
<p><strong>Baca artikel sebelumnya <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/59067-shalat-kewajiban-seluruh-nabi-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Shalat, Kewajiban Seluruh Nabi (Bag. 1)</a></span></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kisah Nabi Dawud <em>‘alaihis salaam</em></strong></span></h2>
<p>Ketika beliau melakukan suatu kesalahan, dan ingin bertaubat, beliau memulai taubatnya dengan segera mendirikan shalat. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعاً وَأَنَابَ</strong></span></p>
<p>“Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya, maka ia meminta ampun (istighfar) kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat.” <strong>(QS. Shaad [38]: 24)</strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kisah Nabi Sulaiman bin Dawud <em>‘alaihimas salaam</em></strong></span></h2>
<p>Ditunjukkan kepada Nabi Sulaiman kuda di sore hari. Kemudian beliau tersibukkan diri dengan memandangi kuda-kuda tersebut sehingga beliau pun lupa mendirikan shalat Ashar dan shalat di akhir waktunya. Kemudian beliau pun menyesal. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ فَقَالَ إِنِّي أَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِ عَن ذِكْرِ رَبِّي حَتَّى تَوَارَتْ بِالْحِجَابِ رُدُّوهَا عَلَيَّ فَطَفِقَ مَسْحاً بِالسُّوقِ وَالْأَعْنَاقِ</strong></span></p>
<p><em>“Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (Ingatlah) ketika ditunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore, maka ia berkata, ‘Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.’ Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu.”</em> <strong>(QS. Shaad [38]: 30-33)</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/58583-hubungan-antara-shalat-dan-melihat-wajah-allah-taala.html" data-darkreader-inline-color="">Hubungan antara Shalat dan Melihat Wajah Allah Ta’ala</a></strong></p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah </em>berkata,</p>
<p>“Banyak salaf dan ahli tafsir menyebutkan bahwa beliau sibuk melihat (kuda) sampai terlewat dari waktu shalat ashar. Yang dapat dipastikan bahwa beliau tidaklah meninggalkan shalat Ashar secara sengaja, akan tetapi karena lupa. Sebagaimana Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>tersibukkan diri saat perang Khandaq dari shalat Ashar sampai beliau mendirikan shalat Ashar setelah matahari tenggelam.” <strong>(<em>Tafsir Ibnu Katsir, </em>7: 65)</strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kisah Nabi Zakariyya <em>‘alaihis salaam</em></strong></span></h2>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>فَنَادَتْهُ الْمَلآئِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ</strong></span></p>
<p><em>“Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang dia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab.”</em> <strong>(QS. Ali ‘Imran [3]: 39)</strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kisah Nabi Isa <em>‘alaihis salaam</em></strong></span></h2>
<p>Ketika beliau mampu berbicara saat masih dalam gendongan, beliau berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيّاً وَجَعَلَنِي مُبَارَكاً أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيّاً</strong></span></p>
<p><em>“Isa berkata, ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.’”</em> <strong>(QS. Maryam [19]: 30-31)</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/58328-menjawab-argumen-apa-dalilnya-membuka-handphone-setelah-shalat.html" data-darkreader-inline-color="">Menjawab Argumen: “Apa Dalilnya Membuka Handphone Setelah Shalat?</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kisah para Nabi Bani Israil</strong></span></h2>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>وَلَقَدْ أَخَذَ اللّهُ مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَبَعَثْنَا مِنهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيباً وَقَالَ اللّهُ إِنِّي مَعَكُمْ لَئِنْ أَقَمْتُمُ الصَّلاَةَ وَآتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَآمَنتُم بِرُسُلِي</strong></span></p>
<p><em>“Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku …'” </em><strong>(QS. Al-Maidah [5]: 12)</strong>.</p>
<p>Selain itu, Allah <em>Ta’ala</em> juga menyebutkan satu per satu Nabi, kemudian menceritakan tentang mereka,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>أُوْلَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ مِن ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِن ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَن خَرُّوا سُجَّداً وَبُكِيّاً</strong></span></p>
