
<h4><span style="color: #ff0000;"><span lang="id-ID"><b>Hendaklah </b></span><span lang="en-US"><b>Kita</b></span><span lang="id-ID"><b> selalu Bersama dengan Ilmu dan </b></span><span lang="en-US"><b>Ulama</b></span></span></h4>
<p><span lang="id-ID">Di antara sebab terputusnya seseorang dari jalan ilmu sebagaimana yang terjadi pada generasi muda selama ini adalah bahwasannya mereka tidaklah terus-menerus bergaul/bersahabat dengan para ulama atau ustadz. Bahkan waktunya untuk bersama ilmu dan </span><span lang="en-US">ulama </span><span lang="id-ID">hanyalah pada saat pelajaran berlangsung saja. Di luar waktu itu, mereka bersahabat dengan masyarakat yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Maka jiwanya tidaklah senantiasa tergerak untuk meraih ilmu, bahkan hanya tegerak dalam waktu yang sedikit saja, yaitu pada waktu pelajaran saja. Setelah itu, maka sebagian besar aktivitasnya tidaklah berkaitan dengan ilmu. Hal ini menjadikannya tidak selalu terpaut dengan ilmu. Padahal ilmu membutuhkan agar pemiliknya selalu terpaut dengannya selamanya (jiwanya selalu bersama dengan ilmu dalam setiap keadaan). </span></p>
<p><span lang="id-ID">Terkadang beberapa ulama berpaling dari kenikmatan duniawi yang mubah (diperbolehkan) demi meraih ilmu</span><span lang="en-US"> agama</span><span lang="id-ID">, seperti harta, istri, pandangan yang </span><span lang="id-ID"><i>mubah</i></span><span lang="id-ID">, atau manusia, dan tidak menyibukkan diri dengannya. Sebagian penyair bercerita tentang hal tersebut ketika seorang ulama didatangi oleh seorang budak wanita. Beliau tidak menoleh kepadanya meskipun budak wanita tersebut memiliki akhlak yang mulia dan sangat cantik. Penyair tersebut berkata dalam beberapa bait syair:</span></p>
<p lang="id-ID"><i>Maka aku katakan, tinggalkanlah aku dan maafkanlah aku</i></p>
<p lang="id-ID"><i> Karena aku telah disibukkan dengan ilmu dan mencarinya</i></p>
<p><span lang="id-ID"><i> Bagiku </i></span><span lang="en-US"><i>(lebih utama) </i></span><span lang="id-ID"><i>belajar ilmu, keutamaan, dan ketakwaan</i></span></p>
<p lang="id-ID"><i>Yang tidak butuh kepada nyanyian para penyanyi dan musiknya</i></p>
<p lang="id-ID">Maksudnya, bahwa dirinya disibukkan dengan sesuatu yang lebih besar yang telah menguasai dirinya. Hal ini akan tercapai jika seseorang selalu bersama dengan ilmu. Dia bersahabat dengan orang-orang yang membicarakan dan menyampaikan ilmu, selalu bersama para ulama dalam pembicaraan mereka, dan mendengarkan ucapan-ucapan mereka.</p>
<p><span lang="id-ID">Niscaya </span><span lang="en-US">kita </span><span lang="id-ID">akan mendapati sebuah jiwa yang selalu disibukkan dengan ilmu. Sehingga ilmu itu akan menjadi tabiat</span><span lang="en-US"> dan aktivitas keseharian kita</span><span lang="id-ID">. Awalnya hal itu </span><span lang="en-US">mungkin </span><span lang="id-ID">menyusahkan</span><span lang="en-US"> kita.</span> <span lang="en-US">A</span><span lang="id-ID">kan tetapi</span><span lang="en-US">, pada </span><span lang="id-ID">akhirnya bisa menjadi tabia</span><span lang="en-US">t</span><span lang="id-ID">. Sehingga ketika </span><span lang="en-US">kita </span><span lang="id-ID">berbicara, maka </span><span lang="en-US">kita </span><span lang="id-ID">berbicara dengan ilmu. Jika menasihati, maka </span><span lang="en-US">kita </span><span lang="id-ID">memberikan nasihat dengan ilmu. Jika menjelaskan</span><span lang="en-US"> sesuatu</span><span lang="id-ID">, maka </span><span lang="en-US">kita </span><span lang="id-ID">menjelaskan dengan ilmu. Sehingga hal itu menjadi sesuatu yang mudah bagi</span><span lang="en-US"> kita</span><span lang="id-ID">. Dan tidak diragukan lagi bahwa hal ini membutuhkan perjuangan. </span></p>
<p><span lang="id-ID">Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">berfirman,</span></p>
<p lang="en-US" align="CENTER">وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ</p>
<p>”<span lang="id-ID"><i>Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik” </i></span><span lang="id-ID">(QS. Al ’Ankabuut [29] : 69).</span></p>
