
<p>Berkaitan dengan tahnik, sebagian orang memiliki anggapan bahwa tahnik hanya khusus dilakukan oleh Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </i>dan tidak berlaku untuk umatnya. Hal ini berkaitan dengan anggapan bahwa tahnik adalah mengambil berkah dengan air liur, yang tidak boleh dikerjakan kecuali melalui air liur Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </i></p>
<p><b>Tahnik Bukan Kekhususan Nabi </b><b><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></b></p>
<p>Berkaitan dengan hal ini, satu kaidah penting yang harus dipahami adalah hukum asal perbuatan yang dicontohkan oleh Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>adalah syariat, maksudnya juga berlaku untuk umatnya. Barangsiapa yang mengklaim bahwa suatu amal perbuatan hanya khusus berlaku bagi Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>dan tidak berlaku bagi umatnya, maka wajib baginya menunjukkan dalil khusus tentang klaim tersebut. Dan dalam hal ini tidak dijumpai adanya dalil khusus. Sehingga hukum tahnik kembali ke hukum asalnya, yaitu berlaku sebagi syariat untuk umatnya.</p>
<p>Dan inilah yang diamalkan dan ditegaskan oleh para ulama <i>rahimahumullah </i>dengan membuat judul bab yang menunjukkan bahwa hal ini sesuatu yang dianjurkan<i>. </i>Al-Bukhari <i>rahimahullah </i>membuat bab dalam kitab <i>Shahih</i> beliau,</p>
<p style="text-align: right;">بَابُ تَسْمِيَةِ المَوْلُودِ غَدَاةَ يُولَدُ، لِمَنْ لَمْ يَعُقَّ عَنْهُ، وَتَحْنِيكِهِ</p>
<p><i>“Bab memberi nama bayi pada pagi hari setelah dilahirkan dan ini berlaku bagi anak yang tidak diaqiqahi </i><b><i>dan juga mentahniknya</i></b><i>” </i><b>(</b><b><i>Shahih Al-Bukhari, </i></b><b>7/83).</b></p>
<p>Ibnul Mundzir <i>rahimahullah </i>berkata,</p>
<p style="text-align: right;">و يستحب تحنيك الصبي</p>
<p><i>“Dan </i><b><i>dianjurkan</i></b><i> mentahnik bayi yang baru lahir” </i><b>(</b><b><i>Al-Iqna’, </i></b><b>1/179).</b></p>
<p>Ibnul Qayyim <i>rahimahullah </i>meriwayatkan sebuah kisah dari Ummu Walad Ahmad bin Hanbal, yaitu budak perempuan Imam Ahmad <i>rahimahullah </i>yang disetubuhi oleh beliau sehingga menghasilkan keturunan. Dalam syariat Islam, hal ini diperbolehkan.</p>
<p>Ummu Walad menceritakan,</p>
<p style="text-align: right;">لما أَخذ بِي الطلق كَانَ مولَايَ نَائِما فَقلت لَهُ يَا مولَايَ هُوَ ذَا أَمُوت فَقَالَ يفرج الله فَمَا هُوَ إِلَّا أَن قَالَ يفرج الله حَتَّى ولدت سعيدا فَلَمَّا وَلدته قَالَ هاتوا ذَلِك التَّمْر لتمر كَانَ عندنَا من تمر مَكَّة فَقلت لأم عَليّ إمضغي هَذَا التَّمْر وحنكيه فَفعلت وَالله أعلم</p>
<p><i>“Ketika aku sudah merasakan sakit ketika hendak melahirkan, aku melihat tuanku (yaitu Imam Ahmad) masih tertidur. Aku berkata kepadanya, ‘Wahai tuanku, aku hampir mati (maksudnya, hendak melahirkan, pen.).’ Imam Ahmad mendoakan, ‘Semoga Allah memudahkanmu.’ Ummu Walad berkata, ‘Belum selesai Imam Ahmad mendoakan, anakku lahir dan diberi nama Sa’id.’ Setelah aku melahirkan Sa’id, Imam Ahmad berkata, ‘Bawakan kurma ke sini.’ Yaitu kurma Mekah yang kami miliki. Kemudian Imam Ahmad berkata kepada Ummu Walad, </i><b><i>‘Kunyahlah kurma tersebut dan tahniklah sang bayi.’</i></b><i> Lalu aku pun mentahniknya” </i><b>(</b><b><i>Tuhfatul Mauduud, </i></b><b>1/33).</b></p>
<p>Kisah ini jelas menunjukkan pemahaman Imam Ahmad <i>rahimahullah </i>bahwa tahnik itu bukan khusus bagi Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>sehingga beliau pun mempraktikkannya. Kisah ini juga menunjukkan bahwa tidak mengapa jika sang ibu yang mentahnik bayi, tidak harus sang bapak. <b>[Bersambung]</b></p>
<p>***</p>
<p>Selesai disusun ba’da maghrib, Rotterdam NL 10 Dzulhijjah 1438/01 September 2017</p>
<p>Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,</p>
<p>Penulis: <a href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim">Muhammad Saifudin Hakim</a><br>
Artikel: <a href="http://muslim.or.id">Muslim.or.id</a></p>
 