
<p><span style="font-weight: 400;">Manakah yang lebih baik bagi wanita, shalat tarawih di masjid ataukah di rumah?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terlebih dahulu kita lihat bersama penjelasan para ulama mengenai shalat tarawih bagi wanita.</span></p>

<h2><b>Fatwa Komisi Tetap dalam Riset Ilmiyyah dan Fatwa di Saudi Arabia</b></h2>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Soal</span></i><span style="font-weight: 400;">: Apakah boleh bagi seseorang melaksanakan shalat tarawih sendirian jika dia luput dari shalat berjama’ah? Dan apakah shalat tarawih untuk wanita lebih baik di rumah ataukah di masjid?</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Jawab</span></i><span style="font-weight: 400;">: Disyariatkan untuk laki-laki –apabila luput dari shalat jama’ah tarawih-, maka dia menunaikannya sendirian. Adapun shalat tarawih untuk wanita lebih baik dilakukan di rumah daripada di masjid. </span><i><span style="font-weight: 400;">Wa billahi taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shohbihi wa sallam.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang menandatangani fatwa ini: Abdullah bin Qo’ud dan Abdullah bin Ghudayan sebagai anggota, ‘Abdur Rozaq ‘Afifi sebagai Wakil Ketua, dan ‘Abdul Aziz bin Baz sebagai Ketua. </span><span style="font-weight: 400;">[1]</span></p>
<h2><b>Penjelasan Syaikh Musthofa Al ‘Adawiy</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika menimbulkan godaan ketika keluar rumah (ketika melaksanakan shalat tarawih), maka shalat di rumah lebih utama  bagi wanita daripada di masjid. Hal ini berdasarkan hadits dari Ummu Humaid, istri Abu Humaid As Saa’idiy. Ummu Humaid pernah mendatangi Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan berkata bahwa dia sangat senang sekali bila dapat shalat bersama beliau. Kemudian Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلاَةَ … وَصَلاَتُكِ فِى دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ وَصَلاَتُكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِى</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">”Aku telah mengetahui bahwa engkau senang sekali jika dapat shalat bersamaku. …  Shalatmu di rumahmu lebih baik dari shalatmu di masjid kaummu. Dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik daripada shalatmu di masjidku.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> [2]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun jika wanita tersebut merasa tidak sempurna mengerjakan shalat tarawih tersebut di rumah atau malah malas-malasan, juga jika dia pergi ke masjid akan mendapat faedah lain bukan hanya shalat (seperti dapat mendengarkan nasehat-nasehat agama atau pelajaran dari orang yang berilmu atau dapat pula bertemu dengan wanita-wanita muslimah yang sholihah atau di masjid para wanita yang saling bersua bisa saling mengingatkan untuk banyak mendekatkan diri pada Allah, atau dapat menyimak Al Qur’an dari seorang qori’ yang bagus bacaannya), maka dalam kondisi seperti ini, wanita boleh saja keluar rumah menuju masjid. Hal ini diperbolehkan bagi wanita asalkan dia tetap menutup aurat dengan menggunakan hijab yang sempurna, keluar tanpa memakai harum-haruman (parfum), dan keluarnya pun dengan izin suami. Apabila wanita berkeinginan menunaikan shalat jama’ah di masjid (setelah memperhatikan syarat-syarat tadi), hendaklah suami tidak melarangnya. Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Janganlah kalian melarang istri-istri kalian untuk ke masjid, namun shalat di rumah mereka (para wanita) tentu lebih baik.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span><span style="font-weight: 400;"> [3]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">إِذَا اسْتَأْذَنَكُمْ نِسَاؤُكُمْ إِلَى الْمَسَاجِدِ فَأْذَنُوا لَهُنَّ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Jika istri kalian meminta izin pada kalian untuk ke masjid, maka izinkanlah mereka.</span></i><span style="font-weight: 400;">” </span><span style="font-weight: 400;">[4]</span><span style="font-weight: 400;">. Inilah penjelasan Syaikh Musthofa Al Adawi </span><i><span style="font-weight: 400;">hafizhohullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang penulis sarikan.</span><span style="font-weight: 400;"> [5]</span></p>
<h2><b>Menarik Pelajaran</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari penjelasan para ulama di atas dapat kita simpulkan bahwa shalat tarawih untuk wanita lebih baik adalah di rumahnya apalagi jika dapat menimbulkan fitnah atau godaan. Lihatlah Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> masih mengatakan bahwa shalat bagi wanita di rumahnya lebih baik daripada di masjidnya yaitu Masjid Nabawi. Padahal kita telah mengetahui bahwa pahala yang diperoleh akan berlipat-lipat apabila seseorang melaksanakan shalat di masjid beliau yaitu Masjid Nabawi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun apabila pergi ke masjid tidak menimbulkan fitnah (godaan) dan sudah berhijab dengan sempurna, juga di masjid bisa dapat faedah lain selain shalat seperti dapat mendengar nasehat-nasehat dari orang yang berilmu, maka shalat tarawih di masjid diperbolehkan dengan memperhatikan syarat-syarat ketika keluar rumah. Di antara syarat-syarat tersebut adalah:</span></p>