<p>Maksudnya, bahwa dirinya disibukkan dengan sesuatu yang lebih besar yang telah menguasai dirinya. Hal ini akan tercapai jika seseorang selalu bersama dengan ilmu. Dia bersahabat dengan orang-orang yang membicarakan dan menyampaikan ilmu, selalu bersama para ulama dalam pembicaraan mereka, dan mendengarkan ucapan-ucapan mereka.</p>
<p><span lang="id-ID">Niscaya </span><span lang="en-US">kita </span><span lang="id-ID">akan mendapati sebuah jiwa yang selalu disibukkan dengan ilmu. Sehingga ilmu itu akan menjadi tabiat</span><span lang="en-US"> dan aktivitas keseharian kita</span><span lang="id-ID">. Awalnya hal itu </span><span lang="en-US">mungkin </span><span lang="id-ID">menyusahkan</span><span lang="en-US"> kita.</span> <span lang="en-US">A</span><span lang="id-ID">kan tetapi</span><span lang="en-US">, pada </span><span lang="id-ID">akhirnya bisa menjadi tabia</span><span lang="en-US">t</span><span lang="id-ID">. Sehingga ketika </span><span lang="en-US">kita </span><span lang="id-ID">berbicara, maka </span><span lang="en-US">kita </span><span lang="id-ID">berbicara dengan ilmu. Jika menasihati, maka </span><span lang="en-US">kita </span><span lang="id-ID">memberikan nasihat dengan ilmu. Jika menjelaskan</span><span lang="en-US"> sesuatu</span><span lang="id-ID">, maka </span><span lang="en-US">kita </span><span lang="id-ID">menjelaskan dengan ilmu. Sehingga hal itu menjadi sesuatu yang mudah bagi</span><span lang="en-US"> kita</span><span lang="id-ID">. Dan tidak diragukan lagi bahwa hal ini membutuhkan perjuangan. </span></p>
<p><span lang="id-ID">Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">berfirman,</span></p>
<p lang="en-US" align="CENTER">وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ</p>
<p>”<span lang="id-ID"><i>Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik” </i></span><span lang="id-ID">(QS. Al ’Ankabuut [29] : 69).</span></p>
<h4 lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><b>Kebodohan adalah Penyakit, Obatnya adalah Ilmu dan Ulama</b></span></h4>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Kebodohan adalah lawan dari ilmu. Kebodohan adalah penyakit sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Q</span><span lang="en-US">a</span><span lang="id-ID">yyim </span><span lang="id-ID"><i>rahimahullah </i></span><span lang="id-ID">bahwa</span><i> </i><span lang="id-ID">kebodohan adalah penyakit yang membunuh pemiliknya tanpa disadari. Beliau </span><span lang="id-ID"><i>rahimahullah </i></span><span lang="id-ID">berkata di dalam kitab </span><span lang="id-ID"><i>An-</i></span><span lang="id-ID"><i>Nuniyyah:</i></span></p>
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><i> Kebodohan adalah penyakit yang membunuh</i></p>
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><i> Obatnya adalah 2 hal yang berurutan </i></p>
<p align="JUSTIFY"><i> </i><span lang="id-ID"><i><b>(Pertama)</b></i></span><span lang="id-ID"><i> yaitu ilmu dari Al Quran dan Sunnah</i></span></p>
<p align="JUSTIFY"><i> </i><span lang="id-ID"><i><b>(Ke</b></i></span><i><b> </b></i><span lang="id-ID"><i><b>dua)</b></i></span><span lang="id-ID"><i> dan dokternya adalah seorang alim robbani</i></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Tidak diragukan lagi bahwa kebodohan adalah penyakit yang membunuh manusia yang tersesat dari kewajiban agamanya. </span><span lang="en-US">S</span><span lang="id-ID">ehingga menjadikan pemiliknya tidak termasuk orang-orang yang hidup</span><span lang="en-US"> (hatinya)</span><span lang="id-ID">. Maka para ulama adalah orang yang hidup, sedangkan yang lainnya adalah orang-orang mati. Sebab kematian</span><span lang="en-US">nya</span><span lang="id-ID"> adalah kebodohan</span><span lang="en-US"> tentang agama mereka</span><span lang="id-ID">, karena kebodohan adalah sesuatu yang menyebabkan kematian. Sehingga setiap orang yang bodoh, dia terbunuh dan mati. Adapun kebodohan itu sendiri tidaklah berada dalam satu tingkatan