
<p style="font-size: 18px;" align="CENTER"><span style="color: #a40000;">إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ </span><span style="color: #a40000;">(1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ </span><span style="color: #a40000;">(2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ </span><span style="color: #a40000;">(3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ </span><span style="color: #a40000;">(4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ </span><span style="color: #a40000;">(5)</span></p>
<p align="CENTER"><span style="color: #a40000;">“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada </span><span style="color: #a40000;"><em>Lailatul Qadr</em></span><span style="color: #a40000;">. Dan tahukah kamu apakah </span><span style="color: #a40000;"><em>Lailatul Qadr</em></span><span style="color: #a40000;"> itu? </span><span style="color: #a40000;"><em>Lailatul Qadr</em></span><span style="color: #a40000;"> itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan </span><span style="color: #a40000;"><em>Ar Ruh</em></span><span style="color: #a40000;"> dengan izin Tuhannya untuk mengatur urusan. Malam itu (penuh) </span><span style="color: #a40000;"><em>Salaam</em></span><span style="color: #a40000;"> sampai terbit fajar”. </span><span style="color: #a40000;">(</span><span style="color: #a40000;">QS. Al Qadr</span><span style="color: #a40000;"> [</span><span style="color: #a40000;">97</span><span style="color: #a40000;">] : </span><span style="color: #a40000;">1-5</span><span style="color: #a40000;">).</span></p>
<p align="JUSTIFY">Firman Allah <em>Subhana wa Ta’ala </em>:</p>
<p align="JUSTIFY">(<span style="color: #a40000;"><strong>إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ</strong></span>) “<em>Sesungguhnya Kami menurunkannya…</em>”. <em>Dhamir</em> pada kata (<span style="color: #a40000;"><strong>إِنَّا</strong></span>) kembali kepada lafadz Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>. Sedangkan pada (<span style="color: #a40000;"><strong>أَنْزَلْنَاهُ</strong></span>) kembali kepada Al Qur’an. Pada ayat ini Allah <em>Subhana wa Ta’ala </em>menyebut DiriNya dengan sebutan pengagungan karena Allah <em>Subhana wa Ta’ala </em>adalah Dzat Yang Maha Agung yang tidak ada yang lebih agung daripada Nya. Terkadang Allah menyebut DiriNya dengan menggunakan bentuk pengagungan (<em>dhamir jama’</em> berupa ‘Kami’) sebagaimana pada ayat ini. Demikian juga pada ayat Allah <em>Subhana wa Ta’ala,</em></p>
<p style="font-size: 18px;" align="CENTER"><span style="color: #a40000;">إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ</span></p>
<p align="CENTER"><span style="color: #a40000;">“Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al Qur’an dan Kami pulalah yang menjaganya”. </span><span style="color: #a40000;">(</span><span style="color: #a40000;">QS. Al Hijr</span><span style="color: #a40000;"> [</span><span style="color: #a40000;">15</span><span style="color: #a40000;">] : </span><span style="color: #a40000;">9</span><span style="color: #a40000;">).</span></p>
<p align="JUSTIFY">Demikian juga dalam ayat-ayat lainnya.</p>
<p align="JUSTIFY">Namun terkadang Allah <em>Subhana wa Ta’ala </em>juga menyebut DiriNya dengan bentuk tunggal (<em>dhamir</em> tunggal berupa ‘Aku’). Sebagaimana dalam firmanNya,</p>
<p style="font-size: 18px;" align="CENTER"><span style="color: #a40000;">إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي</span></p>
<p align="CENTER"><span style="color: #a40000;">“</span><span style="color: #a40000;">Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada </span><span style="color: #a40000;">sesembahan yang berhak disembah</span><span style="color: #a40000;"> selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”. (QS. Thahaa [20] : 14).</span></p>
