
<p>Pada awal tulisan ini kami telah menjelaskan mengenai <a href="https://rumaysho.com/643-keutamaan-qkalimat-laa-ilaha-illallahq.html">keutamaan <em>laa ilaha illallah</em></a>, di mana kalimat ini adalah sebaik-baik dzikir dan akan mendapatkan buah yang akan diperoleh di dunia dan di akhirat. Namun, perlu diketahui bahwasanya kalimat <em>laa ilaha illallah</em> tidaklah diterima dengan hanya diucapkan semata. Banyak orang yang salah dan keliru dalam memahami hadits-hadits tentang keutamaan <em>laa ilaha illallah</em>. Mereka menganggap bahwa cukup mengucapkannya di akhir kehidupan –misalnya-, maka seseorang akan masuk surga dan terbebas dari siksa neraka. Hal ini tidaklah demikian.</p>
<p>Semua muslim pasti telah memahami bahwa segala macam bentuk ibadah tidaklah diterima begitu saja kecuali dengan terpenuhi syarat-syaratnya. Misalnya saja shalat. Ibadah ini tidak akan diterima kecuali jika terpenuhi syaratnya seperti wudhu. Begitu juga dengan puasa, haji dan ibadah lainnya, semua ibadah tersebut tidak akan diterima kecuali dengan memenuhi syarat-syaratnya. Maka begitu juga dengan kalimat yang mulia ini. Kalimat <em>laa ilaha illallah</em> tidak akan diterima kecuali dengan terpenuhi syarat-syaratnya.</p>
<p>Oleh karena itu, para ulama terdahulu (baca : ulama salaf) telah mengisyaratkan kepada kita mengenai pentingnya memperhatikan syarat <em>laa ilaha illallah</em>. Lihatlah di antara perkataan mereka berikut ini.</p>
<p>Al Hasan Al Bashri <em>rahimahullah</em> pernah diberitahukan bahwa orang-orang mengatakan,”<em>Barangsiapa mengucapkan laa ilaha illallah maka dia akan masuk surga</em>.” Lalu beliau <em>rahimahullah</em> mengatakan, ”Barangsiapa <span style="text-decoration: underline;">menunaikan hak kalimat tersebut dan juga kewajibannya</span>, maka dia akan masuk surga.”</p>
<p>Wahab bin Munabbih telah ditanyakan,”Bukankah kunci surga adalah <em>laa ilaha illallah</em>?” Beliau <em>rahimahullah</em> menjawab,”Iya betul. Namun, setiap kunci itu pasti punya gerigi. Jika kamu memasukinya dengan kunci yang memiliki gerigi, pintu tersebut akan terbuka. Jika tidak demikian, pintu tersebut tidak akan terbuka.” Beliau <em>rahimahullah</em> mengisyaratkan bahwa gerigi tersebut adalah syarat-syarat kalimat <em>laa ilaha illallah</em>. (Lihat <em>Fiqhul Ad’iyyah wal Adzkar</em> I/179-180)</p>
<h2><span style="color: #ff0000;"><strong>Mengenal Syarat Laa Ilaha Illallah</strong></span></h2>
<p>Dari hasil penelusuran dan penelitian terhadap Al Qur’an dan As Sunnah, para ulama akhirnya menyimpulkan bahwa kalimat <em>laa ilaha illallah</em> tidaklah diterima kecuali dengan memenuhi tujuh syarat berikut :</p>
[1]      <strong>Mengilmui maknanya </strong>yang meniadakan kejahilan (bodoh)
[2]      <strong>Yakin </strong>yang meniadakan keragu-raguan
[3]      <strong>Menerima </strong>yang meniadakan sikap menentang
[4]      <strong>Patuh</strong> yang meniadakan sikap meninggalkan
[5]      <strong>Jujur </strong>yang meniadakan dusta
[6]      <strong>Ikhlas </strong>yang meniadakan syirik dan riya’
[7]      <strong>Cinta </strong>yang meniadakan benci
<p>Penjelasan ketujuh syarat di atas adalah sebagai berikut.</p>
<p> </p>
<h3><span style="color: #0000ff;"><strong>Syarat pertama adalah mengilmui makna <em>laa ilaha illallah</em></strong></span></h3>
<p>Maksudnya adalah menafikan peribadahan (penghambaan) kepada selain Allah dan menetapkan bahwa Allah satu-satunya yang patut diibadahi dengan benar serta menghilangkan sifat kejahilan (bodoh) terhadap makna ini.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ</span></p>
<p>“<em><span style="text-decoration: underline;">Maka ketahuilah</span>, bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang benar selain Allah.</em>” (QS. Muhammad [47] : 19)</p>
<p>Begitu juga Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ</span></p>
<p>“<em>Akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) <span style="text-decoration: underline;">orang yang mengakui dengan benar (laa ilaha illallah)</span> dan mereka meyakini(nya)</em>.” (QS. Az Zukhruf : 86)</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ</span></p>
<p><em>“Katakanlah: “Adakah sama <span style="text-decoration: underline;">orang-orang yang mengetahui</span> dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” </em>(QS. Az Zumar [39] : 9)</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ</span></p>
<p>“<em>Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.</em>” (QS. Fathir [35] : 28)</p>
<p>Dalam kitab shohih dari ‘Utsman, beliau berkata bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ</span></p>