<p><b><i>Pertama</i></b><span style="font-weight: 400;">, menggunakan hijab dengan sempurna ketika keluar rumah sebagaimana perintah Allah agar wanita memakai jilbab dan menutupi seluruh tubuhnya selain wajah dan telapak tangan.</span></p>
<p><b><i>Kedua</i></b><span style="font-weight: 400;">, minta izin kepada suami atau mahrom terlebih dahulu dan hendaklah suami atau mahrom tidak melarangnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">إِذَا اسْتَأْذَنَكُمْ نِسَاؤُكُمْ إِلَى الْمَسَاجِدِ فَأْذَنُوا لَهُنَّ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Jika istri kalian meminta izin pada kalian untuk ke masjid, maka izinkanlah mereka.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Muslim). An Nawawi membawakan hadits ini dalam Bab “Keluarnya wanita ke masjid, jika tidak menimbulkan fitnah dan selama tidak menggunakan harum-haruman.”</span></p>
<p><b><i>Ketiga</i></b><span style="font-weight: 400;">, tidak menggunakan harum-haruman dan perhiasan yang dapat menimbulkan godaan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">أَيُّمَا امْرَأَةٍ أَصَابَتْ بَخُورًا فَلاَ تَشْهَدْ مَعَنَا الْعِشَاءَ الآخِرَةَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Wanita mana saja yang memakai harum-haruman, maka janganlah dia menghadiri shalat Isya’ bersama kami</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (HR. Muslim)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Zainab -istri ‘Abdullah- mengatakan bahwa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada para wanita,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">إِذَا شَهِدَتْ إِحْدَاكُنَّ الْمَسْجِدَ فَلاَ تَمَسَّ طِيبًا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Jika salah seorang di antara kalian ingin mendatangi masjid, maka janganlah memakai harum-haruman</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (HR. Muslim)</span></p>
<p><b><i>Keempat</i></b><span style="font-weight: 400;">, jangan sampai terjadi </span><i><span style="font-weight: 400;">ikhtilath</span></i><span style="font-weight: 400;"> (campur baur yang terlarang antara pria dan wanita) ketika masuk dan keluar dari masjid.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalilnya adalah hadits dari Ummu Salamah:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا سَلَّمَ قَامَ النِّسَاءُ حِينَ يَقْضِى تَسْلِيمَهُ ، وَيَمْكُثُ هُوَ فِى مَقَامِهِ يَسِيرًا قَبْلَ أَنْ يَقُومَ . قَالَ نَرَى – وَاللَّهُ أَعْلَمُ – أَنَّ ذَلِكَ كَانَ لِكَىْ يَنْصَرِفَ النِّسَاءُ قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الرِّجَالِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salam dan ketika itu para wanita pun berdiri. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tetap berada di tempatnya beberapa saat sebelum dia berdiri. Kami menilai –wallahu a’lam- bahwa hal ini dilakukan agar wanita terlebih dahulu meninggalkan masjid supaya tidak berpapasan dengan kaum pria.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Bukhari)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian penjelasan kami mengenai shalat tarawih bagi wanita. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita sekalian.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/17570-bisa-rutin-shalat-tarawih-sulit-rutin-berjamaah-shubuh-di-masjid.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Bisa Rutin Shalat Tarawih, Sulit Rutin Berjamaah Shubuh di Masjid</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/11191-ikutilah-imam-shalat-tarawih-23-rakaat-hingga-selesai.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Ikutilah Imam Shalat Tarawih 23 Rakaat Hingga Selesai</strong></span></a></li>
</ul>
<p> </p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selesai disusun 8 Ramadhan 1430 H di Panggang, Gunung Kidul</span></p>
<p><strong>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</strong></p>
<p><strong>Artikel www.rumaysho.com</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p> </p>
<p><b>Foot note:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[1]</span><span style="font-weight: 400;"> Soal Ketiga dari Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah no. 6505, Mawqi’ Al Ifta’</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[2]</span><span style="font-weight: 400;"> HR. Ahmad no. 27135. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[3]</span><span style="font-weight: 400;"> HR. Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini </span><b><i>shahih</i></b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[4]</span><span style="font-weight: 400;"> HR. Muslim</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[5] </span><span style="font-weight: 400;">Periksa</span><a href="http://www.islamfeqh.com/News/NewsItem.aspx?NewsItemID=1914"> <span style="font-weight: 400;">http://www.islamfeqh.com/News/NewsItem.aspx?NewsItemID=1914</span></a></p>
<div></div>
 