
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">:</span></span></p>
<p lang="en-US" align="LEFT"><span style="color: #000000;">Setelah dijelaskan tentang definisi ilmu Fardhu ‘Ain, maka pada bagian kedua ini Anda akan diajak memahami tentang macam-macam ilmu Fardu ‘Ain , agar Anda bisa mengenal kewajiban Anda dalam mempelajari agama Islam.</span></p>
<h4 lang="en-US" align="LEFT"><span style="color: #ff0000;"><b>Pembagian ilmu Fardu ‘ain</b></span></h4>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Berkata Syaikh Muhammad Sholeh Al-‘Utsaimin </span><span style="color: #000000;"><i>rahimahullah </i></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">mendefinisikan ilmu fadhu ‘ain </span></span><span style="color: #000000;">:</span></p>
<p class="arab" align="JUSTIFY">وضابطه أن يتوقف عليه معرفة عبادة يريد فعلها أو معاملة يريد القيام بها <span lang="en-US">, </span>فإنه يجب عليه في هذه الحال أن يعرف كيف يتعبد الله بهذه العبادة <span lang="en-US">, </span>وكيف يقوم بهذه المعاملة <span lang="en-US">, </span>وما عدا ذلك من العلم ففرض كفاية</p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>Dan patokannya (ilmu fardhu ‘ain) adalah suatu ilmu yang menjadi syarat bisa terlaksananya (dengan benar) sebuah ibadah yang hendak dilakukan oleh seorang hamba atau mu’amalah (aktifitas dengan orang lain) yang hendak dikerjakannya, maka pada keadaan ini wajib ia mengetahui (ilmu tentang )bagaimana beribadah kepada Allah dengan ibadah itu, dan (ilmu tentang )bagaimana bermu’amalah dengan aktifitas mu’amalah itu. Adapun ilmu-ilmu selain itu, adalah ilmu fardhu kifayah”</i></span></span><sup><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote1sym" name="sdfootnote1anc"><sup>1</sup></a></span></span></sup></p>
<p lang="en-US" align="LEFT"><span style="color: #000000;">Dari keterangan di atas kita ketahui bahwa ruang lingkup ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap muslim dan muslimah adalah perkara yang berkaitan dengan ibadah,yaitu hubungan manusia dengan Allah, dan mu’amalah, yaitu hubungan manusia dengan manusia yang lain.</span></p>
<p lang="en-US" align="LEFT"><span style="color: #000000;">Padahal, sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwa diantara bentuk-bentuk ibadah dan mu’amalah, ada yang sebagiannya sama-sama wajib dilakukan oleh setiap orang , namun ada juga bentuk ibadah dan mu’amalah yang hanya mampu dilakukan oleh sebagian orang saja tanpa sebagian orang yang lain atau hanya sebagian orang saja yang berkepentingan untuk segera melakukannya ketika itu, sehingga hanya sebagian orang tersebut saja yang wajib mempelajari hukum-hukumnya, adapun bagi yang lain, tidaklah wajib mempelajarinya.</span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Oleh karena itu, dari penjelasan </span></span><span style="color: #000000;">Syaikh Muhammad Sholeh Al-‘Utsaimin </span><span style="color: #000000;"><i>rahimahullah </i></span><span style="color: #000000;">di atas,</span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> dapat disimpulkan bahwa ilmu Fardu ‘ain terbagi menjadi dua:</span></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><b>1. Jenis ilmu Fardu ‘ain yang harus dipelajari oleh seluruh </b></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i><b>mukallafiin</b></i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><b> (orang-orang yang baligh dan berakal sehat )dimanapun mereka berada dan kapanpun juga.</b></span></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Jenis ilmu Fardu ‘ain inilah yang disebutkan contoh-contohnya oleh Imam Ahmad,An-Nawawi dan</span></span><i> </i><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Ulama Lajnah Daimah KSA </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>rahimahumullah,</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> yang sudah dinukilkan fatwanya di artikel bagian ke-1, seperti :</span></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Mengetahui tauhid dan kebalikannya,yaitu syirik, pokok-pokok keimanan (Rukun Iman) dan Rukun Islam, hukum-hukum sholat, tatacara wudhu`, bersuci dari junub, dan yang semisalnya</span></span><i> </i><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">dan termasuk juga dalam jenis ini, yaitu mengetahui perkara-perkara yang diharomkan dalam Islam,seperti dalam masalah makanan,minuman,pakaian,kehormatan,darah,harta,ucapan dan perbuatan.