
<p>Bagaimana tafsir surat Al-Ikhlas, bagaimana kita memahaminya dengan mudah?</p>
<p>Kali ini kita gali dari <a href="https://rumaysho.com/tag/tafsir-jalalain" target="_blank" rel="noopener noreferrer">tafsir Jalalain.</a></p>

<p style="text-align: center;"><strong>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</strong></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4</span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Artinya:</strong></p>
<ol>
<li><em>Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.</em></li>
<li><em>Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.</em></li>
<li><em>Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,</em></li>
<li><em>dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.</em></li>
</ol>
<p style="text-align: center;"><strong>(QS. Al-Ikhlas: 1-4) </strong></p>
<p> </p>
<h3><strong>KETERANGAN DALAM TAFSIR JALALAIN</strong></h3>
<p>Surah ini adalah surah Makkiyah (turun sebelum hijrah) atau bisa juga surah Madaniyah (turun bakda hijrah), terdiri dari empat ayat.</p>
<p> </p>
<h3><strong>TAFSIR JALALAIN DARI SURAH AL-IKHLAS</strong></h3>
<p>Imam Jalaluddin Al-Mahalli <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رَبِّهِ فَنَزَلَ:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">{ قُلْ هُوَ الله أَحَدٌ } فَاللهُ خَبَرُ «هُوَ» وَ «أَحَدٌ» بَدَلٌ مِنْهُ أَوْ خَبَرٌ ثَانٍ .</span></p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah ditanya tentang Rabbnya, lantas turunlah firman Allah:</p>
<p><strong>(Katakanlah, “Dialah yang Maha Esa”)</strong>, lafaz jalalah “Allah” adalah khabar dari lafaz “<em>huwa</em>”, sedangkan lafaz “<em>ahadun</em>” adalah <em>badal</em> dari lafaz jalalah “Allah”, atau khabar kedua dari lafaz “<em>huwa</em>”.</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">{ اللهُ الصَّمَدُ } مُبْتَدَأٌ وَخَبَرٌ : أَيْ المَقْصُوْدُ فِي الحَوَائِجِ عَلَى الدَّوَامِ .</span></p>
<p><strong>(Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu)</strong>, lafaz ayat ini terdiri dari mubtada dan khabar (lafaz jalalah “Allah” adalah mubtada dan “Ash-Shamad” adalah khabar). Kalimat tersebut berarti Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu untuk selama-selamanya.</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">{ لَمْ يَلِدْ } لاِنْتِفَاءِ مُجَانِسَتِهِ . { وَلَمْ يُولَدْ } لاِنْتِفَاءِ الحُدُوْثِ عَنْهُ .</span></p>
<p><strong>(Dia tiada beranak)</strong>, karena tiada yang menyamai Allah atau sejenis dengan Allah, <strong>(dan tidak pula diperanakkan)</strong> karena mustahil hal ini terjadi bagi-Nya.</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">{ وَلَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ } أَيْ مُكَافِئاً ومُمَاثِلاً وَ «لَهُ» مُتَعَلِّقٌ بِ «كُفَواً» وَقُدِّم عَلَيْهِ لِأَنَّهُ مَحَطُّ القَصْدِ بِالنَّفْيِ ، وَأُخِّرَ «أَحَدٌ» وَهُوَ اِسْمُ «يَكُنْ» عَنْ خَبَرِهَا رِعَايَةً لِلفَاصِلَةِ .</span></p>
<p><strong>(Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Allah)</strong>, atau yang semisal dengan-Nya. Lafaz “<em>lahu</em>” berkaitan (<em>muta’alliq</em>) kepada lafaz “<em>kufuwan</em>”. Lafaz “<em>lahu</em>” ini didahulukan karena dialah yang menjadi subjek penafian. Kemudian lafaz “<em>ahadun</em>” diakhirkan letaknya padahal ia sebagai isim dari lafaz “<em>yakun</em>”, sedangkan khabar yang seharusnya berada di akhir mendahuluinya. Demikian itu karena menjaga <em>fasilah</em> atau kesamaan bunyi pada akhir ayat.</p>