<p align="JUSTIFY">Hal itu adalah karena Allah adalah Dzat Yang Maha Esa dan Agung. Maka jika ditinjau dari shifat yang akan dijelaskan setelah <em>dhamir</em> yaitu sifat <em>wahdaniyah</em> (Keesaan) maka Allah menggunakan dhamir tunggal.</p>
<p align="JUSTIFY">Kemudian apa makna <em>inzaal</em> pada firman Allah (<span style="color: #a40000;"><strong>أَنْزَلْنَاهُ</strong></span>) di malam Lailatul Qadr? sebagian ulama mengatakan yang dimaksud bahwa Allah <em>Subhana wa Ta’ala </em>menurunkan Al Qur’an secara keseluruhan pada satu kesempatan di malam Lailatul Qadr dari <em>Al Lauhul Mahfudz</em> ke <em>Baitul Izzah</em> (di Langit Dunia). Kemudian Allah <em>Subhana wa Ta’ala </em>menurunkannya secara berangsur-angsur ke pada Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam </em>sesuai dengan kejadian selama 23 tahun<a href="#sdfootnote1sym"><sup>1</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY">Pendapat lain mengatakan bahwa yang dimaksud <em>Inzaal</em> pada firman Allah (<span style="color: #a40000;"><strong>أَنْزَلْنَاهُ</strong></span>) bahwa Allah <em>Subhana wa Ta’ala </em>menurunkan ayat Al Qur’an yang pertama (Allah <em>Subhana wa Ta’ala </em>mulai menurunkan Al Qur’an) pada malam Lailatul Qadr di Bulan Ramadhan<a href="#sdfootnote2sym"><sup>2</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY">Firman Allah <em>Subhana wa Ta’ala </em>(<span style="color: #a40000;"><strong>فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ</strong></span>) “pada Lailatul Qadr”. Sebagian ulama berpendapat bahwa makna (<span style="color: #a40000;"><strong>الْقَدْرِ</strong></span>) adalah kemuliaan. Sebagian lagi berpendapat maknanya adalah takdir, karena pada malam tersebut ditentukan takdir yang akan terjadi selama setahun ke depan berdasarkan firman Allah <em>Subhana wa Ta’ala</em>,</p>
<p style="font-size: 18px;" align="CENTER"><span style="color: #a40000;">إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ </span><span style="color: #a40000;">(3) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ </span><span style="color: #a40000;">(4)</span></p>
<p align="CENTER"><span style="color: #a40000;">“sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami lah yang memberi peringatan. Pada malam itu </span><span style="color: #a40000;">dipisahkan dan </span><span style="color: #a40000;">dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah</span><span style="color: #a40000;"> (berupa rezeki, ajal dan lain-lain)</span><span style="color: #a40000;">”. (QS. </span><span style="color: #a40000;">Ad Dukhan</span><span style="color: #a40000;"> [</span><span style="color: #a40000;">44</span><span style="color: #a40000;">] : </span><span style="color: #a40000;">3-4</span><span style="color: #a40000;">).</span></p>
<p align="JUSTIFY">Pendapat yang lebih tepat adalah ayat tersebut (<span style="color: #a40000;"><strong>لَيْلَةِ الْقَدْرِ</strong></span>) mencakup dua makna di atas, yaitu dengan kita katakan bahwa malam Lailatul Qadr merupakan malam yang penuh dengan kemulian dan keagungan serta pada malam itu juga ditentukan takdir yang akan terjadi selama satu tahun ke depan berupa kehidupan, kematian, rezki dan lain-lain.</p>
<p align="JUSTIFY">Firman Allah <em>Subhana wa Ta’ala </em>(<span style="color: #a40000;"><strong>وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ</strong></span>) “Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadr itu ?”</p>
<p align="JUSTIFY">Dari bentuk kalimat seperti ini dapat diambil sebuah faidah adanya pengagungan dan pemuliaan. Bentuk kalimat sejenis ini juga Allah <em>Subhana wa Ta’ala </em>sebutkan dalam firmannya,</p>
