
<p>Mungkin ada yang bertanya-tanya “mengapa saya melihat ada orang yang sudah ber-ihram haji di bulan Syawwal? Padahal Haji di mulai pada tanggal 8 Dzulhijjah? Berarti masih ada 2 bulan jaraknya, karena urutannya adalah Syawwal, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah”. Jawabannya adalah karena bulan haji memang dimulai di bulan Syawwal kemudian Dzulqa’dah dan Dzulhijjah.</p>
<p>Sebagaimana firman Allah,</p>
<p style="text-align: right;">الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ</p>
<p>“<em>Musim haji itu pada beberapa bulan yang telah diketahui</em>” (QS. Al Baqarah: 197).</p>
<p>At-Thabari menafsirkan ayat tersebut, beliau berkata,</p>
<p style="text-align: right;">أي وقت الحج أشهر معلومات وهي شوال وذو القعدة وتسع من ذي الحجة إلى طلوع الفجر من يوم النحر</p>
<p>“Yaitu waktu bulan-bulan haji adalah Syawwal, Dzulqa’dah dan tanggal 9 Dzulhijjah sampai terbitnya fajar pada hari nahr (menyembelih)”[1. Lihat <em>Tafsir At-Thabari</em> untuk ayat tersebut].</p>
<p>Abdullah Ibnu Umar <em>radhiallahu’anhu</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right;">الْحَجِّ شَوَّالٌ وَذُو الْقَعْدَةِ وَعَشْرٌ مِنْ ذِى الْحَجَّةِ</p>
<p>“<em>Bulan-bulan haji Syawwal, Dzulqa’dah, dan Sepuluh hari (pertama) dari Dzulhijjah”</em>[2. HR. Al Bukhari].</p>
<p>Berihram hanya boleh dilakukan di bulan-bulan Haji ini. Abdullah bin Umar juga berkata,</p>
<p style="text-align: right;">السُّنَّةِ أَنْ لاَ يُحْرِمَ بِالْحَجِّ إِلاَّ فِى أَشْهُرِ الْحَجِّ</p>
<p>“<em>Termasuk Sunnah, tidak boleh berihram (untuk haji) kecuali pada bulan-bulan haji”</em>[3. HR. Al Bukhari].</p>
<h4><span style="color: #ff0000;">Beberapa catatan</span></h4>
<p><strong>Pertama</strong>, jika melakukan <em>haji tamattu</em>’ (melakukan umrah dan haji dalam satu kali safar), maka Ia ber-ihram dengan niat Umrah dahulu, kemudian tahallul selesai umrah. Selama waktu ini sampai tanggal 8 Dzulhijjah ia bisa melakukan berbagai larangan haji karena sudah tahallul. Ketika tanggal 8 Dzulhijjah ia beri-ihram untuk haji.</p>
<p>Sehingga umumnya yang ber-ihram Haji di bulan Syawwal atau Dzulqa’dah adalah bagi mereka yang menjalani haji tamattu’</p>
<p><strong>Kedua</strong>, adapun jika melakukan <em>haji ifrad</em> (haji saja) atau qiran (haji dan umrah digabung dalam satu rangkaian ibadah), maka ia ber-ihram dengan ihram haji sejak pertama kali masuk ke daerah <em>miqat</em>. Maka ia tidak boleh melakukan larangan-larangan haji sampai haji selesai.</p>
<p>Sehingga umumnya orang yang melakukan haji ifrat atau qiran melakukan ihram mendekati tanggal pelaksaanan manasik haji yaitu 8 Dzulhijjah. Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata,</p>
<p style="text-align: right;">فمن أحرم في هذه الفترة فقد أحرم في أشهر الحج، وينعقد إحرامه بالحج بإجماع المسلمين، ويجب عليه أن يتجنب الرفث وهو الجماع ودواعيه؛ لأن ذلك محرم على المحرم</p>
<p>“Barangsiapa yang ber-ihram di waktu ini (Syawwal, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah) maka ia telah ber-ihram di bulan haji dan sah dengan ijma’ kaum muslimin. Wajib baginya menjauhi rafats yaitu jimak dan pemanasan jima’ (larangan-larangan haji)”[4. Sumber: <a href="http://ar.islamway.net/fatwa/8960">http://ar.islamway.net/fatwa/8960</a>].</p>
<p>Demikian semoga bermanfaat.</p>
<p>***</p>
<p>@Laboratorium RS Manambai, Sumbawa Besar</p>
<p>Penyusun: dr. Raehanul Bahraen</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
<p>___</p>
 