
<p><i><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya tiap-tiap tasbih adalah shodaqoh, tiap-tiap tahmid adalah shodaqoh, tiap-tiap tahlil adalah shodaqoh, menyuruh kepada kebaikan adalah shodaqoh, mencegah kemungkaran adalah shodaqoh dan persetubuhan salah seorang di antara kamu (dengan istrinya) adalah shodaqoh.</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">عَنْ أَبِى ذَرٍّ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالُوا لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالأُجُورِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّى وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ. قَالَ « أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ وَفِى بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأْتِى أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ « أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Abu Dzar </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, ia berkata, “Sesungguhnya sebagian dari para sahabat Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata kepada Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya lebih banyak mendapat pahala, mereka mengerjakan shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bershodaqoh dengan kelebihan harta mereka”. Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kamu sesuatu untuk bershodaqaoh? Sesungguhnya tiap-tiap tasbih adalah shodaqoh, tiap-tiap tahmid adalah shodaqoh, tiap-tiap tahlil adalah shodaqoh, menyuruh kepada kebaikan adalah shodaqoh, mencegah kemungkaran adalah shodaqoh dan persetubuhan salah seorang di antara kamu (dengan istrinya) adalah shodaqoh “. Mereka bertanya, “ Wahai Rasulullah, apakah (jika) salah seorang di antara kami memenuhi syahwatnya, ia mendapat pahala?” Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjawab, “Tahukah engkau jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, dia berdosa. Demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia mendapat pahala”.  (HR. Muslim no. 2376)</span><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>:: PENJELASAN DAN FAEDAH HADITS</b><b> ::</b></span></p>

<h2><b>Para Shahabat Bersemangat Dalam Melakukan Kebaikan</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita dapat melihat dalam hadits ini bahwa para shahabat </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhum ajma’in</span></i><span style="font-weight: 400;"> sangat bersemangat dalam melakukan kebaikan dan saling berlomba-lomba dalam melakukan amal kebaikan dan amal sholih. Setiap di antara mereka ingin mendapatkan sebagaimana yang didapati oleh yang lainnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits ini terlihat bahwa shahabat-shahabat yang miskin mendatangi Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">. Mereka mengadukan kepada beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengenai orang-orang kaya yang sering membawa banyak pahala karena sering bersedekah dengan kelebihan harta mereka. Namun, pengaduan mereka ini bukanlah hasad (iri) dan bukanlah menentang takdir Allah. Akan tetapi, maksud mereka adalah untuk bisa mengetahui amalan yang bisa menyamai perbuatan orang-orang kaya. Shahabat-shahabat yang miskin ingin agar amalan mereka bisa menyamai orang kaya yaitu dalam hal sedekah walaupun mereka tidak memiliki harta. Akhirnya, Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> memberikan mereka solusi bahwa bacaan dzikir, amar ma’ruf nahi mungkar, dan berhubungan mesra dengan istri bisa menjadi sedekah.</span></p>
<h2><b>Marilah Gemar untuk Bersedekah</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits ini, kita dapat melihat bahwa shahabat-shahabat yang kaya gemar sekali untuk berinfak dengan kelebihan harta mereka. Untuk lebih memotivasi kita untuk banyak berinfak, kita dapat melihat pada firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Al Baqarah [2] : 261)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah permisalan yang Allah gambarkan yang menunjukkan berlipat gandanya pahala orang yang berinfak di jalan Allah dengan selalu selalu mengharap ridho-Nya. Dan ingatlah bahwa setiap kebaikan akan dibalas 10 hingga 700 kali lipat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, “Ayat ini merupakan isyarat bahwa setiap amal sholih yang dilakukan akan diiming-imingi pahala yang berlimpah bagi pelakunya. Sebagaimana Allah mengiming-imingi tanaman bagi siapa yang menanamnya di tanah yang baik (subur).”</span></p>