<p style="font-size: 18px;" align="CENTER"><span style="color: #a40000;">وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ </span></p>
<p align="CENTER"><span style="color: #a40000;">“Dan tahukah kamu apa itu hari yang menggetarkan hati / hari qiyamat</span><a href="#sdfootnote3sym"><sup>3</sup></a><span style="color: #a40000;">”</span><span style="color: #a40000;">. </span><span style="color: #a40000;">(QS. </span><span style="color: #a40000;">Al Qari’ah</span><span style="color: #a40000;"> [</span><span style="color: #a40000;">101</span><span style="color: #a40000;">] : </span><span style="color: #a40000;">3</span><span style="color: #a40000;">).</span></p>
<p align="JUSTIFY">Kemudian di ayat selanjutnya dalam Surat Al Qadr ini Allah <em>Subhana wa Ta’ala </em>menjelaskan Lailatul Qadr itu dengan firmannya (<span style="color: #a40000;"><strong>لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ</strong></span>) “Lailatul Qadr itu lebih baik dari seribu bulan”. Kebaikan yang dimaksud dalam ayat ini adalah berupa pahala amal pada malam tersebut.</p>
<p align="JUSTIFY">Pendapat yang mengatakan bahwa (pahala) beribadah pada malam tersebut lebih utama dari (pahala) beribadah seribu bulan yang tidak ada Lailatul Qadr nya. Pendapat ini merupakan pendapat Ibnu Jarir Ath Thabari Asy Syafi’i <em>Rahimahullah</em><a href="#sdfootnote4sym"><sup>4</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY">Firman Allah <em>Subhana wa Ta’ala </em>(<span style="color: #a40000;"><strong>تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا</strong></span>) “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan <em>Ar Ruh</em>”. Yaitu para malaikat tersebut turun secara bertahap. Karena malaikat adalah penduduk langit sedangkan langit terdiri dari tujuh lapis. Demikianlah para malaikat tersebut turun hingga memenuhi bumi. Turunnya malaikat ke bumi menunjukkan adanya rahmat, kebaikan dan keberkahan. Oleh karena itulah rumah yang malaikat tidak mau masuk ke dalamnya (sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim) adalah rumah yang hilang kebaikan dan keberkahan padanya.</p>
<p align="JUSTIFY">Fiman Allah <em>Subhana wa Ta’ala </em>(<span style="color: #a40000;"><strong>وَالرُّوحُ</strong></span>) adalah Jibril <em>‘Alaihis Salam</em>. Allah <em>Subhana wa Ta’ala </em>menyebutkannya secara khusus yang menunjukkan adanya keistimewaan dan keagungan Jibril <em>‘Alaihis Salam</em>.</p>
<p align="JUSTIFY">Firman Allah <em>Subhana wa Ta’ala </em>(<span style="color: #a40000;"><strong>بِإِذْنِ رَبِّهِمْ</strong></span>) “dengan izin Tuhannya”. Yaitu dengan izin kauniyah Allah. Karena izin Allah <em>Subhana wa Ta’ala</em> itu ada dua macam, yaitu kauniyah dan syar’iyah.</p>
<p align="JUSTIFY">Firman Allah <em>Subhana wa Ta’ala </em>(<span style="color: #a40000;"><strong>مِنْ كُلِّ أَمْرٍ</strong></span>) “untuk mengatur urusan”. Ada pendapat yang mengatakan bahwa huruf (<span style="color: #a40000;"><strong>مِنْ</strong></span>) pada ayat ini maknanya adalah ba’ yang bermakna seluruh. Sehingga <a href="https://muslim.or.id/tafsir">makna ayat</a> di atas adalah “untuk mengatur seluruh urusan yang Allah <em>Subhana wa Ta’ala </em>perintahkan”. Namun apakah urusan yang dimaksudkan merupakan sebuah perkara yang kita tidak mengetahuinya.</p>
<p align="JUSTIFY">Firman Allah <em>Subhana wa Ta’ala </em>(<span style="color: #a40000;"><strong>سَلَامٌ هِيَ</strong></span>) “<em>Salaam</em>”. Kalimat yang Allah <em>Subhana wa Ta’ala </em>gunakan dalam akhir surat ini merupakan susunan <em>mubtada’</em> dan <em>khabar</em> dengan <em>khabar</em> yang <em>muqaddam</em>. Sehingga memberikan makna penuh dengan <em>Salaam</em>.</p>
