
<h3 style="text-align: justify;">Pertanyaan:</h3>
<p style="text-align: justify;"><em>Ustadz hadits tentang mengadzankan bayi bagaimana derajatnya? Apakah bisa diamalkan?</em></p>
<h3 style="text-align: justify;">Jawab:</h3>
<p style="text-align: justify;">Ada tiga hadits mengenai mengadzankan bayi yang saya ketahui, yaitu:<br>
<strong>Pertama : </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hadits <em>Abu Rofi’ Maula</em> ia berkata :”Aku melihat Rosulullah [Islamic phrases=”Shallallahu ‘alaihi wa Sallam”]z[/Islamic] adzan ditelinga <em>Al Hasan bin Ali</em> seperti adzan untuk sholat ketika Fathimah melahirkanya “. Dikeluarkan oleh <em><strong>Abu daud (5105), At Tirmidzi (4/1514), Al Baihaqi dalam Al Kubro (9/300), Ahmad (6/391-392). Ath Thobroni dalam Al kabiir (931, 2578), Abdurrozaq (7986), Ath Thoyalisi (970), Al hakim (3/179) dan Al Baghowi dalam Syarah sunnah (11/273)</strong></em>. Semuanya dari jalan <em>Sufyan Ats Tsauri</em> dari <em>Ashim bin Ubaidillah</em> dari <em>Ubaidillah bin Abi Rofi’</em> dari ayahnya. Dalam sanad ini terdapat <em>‘Ashim bin Ubaidillah</em>, ia <strong>L</strong><strong>emah</strong>. <em>Abu Hatim</em> dan <em>Abu Zur’ah</em> berkata :” <strong>M</strong><strong>unkar Haditsnya</strong> “. <em>Ad Daroquthni</em> berkata :” <strong>Yutrok</strong> (ditinggalkan haditsnya). Sementara itu <em>Ath Thobroni</em> meriwayatkan dalam <strong>Al Kabiir (926, 2579)</strong> dari jalan <em>Hammad bin Syu’aib</em> dari <em>Ashim bin Ubaidillah</em> dari <em>Ali bin Al Husain</em> dengan tambahan :” Beliau adzan ditelinga Al Hasan dan Al husain… diakhirnya dikatakan :” dan beliau memerintahkannya “. Dan <em>Hammad bin Syu’aib</em> <strong>sangat lemah</strong>, selain itu ia diselisihi oleh <em>Sufyan Ats Tsauri</em> dalam riwayat lalu sehingga riwayatnya munkar secara sanad dan matan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kedua : </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hadits <em>Ibnu Abbas</em> yang dikeluarkan oleh <em>Al Baihaqi</em> dalam <strong>Syu’abul Iman (6/8620)</strong> dari <em>Muhammad bin Yunus dari Al hasan bin Amru bin Saif As Sadusi</em> mengabarkan kepada kami <em>Al Qosim bin Muthoyyab dari Manshur bin Shofiyyah</em> dari <em>Abu ma’bad</em> dari <em>Ibnu Abbas</em> sesungguhnya Nabi [Islamic phrases=”Shallallahu ‘alaihi wa Sallam”]e[/Islamic] adzan di telinga kanan <em>Al hasan bin Ali</em> pada hari kelahirannya dan iqomat di telinga kirinya “. Kemudian setelahnya <em>Al Baihaqi</em> berkata :” padanya terdapat kelemahan “. Kita katakan :” Justru hadits ini <strong>palsu</strong>, illatnya adalah<strong><em> Al hasan bin Amru</em></strong>, <em>Al hafidz Ibnu Hajar</em> berkata dalam <strong>At Taqrib</strong> :” <strong>Matruk</strong> “.<em> Adz Dzahabi</em> berkata dalam<em> Al Mizan</em> :” ia dianggap <strong>pendusta</strong> oleh <em>Ibnul Madini</em>, <em>Al Bukhori</em> berkata :” <strong>Kadzdzaab</strong> (tukang dusta) “. <em>Ar Rozi</em> berkata :” <strong>Matruk</strong> “.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ketiga : </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hadits <em>Al Husain bin Ali</em>, yang diriwayatkan oleh <em>Al Baihaqi </em>dalam <strong>Syu’abul Iman (6/390)</strong>, dan <em>Ibnu Sunni</em> dalam <strong>‘amal yaum wal lailah (ح – 623)</strong> dari <em>Yahya bin Al ‘Ala</em> dari <em>Marwan bin Salim dari Tholhah bin Ubidillah</em> dari <em>Al husain bin Ali</em> ia berkata, Rosulullah [Islamic phrases=”Shallallahu ‘alaihi wa Sallam”]e[/Islamic] bersabda :” <strong><em>Barang siapa yang kelahiran bayi lalu ia adzan di telinga kanannya dan iqomat di telinga kirinya, tidak akan bermudlorot padanya ibunya bayi</em></strong> “. Sanad ini <strong>palsu</strong>, ada dua cacat : <em>Yahya bin Al ‘Ala</em> tertuduh <strong>berdusta</strong> (muttaham bil kadzib) dan <em>Marwan bin Salim</em> <strong>matruk</strong>.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Kesimpulan :</h3>
<p style="text-align: justify;">Hadits mengadzankan bayi adalah <strong>dlo’if</strong> dan tidak boleh dijadikan hujjah. Dan hadits-hadits tersebut tidak dapat saling menguatkan karena hadits kedua dan ketiga tidak dapat dijadikan sebagai Penguat karena sangat lemah bahkan palsu, dan yang seperti ini tidak dapat menguatkan sebagaimana disebutkan dalam ilmu mushtolah hadits.</p>
<p style="text-align: justify;">
</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dijawab Oleh : Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.</strong></p>
 