saja. Akan tetapi, kebodohan itu bermacam-macam. Setiap orang yang bodoh terhadap sesuatu</span><span lang="en-US">,</span><span lang="id-ID"> dia tertimpa kematian dari sisi kebodohannya terhadap sesuatu tersebut. </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Perkataan beliau</span><span lang="id-ID"><i> rahimahullah</i></span><span lang="id-ID">,</span><span lang="id-ID"><i>“Kebodohan adalah penyakit yang membunuh, obatnya adalah 2 hal yang berurutan, (pertama) yaitu ilmu dari Al</i></span><span lang="en-US"><i>–</i></span><span lang="id-ID"><i>Qur</i></span><span lang="en-US"><i>’</i></span><span lang="id-ID"><i>an dan Sunnah</i></span><span lang="en-US"><i>.</i></span><span lang="id-ID"><i>” </i></span><span lang="id-ID">Dua hal ini </span><span lang="en-US">–</span><span lang="id-ID">yaitu ilmu Al</span><span lang="en-US">–</span><span lang="id-ID">Qur</span><span lang="en-US">’</span><span lang="id-ID">an dan Sunnah- adalah </span><span lang="en-US">ilmu </span><span lang="id-ID">yang menjelaskan dalil-dalil dari Al</span><span lang="en-US">–</span><span lang="id-ID">Qur</span><span lang="en-US">’</span><span lang="id-ID">an dan As</span><span lang="en-US">–</span><span lang="id-ID">Sunnah, menggunakan sesuai dengan tempatnya, serta membawanya kepada makna yang </span><span lang="en-US">benar (</span><span lang="id-ID">shahih</span><span lang="en-US">)</span><span lang="id-ID">. </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Sedangkan perkataan beliau </span><span lang="id-ID"><i>rahimahullah</i></span><span lang="id-ID">,</span><span lang="id-ID"><i>“Dan dokternya adalah seorang alim robbani”, </i></span><span lang="id-ID">maksudnya, </span><span lang="id-ID">tidak setiap orang </span><span lang="id-ID"><i>alim</i></span><span lang="id-ID">. Akan tetapi seorang </span><span lang="id-ID"><i>alim robbani, </i></span><span lang="id-ID">yaitu seorang ulama</span><i> </i><span lang="id-ID">yang takut kepada Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala</i></span><span lang="id-ID">, bertakwa kepada-Nya dalam setiap perkataan dan perbuatannya. </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-US">Oleh karena itu, </span><span lang="id-ID">dalil-dalil dari Al</span><span lang="en-US">–</span><span lang="id-ID">Qur</span><span lang="en-US">’</span><span lang="id-ID">an dan As</span><span lang="en-US">–</span><span lang="id-ID">Sunnah adalah obat bagi orang-orang yang bodoh. Sebagian besar manusia ingin menghilangkan kebodohan dari dirinya sendiri. Mereka bersemangat mempelajari Al</span><span lang="en-US">–</span><span lang="id-ID">Qur</span><span lang="en-US">’</span><span lang="id-ID">an dan As</span><span lang="en-US">–</span><span lang="id-ID">Sunnah, namun mereka tidak mengambil bimbingan dari penjelasan </span><span lang="id-ID"><i>ahlul ilmi. </i></span><span lang="id-ID">Dan ketika mereka tidak mengambil bimbingan dari para ulama, maka mereka pun tertimpa </span><span lang="en-US">kesesatan (</span><span lang="id-ID">ke</span><span lang="en-US">bodohan yang mematikan)</span><span lang="id-ID">. </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Perkataan beliau </span><span lang="id-ID"><i>rahimahullah</i></span><span lang="id-ID">,</span><span lang="id-ID"><i>“Dan dokternya adalah seorang alim robbani”</i></span><span lang="id-ID">, adalah ungkapan yang menjelaskan kepadamu bahwa ilmu adalah obat. Jika seseorang datang dan mengambil obat yang tidak sesuai untuknya, maka apakah dia celaka atau</span><span lang="en-US">kah</span><span lang="id-ID"> tidak? </span><span lang="en-US">Jelas, d</span><span lang="id-ID">ia akan celaka. </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Kelompok </span><span lang="en-US"><i>k</i></span><span lang="id-ID"><i>hawarij</i></span><span lang="en-US"><i>, </i></span><span lang="en-US">mereka </span><span lang="id-ID">tersesat karena mengambil dalil-dalil dari Al</span><span lang="en-US">–</span><span lang="id-ID">Qur</span><span lang="en-US">’</span><span lang="id-ID">an dan As</span><span lang="en-US">–</span><span lang="id-ID">Sunnah, namun tidak menerapkannya dengan tepat. Mereka mengambil </span><span lang="en-US">(sebagian) </span><span lang="id-ID">dalil dari Al</span><span lang="en-US">–</span><span lang="id-ID">Qur</span><span lang="en-US">’</span><span lang="id-ID">an yang menunjukkan bahwa pelaku dosa besar adalah kafir. Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">berfirman,</span></p>
