
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>3. Pentingnya menggabungkan prinsip hamdalah dan istighfar</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketauhilah, bahwa prinsip </span><i><span style="font-weight: 400;">hamdalah </span></i><span style="font-weight: 400;">dan</span><i><span style="font-weight: 400;"> istighfar </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah prinsip harian seorang muslim, bukan hanya prinsip tahunan usai kita melakukan ibadah di bulan Ramadhan. Perhatikanlah aktivitas dzikir pagi dan sore. Seorang muslim disyariatkan mengucapkan </span><i><span style="font-weight: 400;">sayyidul istighfar </span></i><span style="font-weight: 400;">setiap pagi dan sore, yang di antara kalimatnya adalah</span></p>
<p style="text-align: right;">أبوء لك بنعمتك علي وأبوء بذنبي</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“…aku mengakui nikmat-Mu yang Engkau anugerahkan kepada-ku dan aku mengakui dosaku…” </span></i><span style="font-weight: 400;">(HR. Al-Bukhari: 6306 dan yang lainnya)</span><i><span style="font-weight: 400;">.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kedua prinsip hidup yang agung ini membuat sirnanya penyakit-penyakit amal, seperti `ujub, sombong, riya’, dan sum`ah. Selain itu juga berdampak mendorong seorang hamba untuk banyak intropeksi diri (muhasabah), mudah menerima masukan, mudah kerjasama dengan orang lain karena mudah mengakui kenikmatan Allah yang didapatkan melalui orang lain. Ia mudah berterimakasih kepada orang lain, mengapa? Karena ia mudah bersyukur kepada Allah dengan cara berterimakasih kepada orang lain, yang menyampaikan nikmat-Nya kepadanya dengan cara berbuat baik kepadanya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam sebuah hadits,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ </span><b>لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata, bahwa Nabi Muhammad </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda, </span><i><span style="font-weight: 400;">‘Tidak bersyukur kepada Allah seorang yang tidak bersyukur kepada manusia’ </span></i><span style="font-weight: 400;">(HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnul Qoyyim menjelaskan hakikat dari kedua prinsip ini, </span><i><span style="font-weight: 400;">hamdalah dan istighfar,</span></i><span style="font-weight: 400;"> dengan mengatakan</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">و العبودية مَدَارها على قاعدتين هما أصلها: حبّ كامل و ذلّ تام</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ibadah itu berkisar di atas dua pondasi,keduanya adalah cinta yang sempurna kepada Allah serta  kerendahan dan ketundukan diri kepada Allah” (<em>Shahih Al-Wabilush Shayyib</em>, hal. 17).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apa hubungan keduanya dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">hamdalah dan istighfar</span></i><span style="font-weight: 400;">?  Berikut penjelasannya</span></p>
<ol>
<li>
<span style="font-weight: 400;">Cinta yang sempurna kepada Allah, ini didapat dengan banyak mengingat kenikmatan Allah, lalu mengakui kelebihan orang lain dan berterima kasih atas jasanya -karena itu hakikatnya adalah nikmat Allah, sehingga tumbuh cinta, syukur kepada Allah dan memuji-Nya </span><i><span style="font-weight: 400;">(hamdalah).</span></i>
</li>
<li>
<span style="font-weight: 400;">Kerendahan dan ketundukan diri kepada Allah, didapatkan dengan banyak </span><i><span style="font-weight: 400;">muhasabah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menghitung-hitung  kesalahan, kekurangan dan aib diri, sehingga terhindar dari `ujub  dan sombong, berapapun besarnya prestasi ibadah, ilmu, dan amal. Hal ini mendorong seseorang untuk banyak-banyak beristighfar.</span>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita memohon kepada Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta`ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> agar setelah kita merasakan lezatnya beribadah pada bulan Ramadhan dan kebahagiaan pada Hari Raya `Iedul Fithri, Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang bahagia karena bertambah ketakwaan kita sebagai buah puasa dan menjadi orang yang berbahagia dengan memiliki ciri khas bahagia yang disebutkan Ulama, yaitu</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">إذا أعطي شكر، وإذا ابتلي صبر، وإذا أذنب استغفر </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika mendapatkan kenikmatan bersyukur, jika mendapatkan cobaan bersabar, jika berdosa istighfar.”</span></p>
<h4>
<b></b><span style="color: #ff0000;"><b>4. Tidak tertipu dengan amal keta’atan yang telah dilakukan.</b></span>
</h4>
<p><b>Ilustrasi</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk bisa menjadi orang yang beribadah dengan baik tidaklah mudah jika tidak dimudahkan oleh Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">. Barangkali setiap kita pernah memiliki tekad kuat untuk melakukan suatu bentuk ibadah, misalnya shalat sunnah rawatib ba’diyyah, namun tiba saat melakukannya, muncullah halangan yang tidak terduga atau tidak ada halangan namun sulit untuk khusyu’, padahal shalat wajib yang kita lakukan sebelumnya bisa khusyu’ kita lakukan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Atau shalat rawatibnya juga bisa khusyu’, namun bisa jadi tidak bisa langgeng melakukannya. Seandainya bisa langgeng melakukan shalat rawatib tersebut, yakinkah kita bahwa shalat-shalat sunnah tersebut pasti diterima oleh Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">? Dari ilustrasi di atas nampak bahwa kelemahan kita sebagai makhluk Allah dan ketergantungan kita kepada-Nya tidak akan pernah berhenti walau sekejap mata pun. Kita selalu butuh pertolongan-Nya dalam setiap amal ibadah yang kita lakukan, </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">apalagi jika kita berusaha mengingat-ingat dosa yang sudah kita perbuat, dosanya sudah jelas, namun diampuninya belum tentu.</span></p>
