
<h4 align="LEFT"><span style="color: #ff0000;"><b>Ilmu Syari’at Ditinjau dari Sisi Materi Inti atau Tidaknya terbagi menjadi dua, yaitu Ilmu Inti dan Ilmu Penunjang</b></span></h4>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Asy-Syathibi </span><span style="color: #000000;"><i>rahimahullah, </i></span><span style="color: #000000;">di dalam kitabnya</span><span style="color: #000000;"><i> Al-Muwafaqat</i></span><span style="color: #000000;"> berkata,</span></p>
<p class="arab" dir="RTL" align="RIGHT">من العلم ما هو من صلب العلم ، ومنه ما هو ملح العلم لا من صلبه، ومنه ما ليس من صلبه ولا ملحه</p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">“Di antara disiplin Ilmu Syar’i ada yang int, dan ada juga yang penunjang, yang tidak termasuk inti ilmu. Di samping itu, juga ada yang tidak termasuk ilmu inti dan tidak pula ilmu penunjang.”</span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote1sym" name="sdfootnote1anc"><sup>1</sup></a></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Syaikh Shaleh </span><span style="color: #000000;">Alusy Syaikh </span><span style="color: #000000;"><i>hafizhahullah </i></span><span style="color: #000000;">mengatakan</span><span style="color: #000000;"><i>,</i></span></p>
<p class="arab" dir="RTL" align="RIGHT">من المعلوم أنّ العلم قسمان كما يقول طائفة من أهل العلم منهم الشاطبي في أول الموافقات: ((العلم قسمان عُقَدٌ وملَح))، والعقد تعقد القلب مع العلم والملح لابد منها للمسير في طلب العلم</p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">“</span><span style="color: #000000;">Merupakan perkara yang sudah diketahui, bahwa disiplin ilmu Syar’i terbagi menjadi dua, sebagaimana disebutkan oleh sekelompok Ulama diantaranya adalah Asy-Syathibi di awal kitab Al-Muwafaqat, bahwa ilmu Syar’i ada dua macam, ‘Uqod (inti) dan Mulah (penunjang). ‘Uqod (ilmu inti) sifatnya adalah ilmu yang mengikat hati dengan kuat, sedangkan Mulah (ilmu penunjang) sifatnya adalah ilmu yang harus ada untuk keistiqomahan perjalanan menuntut ilmu Syar’i.</span><span style="color: #000000;"><i>”</i></span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote2sym" name="sdfootnote2anc"><sup>2</sup></a></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Dari pernyataan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa i</span><span style="color: #000000;">lmu Syari’at ditinjau dari sisi, materi inti atau tidaknya, terbagi menjadi dua, yaitu: </span></p>
<h5 align="LEFT">
<span style="color: #000000;"><b>1. Ilmu Inti (</b></span><span style="color: #000000;"><i>Shulbul ‘Ilmi</i></span><span style="color: #000000;"><b>)</b></span>
</h5>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Ulama menyebut ilmu ini dengan sebutan</span><b> </b><span style="color: #000000;"><i>‘Uqodul ‘Ilmi (Simpul Ilmu) </i></span><span style="color: #000000;">karena sifatnya sebagai simpul pengikat hati, sehingga ilmu itu benar-benar terikat kuat dan erat dalam hati. </span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Ada pula yang menyebut ilmu ini dengan sebutan</span><span style="color: #000000;"><i> Shulbul ‘Ilmi (Inti Ilmu) </i></span><span style="color: #000000;">karena sifatnya sebagai inti utama ilmu Syari’at, dijadikan pegangan oleh seorang hamba dalam memahami dan mengamalkan agama Islam. </span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><b>Ilmu Ini Terbagi Menjadi Dua, yaitu:</b></span></p>
<ol>
<li>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Ilmu Al-Ashliyyah (Ilmu Pokok/Tujuan) atau Ilmu </span><span style="color: #000000;"><i>maqsudun li dzatihi </i></span><span style="color: #000000;">(ilmu tujuan), yang dimaksud dengan ilmu ini adalah ilmu tentang Al-Qur`an (Tafsir), As-Sunnah (ilmu Hadits), Tauhid dan Fiqh.</span></p>
</li>