</span></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><b>2. Jenis ilmu Fardu ‘ain yang harus dipelajari oleh sebagian </b></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i><b>mukallafiin</b></i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><b> saja, yang memiliki kewajiban tertentu yang khusus baginya. </b></span></span></p>
<p lang="en-US" align="LEFT"><span style="color: #000000;">Sehingga orang lain yang tidak memiliki kewajiban tersebut, tidak harus mempelajari ilmu itu.</span></p>
<p lang="en-US" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><b>Penjelasan :</b></span></p>
<p lang="en-US" align="LEFT"><span style="color: #000000;">Jenis ilmu Fardu ‘ain yang satu ini, contoh-contohnya diantaranya adalah :</span></p>
<ul>
<li>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Ilmu tentang suatu ibadah tertentu bagi orang yang mampu mengerjakannya.Berkata Syaikh Muhammad Sholeh Al-‘Utsaimin </span><span style="color: #000000;"><i>rahimahullah </i></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">menjelaskan contoh-contoh ilmu fardhu ‘ain</span></span><span style="color: #000000;">:<br>
</span></p>
<p class="arab">من كان عنده مال أن يتعلم أحكام الزكاة …<span lang="id-ID">….</span> من أراد أن يحج أن يتعلم أحكام الحج لأن هذه عبادات متلقاة من الشرع فلابد أن يعلم كيف شرعها الشارع ليعبد الله على بصيرة</p>
<p><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>Orang yang memiliki harta wajib mempelajari hukum-hukum zakat…….. demikian pula orang yang hendak menunaikan ibadah haji, wajib baginya mempelajari hukum-hukum haji, karena ibadah itu sumbernya adalah Syari’at, maka wajib mempelajari tata cara ibadah yang disyari’atkan oleh Allah, agar seseorang bisa beribadah kepada-Nya berdasarkan ilmu </i></span></span><sup><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote2sym" name="sdfootnote2anc"><sup>2</sup></a></span></span></sup></p>
</li>
<li>
<p align="LEFT"><sup><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote2sym" name="sdfootnote2anc"></a></span></span></sup><span style="color: #000000;">Ilmu tentang pekerjaan, profesi atau tugas, agar bisa menunaikan kewajiban pekerjaannya dan agar terhindar dari melakukan keharoman dalam pekerjaannya. Berkata Ibnu Hazm </span><span style="color: #000000;"><i>rahimahullah </i></span><span style="color: #000000;">:<br>
</span></p>
<p class="arab"><span style="color: #000000;">ثم فرض على قواد العساكر معرفة السِّير وأحكام الجهاد وقَسْم الغنائم والفيء</span><span style="color: #000000;">. </span><span style="color: #000000;">ثم فرض على الأمراء والقضاة تعلم الأحكام والأقضية والحدود، وليس تعلم ذلك فرضا على غيرهم</span></p>
<p><span style="color: #000000;">.<i>Selanjutnya, diwajibkan bagi para komandan pasukan untuk mengetahui ilmu tentang strategi mobilitas pasukan, hukum-hukum jihad, pembagian rampasan perang dan fai`.<br>
</i><span lang="en-US"><i>Diwajibkan pula bagi para pejabat pemerintahan dan hakim untuk mempelajari hukum-hukum fikih peradilan dan hukuman hudud, akan tetapi mempelajari hal itu tidak wajib bagi selain mereka.</i></span></span><sup><span style="color: #000000;"><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote3sym" name="sdfootnote3anc"><sup>3</sup></a></span></sup></p>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Ilmu tentang mu’malah (aktivitas) yang hendak dilakukannya, agar bisa menghindari larangan yang haram dilakukan dan bisa menunaikan kewajibannya terhadap pihak lain. Berkata Syaikh Muhammad Sholeh Al-Munajjid </span><span style="color: #000000;"><i>rahimahullah </i></span><span style="color: #000000;">memberi contoh ilmu-ilmu yang termasuk fardhu ‘ain :<br>