<p><b>Pertanyaan besar </b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebuah pertanyaan yang patut dilontarkan, “Jika demikian keadaan kita, pantaskah kita membanggakan ibadah-ibadah yang telah berhasil kita lakukan sepanjang bulan Ramadhan yang telah berlalu tersebut?”</span></p>
<p><b>Taruhlah seorang hamba mampu beribadah </b><b><i>non stop!</i></b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagus apapun amal seseorang, bahkan seandainya seluruh hidup-nya untuk beribadah kepada Allah</span><i><span style="font-weight: 400;"> ‘Azza wa Jalla</span></i><span style="font-weight: 400;">, tidaklah layak hal itu menjadi sesuatu yang dibangga-banggakan dan dipamerkan, sehingga menyebabkan munculnya sikap hati yang salah, karena ia silau melihat amalnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika seorang hamba merenungkan keagungan Allah dan besar hak-Nya atas diri hamba tersebut, betapapun kuatnya seseorang melakukan ibadah, betapapun banyaknya seseorang beramal salih, pastilah ia akan memandang kecil ibadah itu pada hari Akhir kelak karena </span><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shalallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">telah bersabda,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">لو أن رجلا يُجَرّ على وجهه من يوم ولد إلى يوم يموت هَرٍمًا في مرضاة الله عز وجل لحَقّرَه يوم القيامة</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Seandainya seorang hamba disungkurkan wajahnya sejak dia lahir sampai mati, hingga tua renta dalam (peribadatan) menggapai keridhoan Allah `Azza Wa Jalla, niscaya dia akan memandang kecil ibadahnya tersebut pada hari Kiamat</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Imam Ahmad , lihat As-Silsilah Ashahihah 1/730).</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>5. Mengiringi keta’atan pada bulan Ramadhan dengan keta’atan sesudahnya.</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Rajab </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata</span><i><span style="font-weight: 400;">,</span></i></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">من عمل طاعة من الطاعات وفرغ منها فعلامة قبولها أن يصلها بطاعة أخرى،  وعلامة ردها أن يعقب تلك الطاعة بمعصية، ما أحسن الحسنة بعد السيئة تمحها وأحسن الحسنة بعد الحسنة تتلوها، وما أقبح السيئة بعد الحسنة تمحقها…..سلوا الله الثبات على الطاعات إلى الممات، وتعوذوا به من تقلب القلوب</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang melakukan suatu keta’atan dan telah selesai darinya, maka tanda diterimanya amal tersebut adalah ia menyambungnya dengan keta’atan yang lainnya.</span> <span style="font-weight: 400;">Sedangkan tanda tertolaknya keta’atan tersebut adalah ia irirngi keta’atan itu dengan maksiat. Duhai,betapa indahnya kebaikan sesudah keburukan, (sehingga) kebaikan itu menghapus keburukan tersebut. Betapa baiknya suatu kebaikan yang dilakukan mengiiringi kebaikan sebelumnya.</span> <span style="font-weight: 400;">Betapa buruknya keburukan yang dilakukan sesudah kebaikan, (sehingga) keburukan itu menghancurkan kebaikan tersebut……Mohonlah keistiqomahan di atas keta’atan kepada Allah sampai meninggal dunia dan mohonlah perlindungan kepada-Nya dari berbolak-baliknya hati” (<em>Lathaif Al-Ma’arif</em> karya Ibnu Rajab, hal. 393).</span></p>
<p><b>Penutup </b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Renungankanlah!</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;"> ليس العيد لمن لبس الجديد إنما العيد لمن طاعته تزيد</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">و ليس العيد لمن تجمل باللباس و المركوب إنما العيد لمن غفرت له الذنوب</span><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Hari raya bukanlah untuk orang yang mengenakan pakaian baru, namun hari raya adalah untuk orang yang keta’atannya bertambah. Hari raya bukan untuk orang yang berhias dengan pakaian dan kendaraan, akan tetapi hari raya adalah untuk orang yang diampuni dosa-dosanya</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Suatu saat, salah seorang Tabi’in Senior Wuhaib ibnul Wardi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> melihat sekolompok orang tertawa secara berlebihan pada hari ‘Idul Fithri, lalu berkatalah beliau,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">إنْ كان هؤلاء تُقبل منهم صيامهم، فما هذا فِعلُ الشاكرين، وإنْ كانوا لم يُتقبَّلْ منهم صيامهم فما هذا فعلُ الخائفين.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika mereka termasuk orang-orang yang diterima puasanya,maka bukanlah demikian sikap hamba Allah yang bersyukur, namun jika mereka termasuk orang-orang yang tidak diterima puasanya, maka bukan demikian pula sikap hamba Allah yang takut kepada-Nya”.</span></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
 