
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/72510-tafsir-ringkas-surah-al-fatihah-bag-2.html" data-darkreader-inline-color=""> Tafsir Ringkas Surah Al-Fatihah (Bag.2)</a></span></strong></p>
<p><em>Bismillah walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,</em></p>
<h2><strong>Tafisr surah Al-Fatihah ayat keenam</strong></h2>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَ ٰ⁠طَ ٱلۡمُسۡتَقِیمَ</span></p>
<p><em>“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”</em></p>
<p><strong>Maksud (</strong><span style="font-size: 21pt;">ٱهۡدِنَا</span><strong>) </strong></p>
<p>adalah memohon seluruh macam petunjuk (hidayah) Allah.</p>
<p>Karena firman Allah <em>Ta’ala</em></p>
<p><strong>(</strong><span style="font-size: 21pt;">ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَ ٰ⁠طَ ٱلۡمُسۡتَقِیمَ</span><strong>) </strong>ini mengandung makna yang menyeluruh, yaitu:</p>
<p><em>Pertama,</em> teguhkanlah kami di atas agama Islam.</p>
<p><em>Kedua,</em> tunjukilah kami perincian agama Islam, baik ilmu syar’i maupun pengamalannya.<a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a></p>
<p>Oleh karena inilah, Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> menafsirkan bahwa maksud ayat ini adalah berilah kami petunjuk, taufik, dan ilham.<a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a></p>
<p>Sedangkan macam-macam hidayah Allah dalam ayat keenam ini, yaitu:</p>
<p><strong>Ditinjau dari sisi ilmu dan amal</strong>, maka hidayah Allah <em>Ta’ala </em>dalam ayat yang agung ini terbagi dua, yaitu:<a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a></p>
<p><em>Pertama,</em> <em>hidayatul irsyad</em> berupa ilmu syar’i.</p>
<p><em>Kedua, hidayatut taufiq</em> berupa amal saleh.</p>
<p><strong>Ditinjau dari sisi Islam dan perinciannya</strong>, maka hidayah Allah <em>Ta’ala </em>dalam ayat yang agung ini terbagi dua, yaitu:</p>
<p><em>Pertama,</em> hidayah agar istikamah tetap di atas agama Islam dan meninggalkan agama selainnya dan perkara yang membatalkan keislaman, berupa kesyirikan dan kekafiran. Oleh karena inilah, Ali <em>radhiyallahu ‘anhu</em> menafsirkan <strong>(</strong><span style="font-size: 21pt;">ٱهۡدِنَا</span><strong>) </strong>dengan “Teguhkanlah kami”.<a href="#_ftn4" name="_ftnref4">[4]</a></p>
<p><em>Kedua,</em> hidayah berupa tambahan petunjuk dalam bentuk perincian ajaran Islam, baik ilmu syar’i maupun pengamalannya, baik dalam hal akidah dan tauhid, muamalah, ibadah, akhlak, dan selainnya.<a href="#_ftn5" name="_ftnref5">[5]</a></p>
<p>Dengan demikian, petunjuk Allah <em>Ta’ala </em>sangat dibutuhkan oleh makhluk dalam semua kondisinya, seperti petunjuk ilmu tentang jenis amal saleh, petunjuk agar hati bisa menghendakinya (kehendak melakukan amal saleh), petunjuk mampu mengamalkannya dengan benar dan terhindar dari penghalang-penghalangnya, petunjuk setelah beramal untuk bisa istikamah dan bisa menghindari penggugur amalan, petunjuk mendakwahkannya serta bersabar atas gangguan di jalan dakwah<a href="#_ftn6" name="_ftnref6">[6]</a>, serta petunjuk berdoa agar mampu melakukan amal ibadah dengan terpenuhi dua syarat diterima amal ibadah, serta agar diterima amalannya oleh Allah <em>Ta’ala</em>.</p>