<h2><b>Sedekah, Tidak Hanya Berupa Harta</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dapat kita lihat dalam hadits ini bahwa suri tauladan kita –Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">– memberikan petunjuk kepada kita bahwa sedekah bukanlah hanya dengan harta sehingga orang-orang miskin pun bisa melakukannya. Di sini, Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> menyebutkan bahwa bentuk sedekah yang lainnya adalah dengan bacaan tasbih yaitu dzikir </span><i><span style="font-weight: 400;">Subhanallah</span></i><span style="font-weight: 400;">, bacaan takbir yaitu dzikir </span><i><span style="font-weight: 400;">Allahu akbar</span></i><span style="font-weight: 400;">, bacaan tahmid yaitu dzikir </span><i><span style="font-weight: 400;">Alhamdulillah</span></i><span style="font-weight: 400;">, dan bacaan tahlil yaitu dzikir </span><i><span style="font-weight: 400;">Laa ilaha illallah</span></i><span style="font-weight: 400;">. Begitu juga termasuk sedekah adalah mengajak orang lain yang lalai untuk melakukan ketaatan dan melarang orang lain dari perbuatan yang mungkar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perbuatan ini semua termasuk sedekah yang mampu dilakukan oleh orang miskin dan bisa dilakukan setiap saat. Sedangkan, orang kaya hanya mungkin dapat bersedekah pada satu waktu dan bukan setiap saat.</span></p>
<h2><b>Berhubungan Intim dengan Istri Juga Termasuk Sedekah</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits ini juga Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> menyebutkan di antara bentuk sedekah yang lain adalah jima’ (bersenggama) dengan istri.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, tatkala Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> memaparkan yang demikian, para shahabat langsung timbul tanda tanya. Bagaimana bisa seseorang mendatangi istrinya dengan syahwat termasuk sedekah?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjawab keraguan dari para shahabat ini dengan menggunakan </span><i><span style="font-weight: 400;">qiyas bil’aqsi</span></i><span style="font-weight: 400;"> (analogi yang berkebalikan). Yaitu beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan “</span><i><span style="font-weight: 400;">Tahukah engkau jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, dia berdosa. Demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia mendapat pahala.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada perkataan yang sangat bagus sekali dari An Nawawi tatkala menjelaskan makna hadits ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan, “Ketahuilah bahwa syahwat jima’ adalah syahwat yang paling disukai oleh para Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihimush sholatu was salam</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan orang-orang sholih. Mereka mengatakan,’Karena di dalam syahwat tersebut terdapat maslahat (manfaat) </span><i><span style="font-weight: 400;">diniyyah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (agama) dan </span><i><span style="font-weight: 400;">duniawiyyah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (dunia) di antaranya adalah bisa menjaga pandangan, menahan diri dari zina, bisa menghasilkan anak dan memperbanyak umat ini hingga hari kiamat. Syahwat selain jima’ lebih akan mengeraskan hati sedangkan syahwat jima’ ini lebih akan melembutkan (mententramkan) hati’.” (Dinukil dari </span><i><span style="font-weight: 400;">Ad Durotus Salafiyyah</span></i><span style="font-weight: 400;">, hal 186)</span></p>
<h2><b>Sedekah Ada yang Wajib dan Sunnah</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Macam-macam sedekah yang disebutkan di atas yaitu bacaan dzikir dan sebagainya, ada yang wajib dan sunnah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bacaan takbir, ada yang wajib dan ada yang tidak wajib. Takbiratul ihram dalam shalat termasuk kewajiban dan bacaan takbir sesudah shalat adalah anjuran (sunnah). Begitu juga dengan bacaan tahlil, tasbih, dan tahmid.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Amar ma’ruf nahi mungkar yaitu memerintahkan kepada ketaatan dan mencegah dari kemungkaran, ini juga ada yang wajib yaitu fardhu ‘ain bagi yang memiliki kemampuan dan ada yang sifatnya fardhu kifayah yaitu apabila sebagian telah melakukkannya dan mencukupi maka yang lain menjadi gugur kewajibannya, juga ada yang hukumnya mustahab (dianjurkan).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar hendaklah melihat syarat-syarat berikut ini.</span></p>
