
<p><strong>SUJUD TILAWAH PADA WAKTU-WAKTU TERLARANG UNTUK SHALAT</strong><strong><a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a></strong></p>
<p>Pertanyaan.<br>
Bolehkah kita melakukan sujud tilawah pada waktu-waktu terlarang melakukan shalat seperti pada saat matahari terbit?</p>
<p>Jawaban.<br>
Ya, menurut pendapat yang shahih dari dua pendapat, sujud tilawah boleh dilakukan pada waktu-waktu terlarang melakukan shalat. Karena sujud ini tidak sama dengan shalat. Seandainya pun kita menganggapnya sama dengan shalat, maka sujud tetap boleh dilakukan pada waktu-waktu terlarang tersebut, karena dia termasuk shalat yang memiliki sebab, seperti shalat <em>Kus</em><em>û</em><em>f</em> (yaitu shalat sunat karena ada gerhana) dan shalat sunat <em>thawaf</em> bagi orang yang melakukan ibadah <em>thawaf</em> pada waktu-waktu terlarang melakukan shalat.</p>
<p><strong>وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم</strong></p>
<p><em>al-Lajnatud D</em><em>â</em><em>imah Lil Bu<u>h</u></em><em>û</em><em>tsil Ilmiyah wal Ift</em><em>â</em><em>’</em><br>
Ketua : Syaikh ‘Abdul Azîz bin ‘Abdillâh bin Bâz<br>
Wakil : Syaikh ‘Abdurrazâq bin ‘Afîfi<br>
Anggota : Syaikh ‘Abdullâh bin Ghadyân dan Syaikh ‘Abdullâh bin Qu’ûd</p>
<p><strong> </strong><strong>SUJUD SYUKUR SETELAH SHALAT</strong></p>
<p>Pertanyaan.<br>
Setelah melakukan shalat witir, saya melakukan sujud syukur yaitu sujud sekali. Ketika selesai shalat <em>Dhuha</em>, saya melakukan hal yang sama, apakah ini boleh ? Bolehkah saya melakukan sujud seperti itu di setiap waktu ?</p>
<p>Jawaban.<br>
Sujud syukur dilakukan ketika mendapatkan suatu kenikmatan yang harus disyukuri. Adapun tentang hukum membiasakan diri melakukan sujud syukur setelah melakukan shalat <em>Witir</em> atau <em>Dhu<u>h</u>a</em>, kami belum mengetahui dalilnya dalam syariat.</p>
<p><strong>وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم</strong></p>
<p><em>al-Lajnatud D</em><em>â</em><em>imah Lil Bu<u>h</u></em><em>û</em><em>tsil Ilmiyah wal Ift</em><em>â</em><em>’</em><br>
Ketua : Syaikh ‘Abdul Azîz bin ‘Abdillâh bin Bâz<br>
Wakil : Syaikh ‘Abdurrazâq bin ‘Afîfi<br>
Anggota : Syaikh ‘Abdullâh bin Ghadyân dan Syaikh ‘Abdullâh bin Qu’ûd</p>
<p>[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XIII/1431/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]<br>
________<br>
Footnote<br>
<a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> <em>Fatâwâ al-Lajnatud Dâimah Lil Bu<u>h</u>ûtsil Ilmiyyah</em> wal Iftâ’, 7/264</p>
 