<p>Karena demikan luasnya kandungan ayat ini, maka doa dalam ayat ini disebutkan dalam <em>Tafsir As-Sa’di</em> <em>rahimahullah,</em> sebagai doa yang <strong>paling lengkap, paling menyeluruh, dan paling bermanfaat </strong>bagi seorang hamba.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/25584-dalil-manhaj-salaf-dalam-surat-al-fatihah.html" data-darkreader-inline-color="">Dalil Manhaj Salaf Dalam Surat Al Fatihah</a></strong></p>
<p><strong>Maksud (</strong><span style="font-size: 21pt;">ٱلصِّرَ ٰ⁠طَ ٱلۡمُسۡتَقِیمَ</span><strong>)</strong></p>
<p>Berdasarkan surah Al-Ahqaf ayat 30 dan surah Asy-Syura ayat 52, maka <strong>(</strong><span style="font-size: 21pt;">ٱلصِّرَ ٰ⁠طَ ٱلۡمُسۡتَقِیمَ</span><strong>) </strong>adalah <strong>jalan Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah, atau dengan kata lain adalah jalan Islam</strong>, karena keduanya adalah dasar ajaran agama Islam.</p>
<p>Oleh karena itu, ulama ahli tafsir di kalangan sahabat, Abdullah Ibnu Abbas dan Abdullah Ibnu Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, serta dari kalangan tabi’in Al-Hasan dan Abul ‘Aliyah<em> rahimahumallah</em> menafsirkan <strong>(</strong><span style="font-size: 21pt;">ٱلصِّرَ ٰ⁠طَ ٱلۡمُسۡتَقِیمَ</span><strong>) </strong>dengan agama Islam.</p>
<p>Inilah dalil bahwa jalan Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah jalan yang lurus (<em>Ash-Sirath Al-Mustaqim</em>). Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">یَهۡدِیۤ إِلَى ٱلۡحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِیقࣲ مُّسۡتَقِیمࣲ</span></p>
<p><em>“Al-Qur’an membimbing kepada kebenaran dan kepada <strong>jalan yang lurus</strong></em><strong>.”</strong> (QS<strong>. </strong>Al-Ahqaf : 30)</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَإِنَّكَ لَتَهۡدِیۤ إِلَىٰ صِرَ ٰ⁠طࣲ مُّسۡتَقِیمࣲ</span></p>
<p><em>“Dan sungguh, Engkau (Rasulullah) benar-benar membimbing (manusia) kepada <strong>jalan yang lurus</strong></em><strong>.” </strong>(QS. Asy-Syura: 52<b>)</b></p>
<h3><strong>Faedah ayat keenam</strong></h3>
<p><em>Pertama, </em>karena kandungan ayat ini adalah memohon hidayah Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam melaksanakan agama Islam ini, maka hakikatnya ayat ini adalah isyarat kepada kewajiban memenuhi salah satu dari dua syarat diterimanya amal ibadah, yaitu a<em>l-mutaba’ah. </em><em>Al-mutaba’ah </em>adalah meniti jalan lurus yang diajarkan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dalam beribadah kepada-Nya.</p>
<p>Sedangkan syarat diterimanya amal ibadah yang satu lagi adalah ikhlas, mencari rida Allah <em>Ta’ala </em>semata dalam melaksanakan agama Islam ini, beribadah kepada-Nya. Hal ini ditunjukkan dalam ayat kelima <strong>(</strong><span style="font-size: 18pt;">إِيَّاكَ نَعْبُدُ</span><strong>).</strong></p>
<p><em>Kedua, </em>dalam ayat ini, <em>“</em><em>ash-sirath al-mustaqim” </em>disebutkan dalam bentuk tunggal. Sedangkan dalam ayat yang lain di surah Al-An’am ayat 153, “jalan kesesatan” disebutkan dalam bentuk jamak. Hal ini menunjukkan bahwa jalan kebenaran hanya satu, yaitu Islam, sedangkan jalan kesesatan itu banyak.</p>
<h3><strong>Kesimpulan tafsir ayat keenam</strong></h3>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَ ٰ⁠طَ ٱلۡمُسۡتَقِیمَ</span></p>
<p>Bermakna,</p>