<li>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Ilmu Ash-Shinaiyyah (Ilmu Alat) atau</span><b> </b><span style="color: #000000;">Ilmu </span><span style="color: #000000;"><i>maqsudun li ghairihi </i></span><span style="color: #000000;">(ilmu sarana), seperti : Ushul Fikih,Ushul Tafsir,Mushtholahul Hadits, Siroh, Tajwid dan Tahsin, Nahwu, Shorof, Al-Ma’ani wal Bayan, Balaghoh, dan yang semisalnya (Penjelasan lebih lanjut baca </span><span style="color: #000000;"><i>Skala Prioritas dalam Belajar Agama Islam (3)</i></span><span style="color: #000000;">)</span></p>
</li>
</ol>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><b>Sifat Ilmu Inti</b></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Ulama menjelaskan bahwa sifat ilmu Inti ini adalah sebagai ilmu yang pokok, menjadi pegangan, pusat perhatian dalam aktifitas menuntut ilmu dan puncak arah tujuan Ulama yang kokoh ilmunya, sebagaimana perkataan Asy-Syathibi </span><span style="color: #000000;"><i>rahimahullah </i></span><span style="color: #000000;">setelah menyampaikan ketiga macam ilmu di atas:</span></p>
<p class="arab" dir="RTL" align="RIGHT"><span style="color: #000000;">فهذه ثلاثة أقسام </span><span style="color: #000000;">: القسم الأول </span><span style="color: #000000;">: هو الأصل والمعتمد ، والذي عليه مدار الطلب ، وإليه تنتهي مقاصد الراسخين</span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">“Maka ilmu ini ada tiga macam, yang pertama (Ilmu Inti) adalah ilmu pokok dan </span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">menjadi pegangan, serta ilmu yang menjadi pusat perhatian dalam aktifitas menuntut ilmu, kepadanyalah puncak arah tujuan Ulama yang kokoh ilmunya.” </span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote3sym" name="sdfootnote3anc"><sup>3</sup></a></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Syaikh Shaleh Alusy Syaikh </span><span style="color: #000000;"><i>hafizhahullah </i></span><span style="color: #000000;">berkata,</span></p>
<p class="arab" dir="RTL" align="RIGHT"><span style="color: #000000;"> <b>العلم منه عُقَد يصار إليها ومنه ملح مساندة</b></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">“Di antara disiplin Ilmu Syar’i ada yang jenis ilmu inti, sebagai puncak arah tujuan (dalam menuntut ilmu Syar’i) dan ada juga yang merupakan ilmu penunjang, sebagai penunjang/penguat ilmu Inti.”</span><i> </i><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote4sym" name="sdfootnote4anc"><sup>4</sup></a></p>
<h5 align="LEFT">
<span style="color: #000000;"><b>2. Ilmu Penunjang (</b></span><span style="color: #000000;"><i>Mulahul ‘Ilmi</i></span><span style="color: #000000;"><b>)</b></span>
</h5>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Ulama menyebut ilmu ini dengan sebutan</span><b> </b><span style="color: #000000;"><i>Mulahul ‘Ilmi, </i></span><span style="color: #000000;">yaitu suatu ilmu yang berkedudukan sebagai penunjang dan penguat ilmu Inti, sebagai pelengkap bagi ilmu Inti serta sebagai sarana untuk bisa istiqamah dalam menuntut ilmu Inti. Di antara ilmu penunjang ini adalah lmu tentang sya’ir, perumpaman-perumpamaan yang baik, kisah-kisah Ulama, biografi Ulama, kisah tentang perdebatan Ulama dan ilmu Sejarah Islam.</span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><b>Sifat Ilmu Penunjang ini adalah:</b></span></p>
<ul>
<li>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Ilmu Penunjang ini menyempurnakan pemahaman seseorang terhadap ilmu Inti.</span></p>
</li>
<li>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Ilmu Penunjang ini memang bermanfa’at, akan tetapi barangsiapa yang tidak mempelajarinya tidaklah mengapa, karena ketidaktahuannya tidak membahayakan ilmunya.</span></p>
</li>
