:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">ع/91 بنوك وربا/ دفع الضرائب من الفوائد الربوية</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">[2078] عرض على اللجنة الاستفتاء الآتي المقدم من السيد / ناصر :<br> …يرجى من سيادتكم إفادتنا بشرعية التالي: يوجد لدينا عقارات في بعض الدول الأوروبية ندفع عنها ضرائب سنوية لهذه الدول.<br> …هل يجوز سداد هذه الضرائب من أموال ربوية ناتجة عن فوائد بنكية؟</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أجابت اللجنة بما يلي:<br> … لا يجوز إيداع الأموال في البنوك مقابل فائدة ربوية، وبالتالي لا يجوز  تسديد الضرائب من هذه الأموال لأنها خبيثة لا يجوز الانتفاع بها بحال من  الأحوال، وإنما تصرف للمصالح العامة ، عدا المساجد والمصاحف ولا تحتسب من  الزكاة، ولا يقضى بها دين. والله أعلم. (فتاوى قطاع الإفتاء بالكويت</p>
<p>Terjemahan fatwa tersebut:</p>
<p><strong>Hukum membayar pajak dengan bunga ribawi.</strong></p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong> Saya memiliki tanah di salah satu negara Eropa,  yang wajib dibayar pajaknya setiap tahun kepada negara ini. Bolehkah  melunasi pajak ini dengan harta ribawi hasil dari bunga bank?</p>
<p><strong>Jawaban:</strong> Tidak boleh menyimpan uang di bank dalam rangka  mendapatkan bunga ribawi. Oleh karena itu, tidak boleh melunasi pajak  dari uang ini, karena riba adalah harta kotor yang tidak boleh  dimanfaatkan, untuk apa pun keadaannya. Namun, bunga itu digunakan untuk  kemaslahatan umum, selain masjid, pengadaan Al-Quran, dan tidak boleh  dianggap sebagai zakat, serta tidak boleh digunakan membayar utang. <em>Allahu a’lam.</em> (<em>Fatawa Qutha’ul Ifta’ </em>di Kuwait, no. 2078, diambil dari fatwa <em>Lajnah Istifta’</em>).</p>
<p>Fatwa kedua:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">رقم الفتوى 23036 السبب في عدم جواز دفع الضرائب من المال الحرام<br> تاريخ الفتوى : 23 رجب 1423</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">السؤال :<br> السلام عليكم. أنا مقاول خاص أعمل في منشآت حكومية فيتطلب الأمر مني حتماً  وضع مبالغ نقدية في البنوك لتغطية خطاب الضمان وغيره وهذه المبالغ تحتسب  لها فوائد وأنا لا أستلمها ولا آخذها لعلمي بحرمتها. وأدفع ولله الحمد زكاة  مالي بعيدا عنها، ولكن تأتيني الضرائب الكثيرة وأنتم أعلم بحكمها. فهل لي  أن آخذ من مال الفوائد لأسدد بها الضرائب؟؟ وجزاكم الله خيراً…..</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الفتوى :</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد:<br> فلا ريب أن الأصل أنه لا يجب في مال المرء إلا ما أوجبه عليه الشرع، وإيجاب  الضرائب في أموال الناس إنما يجوز وفقاً لضوابط قد سبق بيانها في الفتوى  رقم : 592 .<br> هذا من حيث حكم الضرائب. أما تغطية هذه الضرائب من فوائد البنك فلا يجوز،  لما في دفعها من الحماية لماله، وبالتالي اتنفاعه من هذه الفوائد المحرمة،  وتراجع في ذلك الفتوى رقم : 1983 .<br> ونسأل الله تعالى أن يجزي السائل خيراً على حرصه على مراعاة أحكام الشرع في معاملاته. والله أعلم.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">المفتي: مركز الفتوى بإشراف د.عبدالله الفقيه (فتاوى الشبكة الإسلامية)</p>
<p>Terjemahan fatwa tersebut:</p>
<p><strong>Judul fatwa: Sebab terlarangnya membayar pajak dengan harta haram</strong></p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong> Saya kontraktor khusus yang membangun fasilitas  pemerintahan. Pemerintah menyuruh saya untuk menyimpan uang di bank guna  menutupi biaya <em>Letter of Guarantee</em> dan biaya lainnya. Uang yang  sama simpan menghasilkan bunga, namun saya tidak pernah menerimanya dan  mengambilnya karena saya tahu statusnya haram…. Bolehkah saya  mengambil uang riba tersebut untuk membayar pajak?<br> <strong><br> Jawaban: </strong>Pada dasarnya, manusia tidak berkewajiban untuk  mengeluarkan hartanya kecuali karena kewajiban yang telah ditetapkan  syariat. Mewajibkan adanya pajak terhadap harta masyarakat dibolehkan  dengan aturan-aturan tertentu, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam  fatwa no. 592. Hal ini jika dilihat dari sisi hukum pajak. Adapun  membayar pajak dengan bunga bank, hukumnya tidak boleh, karena  pembayaran pajak akan memberikan perlindungan bagi harta pemiliknya,  sehingga dia telah memanfaatkan riba yang haram ini. Silakan baca  kembali fatwa no. 1983…. <em>Allahu a’lam.</em></p>
<p>Komentar kami (Tim Dakwah PM):</p>
<p>Satu hal yang patut digaris-bawahi dari fatwa di atas adalah bahwa  dengan membayar pajak telah memberikan manfaat khusus bagi orang yang  membayarnya. Sehingga, jika itu diambilkan dari uang riba, maka artinya  dia telah memanfaatkan uang tersebut untuk sesuatu yang manfaatnya  kembali pada kepentingan dirinya. <em>Allahu a’lam.</em></p>
<p> </p>
<p>Artikel <a href="http://www.PengusahaMuslim.com" target="_blank">www.pengusahamuslim.com</a></p>
 