
<p><strong>SIKAP SEORANG MUSLIM TERHADAP WABAH VIRUS CORONA</strong></p>
<p>Oleh<br>
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas<strong> حفظه الله</strong></p>
<p>Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala atas segala nikmat yang Allah karuniakan, nikmat islam, nikmat iman, nikmat sehat, nikmat ‘afiat, dan nikmat dijauhkan oleh Allah dari berbagai macam malapetaka.</p>
<p>Dalam kesempatan ini,  kita akan membahas tentang sikap seorang muslim menurut syariat Islam terhadap wabah virus Corona (Covid-19) yang menyebar dimana-mana dan membuat sebagian kaum muslimin dan juga sebagian negara di dunia ini panik.</p>
<p>Bagaimana sikap yang benar menurut syari’at Islam dalam menghadapi musibah yang seperti ini:</p>
<p><strong>1. SEORANG MUSLIM WAJIB MENGIMANI DAN MEYAKINI DI ALAM SEMESTA INI HANYA ADA SATU ILAH (SATU TUHAN), YANG MENGATUR ALAM SEMESTA INI YAITU ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA.</strong><br>
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :</p>
<p><strong>وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌۖ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلرَّحْمَٰنُ ٱلرَّحِيمُ</strong></p>
<p>“<em>Dan Tuhan</em> <em>kamu</em> <em>adalah</em> <em>Tuhan Yang Maha</em> <em>Esa, tidak</em> <em>ada</em> <em>tuhan</em> <em>selain</em> <em>Dia, Yang Maha</em> <em>Pengasih, Maha</em> <em>Penyayang</em>.” [Al-Baqarah/2 : 163]</p>
<p>Bahwa kita wajib meyakini dan mengimani, apa-apa saja yang terjadi di langit dan di bumi dan diantara keduanya dan diseluruh alam semesta ini tidak lepas dari kehendak Allah. Adanya kehidupan, adanya kematian, penciptaan, pemberian rizki, adanya wabah penyakit, adanya gempa, banjir, peperangan, pembunuhan, apa saja yang terjadi, semua berjalan dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.</p>
<p>Allah tidak boleh ditanya tentang apa yang Allah perbuat.</p>
<p>Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :</p>
<p><strong>لَا يُسْـَٔلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْـَٔلُونَ</strong></p>
<p><em>“Dia (Allah) tidak</em> <em>ditanya</em> <em>tentang</em> <em>apa yang dikerjakan, tetapi</em> <em>merekalah yang akan</em> <em>ditanya.” </em>[Al-Anbiya/21 : 23]</p>
<p>Seorang mukmin wajib meyakini dan mengimani bahwa apa saja yang terjadi baik yang di langit maupun di bumi dan diantara keduanya serta di seluruh alam semesta itu tidak terlepas dari kehendak Allah. Dan Allah Ta’ala berbuat menurut apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki.</p>
<p>Sebagaimana firmanAllah ‘Azza wa Jalla:</p>
<p><strong>وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ</strong> <strong>﴿١٤﴾</strong> <strong>ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ</strong> <strong>﴿١٥﴾</strong><strong> فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ</strong></p>
<p><em>“Dan Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Pengasih yang memiliki ‘Arsy. Lagi Maha Mulia, Maha Kuasa berbuat apa yang Dia kehendaki.” </em>[Al-Buruj/85:14-16]</p>
<p>Setiap apa yang dikehendaki Allah Subhanahu wa Ta’ala itu berjalan dengan ilmunya Allah dan berjalan dengan hikmahnya Allah.</p>
<p>Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :</p>
<p><strong>وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا</strong></p>
<p><em>“Tetapi</em> <em>kamu</em> <em>tidak</em> <em>mampu (menempuh</em> <em>jalan</em> <em>itu), kecuali</em> <em>apabila Allah kehendaki Allah. Sungguh, Allah Maha</em> <em>Mengetahui, Maha</em> <em>bijaksana.” </em>[Al-Insan/76 : 30]</p>
<p>Di dalam Kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah di point yang ke 40, dibahas tentang iman kepada takdir baik dan buruk.</p>
<p><strong>Iman kepada</strong> <strong>Qodar (takdir) baik dan buruk</strong> <strong>ada</strong> <strong>empat</strong> <strong>tingkatan :</strong><br>
<strong>a. Al-Ilmu (Ilmu),</strong> bahwa ilmunya Allah meliputi segala sesuatu, tidak ada satupun yang terluput dari ilmunya Allah, apa saja yang terjadi di langit dan di bumi, Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti mengetahuinya.</p>
<p>Tidak ada satupun yang luput dari Allah, sekecil apa pun Allah pasti mengetahuinya.</p>
<p>Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:</p>
<p><strong> أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ ٱللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَىْءٍ عِلْمًۢا</strong></p>
<p><em>“…Bahwasanya Allah Maha</em> <em>Berkuasa</em> <em>atas</em> <em>segala</em> <em>sesuatu, Dan ilmu Allah benar</em> <em>benar</em> <em>meliputi</em> <em>segala</em> <em>sesuatu</em>.” [At-Thalaq/65 : 12]</p>
<p>Dan juga Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p><strong>وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِى ظُلُمَٰتِ ٱلْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ</strong></p>
<p>“<em>Dan kunci-kunci</em> <em>semua yang g</em><em>h</em><em>aib</em> <em>ada pada-Nya; tidak</em> <em>ada yang mengetahui</em> <em>selain</em> <em>Allah. Allah</em> <em>mengetahui</em> <em>apa yang ada di darat dan di laut. Tidak</em> <em>ada</em> <em>sehelai</em> <em>daun pun yang gugur yang tidak</em> <em>diketahui-Nya. Tidak</em> <em>ada</em> <em>sebutir</em> <em>biji pun dalam</em> <em>kegelapan</em> <em>bumi dan tidak pula sesuatu yang basah</em> <em>atau yang kering, melainkan</em> <em>semua</em> <em>tertulis</em> <em>dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”</em> [Al-An’am/6 : 59]</p>
<p><strong>b. Al-Kitabah (Penulisan),</strong> bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencatat semua taqdir makhluk di Lauh Mahfuzh. Tidak ada satupun yang luput sama sekali.</p>
<p>Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :</p>
<p><strong>أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِى ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِى كِتَٰبٍۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ</strong></p>
<p>“<em>Tidak</em> <em>kah</em> <em>engkau</em> <em>tahu</em> <em>bahwa Allah mengetahui</em> <em>apa yang di langit dan di bumi? Sungguh, yang demikian</em> <em>itu</em> <em>sudah</em> <em>terdapat</em> <em>dalam</em> <em>sebuah Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian</em> <em>itu</em> <em>sangat</em> <em>mudah</em> <em>bagi Allah</em>.” [Al-Hajj/22: 70]</p>
<p>Begitu pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p><strong>إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللهُ الْقَلَمَ، قَالَ لَهُ</strong><strong>: </strong><strong>اُكْتُبْ</strong><strong>! </strong><strong>قَالَ</strong><strong>: </strong><strong>رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ</strong><strong>: </strong><strong>اُكْتُبْ مَقَادِيْرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُوْمَ السَّاعَةُ</strong><strong>.</strong></p>