<p><strong>Baca Juga: <a href="https://rumaysho.com/907-memahami-surat-al-ikhlas-sepertiga-al-quran.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><span style="color: #ff0000;">Memahami Surat Al Ikhlas, Sepertiga Al Qur’an</span></a></strong></p>
<h3><strong>CATATAN DARI TAFSIR JALALAIN</strong></h3>
<ol>
<li>Surah Al-Ikhlas khusus membicarakan tentang <strong>Allah</strong>. Itulah alasannya kenapa surah Al-Ikhlas disebut <a href="https://rumaysho.com/206-memahami-sepertiga-al-quran.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">sepertiga Al-Qur’an</a> (tsulutsul Quran) karena dalam Al-Qur’an dibicarakan khusus tentang Allah. Padahal Al-Qur’an kandungannya adalah hukum, berita (cerita), dan tauhid.</li>
<li>Bahasan yang ada dari tafsir surah Al-Ikhlas dari Tafsir Jalalain adalah penafsiran dari sisi bahasa, lebih khusus dari sisi ilmu nahwu.</li>
<li>Allah itu Ahad (Maha Esa).</li>
<li>Allah itu Ash-Shamad, artinya Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu untuk selama-selamanya.</li>
<li>Allah tidak beranak dan juga tidak diperanakkan karena memang tidak ada yang sejenis dengan Allah dan sifat itu mustahil bagi Allah.</li>
<li>Tidak ada yang sekufu (setara) atau semisal dengan Allah.</li>
<li>Ayat Al-Qur’an punya kekhasan dengan diakhiri huruf yang sama, seperti dalam surah Al-Ikhlas dengan huruf “dal”.</li>
</ol>
<p> </p>
<h3><strong>FAEDAH DARI TAFSIR JALALAIN BERDASARKAN TINJAUAN NAHWU</strong></h3>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;"><br>
هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ</span></p>
<p>Huwa : mubtada’</p>
<p>Lafaz jalalah “Allah” : khabar pertama</p>
<p>Ahadun : khabar kedua (badal minhu dari lafaz jalalah “Allah)</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">اللهُ الصَّمَدُ</span></p>
<p>Lafaz jalalah “Allah” : mubtada’</p>
<p>Ash-Shamad : khabar</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">وَلَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ</span></p>
<p>Yakun : merafa’kan isim dan menashbkan khabar</p>
<p>Lahu : muta’alliq (berkaitan) dengan kufuwan</p>
<p>Kufuwan : khabar dari yakun yang dikedepankan</p>
<p>Ahadun : isim dari yakun yang diakhirkan</p>
<p> </p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Semoga mendapatkan ilmu yang bermanfaat.</em></strong></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/24874-keutamaan-surat-al-ikhlas-al-falaq-an-naas-yang-jarang-diketahui.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Keutamaan Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas yang Jarang Diketahui</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/24992-mendalami-nama-allah-ash-shamad-dalam-surat-al-ikhlas.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Mendalami Nama Allah Ash-Shamad dalam Surat Al-Ikhlas</strong></span></a></li>
</ul>
<h3><span style="font-size: 14pt;"><strong>Referensi:</strong></span></h3>
<ol>
<li>
<em>Tafsir Al-Jalalain.</em> Cetakan kedua, Tahun 1422 H. Jalaluddin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Al-Mahalli dan Jalaluddin ‘Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuthi. Ta’liq: Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury. Penerbit Darus Salam.</li>
<li>
<em>Tafsir Jalalain</em>. Penerbit Pustaka Al-Kautsar.</li>
</ol>
<p> </p>
<hr>
<p> </p>
<p style="text-align: center;">Disusun di <a href="https://darushsholihin.com"><strong>Darush Sholihin</strong></a>, Sabtu sore, 28 Syawal 1441 H (20 Juni 2020)</p>
<p style="text-align: center;">Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p style="text-align: center;">Artikel <a href="https://rumaysho.com">Rumasyho.Com</a></p>
 