<p>“Teguhkanlah kami di atas agama Islam dan jauhkanlah kami dari segala perkara yang membatalkan keislaman. Serta berilah kami tambahan petunjuk ilmu perincian ajaran Islam dan perincian pengamalannya.”</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/24257-hukum-mengucapkan-aamiin-setelah-membaca-al-fatihah-di-luar-shalat.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Mengucapkan Aamiin Setelah Membaca Al Fatihah di Luar Shalat</a></strong></p>
<h2><strong>Tafsir surah Al-Fatihah ayat ketujuh</strong></h2>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">صِرَ ٰ⁠طَ ٱلَّذِینَ أَنۡعَمۡتَ عَلَیۡهِمۡ غَیۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَیۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّاۤلِّینَ</span></p>
<p><em>“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”</em></p>
<p><strong>Maksud (</strong><span style="font-size: 21pt;"><strong>صِرَ ٰ⁠طَ ٱلَّذِینَ أَنۡعَمۡتَ عَلَیۡهِمۡ</strong></span><strong>)</strong></p>
<p>Maksud dari “<em>Jalan</em> <em>orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka</em>”, yaitu:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> dalam tafsirnya menjelaskan bahwa mereka adalah ahli hidayah (orang-orang yang berilmu syar’i) dan istikamah beramal saleh lagi ta’at kepada Allah <em>Ta’ala </em>dan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>. Sebagaimana juga Ibnul Qoyyim <em>rahimahullah </em>menafsirkan mereka ini adalah orang-orang yang berilmu syar’i dan beramal saleh.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, Al-Baghawi <em>rahimahullah</em> dalam tafsirnya menukilkan tafsir <em>Salaf Shalih:</em></p>
<p>Ahli tafsir dari kalangan tabi’ut tabi’in, Abdur Rahman bin Zaid <em>rahimahullah</em> menafsirkan bahwa mereka adalah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> dan para sahabatnya <em>radhiyallahu ‘anhum.</em></p>
<p>Pakar tafsir dari kalangan tabi’in, Abul ‘Aliyah <em>rahimahullah</em> menyatakan bahwa mereka adalah para pengikut Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam,</em> Abu Bakar, Umar bin Al-Khaththab, dan ahli bait Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam.</em></p>
<p>Sorang ulama besar tabi’in, Syahr bin Hausyab <em>rahimahullah</em> menafsirkan bahwa mereka adalah para sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> dan ahli baitnya.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, Ibnul Qoyyim <em>rahimahullah</em> menukilkan tafsir seorang ulama tafsir kota Madinah dari kalangan tabi’in, Zaid bin Aslam<em> rahimahullah </em>yang menyatakan bahwa mereka adalah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam, </em>Abu Bakar, dan Umar <em>radhiyallahu ‘anhum</em>.<a href="#_ftn7" name="_ftnref7">[7]</a></p>
<p><strong>Pelajaran besar dari tafsir para <em>Salaf Shalih</em> terhadap ayat (<span style="font-size: 21pt;">صِرَ ٰ⁠طَ ٱلَّذِینَ أَنۡعَمۡتَ عَلَیۡهِمۡ</span>)<a href="#_ftn8" name="_ftnref8">[8]</a></strong></p>
<p><strong>Pertama</strong>, jika Anda ingin meniti <em>ash-sirath al-mustaqim,</em> maka ikutilah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> dan para sahabatnya <em>radhiyallahu ‘anhum. </em>Bagaimanakah jalan mereka dalam memahami agama Islam dan mengamalkannya.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, jika Anda ingin memahami dan mengamalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah (<em>ash-sirath al-mustaqim</em>) dengan benar, maka ikuti pemahaman dan pengamalan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> dan para sahabatnya <em>radhiyallahu ‘anhum. </em>Inilah yang dimaksud dengan bermanhaj <em>Salaf Shalih</em> dalam beragama Islam.</p>