<p lang="en-US" align="CENTER">وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا</p>
<p align="JUSTIFY">”<span lang="id-ID"><i>Dan barangsiapa membunuh orang mukmin secara sengaja, maka balasannya adalah neraka jahannam. Mereka kekal di dalamnya</i></span><span lang="en-US"><i>.</i></span><span lang="id-ID"><i>” </i></span><span lang="id-ID">(QS. An-Nisa’ [4]: 93)</span><span lang="id-ID"><i>. </i></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-US">Orang-orang </span><span lang="en-US"><i>khawarij </i></span><span lang="id-ID">berkata,</span><span lang="id-ID"><i>”Ayat ini menunjukkan bahwa mereka adalah kafir</i></span><span lang="id-ID"><i>”.</i></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-US">Contoh lain, k</span><span lang="id-ID">elompok </span><span lang="en-US"><i>m</i></span><span lang="id-ID"><i>urji’ah </i></span><span lang="id-ID">mengambil sebagian dalil dari Al</span><span lang="en-US">–</span><span lang="id-ID">Qur’an dan tidak menerapkannya dengan tepat. Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu </i></span><span lang="en-US"><i>‘</i></span><span lang="id-ID"><i>alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">bersabda,</span></p>
<p lang="id-ID" align="CENTER">مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ</p>
<p align="JUSTIFY">”<span lang="id-ID"><i>Barangsiapa yang </i></span><span lang="id-ID"><i><b>mengucapkan</b></i></span><span lang="id-ID"><i> laa ilaaha illallah (tiada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allah), maka dia masuk surga</i></span><span lang="en-US"><i>.</i></span><span lang="id-ID"><i>” </i></span><span lang="id-ID">(HR. Tirmidzi no. 2849. Dinilai </span><span lang="id-ID"><i>hasan </i></span><span lang="id-ID">oleh Syaikh Albani dalam </span><span lang="id-ID"><i><b>Shahih wa Dha’if Sunan At-Tirmidzi, </b></i></span><span lang="id-ID">hadits no. 2638)</span><span lang="id-ID"><i>. </i></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu </i></span><span lang="en-US"><i>‘</i></span><span lang="id-ID"><i>alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">juga bersabda,</span></p>
<p dir="RTL" lang="id-ID" align="CENTER">مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ</p>
<p align="JUSTIFY">”<span lang="id-ID"><i>Barangsiapa yang akhir </i></span><span lang="id-ID"><i><b>ucapannya</b></i></span><span lang="id-ID"><i> adalah laa ilaaha illallah, maka dia masuk surga</i></span><span lang="en-US"><i>.</i></span><span lang="id-ID"><i>” </i></span><span lang="id-ID">(HR. Abu Dawud no.</span> <span lang="id-ID">3118. Dinilai </span><span lang="id-ID"><i>shahih</i></span><span lang="id-ID"> oleh Syaikh Albani dalam </span><span lang="id-ID"><i><b>Misykatul Mashobih</b></i></span><span lang="id-ID">, hadits no. 1621).</span><i></i></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Demikian juga dengan dalil-dalil yang lain. Sehingga kelompok </span><span lang="id-ID"><i>murji’ah </i></span><span lang="id-ID">meniadakan amal</span><span lang="en-US"> (anggota badan) dari definisi iman.</span> <span lang="en-US">Mereka </span><span lang="id-ID">hanya menetapkan perkataan dan keyakinan sebagai bagian dari keimanan. Mereka menyepelekan amal perbuatan sehingga tertimpa sesuatu yang membunuh mereka</span><span lang="en-US">, yaitu kebodohan.</span><span lang="id-ID"> Mengapa bisa demikian?