<h2><b>Syarat Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Amar ma’ruf (memerintahkan kepada ketaatan) harus memiliki dua syarat yaitu :</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pertama</span><span style="font-weight: 400;">, orang yang memerintah harus memiliki ilmu bahwa yang diperintahkan adalah suatu ketaatan. Jika dia tidak memiliki ilmu maka dia tidak boleh beramar ma’ruf. Karena apabila seseorang seseorang beramar ma’ruf padahal dia tidak mengetahui ilmunya (alias ‘jahil atau bodoh’) maka berarti dia telah berkata tentang Allah tanpa ilmu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kedua</span><span style="font-weight: 400;">, orang yang memerintah harus mengetahui bahwa orang yang diajak/diperintah telah meninggalkan suatu kewajiban. Jika yang memerintah tidak mengetahuinya, dia harus bertanya terlebih dahulu. Sebagaimana hal ini dicontohkan oleh Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">. Dari Jabir, beliau berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">دَخَلَ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالنَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَخْطُبُ فَقَالَ « أَصَلَّيْتَ » . قَالَ لاَ . قَالَ « فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ »</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Pada hari Jum’at, seorang pria memasuki masjid sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah. Lalu Nabi berkata, ‘Apakah kamu sudah shalat (tahiyatul masjid, pen)?’ Pria tadi menjawab, ‘Belum’. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Maka shalatlah (tahiyatul masjid, pen) sebanyak dua raka’at. </span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Bukhari no. 931)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka dalam hadits di atas terlihat bahwa Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> tidak memerintah langsung sebelum mengetahui apakah sudah melakukan shalat atau belum.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Begitu juga nahi mungkar atau melarang dari kemungkaran juga harus terpenuhi tiga syarat :</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pertama</span><span style="font-weight: 400;">, harus diketahui terlebih dahulu bahwa perbuatan tersebut adalah mungkar berdasarkan dalil syar’i dan bukan persangkaan atau pendapat semata. Karena terkadang manusia mengingkari orang lain padahal dia melakukan perbuatan yang disyari’atkan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kedua</span><span style="font-weight: 400;">, harus diketahui bahwa orang yang ingin dilarang telah terjatuh dalam suatu kemungkaran. Jika tidak mengetahui demikian, dia tidak boleh melarang yang lainnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Misalnya : Ada seseorang makan dan minum pada saat Ramadhan di masjid. Maka seseorang tidak boleh mengingkarinya sampai dia menanyakan terlebih dahulu, apakah orang tersebut seorang musafir atau bukan. Karena seorang musafir boleh saja makan dan minum ketika ramadhan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketiga</span><span style="font-weight: 400;">, mengingkari kemungkaran tidak sampai menimbulkan kemungkaran yang lebih besar. Jika melakukan seperti ini, maka melarang kemungkaran dalam kondisi ini menjadi haram.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menghilangkan kemungkaran ada beberapa macam yaitu :</span></p>
<ol>
<li><span style="font-weight: 400;">Bisa menghilangkan kemungkaran secara keseluruhan</span></li>
<li><span style="font-weight: 400;">Bisa meringankan kemungkaran yang ada</span></li>
<li><span style="font-weight: 400;">Berpindah menjadi kemungkaran yang semisalnya</span></li>
<li><span style="font-weight: 400;">Berpindah menjadi kemungkaran yang lebih besar</span></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika kemungkaran bisa hilang secara keseluruhan atau sebagiannya saja, maka pada kondisi ini hukum melarang kemungkaran menjadi wajib.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika kemungkaran yang dihilangkan itu berpindah kepada kemungkaran yang semisal, maka perlu ditinjau lagi. Karena ada sebagian orang yang demikian merasa ringan jika berpindah pada kemungkaran yang lainnya dan juga ada yang lebih baik jika dia tetap pada kemungkaran yang dulu dia lakukan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun jika kemungkaran yang dihilangkan malah akan menimbulkan kemungkaran yang lebih besar, maka dalam hal ini, nahi mungkar menjadi haram.