<p>Dengan demikian, ayat ketujuh ini mengisyaratkan bahwa tidak cukup kita hanya berpegang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah saja, namun haruslah ditambah dengan pemahaman dan pengamalan <em>Salaf Shalih</em> terhadap keduanya. Sehingga pilar beragama Islam itu tiga, yaitu: 1) Al-Qur’an; 2) As-Sunnah; 3) manhaj <em>Salaf Shalih</em>. <em>Salaf Shalih</em> adalah sahabat Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, serta murid-muridnya <em>(tabi’in),</em> dan murid-murid tabi’in <em>(tabi’ut tabi’in)</em> berdasarkan hadis yang <em>muttafaqun ‘alaihi</em> dari Ibnu Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu.</em></p>
<p><strong>Ketiga</strong>, barangsiapa yang dalam beragama Islam menyimpang dari jalan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> dan para sahabatnya <em>radhiyallahu ‘anhum,</em> maka pastilah berada dalam kesesatan, sebagaimana di dalam surah An-Nisa’ ayat 115 dan diancam neraka Jahannam.</p>
<p><strong>Maksud (</strong><span style="font-size: 21pt;"><strong>غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ</strong></span><strong>)</strong></p>
<p>Maksud “<em>bukan (jalan) mereka yang dimurkai</em>” adalah bukan jalan orang-orang yang berilmu tapi meninggalkan amal, seperti Yahudi. Karena Allah<em> Ta’ala</em> menghukumi Yahudi dengan mendapatkan kemurkaan-Nya, sebagaimana dalam surah Al-Maidah ayat 60,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">قُلۡ هَلۡ أُنَبِّئُكُم بِشَرࣲّ مِّن ذَ ٰ⁠لِكَ مَثُوبَةً عِندَ ٱللَّهِۚ مَن لَّعَنَهُ ٱللَّهُ وَغَضِبَ عَلَیۡهِ</span></p>
<p><em>“Katakanlah (Muhammad), “Apakah akan aku beritakan kepada kalian tentang orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang fasik) di sisi Allah? Yaitu, orang yang dilaknat dan dimurkai Allah.” </em>(QS. Al.Maidah: 60)</p>
<p><strong>Maksud (</strong><span style="font-size: 21pt;"><strong>وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ</strong></span><strong>)</strong></p>
<p>Maksud “<em>dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat</em>” adalah bukan jalan orang-orang yang beramal tanpa dasar ilmu, seperti <em>nashara.</em> Karena Allah<em> Ta’ala</em> menghukumi <em>nashara</em> dengan sesat sebagaimana dalam surah Al-Maidah ayat 77,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">قُلۡ یَـٰۤأَهۡلَ ٱلۡكِتَـٰبِ لَا تَغۡلُوا۟ فِی دِینِكُمۡ غَیۡرَ ٱلۡحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوۤا۟ أَهۡوَاۤءَ قَوۡمࣲ قَدۡ ضَلُّوا۟ مِن قَبۡلُ وَأَضَلُّوا۟ كَثِیرࣰا وَضَلُّوا۟ عَن سَوَاۤءِ ٱلسَّبِیلِ</span></p>
<p><em>“Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Janganlah kalian berlebih-lebihan dengan cara yang tidak benar dalam agama kalian. Dan janganlah kalian mengikuti keinginan orang-orang yang telah tersesat dahulu dan (telah) menyesatkan banyak (manusia), dan mereka sendiri tersesat dari jalan yang lurus.” </em>(QS. Al-Maidah: 77)</p>
<h3><strong>Kesimpulan tafsir ayat ketujuh</strong></h3>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">صِرَ ٰ⁠طَ ٱلَّذِینَ أَنۡعَمۡتَ عَلَیۡهِمۡ غَیۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَیۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّاۤلِّینَ</span></p>
<p>Bermakna,</p>