<p>“<em>Barangsiapa mati dalam keadaan <span style="text-decoration: underline;">mengetahui</span> bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, maka dia akan masuk surga.”</em> (HR. Muslim no.145)</p>
<p> </p>
<h3><span style="color: #0000ff;"><strong>Syarat kedua adalah meyakini kalimat <em>laa ilaha illallah</em></strong></span></h3>
<p>Maksudnya adalah seseorang harus meyakini kalimat ini seyakin-yakinnya tanpa boleh ada keraguan sama sekali. Yakin adalah ilmu yang sempurna.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> memberikan syarat benarnya keimanan seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan sifat tidak ada keragu-raguan. Sebagaimana dapat dilihat pada firman Allah,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ</span></p>
<p>“<em>Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka <span style="text-decoration: underline;">tidak ragu-ragu</span> dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.</em>” (QS. Al Hujurat [49] : 15)</p>
<p>Apabila seseorang ragu-ragu dalam keimanannya, maka termasuklah dia dalam orang-orang munafik –<em>wal ‘iyadzu billah</em> [semoga Allah melindungi kita dari sifat semacam ini]. Allah <em>Ta’ala</em> mengatakan kepada orang-orang munafik tersebut,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">إِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ</span></p>
<p>“<em>Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan <span style="text-decoration: underline;">hati mereka ragu-ragu</span>, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.</em>”(QS. At Taubah : 45)</p>
<p>Dalam beberapa hadits, Allah mengatakan bahwa orang yang mengucapkan <em>laa ilaha illallah</em> akan masuk surga dengan <span style="text-decoration: underline;">syarat</span> yakin dan tanpa ada keraguan.</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, beliau berkata bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّى رَسُولُ اللَّهِ لاَ يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فِيهِمَا إِلاَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ</span></p>
<p>“<em>Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah. Tidak ada seorang hamba pun yang bertemu Allah (baca: meninggal dunia) dengan membawa keduanya dalam keadaan <span style="text-decoration: underline;">tidak ragu-ragu</span> kecuali Allah akan memasukkannya ke surga</em>” (HR. Muslim no. 147)</p>
<p>Dari Abu Hurairah juga, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّى رَسُولُ اللَّهِ لاَ يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فَيُحْجَبَ عَنِ الْجَنَّةِ</span></p>
<p>“<em>Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah. Seorang hamba yang bertemu Allah dengan keduanya dalam keadaan <span style="text-decoration: underline;">tidak ragu-ragu</span>, Allah tidak akan menghalanginya untuk masuk surga.</em>” (HR. Muslim no. 148)</p>
<h3><span style="color: #0000ff;"><strong>Syarat ketiga adalah menerima kalimat <em>laa ilaha illallah</em></strong></span></h3>
<p>Maksudnya adalah seseorang menerima kalimat tauhid ini dengan hati dan lisan, tanpa menolaknya.</p>
<p>Allah telah mengisahkan kebinasaan orang-orang sebelum kita dikarenakan menolak kalimat ini. Lihatlah pada firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آَبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آَثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ (23) قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكُمْ بِأَهْدَى مِمَّا وَجَدْتُمْ عَلَيْهِ آَبَاءَكُمْ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ (24) فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (25)</span></p>
<p><em>“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”.(Rasul itu) berkata: “Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?” Mereka menjawab: “Sesungguhnya <span style="text-decoration: underline;">kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya</span>.”</em> <em>Maka Kami binasakan mereka maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.”</em> (QS. Az Zukhruf [43] : 23-25)</p>
<p>Dalam kitab shohih dari Abu Musa <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;"><span style="font-size: 18pt;">« مَثَلُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا ، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ ، فَأَنْبَتَتِ الْكَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ ، وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ ، فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ ، فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا ، وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى ، إِنَّمَا هِىَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً ، وَلاَ تُنْبِتُ كَلأً ، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقِهَ فِى دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ ، فَعَلِمَ وَعَلَّمَ ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا ، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ » .</span> </span></p>
