
<h4 align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><b>Akal sehat</b></span></h4>
<p align="JUSTIFY">Akal sehat manusia mampu mengenali akidah yang benar. Bahkan Al Qur’an penuh dengan dalil dalil akal untuk menetapkan aqidah yang benar. Sebagai contoh, bagaimana Allah <i>ta’ala</i> meyakinkan manusia akan penciptaannya dengan dalil akal yang tidak mungkin terbantahkan.</p>
<p align="JUSTIFY">Allah <i>ta’ala</i> berfirman (yang artinya), “<i>Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?</i>” (Qs. At Thur : 35). Ibnu Abbas berkata, “maksudnya, apakah manusia itu ada, diciptakan tanpa ada yang menciptakan?” tentu saja tidak mungkin. Ataukah mereka menciptakan diri mereka sendiri? Hal ini lebih tidak mungkin. Sehingga tidak ada pilihan lain kecuali adanya Dzat yang menciptakan diri mereka, yaitu Allah <i>Ta’ala</i>.<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote1sym" name="sdfootnote1anc"><sup>1</sup></a></p>
<p align="JUSTIFY">Sehingga karenanya kita dapatkan seringkali para ulama berdalil dengan akal dalam membantah ahlu bid’ah. Seperti yang terjadi dalam kisah Abu Hanifah, bahwa beberapa orang ateis bertanya kepadanya tentang keberadaan Allah <em>ta’ala</em> sebagai pencipta, maka beliau berkata, “aku berpikir tentang suatu hal, ada orang yang mengabarkan kepadaku tentang adanya kapal di lautan membawa barang barang tanpa ada nahqoda maupun orang yang menjaganya, namun begitu kapal itu bisa pergi pulang dan berlayar dengan sendirinya melewati gelombang ombak yang sangat besar dengan selamat”. Maka merekapun mengatakan, “tidak mungkin ada orang berakal mengatakan hal seperti ini”.</p>
<p align="JUSTIFY">Beliaupun berkata, “celaka kalian, semua yang ada baik dilangit maupun dibumi dengan segala macam yang ada didalamnya, semuanya berada dalam keadaan sempurna dan teratur tanpa ada yang menciptakannya?!” maka merekapun kaget, dan kembali kepada kebenaran serta masuk islam.<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote2sym" name="sdfootnote2anc"><sup>2</sup></a></p>
<p align="JUSTIFY">Namun kemampuan akal sehat dalam memahami perkara akidah hanya terbatas pada hal hal yang bersifat global (m<i>ujmal</i>)<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote3sym" name="sdfootnote3anc"><sup>3</sup></a>. Adapun rincian ilmu akidah (<i>tafshil</i>) hanya dapat diketahui melalui <em>nash</em> wahyu ilahi. Sebagai contoh keagungan Allah dapat diketahui secara akal dengan melihat keagungan ciptaan Nya. Akan tetapi rincian nama dan sifat-sifat Allah <i>ta’ala</i> hanya diketahui melalui wahyu. Begitu juga dengan keberadaan hari kiamat. Akal sehat mengetahui akan adanya hari kiamat, tapi rincian kejadian di hari kiamat hanya diketahui melalui wahyu, dan seterusnya. Karena akal manusia tidak sampai untuk mencapai hakikat hal-hal gaib (<i>yuhaarul uquul</i>). Tapi bukan berarti juga hal-hal gaib yang disebutkan mustahil secara akal (<i>yuhaalul uquul</i>). Ketika nash dari Al Qur’an maupun Sunnah yang sohih terlihat bertentangan dengan akal maka akal harus tunduk kepada Al Qur’an dan Sunnah. karena Al Qur’an dan Sunnah bersifat <em>qath’i</em> (pasti) tidak ada <em>ihtimaal</em> (kemungkinan) salah, sementara akal manusia sangat mungkin untuk salah.<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote4sym" name="sdfootnote4anc"><sup>4</sup></a></p>
<h4 align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><b>Fitrah yang bersih</b></span></h4>