<p>“<em>Yang pertama kali Allah ciptakan</em> <em>adalah Qalam (pena), lalu Allah berfirman</em> <em>kepadanya : ‘Tulislah !</em> <em>Ia menjawab : ‘Wahai Rabbku apa yang harus aku tulis ?’ Allah berfirman : ‘Tulislah takdir segala sesuatu sampai terjadinya Kiamat.” </em>[HR Abu Dawud (no. 4700), shahih Abi Dawud (no. 3933), at-Tirmidzi (no. 2155, 3319) Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah (no. 102), al-Ajurry dalam asy-Syari’ah (no. 180), Ahmad (V/317), Abu Dawud ath-Thayalisi (no. 577), dari Sahabat Ubadah bin ash-Shamit Radhiyallahu ‘anhu, hadits ini shahih]</p>
<p>(Lihat <em>Syarah ‘Aqidah</em> <em>Ahluss Sunnah</em> <em>wal</em> <em>Jama’ah</em> (hlm. 337-cet. Ke-17), Pustaka Imam Syafi’i, Jakarta)</p>
<p><strong>c. Al-Masyi-ah (Kehendak),</strong> mengimani <em>masyi-ah</em> (kehendak) Allah yang pasti terlaksana dan qudrah (kekuasaan) Allah yang meliputi segala sesuatu.</p>
<p><strong>d. Al-Khalq (Penciptaan),</strong> Allah lah yang menciptakan segala sesuatunya<br>
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :</p>
<p><strong>ٱللَّهُ خَٰلِقُ كُلِّ شَىْءٍۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ وَكِيلٌ</strong></p>
<p><em>“Allah pencipta</em> <em>segala</em> <em>sesuatu dan Dia</em> <em>Maha</em> <em>Pemelihara</em> <em>atas</em> <em>segala</em> <em>sesuatu.”</em> [Az-Zumar/39 : 62]</p>
<p>Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :</p>
<p><strong>وَٱللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ</strong></p>
<p>“<em>Padahal Allah-lah yang menciptakan</em> <em>kamu dan apa yang kamu</em> <em>perbuat</em> <em>itu.</em>” [Ash-Shaffat/37 : 96]</p>
<p><strong>Oleh karena itu, berkaitan dengan bencana, musibah, petaka, wabah virus corona, gempa, banjir, terjadinya peperangan, pembunuhan dan yang lainnya, semuanya sudah dicatat di Lauh Mahfuzh, semua berjalan dengan kehendak Allah dan tidak terlepas dari ilmunya Allah dan hikmahnya Allah Subhanahu wa Ta’ala.</strong></p>
<p>Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :</p>
<p><strong>وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا</strong></p>
<p><em>“…Dan Allah Maha</em> <em>Mengetahui, Maha</em> <em>Bijaksana.”</em> [An-Nisa’/4 : 111]</p>
<p>Hikmah Allah tidak bisa kita ketahui semuanya, ribuan hikmah yang dapat diambil faedah dari apa yang Allah takdirkan dan apa-apa yang Allah perbuat.</p>
<p>Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : “Andai kata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah. Namun akal kita sangat terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit, dan ilmu semua makhluk akan sia-sia (tidak ada artinya) jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia (tidak ada artinya) di bawah sinar matahari. Dan ini pun hanya gambaran saja, yang sebenarnya tentu lebih dari sekedar gambaran ini.” [Syifaa-ul ‘Aliilfii Masaa-ilil Qadhaa’wal Qadar wal Hikmah wat Ta’liil (hal. 452) cet. Daaru Zamzam]</p>
<p>(Lihat <em>Hikmah Di Balik</em> <em>Musibah dan Ruqyah</em> <em>Syar’iyyah</em> ; Yazid bin Abdul Qadir Jawas, hlm. 15-cet. Ke-4, Pustaka Imam Syafi’i, Jakarta)</p>
<p><strong>2. KETIKA TERJADI MALAPETAKA, BENCANA ATAU WABAH PENYAKIT, SEORANG MUSLIM</strong><strong> HARUS MELIHAT KEPADA DIRI SENDIRI, MELIHAT KEPADA KELUARGA, MASYARAKAT, TENTANG DOSA-DOSA APA YANG KITA DAN MEREKA TELAH KERJAKAN?? SEBAB APA YANG TERJADI TIDAK LEPAS DARI PERBUATAN MANUSIA DAN DOSA-DOSA MANUSIA.</strong><br>
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :</p>
<p><strong>وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا۟ عَن كَثِيرٍ</strong></p>
<p><em>“Dan musibah</em> <em>apa pun yang menimpa</em> <em>kamu</em> <em>adalah</em> <em>disebabkan oleh perbuatan</em> <em>tangan</em> <em>mu</em> <em>sendiri, dan Allah memaafkan</em> <em>banyak (dari</em> <em>kesalahan-kesalahanmu).” </em>[Asy-Syura/42 : 30]</p>
<p>Allah meyebutkan apa saja yang menimpa kita dan kerusakan yang ada baik di daratan maupun di lautan, disebabkan karena perbuatan manusia, sebabnya karena dosa-dosa manusia.</p>
<p>Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :</p>
<p><strong>ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ</strong> <strong>﴿٤١﴾</strong> <strong>قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلُ</strong><strong> ۚ</strong><strong> كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُشْرِكِينَ</strong></p>
<p><em>“Telah</em> <em>tampak</em> <em>kerusakan di darat dan di laut</em> <em>disebabkan</em> <em>karena</em> <em>perbuatan</em> <em>tangan</em> <em>manusia; Allah menghendaki agar mereka</em> <em>merasakan</em> <em>sebagian</em> <em>dari (akibat) perbuatan</em> <em>mereka, agar mereka</em> <em>kembali (kejalan yang benar). Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di bumi</em> <em>lalu</em> <em>lihatlah</em> <em>bagaimana</em> <em>kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan</em> <em>dari</em> <em>mereka</em> <em>adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).”</em> [Ar-Rum/30 : 41-42]</p>
<p>Jika kita lihat apa yang terjadi saat ini (meluasnya wabah Corona di seluruh dunia, -ed.) tidak terlepas dari dosa-dosa manusia. Dan dosa yang paling besar adalah Syirik, banyak orang yang menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Memalingkan ibadah kepada selain Allah. Karenanya, Allah memberikan hukuman atas perbuatan mereka.</p>
<p>Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :</p>
<p><strong>مَّآ أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ ٱللَّهِۖ وَمَآ أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَۚ وَأَرْسَلْنَٰكَ لِلنَّاسِ رَسُولًاۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدًا</strong></p>
<p><em>“Kebajikan apa pun yang kamu</em> <em>peroleh, adalah</em> <em>dari sisi Allah, dan keburukan</em> <em>apa pun yang menimpamu, itu</em> <em>dari (kesalahan) dirimu</em> <em>sendiri. Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Dan cukuplah Allah yang menjadi</em> <em>saksi.” </em>[An-Nisa’/4 : 79]</p>
<p>Di dalam ayat ini disebutkan “keburukan apa pun yang menimpa mu dengan sebab kesalahan dan dosamu”. Jadi musibah dan wabah dengan sebab dosa dan maksiat.</p>
