
<p>Kali ini kita akan lihat mengenai bahasan hisab dan timbangan pada hari kiamat dari pembahasan Imam Al-Muzani dalam <a href="https://rumaysho.com/tag/syarhus-sunnah">Syarhus Sunnah</a>.</p>

<p style="text-align: center;">Imam Al-Muzani <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَبَعْدَ البِلَى مَنْشُوْرُوْنَ وَيَوْمَ القِيَامَةِ إِلَى رَبِّهِمْ مَحْشُوْرُوْنَ وَلَدَى العَرْضِ عَلَيْهِ مُحَاسَبُوْنَ بِحَضْرَةِ الموَازِيْنِ وَنَشْرِ صُحُفِ الدَّوَاوِيْنَ وَنَسُوْهُ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ لَوْ كَانَ غَيْرُ اللهِ الحَاكِمَ بَيْنَ خَلْقِهِ لَكِنَّهُ اللهُ يَلِي الحُكْمَ بَيْنَهُمْ بِعَدْلِهِ بِمِقْدَارِ القَائِلَةِ فِي الدُّنْيَا يَوْمَئِذٍ يَعُوْدُوْنَ فَرِيْقٌ فِي الجَنَّةِ وَفَرِيْقٌ فِي السَّعِيْرِ</p>
<p style="text-align: center;"><em>“Setelah hancur, manusia <a href="https://rumaysho.com/19880-faedah-surat-yasin-dalil-manusia-akan-dibangkitkan.html">dibangkitkan</a>. Dan pada hari kiamat, manusia dikumpulkan di hadapan Rabb-Nya. Di masa penampakan amal manusia dihisab. Dengan dihadirkannya timbangan-timbangan dan ditebarkannya lembaran-lembaran (catatan amal). Allah menghitung dengan teliti, sedangkan manusia melupakannya. Hal itu terjadi pada hari yang kadarnya di dunia adalah 50 ribu tahun. Kalaulah seandainya bukan Allah sebagai hakimnya niscaya tidak akan bisa, akan tetapi Allahlah yang menetapkan hukum di antara mereka secara adil. Sehingga lama waktunya (bagi orang beriman) adalah sekadar masa istirahat siang di dunia, dan Allah Yang Paling Cepat Perhitungan Hisabnya. Sebagaimana Allah memulai menciptakan mereka, ada yang sengsara atau bahagia, pada hari itu mereka dikembalikan. Sebagian masuk surga, sebagian masuk neraka.”</em></p>
<p> </p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Hari manusia dihisab</strong></span></h2>
<p>Imam Al-Muzani rahimahullah mengatakan, “<em>Di masa penampakan amal manusia dihisab.</em>”</p>
<p>Beberapa ayat menyebutkan hal ini,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَىٰ مِنْكُمْ خَافِيَةٌ</p>
<p>“<em>Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah).</em>” (QS. Al-Haqqah: 18)</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ</p>
<p>“<em>Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka, Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya</em>.” (QS. Az-Zalzalah: 6-8)</p>
<p> </p>
<p><strong>Hisab menurut kaca mata akidah memiliki dua pengertian:</strong></p>
<p><strong>Pertama: Al-‘Aradh</strong> (penampakan dosa dan pengakuan), mempunyai dua pengertian.</p>
<ol>
<li>Pengertian umum, yaitu seluruh makhluk ditampakkan di hadapan Allah dalam keadaan menampakkan lembaran amalan mereka. Ini mencakup orang yang dimunaqasyah hisabnya dan yang tidak dihisab.</li>
<li>Pemaparan amalan maksiat kaum mukminin kepada mereka, penetapannya, merahasiakan (tidak dibuka dihadapan orang lain), dan pengampunan Allah atasnya. Hisab demikian ini dinamakan hisab yang ringan (hisab yasir).</li>
</ol>
<p><strong>Kedua: Munaqasyah</strong> (diperiksa secara sungguh-sungguh) dan inilah yang dinamakan hisab (perhitungan) antara kebaikan dan keburukan. (Lihat Mukhtashar Ma’arij Al-Qabul Hafizh al Hakami, diringkas oleh Hisyam Ali ‘Uqdah, Cetakan Ketiga, Tahun 1413 H, hlm. 246)</p>
<p>Untuk itulah Syaikhul Islam menyatakan bahwa hisab dapat dimaksudkan sebagai perhitungan antara amal kebajikan dan amal keburukan, dan di dalamnya terkandung pengertian munaqasyah. Juga dimaksukan dengan pengertian pemaparan dan pemberitahuan amalan terhadap pelakunya. (Dar’u Ta’arudh Al-‘Aqli wa An-Naqli, Ibnu Taimiyyah, Tahqiq Muhammad Rasyaad Saalim, tanpa tahun, 5:229)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyatakan di dalam sabdanya,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">مَنْ حُوسِبَ عُذِّبَ قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ أَوَلَيْسَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا قَالَتْ فَقَالَ إِنَّمَا ذَلِكِ الْعَرْضُ وَلَكِنْ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَهْلِكْ</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang dihisab, maka ia tersiksa”. Aisyah bertanya, “Bukankah Allah telah berfirman ‘maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah’ (QS. Al-Insyiqaq: 8)” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Itu baru al-‘aradh (penampakan amal). Namun barangsiapa yang diteliti hisabnya, maka ia akan binasa</em>.” (HR. Bukhari, no. 103 dan Muslim, no. 2876)</p>
