
<h2><strong>Suami Zalim Kepada Istri</strong></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Syaikh Shalih Fauzan ditanya:</p>
<p><em>Seorang suami</em> telah berbuat <em>semena-mena</em> dan membiarkan istrinya selama dua tahun dalam keadaan tanpa ditalak dan dipisahkan dari anak-anaknya serta tidak diberi nafkah. Sementara kondisi kehidupannya sangat memprihatinkan karena tidak ada yang memberi nafkah sama sekali kecuali hanya berharap kepada Allah <em>Ta’ala</em>. Bagaimana sikap suami seperti ini yang berbuat semena-mena dan menelantarkan keluarganya?<br>
<!--more--><br>
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Tidak diragukan lagi bahwa istri mempunyai <a title="hak" href="https://konsultasisyariah.com/suami-memperlakukan-istri-semena-mena" target="_blank">hak</a> atas suaminya yang harus ditunaikan, berdasarkan firman Allah<em> Ta’ala</em>,</p>
<p class="arab">وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ</p>
<p>“<em>Dan bergaullah dengan mereka secara patut</em>.”(QS. An-Nisa: 19).</p>
<p>Dan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>“<em>Sesungguhnya istrimu mempunyai hak atasmu</em>.”</p>
<p>Dan firman Allah <em>Ta’ala</em></p>
<p class="arab">وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ</p>
<p>“<em>Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf</em>.” (QS. Al-Baqarah: 228).</p>
<p>Dan Allah juga berfirman,</p>
<p class="arab">فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحُ بِإِحْسَانٍ</p>
<p>“<em>Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang baik atau menceraikan dengan cara yang baik.</em>” (QS. Al-Baqarah: 229).</p>
<p>Banyak sekali dalil-dalil yang memerintahkan kepada suami agar bertakwa kepada Allah <em>Ta’ala</em> dalam <a title="memenuhi hak istri" href="https://konsultasisyariah.com/suami-memperlakukan-istri-semena-mena" target="_blank"><strong>memenuhi hak istri</strong></a> dan tidak boleh mengurangi hak-haknya kecuali yang dibenarkan menurut syariat seperti pada waktu nusyuz.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Tentang Wanita</em>, Jilid 2, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel www.KonsultasiSyariah.com</strong></p>
 