<p><strong>Kalau</strong> <strong>seandainya Allah Subhanahu</strong><strong> w</strong><strong>a</strong><strong> T</strong><strong>a’ala</strong> <strong>mau</strong> <strong>mengazab</strong> <strong>semua</strong> <strong>manusia</strong> <strong>dengan</strong> <strong>sebab</strong> <strong>dosa-dosa</strong> <strong>mereka, maka</strong> <strong>tidak</strong> <strong>ada yang tertinggal</strong> <strong>sedikitpun di muka</strong> <strong>bumi</strong> <strong>ini</strong> <strong>dengan</strong> <strong>sebab</strong> <strong>dosa-dosa</strong> <strong>manusia, tapi Allah Ta’ala</strong> <strong>menangguhkannya</strong> <strong>sampai</strong> <strong>waktu yang sudah</strong> <strong>ditentukan.</strong></p>
<p>Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :</p>
<p><strong>وَلَوْ يُؤَاخِذُ ٱللَّهُٱلنَّاسَ بِمَا كَسَبُوا۟ مَا تَرَكَ عَلَىٰ ظَهْرِهَا مِن دَآبَّةٍ وَلَٰكِن يُؤَخِّرُهُمْ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّىۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِۦ بَصِيرًۢا</strong></p>
<p><em>“Dan sekiranya Allah menghukum</em> <em>manusia</em> <em>disebabkan</em> <em>apa yang telah</em> <em>mereka</em> <em>perbuat, niscaya Allah</em> <em>tidak</em> <em>akan</em> <em>menyisakan</em> <em>satu pun makhluk</em> <em>bergerak yang bernyawa di bumi</em> <em>ini, tetapi Allah</em> <em>menangguhkan (hukuman)nya, sampai</em> <em>waktu yang sudah</em> <em>ditentukan. Nanti</em> <em>apabila</em> <em>ajal</em> <em>mereka</em> <em>tiba, maka Allah Maha</em> <em>Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.”</em> [Fathir/35: 45]</p>
<p><strong>3. DIANTARA HIKMAH TIMBULNYA PENYAKIT, WABAH VIRUS CORONA ATAU ADANYA MUSIBAH, BENCANA, MALAPETAKA, DAN YANG LAINNYA, AGAR MANUSIA INI SADAR DAN KEMBALI KEPADA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA .</strong><br>
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :</p>
<p><strong>وَلَقَدْ أَرْسَلْنَآ إِلَىٰٓ أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَأَخَذْنَٰهُم بِٱلْبَأْسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ</strong></p>
<p>“<em>Dan sungguh, Kami telah</em> <em>mengutus (para rasul) kepada</em> <em>umat-umat</em> <em>sebelum</em> <em>engkau, kemudian Kami siksa</em> <em>mereka</em> <em>dengan (menimpakan) kemelaratan dan kesengsaraan, agar mereka</em> <em>memohon (kepada Allah) dengan</em> <em>kerendahan</em> <em>hati.”</em> [Al-An’am/6 : 42]</p>
<p><strong>Dalam</strong> <strong>menafsirkan</strong> <strong>ayat</strong> <strong>ini, Ibnu</strong> <strong>Jarir</strong> <strong>ath-Thabari</strong> <strong>rahimahullah</strong> <strong>berkata: ( </strong><strong>اَلْبَأْسَاءُ </strong><strong>) </strong><strong>yaitu</strong> <strong>ujian yang ditimpakan</strong> <strong>kepada</strong> <strong>mereka</strong> <strong>ialah</strong> <strong>berupa</strong> <strong>kemiskinan dan kesempitan</strong> <strong>dalam</strong> <strong>penghidupan. Sedangkan ( </strong><strong>الضَّرَّاءُ</strong><strong> ) yaitu</strong> <strong>u</strong><strong>j</strong><strong>ian yang ditimpakan</strong> <strong>kepada</strong> <strong>mereka</strong> <strong>ialah</strong> <strong>berupa</strong> <strong>penyakit dan cacat yang menimpa</strong> <strong>tubuh. ( </strong><strong>لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُوْنَ </strong><strong>) </strong><strong>artinya</strong> <strong>dengan</strong> <strong>keadaan</strong> <strong>mereka</strong> <strong>seperti</strong> <strong>itu, semoga</strong> <strong>mereka</strong> <strong>mau</strong> <strong>tunduk</strong> <strong>kepada</strong><strong> Allah</strong><strong>, memurnikan</strong> <strong>ibadah</strong> <strong>kepada</strong> <strong>Allah</strong><strong> dan hanya</strong> <strong>mencintai</strong> <strong>Allah</strong><strong>, bukan</strong> <strong>mencintai</strong> <strong>selain</strong> <strong>Allah</strong><strong>, dengan</strong> <strong>cara</strong> <strong>taat dan pasrah</strong> <strong>kepada Allah.” </strong>[Tafsir ibni Jarir ath-Thabari (V/241-242), cet. Daarul A’lam, th. 1423 H]</p>
<p>(Lihat<em> Hikmah Di Balik Musibah dan Ruqyah Syar’iyyah ;  </em>Yazid bin Abdul Qadir Jawas, hlm. 25-26 cet Ke-4, Pustaka Imam asy-Syafi’i  Jakarta)</p>
<p><strong>Diantara dosa-dosa yang dilakukan manusia seperti kesombongan, keangkuhan, kezholiman, kesyirikan dan yang lainnya, sehingga Allah menurunkan berbagai macam bencana, termasuk wabah virus Corona.</strong></p>
<p><strong>4. WABAH PENYAKIT MENULAR PERNAH JUGA TERJADI DI ZAMAN SAHABAT RADHIYALLAHU’ANHUM AJMA’IN.</strong></p>
<p><strong>وَعَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رضي اللَّه عَنْهُ عنِ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ </strong><strong>: « </strong><strong>إذَا سمِعْتُمْ الطَّاعُونَ بِأَرْضٍ ، فَلاَ تَدْخُلُوهَا ، وَإذَا وقَعَ بِأَرْضٍ ، وَأَنْتُمْ فِيهَا ، فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا </strong><strong>» </strong><strong>متفقٌ عليه</strong></p>
<p>Dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “<em>Apabila kalian mendengar wabah</em> <em>tha’un</em> <em>melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. </em><em>Adapun</em> <em>apabila</em> <em>penyakit</em> <em>itu</em> <em>melanda</em> <em>suatu negeri sedang kalian ada di dalamnya, maka</em> <em>janganlah kalian keluar</em> <em>dari negeri itu.” </em>[Muttafaqun ‘alaihi]</p>
<p>Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata, aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tha’un, lalu Beliau memberitahukan:</p>
<p><strong>إ</strong><strong>ِ</strong><strong>نَّهُ كَانَ عَذَابًا يَـبْـعَـثُـهُ اللهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ اللهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِيْنَ، فَلَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَـقَعُ الطَّاعُوْنُ، فَـيَمْكُثُ في بَلَدِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا، يَعْلَمُ أنَّهُ لَنْ يُصِيْبَهُ إِلَّا مَا كَـتَبَ اللهُ لَهُ، إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْـلُ أَجْرِ الشَّهِيْدِ</strong><strong>» </strong><strong>أخرجه البخاري</strong></p>
<p><em>“Tha’un</em> <em>ialah</em> <em>adzab yang Allah turunkan</em> <em>kepada</em> <em>siapa yang Dia kehendaki, dan bahwasannya</em> <strong><em>Allah menjadikannya</em></strong> <strong><em>sebagai</em></strong> <strong><em>rahmat</em></strong> <strong><em>bagi</em></strong> <strong><em>kaum</em></strong> <strong><em>mukminin</em></strong><em>. Tidak</em> <em>seorangpun yang terserang</em> <em>penyakit</em> <em>tha’</em><em>u</em><em>n</em> <em>kemudian</em> <em>dia</em> <em>tetap</em> <em>diam di daerahnya</em> <em>dengan</em> <em>sabar dan mengharap</em> <em>ganjaran</em> <em>dari Allah, dia</em> <em>mengetahui</em> <em>bahwa</em> <em>tidak</em> <em>ada yang menimpanya</em> <em>kecuali</em> <em>apa yang telah Allah tetapkan</em> <em>baginya, kecuali</em> <em>dia</em> <em>akan</em> <em>mendapat</em> <em>ganjaran</em> <em>seperti orang yang</em> <em>mati</em> <em>syahid.”</em> [Shahih<strong>:</strong> HR. Al-Bukhari (no. 3474, 5734, 6619), Ahmad (IV/252), dan an-Nasaa-i dalam Sunanul Kubra (no. 7483].</p>