<p>Dalam ayat lain tentang hisab disebutkan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ</p>
<p>“<em>Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan</em>.” (QS. Yasin: 65)</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا</p>
<p>“<em>Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun”</em>.” (QS. Al-Kahfi: 49)</p>
<p> </p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Timbangan pada hari kiamat</strong></span></h2>
<p>Imam Al-Muzani <em>rahimahullah</em> mengatakan, “<em>Dengan dihadirkannya <a href="https://rumaysho.com/22090-syarhus-sunnah-hisab-dan-timbangan-pada-hari-kiamat.html">timbangan-timbangan</a></em>.”</p>
<p>Dalam ayat disebutkan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا ۖ وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَاسِبِينَ</p>
<p>“<em>Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan</em>.”  (QS. Al-Anbiya’: 47)</p>
<p>Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Akan ada timbangan yang adil pada hari kiamat. Namun sejatinya timbangan itu hanyalah satu. Disebut dengan kata mawazin (bentuk plural dari timbangan) karena amalan yang ditimbang itu banyak.”</p>
<p>Dalam ayat lainnya disebutkan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">نَارٌ حَامِيَةٌ</p>
<p>“<em>Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, Maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.</em>” (QS. Al-Qari’ah: 6-11)</p>
<p> </p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Dalil lain tentang timbangan (mawazin)</strong></span></h2>
<p>Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ فَيُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلاًّ كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَلْ تُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا فَيَقُولُ لاَ يَا رَبِّ فَيَقُولُ أَظَلَمَتْكَ كَتَبَتِى الْحَافِظُونَ ثُمَّ يَقُولُ أَلَكَ عُذْرٌ أَلَكَ حَسَنَةٌ فَيُهَابُ الرَّجُلُ فَيَقُولُ لاَ. فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَاتٍ وَإِنَّهُ لاَ ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ قَالَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلاَّتِ فَيَقُولُ إِنَّكَ لاَ تُظْلَمُ. فَتُوضَعُ السِّجِلاَّتُ فِى كِفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِى كِفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلاَّتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ</p>
<p>“<em>Ada seseorang yang terpilih dari umatku pada hari kiamat dari kebanyakan orang ketika itu, lalu dibentangkan kartu catatan amalnya yang berjumlah 99 kartu. Setiap kartu jika dibentangkan sejauh mata memandang. Kemudian Allah menanyakan padanya, “Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari catatanmu ini?” Ia menjawab, “Tidak sama sekali wahai Rabbku.” Allah bertanya lagi, “Apakah yang mencatat hal ini berbuat zalim kepadamu?” Lalu ditanyakan pula, “Apakah engkau punya uzur atau ada kebaikan di sisimu?” Dipanggillah laki-laki tersebut dan ia berkata, “Tidak.” Allah pun berfirman, “Sesungguhnya ada kebaikanmu yang masih kami catat. Sehingga kamu tidak termasuk orang zalim pada hari ini.” Lantas dikeluarkanlah satu bithoqoh (kartu sakti) yang bertuliskan <a href="https://rumaysho.com/192-kalimat-syahadat-bukan-hanya-di-lisan-ada-syarat-syaratnya.html">syahadat</a> ‘laa ilaha ilallah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rosulullah’. Lalu ia bertanya, “Apa kartu ini yang bersama dengan catatan-catatanku yang penuh dosa tadi?” Allah berkata padanya, “Sesungguhnya engkau tidaklah zalim.” Lantas diletakkanlah kartu-kartu dosa di salah satu daun timbangan dan kartu ampuh ‘laa ilaha illallah’ di daun timbangan lainnya. Ternyata daun timbangan penuh dosa tersebut terkalahkan dengan beratnya <a href="https://rumaysho.com/3403-kartu-laa-ilaha-illallah-mengalahkan-catatan-dosa-sejauh-mata-memandang.html">kartu ampuh ‘laa ilaha illalah’</a> tadi.</em> (HR. Ibnu Majah, no. 4300; Tirmidzi, no. 2639 dan Ahmad, 2:213. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih. Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini qawiy yaitu kuat dan perawinya tsiqqah termasuk perawi kitab sahih selain Ibrahim bin Ishaq Ath-Thaqani. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih).</p>