<p>“<em>Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang aku bawa dari Allah adalah seperti air hujan lebat yang turun ke tanah. Di antara tanah itu ada yang subur yang dapat menyimpan air dan menumbuhkan rerumputan. Juga ada tanah yang tidak bisa menumbuhkan rumput (tanaman), namun dapat menahan air. Lalu Allah memberikan manfaat kepada manusia (melalui tanah tadi, pen); mereka bisa meminumnya, memberikan minum (pada hewan ternaknya, pen) dan bisa memanfaatkannya untuk bercocok tanam. Tanah lainnya yang mendapatkan hujan adalah tanah kosong, tidak dapat menahan air dan tidak bisa menumbuhkan rumput (tanaman). Itulah permisalan orang yang memahami agama Allah dan apa yang aku bawa (petunjuk dan ilmu, pen) bermanfaat baginya yaitu dia belajar dan mengajarkannya.  Permisalan lainnya adalah <span style="text-decoration: underline;">permisalah orang yang menolak (petunjuk dan ilmu tadi, pen) dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku bawa</span>.”</em> (HR. Bukhari no. 79 dan Muslim no. 2093. Lihat juga <em>Syarh An Nawawi</em>, 7/483 dan <em>Fathul</em> <em>Bari</em> , 1/130)</p>
<h3><span style="color: #0000ff;"><strong>Syarat keempat adalah <em>inqiyad</em> (patuh) kepada syari’at Allah</strong></span></h3>
<p>Maksudnya adalah meniadakan sikap meninggalkan yaitu seorang yang mengucapkan <em>laa ilaha illallah</em> haruslah patuh terhadap syari’at Allah serta tunduk dan berserah diri kepada-Nya. Karena dengan inilah, seseorang akan berpegang teguh dengan kalimat <em>laa ilaha illallah</em>.</p>
<p>Oleh karena itu, Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى</span></p>
<p>“<em>Dan <span style="text-decoration: underline;">barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah</span>, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.</em>” (QS. Luqman [31] : 22). Yang dimaksudkan dengan ‘<em>telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh</em>’ adalah telah berpegang dengan <em>laa ilaha illallah</em>.</p>
<p>Dalam ayat ini, Allah mempersyaratkan untuk berserah diri (patuh) pada syari’at Allah dan inilah yang disebut <em>muwahhid</em> (orang yang bertauhid) yang berbuat <em>ihsan</em> (kebaikan). Maka barangsiapa tidak berserah diri kepada Allah maka dia bukanlah orang yang berbuat ihsan sehingga dia <span style="text-decoration: underline;">bukanlah</span> orang yang berpegang teguh dengan buhul tali yang kuat yaitu kalimat <em>laa ilaha illallah</em>. Inilah makna firman Allah pada ayat selanjutnya,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">وَمَنْ كَفَرَ فَلَا يَحْزُنْكَ كُفْرُهُ إِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ فَنُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (23) نُمَتِّعُهُمْ قَلِيلًا ثُمَّ نَضْطَرُّهُمْ إِلَى عَذَابٍ غَلِيظٍ (24)</span></p>
<p>“<em>Dan barangsiapa kafir (tidak patuh) maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu. Hanya kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras.</em>” (QS. Luqman [31] : 23-24).</p>
<p>(Jadi perbedaan <em>qobul</em> (menerima, syarat ketiga) dengan <em>inqiyad</em> (patuh, syarat keempat) adalah sebagai berikut. Qobul itu terkait dengan <span style="text-decoration: underline;">hati dan lisan</span>. Sedangkan inqiyad terkait dengan <span style="text-decoration: underline;">ketundukkan anggota badan</span>,ed).</p>
<h3><span style="color: #0000ff;"><strong>Syarat kelima adalah jujur dalam mengucapkannya</strong></span></h3>
<p>Maksudnya adalah seseorang yang mengucapkan kalimat ikhlas <em>laa ilaha illallah</em> harus benar-benar jujur (tidak ada dusta) dalam hatinya dan juga diikuti dengan pembenaran dalam lisannya.</p>
<p>Oleh karena itu, Allah mencela orang-orang munafik -karena kedustaan mereka- pada firman-Nya,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آَمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ (8) يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (9) فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ (10)</span></p>
<p>“<em>Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian ,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.</em> <em>Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit , lalu ditambah Allah penyakitnya; dan <span style="text-decoration: underline;">bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.</span></em>” (QS. Al Baqarah [2] : 8-10).</p>