<p>Dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>الطَّاعُونُ رِجْزٌ أَوْ عَذَابٌ أُرْسِلَ عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَوْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ</strong><strong>.</strong></p>
<p><em>“Tha’</em><em>u</em><em>n</em> <em>adalah</em> <em>semacam</em> <em>azab (siksaan) yang diturunkan Allah kepada Bani Israil</em> <em>atau</em> <em>kepada</em> <em>umat yang sebelum</em> <em>kamu. Maka</em> <em>apabila</em> <em>kamu</em> <em>mendengar</em> <em>penyakit</em> <em>tha’un</em> <em>berjangkit di suatu negeri, janganlah</em> <em>kamu</em> <em>datang</em> <em>ke negeri itu. Dan apabila</em> <em>penyakit</em> <em>itu</em> <em>berjangkit di negeri tempat</em> <em>kamu</em> <em>berada, janganlah</em> <em>kamu</em> <em>keluar</em> <em>dari negeri itu</em> <em>untuk</em> <em>melarikan</em> <em>diri</em> <em>daripadanya.”</em> [Shahih<strong>:</strong>HR. Al-Bukhari (no. 3473), Muslim (no. 2218 (92)]</p>
<p><strong>Imam An-Nawawi <em>rahimahullah </em>menjelaskan definisi tha’un : Virus yang mengenai tubuh, yaitu luka-luka yang keluar dari tubuh, di siku atau di ketiak atau di tangan, atau di jari-jari dan seluruh tubuh, bengkak bengkak dan sakit yang sangat dan lukanya terasa panas, melepuh, menjadi hitam sekitar bagian anggota tubuh atau hijau warnanya atau seperti warna merah lembayung, jantung berdebar-debar dan muntah-muntah. </strong>[<em>Minhajul Muhadditsin wa Sabiilu Thalibiihil Muhaqqiqin fi Syarhi Shahih Muslim </em>(12/335), <em>tahqiq, takhrij dan ta’liq </em>Mazin bin Muhammad as-Sirsawi]</p>
<p><strong>Penyakit</strong><strong> T</strong><strong>ha’</strong><strong>u</strong><strong>n</strong> <strong>Adalah</strong><strong> W</strong><strong>abah Yang </strong><strong>M</strong><strong>enular.</strong><br>
Apakah Corona itu sama dengan Tha’un? Sebagian ulama menyebutkan hampir sama tapi jelas tidak sama kejadiannya. Antara sebabnya dan kejadiannya tidak sama, namun tha’un juga menular.</p>
<p>Kata Imam an-Nawawi : Tha’un adalah wabah dan tidak setiap wabah adalah tha’un.</p>
<p>Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ</strong></p>
<p>“<em>Tidak</em> <em>ada</em> <em>penyakit</em> <em>menular dan</em> <em>tidak</em> <em>ada</em> <em>dampak</em> <em>dari</em> <em>thiyarah (anggapan</em> <em>sial</em>)…” [Shahih : HR. Al-Bukhari (no.5757) dan Muslim (no. 2220)]</p>
<p>Ada seorang Sahabat bertanya kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam. “<em>Ya</em> <em>Rasulullah, saya</em> <em>mempunyai</em> <em>seekor</em> <em>unta yang kudis dan yang lain sehat. Karena unta</em> <em>ini (yang kudis, </em><em>p</em><em>eny), maka</em> <em>unta yang lain ikut</em> <em>kudis juga</em>.” Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, tidak bisa unta yang kudis tersebut dengan sendirinya menyebarkan penyakitnya kepada unta yang lainnya, tapi siapa yang pertama kali menularkannya itu?? Yaitu <strong>Allah Rabbul ‘alamiin</strong>.</p>
<p><strong>Adanya penyakit menular dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala, bila Allah tidak berkehendak maka tidak akan terjadi.</strong></p>
<p><strong>SIKAP SEORANG MUSLIM TERHADAP WABAH VIRUS CORONA.</strong><br>
1. Kita wajib beriman dan yakin bahwa semua urusan ditangan Allah, apa yang terjadi semua dengan kehendak Allah, dan takdir Allah ditetapkan 50 ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.</p>
<p><strong>كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ</strong><strong>.</strong></p>
<p><em>“Allah telah</em> <em>mencatat</em> <em>seluruh</em> <em>takdir</em> <em>makhluk 50.000 (lima puluh ribu) tahun</em> <em>sebelum</em> <em>menciptakan</em> <em>langit dan bumi.” </em>[HR Muslim (no. 2653 (16) dan at-Tirmidzi (no. 2156), Ahmad (II/169), Abu Dawud ath-Thayalisi (no. 557), dari Sahabat  Abdullah bin Amr bin al-Ash. Lafazh ini milik Muslim]</p>
<p><strong>إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللهُ الْقَلَمَ، قَالَ لَهُ: اُكْتُبْ! </strong><strong>قَالَ: رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اُكْتُبْ مَقَادِيْرَ </strong><strong>كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُوْمَ السَّاعَةُ.</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya</em> <em>makhluk yang pertama</em> <em>diciptakan oleh Allah adalah</em> <em>qalam (pena). Allah berfirman</em> <em>kepadanya, ‘Tulislah.’ Ia</em> <em>menjawab, </em><em>‘Wahai Rabb-ku, apa yang harus</em> <em>aku</em> <em>tulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah</em> <em>takdir</em> <em>segala</em> <em>sesuatu</em> <em>sampai</em> <em>terjadi</em><em>nya</em> <em>hari</em> <em>Kiamat.’”</em> [HR. Abu Dawud (no. 4700), at-Tirmidzi (no. 2155, 3319), Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (no. 102), Ahmad (V/317), dan selainnya dari Ubadah bin Shamit]</p>
<p>(Lihat <em>Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, </em>Yazid bin Abdul Qadir Jawas (hlm. 337), Pustaka Imam Syafi’i Jakarta)</p>
<p>2. Kita wajib meyakini bahwa tidak akan menimpa dan mengenai kita, apakah bentuknya penyakit, wabah, bahaya, bencana dan lainnya kecuali apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah takdirkan dan Allah sudah tulis di Lauh Mahfuzh.</p>
<p>Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :</p>
<p><strong>قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَىٰنَاۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ</strong></p>
<p><em>“Katakanlah (Muhammad), “Tidak</em> <em>akan</em> <em>menimpa kami melainkan</em> <em>apa yang telah</em> <em>ditetapkan Allah bagi kami. Dialah</em> <em>pelindung kami, dan hanya</em> <em>kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman.” </em>[At-Taubah/9 : 51]</p>
<p>Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :</p>
<p><strong>مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ</strong></p>
<p><em>“Setiap</em> <em>bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa</em> <em>dirimu</em> <em>sendiri, semuanya</em> <em>telah</em> <em>tertulis</em> <em>dalam Kitab (Lauh</em> <em>Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian</em> <em>itu</em> <em>mudah</em> <em>bagi Allah.” </em>[Al-Hadid/57 : 22]</p>
<p>Allah ‘Azzawa Jalla berfirman :</p>
<p><strong>مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ</strong></p>