<li>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Jika seseorang ingin mempelajari ilmu Penunjang ini dengan sekedarnya, tidak harus mempelajarinya dari seorang Ulama yang ahli dalam ilmu tersebut, cukup ia membacanya sendiri dengan seksama, karena bukanlah ilmu tujuan, kecuali jika ingin menjadi pakar dalam ilmu-ilmu Penunjang ini, misalnya ingin menjadi penya’ir atau sejarawan.</span></p>
</li>
<li>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Memperluas wawasan dengan mengetahui ilmu Penunjang ini, berfungsi juga sebagai penyemangat dan penggembira dalam mempelajari ilmu Inti yang berat, karena jika seorang penuntut ilmu Syar’i hanya mempelajari ilmu Inti saja, maka dikhawatirkan ia merasa berat, monoton dan bosan, lalu menjadi lemah semangat dan akhirnya berhenti dari menuntut ilmu Syar’i ini.</span></p>
<p>Membaca kitab-kitab tentang ilmu Penunjang ini, perlu dilakukan sebagai selingan, misalnya membaca kitab tentang biografi Ulama, bagaimana ketekunan dan kiat-kiat mereka dalam menuntut ilmu Syar’i, atau bagaimana kemiskinan mereka, namun berhasil menjadi Ulama. Hal ini memompa semangatnya untuk bisa istiqomah dalam menuntut ilmu Syar’i.</p>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Seorang penuntut ilmu Syar’i bebas memilih membaca kitab-kitab dalam ilmu Penunjang ini, baik itu kitab-kitab jenis </span><span style="color: #000000;"><i>mukhtashoroh (ringkas), mutawassithoh (menengah) </i></span><span style="color: #000000;">maupun </span><span style="color: #000000;"><i>muthowwalat (panjang)</i></span><span style="color: #000000;">, asal mampu memahaminya, karena sifatnya sebatas penunjang dan untuk memperluas wawasan. Hal ini beda dengan belajar Ilmu Inti yang sifatnya </span><span style="color: #000000;"><i>Ta`shili </i></span><span style="color: #000000;">(pendasaran yang kokoh) </span><span style="color: #000000;"><i>.</i></span></p>
</li>
</ul>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"> (Keterangan lebih lanjut baca </span><span style="color: #000000;"><i>Cara Mempelajari Kitab-Kitab Ulama (bag. 3</i></span><span style="color: #000000;"><b>)</b></span><span style="color: #000000;">)</span></p>
<h4 align="LEFT"><span style="color: #ff0000;"><b>Imbangi Ilmu Inti dengan Ilmu Penunjang</b></span></h4>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Maksud mengimbangi di sini, bukan berarti harus memberikan perhatian yang sama persis antara belajar ilmu Inti dengan ilmu Penunjang! Tidaklah demikian, namun maksudnya, berikanlah kepada tiap-tiap ilmu sesuai dengan haknya masing-masing! Berikanlah kepada ilmu Inti sesuai dengan porsinya, demikian pula berikanlah kepada ilmu Penunjang sesuai dengan porsinya pula. Tentu hak ilmu Inti jauh lebih besar daripada ilmu Penunjang.</span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Mengimbangi ilmu Inti dengan ilmu Penunjang itu perkara yang penting, karena seorang penuntut ilmu Syar’i biasanya mengalami saat-saat semangat kuat, tengah-tengah, dan menurun.</span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Sebagaimana sabda Rasulullah </span><span style="color: #000000;"><i>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span style="color: #000000;">:</span></p>
<p class="arab" dir="RTL" style="text-align: left;" align="RIGHT">إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتـِي فَقَدْ أَفْلَحَ، وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ</p>