<p>Begitu juga pada firman-Nya,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ (1)</span></p>
<p>“<em>Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan <span style="text-decoration: underline;">Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta</span>.</em>” (QS. Al Munafiqun [63] : 1)</p>
<p>Untuk mendapatkan keselamatan dari api neraka tidak hanya cukup dengan mengucapkan kalimat tauhid tersebut, tetapi juga harus disertai dengan pembenaran (kejujuran) dalam hati. Maka semata-mata diucapkan tanpa disertai dengan kejujuran dalam hati, tidaklah bermanfaat.</p>
<p>Lihatlah hadits dari Mu’adz bin Jabal, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ</span></p>
<p>“<em>Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya <span style="text-decoration: underline;">dengan kejujuran dari dalam hatinya</span>, kecuali Allah akan mengharamkan neraka baginya.</em>” (HR. Bukhari  no. 128)</p>
<h3><span style="color: #0000ff;"><strong>Syarat keenam adalah ikhlas dalam beramal</strong></span></h3>
<p>Maksudnya adalah seseorang harus membersihkan amal -dengan benarnya niat- dari segala macam kotoran syirik.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ</span></p>
<p>“<em>Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah ketaatan (baca: ibadah) yang <span style="text-decoration: underline;">ikhlas (bersih dari syirik)</span>.</em>” (QS. Az Zumar [39] : 3)</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ</span></p>
<p>“<em>Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan <span style="text-decoration: underline;">ikhlas (memurnikan) keta’atan kepada-Nya</span> dalam (menjalankan) agama yang lurus.</em>” (QS. Al Bayyinah [98] : 5)</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ</span></p>
<p>“<em>Maka sembahlah Allah dengan <span style="text-decoration: underline;">ikhlas (memurnikan) keta’atan kepada-Nya</span>.</em>” (QS. Az Zumar [39] : 2)</p>
<p>Dari Abu Hurairah, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ</span></p>
<p>“<em>Orang yang berbahagia karena mendapat syafa’atku pada hari kiamat nanti adalah orang yang mengucapkan laa ilaha illallah dengan <span style="text-decoration: underline;">ikhlas dalam hatinya</span> atau dirinya.</em>” (HR. Bukhari no. 99)</p>
<h3><span style="color: #0000ff;"><strong>Syarat ketujuh adalah mencintai kalimat <em>laa ilaha illallah</em></strong></span></h3>
<p>Maksudnya adalah seseorang yang mengucapkan kalimat ini mencintai (tidak benci pada) Allah, Rasul dan agama Islam serta mencintai pula kaum muslimin yang menegakkan kalimat ini dan menahan diri dari larangan-Nya. Dia juga membenci orang yang menyelisihi kalimat <em>laa ilaha illallah, </em>dengan melakukan kesyirikan dan kekufuran yang merupakan pembatal kalimat ini.</p>
<p>Yang menunjukkan adanya syarat ini pada keimanan seorang muslim adalah firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ</span></p>
<p>“<em>Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. <span style="text-decoration: underline;">Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah</span>.</em>” (QS. Al Baqarah [2] : 165)</p>
<p>Dalam ayat ini, Allah mengabarkan bahwa orang-orang mukmin sangat cinta kepada Allah. Hal ini dikarenakan mereka tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun dalam cinta ibadah. Sedangkan orang-orang musyrik mencintai sesembahan-sesembahan mereka sebagaimana mereka mencintai Allah. Tanda kecintaan seseorang kepada Allah adalah mendahulukan kecintaan kepada-Nya walaupun menyelisihi hawa nafsunya dan juga membenci apa yang dibenci Allah walaupun dia condong padanya. Sebagai bentuk cinta pada Allah adalah mencintai wali Allah dan Rasul-Nya serta membenci musuhnya, juga mengikuti Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, mencocoki jalan hidupnya dan menerima petunjuknya.</p>
<p>(Pembahasan syarat <em>laa ilaha illallah </em>ini diringkas dari dua kitab: (1) <em>Ma’arijul Qobul</em>, I/ 327-332 dan (2) <em>Fiqhul Ad’iyyah wal Adzkar</em>, I/180-184)</p>
<p>Inilah syarat-syarat yang harus dipenuhi agar seseorang bisa mendapatkan keutamaan <em>laa ilaha illallah</em>. Jadi, untuk mendapatkan keutamaan-keutamaan <em>laa ilaha illallah </em>bukanlah hanyalah di lisan saja, namun hendaknya seseorang memenuhi syarat-syarat ini dengan amalan/ praktek (tanpa mesti dihafal). Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mampu meyakini makna kalimat tauhid, mengamalkan konsekuensi-konsekuensinya dalam perkataan maupun perbuatan, dan semoga kita mati dalam keadaan mu’min.</p>
 