</span></p>
<p class="arab">ومن ذلك تعلم أحكام البيع والشراء لمن أراد أن يتعامل بذلك ، وكذا أحكام النكاح والطلاق والأطعمة والأشربة وغيرها من المعاملات لم<span style="color: #000000;">ن</span><span style="color: #000000;"> أراد الإقدام على شيء منها</span></p>
<p><span lang="en-US"><i>Dan yang termasuk ilmu fardhu ‘ain adalah mempelajari hukum-hukum jualbeli bagi orang yang hendak melakukan aktifitas jualbeli, demikian pula hukum-hukum nikah, thalaq, makanan, minuman dan mu’amalah selainnya, bagi orang yang hendak melakukan salahsatu bentuk mu’amalah tersebut </i></span><sup><span style="color: #000000;"><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote4sym" name="sdfootnote4anc"><sup>4</sup></a></span></sup></p>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Ilmu tentang hukum suatu kejadian kontemporer bagi yang mengalaminya. Berkata An-Nawawi </span><span style="color: #000000;"><i>rahimahullah</i></span><span style="color: #000000;">:</span></p>
<p class="arab">ويجب عليه الاستفتاء إذا نزلت به حادثة يجب عليه علم حكمها فإن لم يجد ببلده من يستفتيه وجب عليه الرحيل إلى من يفتيه وإن بَعُدت داره، وقد رحل خلائق من السلف في المسألة الواحدة الليالي والأيام</p>
<p><i>“Wajib baginya (seseorang yg tidak tahu hukum suatu kejadian-pent) untuk meminta fatwa, jika mengalami kejadian kontemporer yang harus diketahui hukumnya. Jika di negrinya tidak didapatkan orang yang mampu berfatwa, maka wajib baginya pergi kepada orang yang mampu berfatwa walaupun jauh dari rumahnya. (Di dalam sejarah) beberapa orang Salaf dahulu pergi mencari ilmu tentang satu masalah sampai selama berhari-hari”</i><sup><span style="color: #000000;"><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote5sym" name="sdfootnote5anc"><sup>5</sup></a>.</span></sup></p>
</li>
</ul>
<div id="Section1" dir="LTR">
<h4 align="LEFT"><span style="color: #ff0000;"><b>2. Ilmu Fardhu Kifayah</b></span></h4>
<p lang="en-US" align="LEFT"><span style="color: #000000;">Yaitu sebuah ilmu yang jika sudah ada sebagian kaum muslimin yang mempelajarinya dengan mencukupi,maka gugurlah kewajiban tersebut atas seluruh kaum muslimin yang lainnya, namun disunnahkan bagi kaum muslimin yang lainnya tersebut untuk mempelajarinya. </span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Berikut nukilan perkataan </span></span><span style="color: #000000;">An-Nawawi </span><span style="color: #000000;"><i>rahimahullah </i></span><span style="color: #000000;">:</span></p>
</div>
<p class="arab" style="text-align: left;" align="RIGHT">( القسم الثاني ) فرض الكفاية ، وهو تحصيل ما لا بد للناس منه في إقامة دينهم من العلوم الشرعية ، كحفظ القرآن ، والأحاديث ، وعلومهما ، والأصول ، والفقه ، والنحو ، واللغة ، والتصريف ، ومعرفة رواة الحديث ، والإجماع ، والخلاف ، وأما ما ليس علما شرعيا ، ويحتاج إليه في قوام أمر الدنيا كالطب ، والحساب ففرض كفاية أيضا</p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><i>“Jenis </i></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>Ilmu yang </i></span></span><span style="color: #000000;"><i>kedua adalah </i></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>ilmu</i></span></span><span style="color: #000000;"><i> Fardu Kifayah, </i></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>yaitu ilmu yang dibutuhkan manusia demi tegaknya agama mereka yang sifatnya harus ada, yaitu berupa ilmu-ilmu Syari’at, seperti : menghafal Alquran, Hadits dan ilmu Hadits, ilmu Ushul, Fikih, Nahwu, Bahasa Arab, Shorof, ilmu perowi Hadits, Ijma’ dan perselisihan Ulama. </i></span></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>Adapun ilmu yang bukan ilmu Syari’at, namun dibutuhkan untuk tegaknya urusan dunia, seperti kedokteran dan matematika, maka ini termasuk ilmu Fardhu Kifayah juga</i></span></span><span style="color: #000000;"><i>“</i></span><sup><span style="color: #000000;"><i><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote6sym" name="sdfootnote6anc"><sup>6</sup></a></i></span></sup><span style="color: #000000;"><i>.