<p>“<em>Tidak</em> <em>ada</em> <em>sesuatu</em> <em>musibah yang menimpa (seseorang), kecuali</em> <em>dengan</em> <em>izin Allah; dan barangsiapa</em> <em>beriman</em> <em>kepada Allah, niscaya Allah akan</em> <em>member</em><em>i </em><em>petunjuk</em> <em>kepada</em> <em>hatinya. Dan Allah Maha</em> <em>Mengetahui</em> <em>segala</em> <em>sesuatu</em>” [At-Taghabun/64 : 11]</p>
<p>Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p><strong>وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ</strong><strong> الصُّحُفُ</strong></p>
<p>“…<em>Ketahuilah, bahwa</em> <em>seandainya</em> <em>seluruh</em> <em>ummat</em> <em>berkumpul</em> <em>untuk</em> <em>memberi</em> <em>suatu</em> <em>manfaat</em> <em>kepadamu, maka</em> <em>mereka</em> <em>tidak</em> <em>akan</em> <em>dapat</em> <em>memberi</em> <em>manfaat</em> <em>kepadamu,</em> <em>kecuali</em> <em>dengan</em> <em>sesuatu yang telah</em> <em>ditetapkan Allah untukmu. Sebaliknya, </em><em>jika</em> <em>mereka</em> <em>berkumpul</em> <em>untuk</em> <em>menim</em><em>pakan</em> <em>suatu</em> <em>kemudharatan (bahaya) kepadamu, maka</em> <em>mereka</em> <em>tidak</em> <em>akan</em> <em>dapat</em> <em>menimpakan</em> <em>kemudharatan (bahaya) </em><em>kepadamu, kecuali</em> <em>dengan</em> <em>sesuatu yang </em><em>telah Allah tetapkan</em> <em>atasmu. Pena telah</em> <em>diangkat dan lembaran-lem</em><em>baran</em> <em>telah</em> <em>kering</em>.” [HR At-Tirmidzi (no. 2516) Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam kitab Zhilalul Jannah fi Takhrijis Sunnah (no. 315-318) dan Hidayatur Ruwat (no.5232)].</p>
<p>(Lihat <em>Wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ibnu Abbas,</em> Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka at-Taqwa Bogor)</p>
<p><strong>Kita harus</strong> <strong>meyakini, tidak</strong> <strong>akan</strong> <strong>menimpa</strong> <strong>kita</strong> <strong>sesuatu</strong> <strong>apa pun, kecuali</strong> <strong>apa yang Allah telah</strong> <strong>menetapkannya</strong> <strong>untuk</strong> <strong>kita, sehingga</strong> <strong>tidak</strong> <strong>akan</strong> <strong>menimbulkan</strong> <strong>ketakutan yang luarbiasa</strong> <strong>seperti yang terjadi</strong> <strong>sekarang</strong> <strong>ini. Semua Allah sudah</strong> <strong>takdirkan, kita</strong> <strong>wajib</strong> <strong>usaha yang dibenarkan</strong> <strong>menurut</strong> <strong>syari’at,</strong><strong> dan menurut</strong> <strong>dokter yang ahli</strong> <strong>dalam</strong> <strong>masalah</strong> <strong>wabah</strong> <strong>ini.</strong> <strong>Tapi</strong> <strong>serahkan</strong> <strong>semua</strong> <strong>urusan</strong> <strong>kepada Allah. Jangan</strong> <strong>takut</strong> <strong>berlebihan!!! Apa yang Allah takdirkan</strong> <strong>untuk</strong> <strong>kita, itu yang terbaik</strong> <strong>untuk</strong> <strong>kita. Dan Allah Maha</strong> <strong>Penyayang</strong> <strong>kepada</strong> <strong>hamba-hamba-Nya yang beriman.</strong></p>
<p><strong>6. KITA WAJIB UNTUK TAWAKAL KEPADA ALLAH, ARTINYA MENYERAHKAN URUSAN DAN MENYANDARKAN HATI KITA HANYA KEPADA ALLAH, TIDAK ADA YANG DAPAT MENGHILANGKAN BAHAYA, PENYAKIT, WABAH VIRUS CORONA, MALAPETAKA, KESULITAN KECUALI HANYA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA. </strong><br>
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :</p>
<p><strong>وَإِن يَمْسَسْكَ ٱللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَآدَّ لِفَضْلِهِۦۚ يُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦۚ وَهُوَ ٱلْغَفُورُٱلرَّحِيمُ</strong></p>
<p><em>“Dan jika Allah menimpakan</em> <em>suatu</em> <em>bencana</em> <em>kepadamu, maka</em> <em>tidak</em> <em>ada yang dapat</em> <em>menghilangkannya</em> <em>kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki</em> <em>kebaikan</em> <em>bagi</em> <em>kamu, maka</em> <em>tidak</em> <em>ada yang dapat</em> <em>menolak</em> <em>karunia-Nya. Allah</em> <em>memberikan</em> <em>kebaikan</em> <em>kepada</em> <em>siapa</em> <em>saja yang Allah</em> <em>kehendaki di antara</em> <em>hamba-hamba-Nya. Allah</em> <em>Maha</em> <em>Pengampun, Maha</em> <em>Penyayang.” </em>[Yunus/10 : 107]</p>
<p>Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :</p>
<p><strong>وَإِن يَمْسَسْكَ ٱللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ</strong></p>
<p><em>“Dan jika Allah menimpakan</em> <em>suatu</em> <em>bencana</em> <em>kepadamu, tidak</em> <em>ada yang dapat</em> <em>menghilangkannya</em> <em>selain</em> <em>Allah. Dan jika</em> <em>Allah</em> <em>mendatangkan</em> <em>kebaikan</em> <em>kepadamu, maka</em> <em>Dia</em> <em>Maha</em> <em>kuasa</em> <em>atas</em> <em>segala</em> <em>sesuatu.” </em>[Al-An’am/6 : 17]</p>
<p>Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :</p>
<p><strong>وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ</strong></p>
<p><em>“…dan apabila</em> <em>aku</em> <em>sakit, Dialah yang menyembuhkan</em> <em>aku,” </em>[Asy-Syu’ara’/26 : 80]</p>
<p>Obat, dokter dalam mengobati penyakit kita adalah sarana saja, hakekatnya yang menyembuhkan hanya Allah saja. Tidak ada yang bisa memberikan kesembuhan atas suatu penyakit kecuali hanya Allah Azza wa Jalla.</p>
<p><strong>Seorang</strong> <strong>muslim dan muslimah</strong> <strong>wajib</strong> <strong>menyerahkan</strong> <strong>urusannya</strong> <strong>kepada Allah, tetapi</strong> <strong>kita</strong> <strong>wajib</strong> <strong>ikhtiar</strong> <strong>dengan</strong> <strong>cara-cara yang dibenarkan</strong> <strong>menurut</strong> <strong>syari’at. Selain</strong> <strong>bertawakal</strong> <strong>kepada Allah, kita</strong> <strong>wajib</strong> <strong>ikhtiar yang sesuai</strong> <strong>dengan</strong> <strong>syari’at. Ikhtiar yang dilakukan</strong> <strong>tidaklah</strong> <strong>berlebih-lebihan. Kita berpegang</strong> <strong>kepada</strong> <strong>dalil, kemudian</strong> <strong>nasehat orang-orang berilmu, kemudian</strong> <strong>mendengar</strong> <strong>arahan</strong> <strong>dokter-dokter yang ahli</strong> <strong>dalam</strong> <strong>masalah</strong> <strong>ini, supaya</strong> <strong>kita</strong> <strong>tidak</strong> <strong>takut</strong> <strong>berlebihan dan tidak</strong> <strong>boleh juga meremehkan</strong> <strong>wabah yang sedang</strong> <strong>menimpa</strong> <strong>kita. Dan</strong> <strong>tidak</strong> <strong>boleh juga</strong> <strong>membesar-besarkan</strong> <strong>perkara</strong> <strong>ini</strong> <strong>sehingga</strong> <strong>membuat orang takut. Menakut</strong> <strong>nakuti</strong> <strong>seorang</strong> <strong>muslim, haram hukumnya</strong> <strong>dalam Islam.</strong></p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p><strong> لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا</strong></p>
