
<p><strong>3.	Mengakhirkan Sahur</strong></p>
<p>Disunnahkan mengakhirkan sahur sesaat sebelum fajar, karena Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan Zaid bin Tsabit <em>radhiallahu ‘anhu</em> melakukan sahur, ketika selesai makan sahur Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bangkit untuk shalat Subuh, dan jarak (selang waktu) antara sahur dan  masuknya shalat kira-kira lamanya seseorang membaca lima puluh ayat  al-Quran.</p>
<p>Anas <em>radhiallahu ‘anhu</em> meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit <em>radhiallahu ‘anhu,</em></p>
<p><em>“Kami makan sahur bersama Rasulullah </em><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam,  kemudian beliau shalat.” Aku tanyakan (kata Anas), “Berapa lama jarak  antara adzan dan sahur?” Zaid menjawab, “Kira-kira 50 ayat membaca  al-Quran.”</em> (HR. Bukhari).</p>
<p>Ketahuilah wahai hamba Allah –mudah-mudahan Allah membimbingmu–,  kalian diperbolehkan makan, minum dan jima’ selama (dalam keadaan) ragu  fajar telah terbit atau belum, dan Allah serta rasul-Nya telah  menerangkan batasan-batasannya, maka carilah kejelasan, karena Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> memaafkan kesalahan, kelupaan serta membolehkan makan, minum dan jima’  selama belum ada kejelasan, sedangkan orang yang masih ragu (berarti)  belum mendapat penjelasan. Sesungguhnya, kejelasan adalah keyakinan yang  tidak ada keraguan padanya, maka perhatikanlah.</p>
<p><strong>4.	Hukumnya</strong></p>
<p>Oleh karena itu, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintahkannya –dengan perintah yang sangat ditekankan–. Beliau bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَنْ أَرَادَ أَنْْ يَصُوْمَ فَلْيَتَسَحّر بِشَيْءٍ</p>
<p><em>“Barangsiapa yang mau berpuasa hendaklah sahur dengan sesuatu.”</em> (HR. Ibnu Abi Syaibah, Ahmad).</p>
<p>Dan beliau bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السّحُوْرِ بَرَكَةً</p>
<p><em>“Makan sahurlah kalian, karena dalam sahur ada berkah.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Kemudian beliau menjelaskan tingginya nilai sahur bagi umatnya, beliau bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَهُ السّحَرِ</p>
<p><em>“Pembeda antara puasa kami dan ahlul kitab adalah makan sahur.”</em></p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melarang meninggalkannya, beliau bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">السحور أكله بركة فلا تدعوه ولو أن يجرع أحدكم جرعة من ماء فإنّ الله وملائكته يصلون على المتسحّرين</p>
<p><em>“Sahur adalah makanan yang berkah, janganlah kalian tinggalkan  walaupun hanya meminum seteguk air karena Allah dan malaikat-Nya memberi  shalawat kepada orang yang sahur.”</em> (HR. Ibnu Abi Syaibah, Ahmad).</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">تسحّروا ولو بجرعة من ماء</p>
<p><em>“Sahurlah kalian walaupun dengan seteguk air.”</em> (HR. Abu Ya’la, hadits hasan).</p>
<p>Saya katakan: Kami berpendapat perintah Nabi ini sangat ditekankan anjurannya, hal ini terlihat dari tiga sisi:</p>
<ol>
<li>Perintahnya.</li>
<li> Sahur adalah syiarnya puasa seorang muslim, dan pemisah antara puasa kita dan puasa Ahlul Kitab.</li>
<li> Larangan meninggalkan sahur.</li>
</ol>
<p>Inilah qarinah yang kuat dan dalil yang jelas.</p>
<p>Walaupun demikian, al-Hafidz Ibnu Hajar menukilkan dalam kitabnya <em>Fathul Bari</em> (4/139): ijma’ atas sunnahnya. Wallahu a’lam.</p>
<p>Sumber: Sifat Puasa Nabi <em>Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam</em>, Syaikh Salim bin Ied al-Hilaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, Penerbit al-Mubarok</p>
<p>Dipublikasikan oleh: <a title="www.pengusahamuslim.com" href="http://www.pengusahamuslim.com/" target="_blank">www.pengusahamuslim.com</a></p>
 