<p><span style="color: #000000;">“<i>Setiap amalan ada masa semangatnya, dan setiap masa semangat, ada masa jenuhnya. Barangsiapa kejenuhannya terarah kepada sunnahku berarti dia telah beruntung, dan barangsiapa yang kejenuhannya tidak membawa dia kepada yang demikian maka dia telah binasa”</i></span><span style="color: #000000;"> (HR. Ahmad, lihat Shahih At-Targhib).</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Jadi, jika Anda dapatkan diri Anda sedang semangat-semangatnya belajar, maka hadirilah majelis Ilmu Inti dengan sungguh-sungguh, pahami pelajaran dengan baik, catatlah dan hafalkanlah! Perbanyak membaca kitab-kitab Ulama dan melakukan pembahasan ilmiyyah!</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Namun, jika Anda dapatkan diri Anda lemah dan turun semangat atau jiwa Anda sedang membutuhkan selingan, maka </span><span style="color: #000000;"><i>janganlah Anda keluar dari ilmu kecuali kepada ilmu atau amal! </i></span><span style="color: #000000;">Silahkan</span><i> </i><span style="color: #000000;">Anda keluar sementara dari ilmu Inti menuju kepada ilmu Penunjang, niscaya akan bermanfaat bagi Anda!</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Adapun seorang penuntut ilmu ketika merasakan turun semangat belajarnya, kemudian keluar dari ilmu kepada permainan atau jalan-jalan, obrolan, dan nongkrong seperti orang awam yang melalaikan, maka hal ini tidaklah selayaknya dilakukan.</span></p>
<h4 align="LEFT"><span style="color: #ff0000;"><b>Ulama dan Ilmu Penunjang</b></span></h4>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Janganlah Anda merasa asing ketika seorang Ulama besar terkadang memberikan perhatian kepada ilmu Penunjang ini di sela-sela waktu sibuknya, sesekali saja! Bukan berarti mereka punya waktu nganggur yang kosong dari kesibukan untuk berleha-leha, bermain-main pelesiran kesana kemari yang melalaikan mereka dari ilmu Syar’i. Tidaklah demikian!</span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Namun, mereka memberikan perhatian kepada ilmu Penunjang ini di sela-sela waktu sibuknya dalam rangka menjaga kesimbangan dalam perjalanan ilmiyyahnya, agar tidak keluar dari ilmu kecuali kepada ilmu! Dan agar tidak terputus perjalanan ilmiyyahnya di tengah jalan!</span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Berikut dua contoh nyata tersebut:</span></p>
<ol>
<li>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Diriwayatkan bahwa Imam Ibnu Syihab Az-Zuhri </span><span style="color: #000000;"><i>rahimahullah, </i></span><span style="color: #000000;">dahulu pernah suatu saat ketika beliau selesai menyampaikan pelajaran Hadits, berkata kepada murid-muridnya, </span><span style="color: #000000;"><i>“Sampaikan ilmu-ilmu “Mulah” kalian! Datangkan sya’ir-sya’ir kalian! Riwayatkan berita-berita kalian!”, </i></span><span style="color: #000000;">akhirnya merekapun ada yang mengkisahkan kisah ini dan itu, meriwayatkan kabar ini dan itu, dan seterusnya, hingga mereka pun gembira dan semangat.</span></p>
</li>
<li>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Imam Ibnu Abdil Barr </span><span style="color: #000000;"><i>rahimahullah </i></span><span style="color: #000000;">juga demikian, di samping beliau memiliki tulisan-tulisan dalam disiplin ilmu Inti, beliau juga memiliki tulisan-tulisan dalam masalah ilmu Penunjang. </span></p>
</li>
</ol>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"> Beliau banyak memiliki tulisan dalam ilmu Inti, seperti kitab </span><span style="color: #000000;"><i>At-Tamhiid</i></span><span style="color: #000000;">, tentang syarah Hadits, kitab </span><span style="color: #000000;"><i>Al-Istidzkar</i></span><span style="color: #000000;">, tentang syarah Hadits pula, kitab </span><span style="color: #000000;"><i>Al-Kaafii </i></span><span style="color: #000000;">tentang fikih madzhab Malikiyyah</span><span style="color: #000000;"><i>. </i></span><span style="color: #000000;">Namun beliau juga menulis kitab-kitab “</span><span style="color: #000000;"><i>Mulah</i></span> <span style="color: #000000;">”</span><span style="color: #000000;"><i>, seperti Bahjatul Majalis</i></span><span style="color: #000000;">, tentang sya’ir dan kabar.</span></p>
<h4 align="LEFT">
<span style="color: #ff0000;"><b>Peringatan: Jangan Anda Jadikan Ilmu Penunjang Sebagai Ilmu Inti!</b></span><b> </b>