<p><em>“Tidak halal bagi</em> <em>seorang</em> <em>muslim</em> <em>menakut-nakuti</em> <em>muslim yang lain.” </em>[Shahih:HR Abu Dawud]</p>
<p><strong>Ingat, kita wajib berhati-hati dan waspada terhadap wabah ini dan bersikap yang wajar sebagai orang yang beriman, tidak berlebih-lebihan, tidak menakut-nakuti orang dengan kematian, tapi kita juga tidak boleh meremehkan masalah wabah virus Corona ini</strong>. <strong>Kita ikuti arahan Pemerintah, Majlis Ulama, dan Dokter</strong><strong> yang ahli dalam masalah ini</strong>.</p>
<p><strong>7. </strong><strong>RASULULLAH SHALLALLAHU ’ALAIHI WA SALLAM SUDAH MENGAJARKAN APABILA SAKIT SEGERA BEROBAT, AKAN TETAPI YANG MENYEMBUHKAN HANYA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA. </strong><br>
Cara pengobatan penyakit yang diajarkan dalam syari’at Islam mencakup dua jenis :</p>
<ol>
<li>Terapi prefentive (pencegahan)</li>
<li>Terapi kurative (penyembuhan)</li>
</ol>
<p>Diantara cara pencegahan penyakit wabah virus Corona adalah dengan mencuci tangan, membersihkan diri, dan semua ini Islam sudah mengajarkannya, dengan kita berwudhu setiap hari minimal lima kali.</p>
<p>Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :</p>
<p><strong>إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ</strong></p>
<p>“…<em>Sungguh Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang yang membersihkan diri</em>.” [Al-Baqarah/2 : 222].</p>
<p><strong>Setiap</strong><strong> P</strong><strong>enyakit</strong><strong> P</strong><strong>asti</strong> <strong>Ada</strong><strong> O</strong><strong>batnya</strong><br>
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p><strong>ماَ أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً</strong></p>
<p>“<em>Allah tidak</em> <em>menurunkan</em> <em>penyakit</em> <em>melainkan</em> <em>pasti</em> <em>menurunkan</em> <em>obatnya.</em>” [HR Al-Bukhari (no. 5678) Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu]</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p><strong>لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ</strong><strong>, </strong><strong>فَإِذَا أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ</strong></p>
<p><strong>“</strong><em>Setiap</em> <em>penyakit</em> <em>ada</em> <em>obatnya, jika</em> <em>suatu</em> <em>obat</em> <em>itu</em> <em>tepat (manjur) untuk</em> <em>suatu</em> <em>penyakit, maka</em> <em>penyakit</em> <em>itu</em> <em>akan</em> <em>sembuh</em> <em>dengan</em> <em>izin Allah ‘Azza</em> <em>wa</em> <em>Jalla</em>.” [HR Muslim no. 2204 dari Jabir Radhiyallahu’anhu]</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p><strong>إِنَّ اللهَ خَلَقَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ </strong><strong>, </strong><strong>فَتَدَاوَوْا وَلاَ تَتَدَاوَوْا بِحَرَامٍ</strong></p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah menciptakan</em> <em>penyakit dan obatnya, maka</em> <em>berobatlah dan janganlah</em> <em>berobat</em> <em>dengan (obat) yang haram.”</em> [HR Ad-Dulabi dalam al-Kuna wal Asma’]</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p><strong>إ</strong><strong>ِ</strong><strong>نَّ اللهَ لَمْ يَجْعَلْ شِفَاءَ كُمْ فِي حَرَامٍ</strong></p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah tidak</em> <em>menjadikan</em> <em>kesembuhan (dari</em> <em>penyakit) kalian pada apa-apa yang haram.”</em> [HR Abu Ya’la (no. 6930) dan Ibnu Hibban (no. 1397 – Mawaarid), dari Ummu Salamah Radhiyallahu’anha). Lihat Shahih Mawaaridizh Zhamaan (no. 1172)]</p>
<p>(Lihat<em> Hikmah di Balik</em> <em>Musibah dan Ruqyah</em> <em>Syar’iyyah ; </em>Yazid bin Abdul Qadir Jawas, (hlm 40-42 cet Ke-4) Pustaka Imam Syafi’i Jakarta)</p>
<p><strong>8. DIANJURKAN UNTUK BANYAK BERDO’A DAN BERDZIKIR KEPADA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA. HANYA ALLAH LAH YANG MENGHILANGKAN BERBAGAI MACAM PENYAKIT, WABAH VIRUS CORONA, BENCANA, MALAPETAKA, DAN YANG LAINNYA. </strong><br>
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :</p>
<p><strong>وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ</strong></p>
<p>“<em>Dan Tuhanmu</em> <em>berfirman, “Berdoalah</em> <em>kepada-Ku, niscaya</em> <em>akan</em> <em>Aku</em> <em>perkenankan</em> <em>bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong</em> <em>tidak</em> <em>mau</em> <em>menyembah-Ku akan</em> <em>masuk</em> <em>neraka</em> <em>Jahanam</em> <em>dalam</em> <em>keadaan</em> <em>hina</em> <em>dina.”</em>[Ghafir/40: 60]</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :<em>“Doa</em> <em>adalah</em> <em>ibadah, Rabb kalian berfirman : ‘Berdoalah</em> <em>kamu</em> <em>kepada-Ku, niscaya</em> <em>akan</em> <em>Aku</em> <em>perkenankan</em> <em>bagimu</em>.’ (Al-Mu’min/40 : 60) [HR Abu Dawud (no.1479), at-Tirmidzi (no.3247),  Ibnu Majah (no. 3828]</p>
<p>Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :</p>
<p><strong>وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ</strong></p>
<p>“<em>Dan apabila</em> <em>hamba-hamba-Ku bertanya</em> <em>kepadamu (Muhammad) tentang</em> <em>Aku, maka</em> <em>sesungguhnya</em> <em>Aku</em> <em>dekat. Aku</em> <em>Kabulkan</em> <em>permohonan orang yang berdoa</em> <em>apabila</em> <em>dia</em> <em>berdoa</em> <em>kepada-Ku. Hendaklah</em> <em>mereka</em> <em>itu</em> <em>memenuhi (perintah)-Ku dan beriman</em> <em>kepada-Ku, agar mereka</em> <em>memperoleh</em> <em>kebenaran.”</em> [Al-Baqarah/2 : 186]</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p><strong>إِنَّ الدُّعاءَ يَـنْـفَعُ مِمَّا نَـزَلَ ومِمَّا لمْ يَنْزِلْ، فَـعَـلَـيكُم عِبادَ اللهِ بالدُّعاءِ</strong><strong>. </strong><strong>رواه الترمذي وغيره</strong></p>
<p>“<em>Doa</em> <em>bermanfaat</em> <em>terhadap</em> <em>apa yang sudah</em> <em>menimpa dan/atau yang belum</em> <em>menimpa. Karena itulah, wahai</em> <em>sekalian</em> <em>hamba Allah, hendaknya kalian berdoa</em>.” [HR At-Tirmidzi (no. 3548) &amp;al-Hakim (I/493) dari  Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma. Lihat Shahih al-Jami’ish Shaghir (no. 3409), dan Hidayatur Ruwat (no. 2175]</p>
<p>(Lihat <em>Do’a &amp; Wirid ; Yazid bin Abdul Qadir Jawas,</em>(hlm42-43-cet. Ke-34) Pustaka Imam Syafi’i Jakarta)</p>