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalil yang menunjukkan bahwa menghilangkan kemungkaran secara keseluruhan atau sebagian adalah wajib dapat dilihat pada firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (QS. Al Maa’idah [5] : 2)</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (QS. Ali Imron [3] : 104)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sedangkan dalil yang menunjukkan bahwa menghilangkan kemungkaran menjadi haram jika menimbulkan kemungkaran lain yang lebih besar dapat dilihat pada firman Allah,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Al An’am [6] : 108)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat ini, Allah melarang kita mencaci maki sesembahan orang musyrik padahal itu adalah perkara yang wajib. Karena jika ini dilakukan akan membawa kepada kemungkaran lebih besar yaitu orang-orang musyrik malah akan mencaci Allah yaitu Dzat yang tersucikan dari segala bentuk kekurangan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Begitu juga berhubungan dengan istri termasuk sedekah. Dan sedekah ini terkadang menjadi wajib dan terkadang cuma sekedar anjuran.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apabila seseorang takut dirinya akan terjerumus dalam zina jika tidak mendatangi istrinya maka mendatangi istrinya dalam kondisi ini menjadi wajib. Dan jika tidak seperti ini, maka hukum mendatangi istri adalah dianjurkan.</span></p>
<h2><b>Mencukupkan Diri dengan yang Halal</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari hadits ini terdapat suatu faedah yang sangat penting yaitu ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">barangsiapa mencukupkan diri dengan yang halal maka itu akan menjadi qurbah (bentuk ibadah) dan sedekah</span></i><span style="font-weight: 400;">’. Karena Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">وَفِى بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan persetubuhan salah seorang di antara kamu (dengan istrinya) adalah shodaqoh.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Muslim)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, perlu diperhatikan bahwa suatu perbuatan mubah bisa bernilai pahala jika disertai dengan niat ikhlas untuk mengharapkan wajah Allah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalil yang menunjukkan hal ini adalah sabda Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا ، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِى فِى امْرَأَتِكَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Tidaklah nafkah yang engkau cari untuk mengharapkan wajah Allah kecuali engkau akan diberi balasan karenanya, sampai apa yang engkau masukkan dalam mulut istrimu.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Bukhari no. 56)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Juga dapat dilihat pada firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. </span></i><i><span style="font-weight: 400;">Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah</span></i><i><span style="font-weight: 400;">, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. An Nisa’ [4] : 114)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">An Nawawi dalam Syarh </span><i><span style="font-weight: 400;">Muslim</span></i><span style="font-weight: 400;"> 6/16 mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">أَنَّ الْمُبَاح إِذَا قَصَدَ بِهِ وَجْه اللَّه تَعَالَى صَارَ طَاعَة ، وَيُثَاب عَلَيْهِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya perbuatan mubah, jika dimaksudkan dengannya untuk mengharapkan wajah Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">, maka dia akan berubah menjadi suatu ketaatan dan akan mendapatkan balasan (ganjaran).”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun ada catatan penting yang harus diperhatikan bahwa perkara mubah itu bisa berpahala kalau disertai dengan niat untuk mengharapkan wajah Allah. Tetapi ingat bahwa perkara mubah tersebut hanyalah sebagai sarana saja dan tidak menjadi ibadah itu sendiri.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah selalu memberikan ilmu yang bermanfaat dan memberi petunjuk untuk melakukan amal sholih. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin dan semoga Allah membalas amalan ini.</span></p>
<p><b>Referensi:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Fathul Qowil Matin, Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syarh Al Arba’in An Nawawiyyah, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syarh Al Arba’in An Nawawiyyah, Syaikh Sholih Alu Syaikh</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Shohih Tafsir Ibnu Katsir, Musthofa Al ‘Adawiy</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">dan sumber lainnya</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artikel https://rumaysho.com</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">24 Rabi’ul Awwal 1429 (bertepatan dengan hari Senin, 31-03-08)</span></p>
 