<p>“Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka berupa ilmu syar’i dan amal saleh, bukan jalan mereka yang dimurkai, yaitu mereka yang berilmu tetapi tidak mengamalkannya dan bukan pula jalan mereka yang sesat, yaitu mereka yang beramal tanpa ilmu.”</p>
<p><strong>[Bersambung]</strong></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/23925-hukum-menirukan-bacaan-surat-imam-sesudah-al-fatihah.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Menirukan Bacaan Surat Imam Sesudah Al-Fatihah</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/23879-bacaan-al-quran-setelah-al-fatihah-dalam-shalat.html" data-darkreader-inline-color="">Bacaan Al-Qur’an Setelah Al-Fatihah Dalam Shalat</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><strong><span style="color: #000000; --darkreader-inline-color: #f2f0ed;" data-darkreader-inline-color="">Penulis:</span> <a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/author/abu-ukkasyah" data-darkreader-inline-color="">Sa’id Abu Ukkasyah</a></strong></span></p>
<p><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><strong><span style="color: #000000; --darkreader-inline-color: #f2f0ed;" data-darkreader-inline-color="">Artikel:</span> <a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></strong></span></p>
<p><strong>Referensi :</strong></p>
<ol>
<li>
<em>Zaadul Masir</em>, Ibnul Jauzi <em>rahimahullah </em>
</li>
<li>
<em>An-Nukat wal ‘Uyun</em>, Al-Mawardi <em>rahimahullah</em>
</li>
<li><em>Tafsir Ibnul Qoyyim rahimahullah</em></li>
<li><em>Tafsir As-Sa’di rahimahullah </em></li>
<li><em>Tafsir Al-‘Utsaimin rahimahullah </em></li>
<li><em>Tafsir Al-Baghawi rahimahullah</em></li>
<li><em>Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah</em></li>
<li>
<em>Sittu Durar</em>, Syekh Ar-Ramadhani <em>hafizhahullah</em>
</li>
</ol>
<p><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<p><a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a>  Lihat <em>Tafsir As-Sa’di</em> <em>rahimahullah </em>dan <em>Tafsir Al-‘Utsaimin</em> <em>rahimahullah</em> di <a href="https://tafsir.app/ibn-uthaymeen/1/6">https://tafsir.app/ibn-uthaymeen/1/6</a> dan Ibnul Anbari <em>rahimahullah</em> di https://tafsir.app/zad-almaseer/1/6</p>
<p><a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> <em>Zaadul Masir</em>, Ibnul Jauzi <em>rahimahullah </em>https://tafsir.app/zad-almaseer/1/6</p>
<p><a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> Lihat <em>Tafsir As-Sa’di</em> <em>rahimahullah </em>dan <em>Tafsir Al-‘Utsaimin</em> <em>rahimahullah</em> di <a href="https://tafsir.app/ibn-uthaymeen/1/6">https://tafsir.app/ibn-uthaymeen/1/6</a></p>
<p><a href="#_ftnref4" name="_ftn4">[4]</a>  <em>Zaadul Masir</em>, Ibnul Jauzi <em>rahimahullah </em>https://tafsir.app/zad-almaseer/1/6</p>
<p><a href="#_ftnref5" name="_ftn5">[5]</a> <em>Zaadul Masir</em>, Ibnul Jauzi <em>rahimahullah </em><a href="https://tafsir.app/zad-almaseer/1/6">https://tafsir.app/zad-almaseer/1/6</a> dan <em>An-Nukat wal ‘Uyun</em>, Al-Mawardi <em>rahimahullah </em>https://tafsir.app/almawirdee/1/6</p>
<p><a href="#_ftnref6" name="_ftn6">[6]</a> https://tafsir.app/ibn-alqayyim/1/6</p>
<p><a href="#_ftnref7" name="_ftn7">[7]</a> https://tafsir.app/ibn-alqayyim/1/7</p>
<p><a href="#_ftnref8" name="_ftn8">[8]</a> <em>Sittu Durar</em>, Syekh Ar-Ramadhani <em>hafizhahullah</em></p>
 