</h4>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Syaikh Shalih Alusy Syaikh </span><span style="color: #000000;"><i>hafizhahullah</i></span><span style="color: #000000;"> mengatakan,</span></p>
<p class="arab" dir="RTL" align="RIGHT">فمن رام المُلح وترك عقد العلم، فإنّه لن يدرك بل سيكون عنده أخبار كثيرة ومعلومات أو ثقافة لكن لا يستطيع أنْ يتكلم بوضوحٍ في مسألة عقدية، أو في مسألة فقهية</p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">“</span><span style="color: #000000;">Maka barangsiapa mencari (dan memberi perhatian besar kepada) ilmu Penunjang dan meninggalkan ilmu Inti, maka ia tidakakan menguasai (ilmu Syari’at dengan baik), yang ada hanyalah ia memiliki kabar dan info-info atau wawasan (keislaman) semata, akan tetapi tidak mampu (secara ilmiyyah) berbicara dengan jelas (sistematis) dalam masalah Aqidah atau Fikih (Ilmu Inti)</span><span style="color: #000000;"><i>.” </i></span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote5sym" name="sdfootnote5anc"><sup>5</sup></a><i> </i></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><i>Wallahu a’lam</i></span><span style="color: #000000;">.</span></p>
<p align="LEFT">***</p>
<h5 align="LEFT"><span style="color: #000000;"><b>Referensi:</b></span></h5>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Diolah dari transkrip Muhadharah Syaikh Shaleh Alusy Syaikh </span><span style="color: #000000;"><i>hafizhahullah, </i></span><span style="color: #000000;">berjudul <i>Al-Manhajiyyah fi qira`ati kutubi Ahlil ‘Ilmi</i></span><span style="color: #000000;">, dari http://saleh.af.org.sa/node/28 dan </span><span style="color: #000000;"><i>Al-Farqu bainal ‘Uqod wal Mulah, </i></span><span style="color: #000000;">http://saleh.af.org.sa/node/45. </span></p>
<h5 align="LEFT">Catatan kaki</h5>
<div id="sdfootnote1">
<p align="LEFT"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote1anc" name="sdfootnote1sym">1</a> . <em>Kitab Al-Muwafaqat</em>, <span style="color: #000000;">Asy-Syathibi</span> di : library.Islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&amp;bk_no=99&amp;ID=15</p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote2anc" name="sdfootnote2sym">2</a><span style="font-size: small;"> . </span>http://saleh.af.org.sa/node/45</p>
</div>
<div id="sdfootnote3">
<p><a href="#sdfootnote3anc" name="sdfootnote3sym">3</a> . <em>Kitab Al-Muwafaqat</em>, Asy-Syathibi di : library.Islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&amp;bk_no=99&amp;ID=15</p>
</div>
<div id="sdfootnote4">
<p><a href="#sdfootnote4anc" name="sdfootnote4sym">4</a> . http://saleh.af.org.sa/node/28</p>
</div>
<div id="sdfootnote5">
<p><a href="#sdfootnote5anc" name="sdfootnote5sym">5</a> . http://saleh.af.org.sa/node/28</p>
<h5>Indeks artikel</h5>
<p><a href="https://muslim.or.id/24642-skala-prioritas-dalam-belajar-agama-islam-1-ilmu-fardhu-ain.html" target="_blank" rel="noopener">Skala Prioritas dalam Belajar Agama Islam (1): Ilmu Fardhu ‘Ain</a></p>
<p><a href="https://muslim.or.id/24689-skala-prioritas-dalam-belajar-agama-islam-2-ilmu-fardhu-ain-dan-ilmu-fardhu-kifayah.html" target="_blank" rel="noopener">Skala Prioritas dalam Belajar Agama Islam (2): Ilmu Fardhu ‘Ain Dan Ilmu Fardhu Kifayah</a></p>
<p><a href="https://muslim.or.id/24714-skala-prioritas-dalam-belajar-agama-islam-3-ilmu-tujuan-dan-ilmu-sarana.html" target="_blank" rel="noopener">Skala Prioritas dalam Belajar Agama Islam (3): Ilmu Tujuan Dan Ilmu Sarana</a></p>
<p><a href="https://muslim.or.id/24722-skala-prioritas-dalam-belajar-agama-islam-4-ilmu-inti-dan-ilmu-penunjang.html" target="_blank" rel="noopener">Skala Prioritas dalam Belajar Agama Islam (4): Ilmu Inti dan Ilmu Penunjang</a></p>
<p>—</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.Or.Id</p>
</div>
 