<p align="JUSTIFY">Manusia diciptakan dalam keadaan fitrah<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote5sym" name="sdfootnote5anc"><sup>5</sup></a>. Dengan fitrah manusia mengetahui adanya Allah sebagai Dzat yang menciptakan. Dengan fitrah juga manusia mengetahui bahwa dirinya adalah makhluk lemah yang butuh kepada Allah. Bahkan dengan fitrahnya manusia membutuhkan peribadahan, karena memang manusia diciptakan sebagai hamba. Dan menjadi sunnatullah barang siapa yang tidak menghambakan dirinya kepada Allah, dia akan menjadi hamba selain Allah. Dan begitu juga dengan fitrah tumbuh dalam jiwa seseorang dorongan untuk berbuat kebaikan. Oleh karena itulah fitrah menjadi salah satu <em>hujjah</em> (argumen) ahlussunnah untuk menetapkan akidah. Tentunya fitrah yang masih bersih dan belum terkontaminasi oleh fitnah syubhat maupun syahwat.</p>
<p align="JUSTIFY">Sebagai contoh bagaimana ahlussunnah menetapkan akidah dengan fitrah adalah bahwasanya fitrah manusia yang menunjukan bahwa Allah berada di atas. Hal ini terbukti dengan naluri manusia ketika berdoa selalu menghadapkan hatinya ke atas. Sehingga karenanya –sebagai diceritakan oleh Syaikh Muhammad bin Thohir Al Maqdisi<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote6sym" name="sdfootnote6anc"><sup>6</sup></a>– ketika syaikh Abu Ja’far Al Hamdzani hadir di majlis Abul Ma’aali Al Juwaini, seorang ulama Asy’ariyah yang mengingkari sifat <em>Uluw</em> (bahwa Allah berada di atas). Ketika itu beliau sedang berkhutbah, beliau berkata “Allah ada sebelum arsy ada, dan sekarang pun Allah berada di tempatnya dahulu (bermaksud mengingkari bahwa Allah ada di langit) Maka Abu Ja’far Al Hamdzani pun berkata, “wahai ustadz tolong beritahukan kepada kami tentang fithrah dalam hati kami? Bahwa tidak ada seorang yang berakal pun yang berkata, “Ya Allah” kecuali mendapatkan hatinya menghadap ke atas, tidak menghadap ke kanan ataupun ke kiri, bagaimana kita menghilangkan hal ini dari hati kita? Mendengar hal ini Imam Juwaini pun menampar pipinya sendiri dan turun dari mimbar seraya mengatakan, “Hamdzani telah membingungkanku Hamdzani telah membingungkanku”.</p>
<p align="JUSTIFY">Namun sebagaimana akal, fitrah manusiapun tidak cukup untuk bisa mengenal rincian akidah ahlussunnah wal jama’ah. Sahingga karenanya perlu untuk diutusnya para Rasul dengan wahyu berupa Al Qur’an maupun As Sunnah untuk menegaskan akidah yang ditetapkan oleh Fitrah manusia, dan memperinci akidah akidah yang ada. Seperti akidah Ahlu Sunnah bahwa Allah beristiwa di atas Arsy. Fitrah maupun akal manusia menyatakan bahwa Allah berada di atas, namun keberadaan Allah beristiwa di atas Arsy hanya diketahui melalui wahyu dari Allah <i>ta’ala</i>.</p>
<p align="JUSTIFY"><i>Wallahu ‘Alam bis Shawab</i></p>
<p align="JUSTIFY">***</p>
<h5 align="JUSTIFY">Catatan kaki</h5>
<div id="sdfootnote1">
<p><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote1anc" name="sdfootnote1sym">1</a> Disebutkan oleh imam Al Baghowi dalam <em>Ma’alimut Tanzil</em> (7/392), dinukil dari <em>Ma’arijul Qobul</em>, Hafidz Al Hakimi, (Dar Ibnul Jauzi, Cet. 8; 1432 H) (1/123)</p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote2anc" name="sdfootnote2sym">2</a> Dinukil dari <em>Ma’arijul Qobul</em> (1/135)</p>
</div>
<div id="sdfootnote3">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote3anc" name="sdfootnote3sym">3</a> <em>Syarah Akidah At Tohawiyah</em>, hal.123</p>
</div>
<div id="sdfootnote4">
<p><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote4anc" name="sdfootnote4sym">4</a><em> Muqoddimah Wa Qowaid Fie Manhajis Salaf, hal. 102</em></p>
</div>
<div id="sdfootnote5">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote5anc" name="sdfootnote5sym">5</a> Lihat penjelasan lebih lengkap tentang makna fithrah dan khilaf para ulama di dalamnya dalam <em>Ma’arijul Qobul</em>, (1/101-115)</p>
</div>
<div id="sdfootnote6">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote6anc" name="sdfootnote6sym">6</a> Dinukil oleh Ibn Abil Izz dalam <em>Syarah Akidah Tohawiyah</em>, Hal. 46</p>
<p align="JUSTIFY">—</p>
<p align="JUSTIFY">Penulis: Abdullah Hazim</p>
<p align="JUSTIFY">Artikel Muslim.Or.Id</p>
</div>
[serialposts]
 