<p><em>“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.”</em> <strong>(QS. Maryam [19]: 58)</strong></p>
<p>Allah pun mengabarkan bahwa seluruh Nabi beribadah kepada Allah <em>Ta’ala</em> dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan ibadah shalat. Kemudian Allah <em>Ta’ala</em> mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيّاً</strong></span></p>
<p><em>“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.”</em> <strong>(QS. Maryam [19]: 59)</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/56873-berdoa-dengan-bahasa-indonesia-di-dalam-shalat.html" data-darkreader-inline-color="">Berdoa Dengan Bahasa Indonesia Di Dalam Shalat</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>ketika bersama Jibril</strong></span></h2>
<p>Sesungguhnya para Nabi terdahulu seluruhnya, mereka terus-menerus mendirikan shalat wajib lima waktu sebagaimana shalat yang diajarkan oleh malaikat Jibril kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em></p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma, </em>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>أَمَّنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام عِنْدَ الْبَيْتِ مَرَّتَيْنِ، فَصَلَّى بِيَ الظُّهْرَ حِينَ زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَتْ قَدْرَ الشِّرَاكِ، وَصَلَّى بِيَ الْعَصْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَهُ، وَصَلَّى بِيَ يَعْنِي الْمَغْرِبَ حِينَ أَفْطَرَ الصَّائِمُ، وَصَلَّى بِيَ الْعِشَاءَ حِينَ غَابَ الشَّفَقُ، وَصَلَّى بِيَ الْفَجْرَ حِينَ حَرُمَ الطَّعَامُ وَالشَّرَابُ عَلَى الصَّائِمِ، فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ صَلَّى بِيَ الظُّهْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَهُ، وَصَلَّى بِي الْعَصْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَيْهِ، وَصَلَّى بِيَ الْمَغْرِبَ حِينَ أَفْطَرَ الصَّائِمُ، وَصَلَّى بِيَ الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ، وَصَلَّى بِيَ الْفَجْرَ فَأَسْفَرَ</strong></span></p>
<p>“Jibril <em>‘alaihis salam </em>telah mengimamiku di sisi Baitullah dua kali. Dia shalat Zuhur bersamaku ketika matahari tergelincir (condong) ke barat sepanjang tali sandal, kemudian shalat Ashar denganku ketika panjang bayangan suatu benda sama dengannya, lalu shalat Maghrib bersamaku ketika orang yang berpuasa berbuka, kemudian shalat Isya’ bersamaku ketika awan merah telah hilang, dan shalat Subuh bersamaku tatkala orang yang berpuasa dilarang makan dan minum.</p>
<p>Besok harinya, dia shalat Zuhur bersamaku ketika bayangan suatu benda sama dengannya, lalu shalat Ashar bersamaku ketika bayangan suatu benda sepanjang dua kali benda itu, kemudian shalat Maghrib bersamaku ketika orang yang berpuasa berbuka, lalu shalat Isya’ bersamaku hingga sepertiga malam, dan shalat subuh bersamaku ketika waktu pagi mulai bercahaya.”</p>
<p>Kemudian Jibril menoleh kepadaku seraya berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>يَا مُحَمَّدُ، هَذَا وَقْتُ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِكَ، وَالْوَقْتُ مَا بَيْنَ هَذَيْنِ الْوَقْتَيْنِ</strong></span></p>
<p>“Wahai Muhammad, inilah waktu shalat para Nabi sebelum kamu, dan jarak waktu untuk shalat adalah antara dua waktu ini.” <strong>(HR. Abu Dawud no. 393, At-Tirmidzi no. 149, dan Ahmad no. 3322. Dinilai <em>shahih </em>oleh Al-Albani dalam <em>Shahih Al-Jaami’ </em>no. 1402)</strong></p>
<p>Semoga Allah <em>Ta’ala</em> memberikan hidayah kepada kita agar mengagungkan shalat dan senantiasa mendirikan shalat.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/56875-shalat-berjamaah-di-fase-new-normal-wabah.html" data-darkreader-inline-color="">Shalat Berjamaah di Fase New Normal Wabah</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/51178-shalat-badiyah-jumat-dua-atau-empat-rakaat.html" data-darkreader-inline-color="">Shalat Ba’diyah Jum’at: Dua atau Empat Raka’at?</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>[Selesai]</strong></p>
<p><strong>***</strong></p>
<p>@FK UGM, 29 Shafar 1442/ 16 Oktober 2020</p>
<p><strong>Penulis:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color=""> M. Saifudin Hakim</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="http://Muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<p>Disarikan dari kitab <strong><em>Ta’zhiim Ash-Shalaat </em></strong><em> </em>hal. 11-12, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr <em>hafidzahullahu Ta’ala, </em>cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.</p>
 