<p align="JUSTIFY">Lalu apa makna (<span style="color: #a40000;"><strong>سَلَامٌ</strong></span>) dalam ayat ini ? Sebagian ulama mengatakan maknanya adalah kesejahteraan padanya dalam segala urusan. Sebagian lagi mengatakan maknaya adalah keselamatan, sehingga pada malam tersebut setan tidak mampu berbuat keburukan atau tidak mampu mengganggu. Ini merupakan pendapat yang dipilih oleh Mujahid. Asy Sya’bi mengatakan makna (<span style="color: #a40000;"><strong>سَلَامٌ</strong></span>) adalah salam para malaikat kepada Ahli Mesjid hingga terbit fajar. Qatadah dan Ibnu Zaid mengatakan makna (<span style="color: #a40000;"><strong>سَلَامٌ</strong></span>) adalah semua kebaikan sehingga tidak ada keburukan padanya hingga terbit fajar<a href="#sdfootnote5sym"><sup>5</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY">Allah <em>Subhana wa Ta’ala </em>menyebut pada malam ini adanya Salaam karena pada malam ini banyak sekali keselamatan dari dosa dan hukumanNya. Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam </em>bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px;" align="CENTER"><span style="color: #a40000;">مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</span></p>
<p align="CENTER"><span style="color: #a40000;">“Barangsiapa yang mengerjakan sholat pada malam lailatul Qadr karena iman dan mengharap pahala maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu”</span><a href="#sdfootnote6sym"><sup>6</sup></a><span style="color: #a40000;">.</span></p>
<p align="JUSTIFY">Firman Allah <em>Subhana wa Ta’ala </em>(<span style="color: #a40000;"><strong>حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ</strong></span>) “sampai terbit fajar”. Yaitu malaikat turun pada malam tersebut hingga terbitnya fajar, jika fajar telah terbit maka berakhir pula lah malam Lailatul Qadr.</p>
<p align="JUSTIFY">[Disadur dari <em>Tafsir Al Qur’an Al Karim</em> –Juz ‘Amma- karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin <em>Rahimahullah </em>hal. 272-279 terbitan Dar Tsuroya, Riyadh, KSA. Dengan pengubahan dan penambahan seperlunya].</p>
<p align="JUSTIFY">Adapun seputar masalah Lailatul Qodar silakan lihat tulisan kami yang berjudul “<em>Seputar Lailatul Qadr 1-2</em>” di <span style="color: #0000ff;"><span style="text-decoration: underline;">www.alhijroh.com</span></span></p>
<p align="JUSTIFY">—</p>
<div>
<p align="JUSTIFY"><a href="#sdfootnote1anc">1</a><sup></sup> Ini merupakan pendapat yang dinilai shahih dari ‘Abdullah bin ‘Abbas <em>Rodhiyallahu ‘anhuma</em>. [Lihat <em>Shahih Tafsir Ibnu Katsir</em> karya Musthafa Al Adawi hal. 664/IV terbitan Dar Ibnu Rajab, Mesir.]
</p>
</div>
<div>
<p align="JUSTIFY"><a href="#sdfootnote2anc">2</a><sup></sup> Pendapat inilah yang dipilih oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin <em>Rahimahullah.</em> [Lihat <em>Tafsir Juz ‘Amma</em> hal. 273 terbitan Dar Tsuroya, KSA].</p>
</div>
<div>
<p><a href="#sdfootnote3anc">3</a><sup></sup> Lihat tulisan kami yang berjudul “<em>Namanya Menunjukkan Dahsyatnya</em>” di <span style="color: #0000ff;"><span style="text-decoration: underline;">www.alhijroh.com</span></span></p>
</div>
<div>
<p><a href="#sdfootnote4anc">4</a><sup></sup> Lihat <em>Shahih Tafsir Ibnu Katsir</em> hal. 664/IV.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#sdfootnote5anc">5</a><sup></sup> Lihat <em>Shahih Tafsir Ibnu Katsir</em> hal. 665/IV</p>
</div>
<div>
<p><a href="#sdfootnote6anc">6</a><sup></sup> HR. Bukhari no. 1802 dan Muslim no. 759.</p>
<p>—</p>
<p>Penulis: Aditya Budiman bin Usman<br>
Artikel <a href="https://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
</div>
 