<p><a href="https://almanhaj.or.id/11518-dzikir-pagi-dan-petang.html"><strong>Baca Dzikir </strong></a><strong>Pagi Dan <a href="https://almanhaj.or.id/14974-di-antara-dzikir-pagi-dan-petang-ada-yang-dapat-menjaga-dari-kejahatan.html">Petang.</a></strong><br>
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Barangsiapa membacanya tiga kali ketika pagi dan sore, maka tidak ada yang membahayakan dirinya.</p>
<p><strong>بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ</strong></p>
<p><em>“Dengan</em> <em>menyebut</em> <em>nama Allah, yang dengan</em> <em>nama-Nya tidak</em> <em>ada</em> <em>sesuatu pun yang akan</em> <em>membahayakan, baik di bumi</em> <em>maupun</em> <em>langit. Dialah Yang Maha</em> <em>Mendengar dan Yang Maha</em> <em>Mengetahui.”</em> [HR At-Tirmidzi (no. 3388), Abu Dawud (no. 5088), Ibnu Majah (no.3869), al-Hakim (I/514), dari Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu].</p>
<p>(Lihat <em>Do’a &amp; Wirid ; Yazid bin Abdul Qadir Jawas, </em>(hlm 169-cet. Ke-34) Pustaka Imam Syafi’i Jakarta)</p>
<p><strong>اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى</strong><strong>. </strong><strong>اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ</strong><strong>.</strong></p>
<p>“<em>Ya Allah, sesungguhnya</em> <em>aku</em> <em>memohon</em> <em>maaf (ampunan) dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya</em> <em>aku</em> <em>memohon</em> <em>maaf (ampunan) dan keselamatan</em> <em>dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilaha</em> <em>uratku (aib</em> <em>ataupun</em> <em>sesuatu </em><em> </em><em>yang tidak</em> <em>layak</em> <em>dilihat orang) dan tenteramkanlah</em> <em>aku</em> <em>dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah</em> <em>aku</em> <em>dari</em> <em>depan, belakang, kanan, kiri dan dari</em> <em>atasku. Aku</em> <em>berlindung</em> <em>dengan</em> <em>kebesaran-Mu, agar aku</em> <em>tidak</em> <em>disambar</em> <em>dari</em> <em>bawahku (aku</em> <em>berlindung</em> <em>dari</em> <em>dibenamkan</em> <em>kedalam</em> <em>bumi).”</em> [HR Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no. 1200), Abu Dawud (no. 5074), an-Nasai (VIII/282) dan IbnuMajah (no. 3871), al-Hakim (I/517-518), dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma].</p>
<p>(Lihat <em>Do’a &amp; Wirid ; Yazid bin Abdul Qadir Jawas,</em>(hlm 167-cet. Ke-34) Pustaka Imam Syafi’i Jakarta)</p>
<p><strong>Baca Do’a-Do’a yang diajarkan oleh Rasulullah</strong><strong> S</strong><strong>hallallahu ‘alaihi</strong> <strong>wa</strong> <strong>sallam agar terhindar</strong> <strong>dari</strong> <strong>berbagai</strong> <strong>macam</strong> <strong>penyakit yang buruk.</strong></p>
<p><strong>اللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخلاَقِ وَالْأَهْوَاءِ، وَالْأَعْمَالِ، وَالْأَدْوَاءِ</strong></p>
<p><em>“Ya Allah, jauhkan</em> <em>aku</em> <em>dari</em> <em>berbagai</em> <em>macam</em> <em>kemungkaran</em> <em>akhlak, hawa</em> <em>nafsu, dan amal</em> <em>perbuatan, serta</em> <em>segala</em> <em>macam</em> <em>penyakit.” </em>[HR Ibnu Hibban (no. 956 – at-Ta’liqatul Hisan), al-Hakim (I/532) dan dia menyatakan “Shahih menurut syarat Muslim.”Dishahihkan oleh al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi. Lihat Shahih al-Adzkar (1187/938]</p>
<p>(Lihat <em>Do’a &amp; Wirid ; Yazid bin Abdul Qadir Jawas, </em>(hlm 303-cet. Ke-34) Pustaka Imam Syafi’i Jakarta)</p>
<p><strong>اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ، وَالْجُنُونِ، وَالْجُذَامِ، وَمِنْ سَيِّئِ الأَسْقَامِ</strong></p>
<p><em>“Ya Allah, sesungguhnya</em> <em>aku</em> <em>berlindung</em> <em>kepada-Mu dari</em> <em>penyakit</em> <em>belang, gila, lepra dan keburukan</em> <em>segala</em> <em>macam</em> <em>penyakit.”</em> [HR Abu Dawud (no. 1554), an-Nasai (VIII/270), Ahmad (III/192) &amp; IbnuHibban (no. 1013 -at-Ta’liqatul Hisan) dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu. Lihat Shahih al-Jami’ish Shaghir (no. 1281]</p>
<p>(Lihat <em>Do’a &amp; Wirid ; Yazid bin Abdul Qadir Jawas, </em>(hlm 304-cet. Ke-34) Pustaka Imam Syafi’i Jakarta)</p>
<p><strong>Dianjurkan</strong> <strong>makan</strong> <strong>Kurma</strong> <strong>Ajwa 7 butir, agar terhindar</strong> <strong>dari</strong> <strong>sihir dan racun</strong><br>
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p><strong>مَنِاصْطَبَحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ</strong></p>
<p>“<em>Barangsiapa di pagi</em> <em>hari</em> <em>makan</em> <em>tujuh</em> <em>buah</em> <em>kurma ‘Ajwa (kurma Nabi </em><em>S</em><em>hallallahu</em> <em>‘alaihi</em> <em>wa</em> <em>sallam) maka</em> <em>dia</em> <em>tidak</em> <em>akan</em> <em>terkena</em> <em>racun</em> <em>atau</em> <em>sihir.”</em> [HR Al-Bukhari (no. 5769, 5779) &amp; Muslim (no. 2047 (155)). Dari Sa’d bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘anhu, lafazh ini milik al-Bukhari]</p>
<p>(Lihat<em> Hikmah di Balik Musibah dan Ruqyah Syar’iyyah ; </em>Yazid bin Abdul Qadir Jawas, (hlm 74-cet. Ke-4) Pustaka Imam Syafi’i Jakarta<em>)</em></p>
<p><strong>Meminum air Zamzam </strong><br>
Hadits Jabir Radhiyallahu ‘anhu yang marfu’ :</p>
<p><strong>مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ</strong></p>
<p>“<em>Air Zamzam tergantung</em> <em>kepadat</em> <em>ujuan</em> <em>diminumnya</em>.” [HR Ahmad  (III/357,372), Ibnu Majah (no. 3062), dan selainnya dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma. Lihat Irwaa-ul Ghaliil (IV/320)]</p>
<p>(Lihat <em>Hikmah di Balik Musibah dan Ruqyah Syar’iyyah</em>; Yazid bin Abdul Qadir Jawas, (hlm 109, cet Ke-4), Pustaka Imama Syafi’i Jakarta)</p>
<p><strong>Pengobatan</strong> <strong>dengan</strong> <strong>madu dan habbatus</strong> <strong>sawda</strong></p>
<p><strong>9. SIKAP SEORANG MUKMIN DALAM MENGHADAPI KEJADIAN APA SAJA YANG MENIMPA, KEWAJIBANNYA ADALAH SABAR.</strong><br>
Allah Ta’ala menciptakan makhluk-Nya untuk memberikan cobaan dan ujian, lalu Allah menuntut konsekuensi dari kesenangan, yaitu bersyukur dan konsekuensi dari kesusahan, yaitu sabar. Hal ini tidak bisa terjadi kecuali jika Allah membalikkan berbagai keadaan manusia sehingga peribadahan manusia kepada Allah menjadi jelas.</p>
<p>Ada beberapa dalil yang menunjukkan bahwa musibah, penderitaan, penyakit serta kematian itu merupakan hal yang lazim bagi manusia. Dan semua itu pasti menimpa mereka, untuk mewujudkan peribadahan kepada Allah.</p>
<p>Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :</p>
