
<h4 align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;">Do’a Duduk Antara Dua Sujud</span></h4>
<p align="JUSTIFY">Dalam duduk diantara dua sujud, dianjurkan untuk memperbanyak istighfar, Abu Dawud meriwayatkan dari Hudzaifah, bahwasanya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika duduk di antara dua sujud, beliau berdo’a,</p>
<p dir="RTL" align="JUSTIFY"><span style="font-size: 18px;">رَبِّ اغْفِرْ لِي، رَبِّ اغْفِرْ لِي</span></p>
<p align="JUSTIFY">“<em>Ya Rabbku, ampunilah aku, Ya Rabbku, ampunilah aku</em>” (HR. Abu Dawud no. 874, al Albani menshahihkan sanadnya dalam <em>Shahih Abi Dawud</em> no. 818)</p>
<p align="JUSTIFY">Yaitu beliau mengulang-ulang yang demikian di antara dua sujudnya, bukan yang dimaksud beliau hanya berdo’a sebanyak dua kali saja.</p>
<h4 align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;">Do’a Sebelum Salam</span></h4>
<p align="JUSTIFY">Saat sebelum salam juga merupakan tempat untuk istighfar. Disebutkan dalam <em>Shahih Muslim</em>, Dari Ali <em>radhiallahu ‘anhu</em> beliau berkata, “kemudian Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berdo’a disaat tasyahud sebelum salam,</p>
<p dir="RTL" align="JUSTIFY"><span style="font-size: 18px;">اللهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ</span></p>
<p align="JUSTIFY">“<em>Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang lama dan yang baru yang tersembunyi dan nyata, yang aku lakukan berlebihan dan Engkau lebih tahu daripadaku. Engkaulah yang memajukan dan memundurkan. Tidak ada Ilah selain Engkau</em>“” (HR. Muslim no. 201)</p>
<h4 align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;">Do’a Setelah Salam</span></h4>
<p align="JUSTIFY">Setelah salam juga merupakan tempat istighfar, Imam Muslim meriwayatkan, dari Tsauban berkata, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika selesai shalatnya beristighfar tiga kali, dan berdo’a,</p>
<p dir="RTL" align="JUSTIFY"><span style="font-size: 18px;">اللهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ</span></p>
<p align="JUSTIFY">“<em>Ya Allah, Engkau adalah Dzat yang memberi keselamatan, dan dari-Mulah segala keselamatan, Maha Besar Engkau wahai Dzat Pemilik kebesaran dan kemuliaan</em>.”</p>
<p align="JUSTIFY">Walid berkata, maka aku berkata kepada al-Auza’i, Bagaimanakah ucapan istighfar? Dia menjawab Astaghfirullah, Astaghfirullah.. (HR. Muslim no. 591)</p>
<p align="JUSTIFY">Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah <em>rahimahullah</em> berkata, “Istighfar menghapus dosa dan mengangkat adzab, sebagaimana yang difirmankan Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p dir="RTL" align="JUSTIFY"><span style="font-size: 18px;">وَمَا كَانَ اللَّـهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ اللَّـهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ </span></p>
<p align="JUSTIFY">“<em>Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka beristighfar</em>” (QS. Al-Anfal : 33)</p>
<p align="JUSTIFY">Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> meminta ampunan dari Allah di awal shalat ketika do’a istiftah, sebagaimana di dalam hadits shahih dari Abu Hurairah dan juga hadits shahih dari Ali <em>radhiallahu ‘anhuma</em>, yang dibaca pertama kali setelah takbir. Kemudian Beliau memohon ampunan setelah memuji Allah ketika mengangkat kepalanya. Juga memohon ampunan didalam do’a tasyahud sebagaimana dalam hadits dari Ali dan yang lainnya. Juga memohon ampunan ketika ruku’ dan sujud sebagaimana dalam hadits shahih dari Aisyah, yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, An-Nasaai dan Ibn Majah dan yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berdo’a ketika sujudnya</p>
<p dir="RTL" align="JUSTIFY"><span style="font-size: 18px;">اللهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ، وَجِلَّهُ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ</span></p>
<p align="JUSTIFY">“<em>Ya Allah, ampunilah semua dosa-dosaku, yang kecil maupun yang besar, yang awal maupun yang akhir, dan yang terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi</em>“</p>
<p align="JUSTIFY">Maka tidak tersisa sebuah keadaan dari keadaan-keadaan dalam shalat, setiap rukun dari rukun-rukun shalat kecuali terdapat istighfar didalamnya” (<em>Jaami’ al-Masaail</em> 6/574-574)</p>
<p> </p>
<p style="text-align: left;" align="CENTER">Diterjemahkan dari kitab <em>Ta’zhiimus Shalah</em>, Syaikh Prof Dr Abdurrazaq bin Abdul Mushin al Badr</p>
<p style="text-align: left;" align="CENTER">—</p>
<p style="text-align: left;" align="CENTER">Penerjemah: Muhammad Oksa<br>
Artikel Muslim.Or.Id</p>
 