<p>Ada hadits pula yang serupa dengan hadits bithoqoh, yaitu diriwayatkan dari Abu Said Al Khudri <em>radhiyallahu ‘anhu</em> bahwa Rasulullah <em>shallallahu’alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">قَالَ مُوْسَى يَا رَبِّ، عَلِّمْنِي شَيْئًا أَذْكُرُكَ وَأَدْعُوْكَ بِهِ، قَالَ : قُلْ يَا مُوْسَى : لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، قَالَ : يَا رَبِّ كُلُّ عِبَادِكَ يَقُوْلُوْنَ هَذَا، قَالَ مُوْسَى : لَوْ أَنَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعَ وَعَامِرَهُنَّ – غَيْرِي – وَالأَرْضِيْنَ السَّبْعَ فِي كِفَّةٍ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ فِي كِفَّـةٍ، مَالَتْ بِهِـنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ</p>
<p>“<em>Musa berkata: ‘Ya Rabb, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk mengingat-Mu dan berdoa kepada-Mu.’ Allah berfirman, “Ucapkan hai Musa laa ilaha illallah.” Musa berkata, “Ya Rabb, semua hamba-Mu mengucapkan itu.” Allah berfirman, “Hai Musa, seandainya ketujuh langit serta seluruh penghuninya–selain Aku–dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu timbangan dan kalimat laa ilaha illallah diletakkan dalam timbangan yang lain, niscaya kalimat laa ilaha illallah lebih berat timbangannya.</em>” (HR. Ibnu Hibban, no. 6218. Al-Hakim mensahihkan hadits ini dan Imam Adz-Dzahabi menyetujuinya. Al-Hafizh Ibnu Hajar mensahihkan sanad hadits ini dalam Al-Fath. Al-Haitsami dalam Az-Zawaid mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la, perawinya ditsiqqahkan atau dipercaya, namun di dalamnya ada perawi yang <strong><em>dha’if</em></strong>. Sedangkan Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini <strong><em>dha’if</em></strong> dalam Kalimah Al-Ikhlas).</p>
<p style="text-align: center;"><em>Semoga bermanfaat dan keadaan kita di hari kiamat, moga diberi hisab yang mudah.</em></p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="font-size: 12pt;">Baca Juga:</span></strong></p>
<ul>
<li style="text-align: center;"><a href="https://rumaysho.com/13161-mereka-yang-terhalang-minum-dari-telaga-al-kautsar.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><span style="color: #ff0000;"><strong><span style="font-size: 12pt;">Mereka yang Terhalang Minum dari Telaga Al Kautsar</span></strong></span></a></li>
<li style="text-align: center;"><a href="https://rumaysho.com/392-hari-akhir-tahapan-akhir-kehidupan-manusia.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><span style="color: #ff0000;"><strong><span style="font-size: 12pt;">Hari Akhir, Tahapan Akhir Kehidupan Manusia</span></strong></span></a></li>
</ul>
<h4 style="text-align: center;"><strong>Referensi:</strong></h4>
<ol>
<li>
<em>Syarh As-Sunnah</em>. Cetakan kedua, Tahun 1432 H. Imam Al-Muzani. Ta’liq: Dr. Jamal ‘Azzun. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj.</li>
<li>
<em>Tamam Al</em>–<em>Minnah ‘ala Syarh As-Sunnah li Al-Imam Al-Muzani.</em>Khalid bin Mahmud bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Juhani. <a href="http://www.alukah.net/">www.alukah.net</a>.</li>
<li><a href="https://almanhaj.or.id/3705-hisab-pada-hari-pembalasan.html">https://almanhaj.or.id/3705-hisab-pada-hari-pembalasan.html</a></li>
</ol>
<p> </p>
<p> </p>
<hr>
<p> </p>
<p>Disusun @ Masjid Al-Ikhlas Karangbendo Jogja, 16 Shafar 1441 H (15 Oktober 2019)</p>
<p>Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://Rumaysho.Com" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Rumaysho.Com</a></p>
<p> </p>
<iframe id="s_pdf_frame" src="//docs.google.com/gview?embedded=true&amp;url=https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2019/10/Syarhus-Sunnah-Imam-Al-Muzani-41.pdf" style="width: 100%; height:600px;" frameborder="0"></iframe><a class="s_pdf_download_link" href="https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2019/10/Syarhus-Sunnah-Imam-Al-Muzani-41.pdf" download><button style="" class="s_pdf_download_bttn">Download</button></a>
 