<p><strong>وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ</strong><strong> ۗ</strong><strong> وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ</strong> <strong>﴿١٥٥﴾</strong><strong> الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ</strong> <strong>﴿١٥٦﴾</strong><strong> أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ</strong><strong> ۖ</strong><strong> وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ</strong></p>
<p><em>“Dan Kami pasti</em> <em>akan</em> <em>menguji</em> <em>kamu</em> <em>dengan</em> <em>sedikit</em> <em>ketakutan, kelaparan, kekurangan</em> <em>harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah</em> <em>kabar</em> <em>gembira</em> <em>kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila</em> <em>ditimpa</em> <em>musibah, mereka</em> <em>berkata “Inna lillahi</em> <em>wainna</em> <em>ilaihiraji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka</em> <em>itulah yang memperoleh</em> <em>ampunan dan rahmat</em> <em>dari</em> <em>Tuhannya, dan mereka</em> <em>itulah orang-orang yang mendapat</em> <em>petunjuk.”</em> [Al-Baqarah/2 : 155-157]</p>
<p>Jika seseorang benar-benar beriman, maka segala urusannya merupakan kebaikan. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur dan ketika susah, ia bersabar.</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p><strong>عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ</strong></p>
<p>“<em>Sungguh</em> <em>menakjubkan</em> <em>urusan orang Mukmin, sesungguhnya</em> <em>semua</em> <em>urusannya</em> <em>merupakan</em> <em>kebaikan, dan hal</em> <em>ini</em> <em>tidak</em> <em>terjadi</em> <em>kecuali</em> <em>bagi orang Mukmin. Jika</em> <em>dia</em> <em>mendapat</em> <em>kegembiraan, maka</em> <em>dia</em> <em>bersyukur dan itu</em> <em>merupakan</em> <em>kebaikan</em> <em>baginya, dan jika</em> <em>mendapat</em> <em>kesusahan, maka</em> <em>dia</em> <em>bersabar dan itu</em> <em>merupakan</em> <em>kebaikan</em> <em>baginya.”</em> [HR Muslim (no. 2999). Dari Shuhaib Radhiyallahu’anhu]</p>
<p>(Lihat <em>Hikmah di Balik Musibah dan Ruqyah Syar’iyyah ; </em>Yazid bin Abdul Qadir Jawas ; (hlm 7 cet Ke-4, Pustaka Imama Syafi’i Jakarta)</p>
<p>Sesungguhnya tidak ada yang bisa menenangkan hati kita ketika mendapatkan musibah atau adanya bencana, wabah dan lainnya kecuali sabar. Setiap cobaan dihadapi dengan sabar, wajib sabar terhadap takdir Allah yang pahit ini.</p>
<p><strong>10. KITA WAJIB UNTUK BERTAUBAT KEPADA ALLAH ATAS SEMUA DOSA. </strong><br>
Sebagaimana sudah penulis jelaskan di atas, bahwa semua bencana, musibah, penyakit, wabah virus Corona, malapetaka, dan lainnya, disebabkan karena perbuatan dosa-dosa manusia, dengan sebab perbuatan dosa, maksiat, dan kedurhakaan manusia kepada Allah.</p>
<p>Obatnya adalah taubat kepada Allah. Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘anhu berkata:</p>
<p><strong>مَانَزَلَ بَلَاءٌ إِلَّا بِذَنْبٍ وَلَا رُفِعَ إِلَّا بِتَوْبَةٍ</strong></p>
<p>“<em>Tidaklah Allah menurunkan bala’ (bencana, wabah penyakit) disebabkan perbuatan dosa, dan tidaklah diangkat bala’ (bencana, wabah penyakit) tersebut kecuali dengan bertaubat (kepada Allah)</em>.” [<em>ad-Daa’ wad Dawa’</em> (hlm 113-cet. Ke-2. 1430 H), karya Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em>, <em>tahqiq</em> dan <em>takhrij</em> Syaikh Ali Hasan bin Ali bin Abdul Hamid al-Halabi)</p>
<p>Oleh karena itu kepada seluruh kaum Muslimin segeralah bertaubat kepada Allah. Mudah-mudahan Allah angkat wabah ini dari negeri-negeri kaum Muslimin.</p>
<p>Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :</p>
<p><strong>وَتُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ</strong></p>
<p>“…<em>Dan bertobatlah</em> <em>kamu</em> <em>semua</em> <em>kepada Allah, wahai orang orang yang beriman, agar kamu</em> <em>beruntung</em>.” [An-Nur/24 : 31]</p>
<p>Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :</p>
<p><strong>يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا</strong></p>
<p>“<em>Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah</em> <em>kepada Allah dengan</em> <em>tobat yang semurni-murninya</em>…” [At-Tahrim/66: 8]</p>
<p><strong>Tegakkan</strong> <strong>Shalat yang lima waktu, kerjakan</strong> <strong>sahalat-shalat sunnah.</strong><br>
Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p><strong>اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ ۗفَعَسٰٓى اُولٰۤىِٕكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya yang memakmurkan mesjid Allah </em><em>hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. </em><em>Maka mudah-mudahan mereka </em><em>termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.”</em>[At-Taubah/9: 18]</p>
<p><strong>Perbanyak istigfar, bertasbih, memuji Allah, berdzikir, melakukan amal-amal sholeh, perbanyak sedekah, memperbanyak shalawat kepada Rasulullah Shalllahu alaihi wa sallam, kita wajib meyakini bahwa kita pasti akan mati dan pasti kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan kita akan dibalas oleh Allah tergantung dari amal-amal yang kita kerjakan.</strong></p>
<p>Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari apa yang terjadi saat ini, agar kita semuanya kembali kepada Allah, meminta ampunan atas dosa-dosa. Kemudian kita wajib menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Jangan tinggalkan shalat yang lima waktu. Dan harus kita ingat, bahwa Allah Ta’ala itu sangat sayang kepada hamba-hambanya. Karena itu, kita harus terus berdo’a kepada Allah, agar Allah Ta’ala menghindarkan kita dari berbagai macam wabah, bencana, dan malapetaka.</p>
<p>Dan ingat ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut tha’uun, beliau mengatakan bahwa itu adalah <strong>Rahmat</strong> <strong>bagi</strong> <strong>kaum</strong> <strong>Mukminin</strong>. Ingat bahwa setiap wabah itu tidak lama, in syaa Allah sebentar lagi akan diangkat oleh Allah Ta’ala. Jangan panik, ketakutan, gelisah. Kita wajib husnuzzhan (berbaik sangka) kepada Allah. Apa yang Allah takdirkan itu yang terbaik bagi kita dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, Maha Kasih dan Sayang kepada kaum Mukminin.</p>
<p>Jangan bersedih dengan musibah ini, Allah sayang kepada kita, semua pasti ada hikmahnya. Yang jelas kalau kita sabar dan ridha, musibah-musibah itu akan menggugurkan dan menghapus dosa-dosa kita, sehingga nanti di akhirat akan ringan hisab kita. Dan mudah-mudahan Allah masukkan kita kedalam Sorga-Nya. Aamin ya Rabbal ‘Alamiin. Mudah-mudahan Shalawat dan Salam dicurahkan kepada Nabi kita Muhammad Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam.</p>
<p>Wallahu A’lamu bis Shawaab</p>
<p><strong>Yazid bin Abdul Qadir Jawas</strong><br>
Sabtu, 3 Sya’ban 1441 H/ 28 Maret 2020</p>
 