</i></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Dengan demikian ilmu Fardhu Kifayahpun terbagi menjadi dua, yaitu yang terkait dengan ilmu-ilmu Syar’i dan yang terkait dengan ilmu-ilmu dunia.</span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>Wallahu a’lam</em>. Selanjutnya, silahkan baca: </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><b>Mengenal skala prioritas dalam belajar agama Islam (3)</b></span></span></p>
<p align="LEFT">***</p>
<h5 lang="en-US" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><b>Referensi :</b></span></h5>
<ol>
<li><em><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab,An-Nawawi (Pdf,Waqfeya.com).</span></span></em></li>
<li><em><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Islamqa.info/ar/47273</span></span></em></li>
<li><span style="color: #000080;"><span lang="zxx"><span style="color: #000000;">http://www.ibnothaimeen.com/all/khotab/article_98.shtml</span></span></span></li>
<li><em><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Al-Ihkam, Ibnu Hazm. (Pdf, Waqfeya.com)</span></span></em></li>
</ol>
<h5>Catatan kaki:</h5>
<div id="sdfootnote1">
<p align="LEFT"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote1anc" name="sdfootnote1sym">1</a><span style="color: #000000;">. Kitabul Ilmi, </span><span style="color: #000000;">Muhammad Sholeh Al-‘Utsaimin</span><span style="color: #000000;"> hal. 23</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p align="LEFT"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote2anc" name="sdfootnote2sym">2</a><span style="color: #000000;">. </span><span style="color: #000080;"><span lang="zxx"><span style="color: #000000;">http://www.ibnothaimeen.com/all/khotab/article_98.shtml</span></span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote3">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote3anc" name="sdfootnote3sym">3 </a><em>Al-Ihkam</em> 5/122, Ibnu Hazm. (Pdf, Waqfeya.com)</p>
</div>
<div id="sdfootnote4">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote4anc" name="sdfootnote4sym">4</a><span style="color: #000000;">. Islamqa.info/ar/47273</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote5">
<p class="sdfootnote">5 <em><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab,An-Nawawi,hal.91 (Pdf,Waqfeya.com)</span></span></em></p>
</div>
<div id="sdfootnote6">
<p align="LEFT"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote6anc" name="sdfootnote6sym">6</a><em><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">. Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab,An-Nawawi,hal. 51 (Pdf, Waqfeya.com)</span></span></em></p>
<h5>Indeks artikel</h5>
<p><a href="https://muslim.or.id/24642-skala-prioritas-dalam-belajar-agama-islam-1-ilmu-fardhu-ain.html" target="_blank" rel="noopener">Skala Prioritas dalam Belajar Agama Islam (1): Ilmu Fardhu ‘Ain</a></p>
<p><a href="https://muslim.or.id/24689-skala-prioritas-dalam-belajar-agama-islam-2-ilmu-fardhu-ain-dan-ilmu-fardhu-kifayah.html" target="_blank" rel="noopener">Skala Prioritas dalam Belajar Agama Islam (2): Ilmu Fardhu ‘Ain Dan Ilmu Fardhu Kifayah</a></p>
<p><a href="https://muslim.or.id/24714-skala-prioritas-dalam-belajar-agama-islam-3-ilmu-tujuan-dan-ilmu-sarana.html" target="_blank" rel="noopener">Skala Prioritas dalam Belajar Agama Islam (3): Ilmu Tujuan Dan Ilmu Sarana</a></p>
<p><a href="https://muslim.or.id/24722-skala-prioritas-dalam-belajar-agama-islam-4-ilmu-inti-dan-ilmu-penunjang.html" target="_blank" rel="noopener">Skala Prioritas dalam Belajar Agama Islam (4): Ilmu Inti dan Ilmu Penunjang</a></p>
<p lang="en-US" align="LEFT">—</p>
<p lang="en-US" align="LEFT">Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p lang="en-US" align="LEFT">Artikel Muslim.Or.Id</p>
</div>
 