</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Karena mereka tidaklah menjadikan para shahabat Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu </i></span><span lang="en-US"><i>‘</i></span><span lang="id-ID"><i>alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">dan para ulama di zaman mereka sebagai pembimbing dalam memahami dalil-dalil</span><span lang="en-US"> agama</span><span lang="id-ID">. Mereka hanya mengambil ilmu dari diri mereka sendiri, dan tidak mengikuti </span><span lang="id-ID"><i>ahlul ilmi</i></span><span lang="id-ID"> yang telah mendalam ilmunya. Maka mereka tertimpa sesuatu yang membunuh mereka. </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Demikianlah pada setiap masa, semangat untuk menuntut ilmu adalah sesuatu yang diharuskan. Namun tidaklah mungkin hanya semangat mencari ilmu saja</span><span lang="en-US">.</span> <span lang="en-US">Supaya </span><span lang="id-ID">tidak keliru dalam memahami ilmu, </span><span lang="en-US">maka harus </span><span lang="id-ID">dengan mengambil petunjuk dari pemahaman </span><span lang="id-ID"><i>ahlul ilmi</i></span><i> </i><span lang="en-US">(ulama)</span><span lang="id-ID"><i>.</i></span> <span lang="id-ID"><b>Karena sesungguhnya ilmu pada umat ini adalah sesuatu yang diwariskan, bukan sesuatu yang dikarang dan dibuat-buat pada setiap masa dimana manusia dapat membuat dan mengarang-ngarang ilmu baru yang tidak dikenal pada masa sebelumnya. </b></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Oleh karena itu, Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu </i></span><span lang="en-US"><i>‘</i></span><span lang="id-ID"><i>alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">bersabda,</span></p>
<p lang="id-ID" align="CENTER">إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ</p>
<p align="JUSTIFY">”<span lang="id-ID"><i><b>Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi.</b></i></span><span lang="id-ID"><i> Sesungguhnya para Nabi tidaklah mewariskan uang dinar dan dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya, sungguh dia mendapatkan bagian yang besar” </i></span><span lang="id-ID">(HR. Ibnu Majah no. 228. Dinilai </span><span lang="id-ID"><i>shahih </i></span><span lang="id-ID">oleh Syaikh Albani dalam </span><span lang="id-ID"><i><b>Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah, </b></i></span><span lang="id-ID">hadits no. 223)</span><span lang="id-ID"><i>.</i></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Perhatikanlah dasar yang agung ini, yaitu semangat di dalam menuntut ilmu. </span><span lang="id-ID"><b>Akan tetapi, hendaknya yang menjadi pembimbing semangat itu (dalam mempelajari dalil-dalil) adalah </b></span><span lang="en-US"><b>seorang ulama, </b></span><span lang="id-ID"><b>seorang </b></span><span lang="id-ID"><i><b>alim robbani.</b></i></span><i> </i><span lang="id-ID">Jika tidak seorang </span><span lang="id-ID"><i>alim robbani, </i></span><span lang="id-ID">maka </span><span lang="en-US">kita </span><span lang="id-ID">akan dibimbing oleh orang yang memiliki hawa nafsu, yang memiliki maksud dan tujuan </span><span lang="en-US">duniawi </span><span lang="id-ID">tertentu. Sehingga </span><span lang="en-US">kita </span><span lang="id-ID">akan tertimpa musibah, berupa kebodohan dan tidak adanya pemahaman terhadap dalil-dalil Al</span><span lang="en-US">–</span><span lang="id-ID">Qur</span><span lang="en-US">’</span><span lang="id-ID">an dan As-Sunnah. </span></p>
<p align="JUSTIFY">***</p>
<p lang="en-US"><b>Catatan:</b></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Tulisan ini dicuplik dari ceramah Syaikh Shalih bin ‘Abdul Aziz Alu Syaikh </span><span lang="id-ID"><i>hafidzahullah </i></span><span lang="id-ID">yang berjudul </span><span lang="id-ID"><i>“</i></span><span lang="id-ID"><i><b>Asbaabu Ats-Tsabaat ‘ala Th</b></i></span><span lang="en-US"><i><b>a</b></i></span><span lang="id-ID"><i><b>labil ’Ilmi”</b></i></span><i><b> </b></i><span lang="en-US">(Sebab-sebab untuk istiqamah di jalan ilmu)</span><span lang="id-ID"><i><b>.</b></i></span></p>
<p lang="en-US">Diselesaikan ba’da isya, Rotterdam NL, 4 Rabiul ‘Awwal 1438</p>
<p lang="en-US">Penulis: M. Saifudin Hakim</p>
<p lang="en-US">Artikel Muslim.or.id</p>
<p lang="en-US">
 </p>
