
<p><i><span style="font-weight: 400;">Bismillah. Wa bihi nasta’iinu.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saudaraku yang dirahmati Allah, bagi seorang muslim belajar ilmu agama bukan sekedar kegiatan sampingan. Kalau ada waktu dikerjakan dan kalau tidak ada ya tidak mengapa ditinggalkan. Bukan demikian! Ilmu adalah kebutuhan kita sehari-hari…</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diantara dalil yang menunjukkan hal itu adalah firman Allah, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“[Allah] Yang menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji kalian; siapakah diantara kalian yang terbaik amalnya.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al-Mulk : 2). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana telah ditafsirkan oleh para ulama bahwa yang dimaksud paling bagus amalnya adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Ikhlas yaitu jika dikerjakan karena Allah, sedangkan benar maksudnya mengikuti tuntunan Rasul </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">. Dan, tidak mungkin seorang bisa ikhlas dan mengikuti tuntunan kecuali jika berlandaskan dengan ilmu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalil yang lainnya, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda, </span><i><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya niscaya Allah pahamkan dalam agama.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini sebagaimana telah diterangkan pula oleh para ulama menunjukkan bahwa paham tentang ilmu agama adalah syarat mutlak untuk menjadi baik. </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/47202-selektif-dalam-menuntut-ilmu-agama.html" data-darkreader-inline-color="">Selektif Dalam Menuntut Ilmu Agama</a></strong></p>
<p><span style="font-size: 18pt;"><strong>Syaikh Abdul Muhsin al-’Abbad <i>hafizhahullah</i> menerangkan, diantara faidah hadits di atas adalah : </strong></span></p>
<ul>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Dorongan untuk menimba ilmu (agama) dan motivasi atasnya</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Penjelasan mengenai keutamaan para ulama di atas segenap manusia</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Penjelasan keutamaan mendalami ilmu agama di atas seluruh bidang ilmu</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Pemahaman dalam agama merupakan tanda Allah menghendaki kebaikan pada diri seorang hamba</span></li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">(lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Kutub wa Rasa’il Abdil Muhsin</span></i><span style="font-weight: 400;">, 2/59)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan demikian, ketika kita berbicara mengenai keutamaan belajar ilmu agama sesungguhnya kita sedang membahas mengenai pentingnya seorang muslim mencapai keridhaan Allah dan cinta-Nya. Karena tidak mungkin dia bisa mendapatkan kecintaan Allah dan ampunan-Nya kecuali dengan mengikuti ajaran Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">. Dan bagaimana mungkin dia akan bisa mengikuti ajaran jika dia tidak membangun agamanya di atas ilmu dan pemahaman?!</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ٣١</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Katakanlah; Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (rasul) niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al-Imran: 31)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ ٥</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan agama/amal untuk-Nya dengan hanif, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat. Dan itulah agama yang lurus.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al-Bayyinah: 5)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al-Kahfi: 110)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah juga berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَٱلۡعَصۡرِ ١  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣ </span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al-Ashr: 1-3)</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/29917-ilmu-agama-tanpa-akhlak-mulia-adalah-sia-sia.html" data-darkreader-inline-color="">Ilmu Agama Tanpa Akhlak Mulia Adalah Sia-Sia</a></strong></p>
<p><strong><span style="font-size: 18pt;">Ayat-ayat di atas dengan gamblang menunjukkan kepada kita bahwa setiap muslim harus :</span></strong></p>
<ul>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Mengikuti tuntunan Rasul </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i>
</li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Beribadah kepada Allah dengan ikhlas dan bersih dari syirik</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Melandasi amal salihnya dengan keimanan dan tauhid</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Tunduk kepada syari’at Allah, menegakkan sholat dan membayar zakat</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Menegakkan nasihat dan kesabaran</span></li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">Sementara tidak mungkin melakukan itu semuanya kecuali dengan dasar ilmu dan pemahaman.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka sekali lagi, belajar ilmu agama ini bukan kegiatan sampingan. Ini adalah kebutuhan setiap insan. Tidakkah kita ingat sabda Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">, </span><i><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu (agama) niscaya Allah akan mudahkan baginya dengan sebab itu jalan menuju surga.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Muslim)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setiap kita butuh bantuan Allah untuk bisa istiqomah dalam beragama hingga akhir hayat. Lantas bagaimana seorang hamba bisa istiqomah apabila dia tidak berpegang dengan ilmu agama?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akar atau kunci istiqomah terletak pada keistiqomahan hati; sejauh mana hati itu tunduk kepada Allah dan mengagungkan-Nya. Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda, </span><i><span style="font-weight: 400;">“Tidaklah istiqomah  iman seorang hamba sampai istiqomah hatinya.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Ahmad, dinyatakan sahih oleh al-Albani). Hadits ini menunjukkan bahwa keistiqomahan anggota badan tergantung pada keistiqomahan hati, sedangkan keistiqomahan hati adalah dengan mengisinya dengan kecintaan kepada Allah, cinta terhadap ketaatan kepada-Nya dan benci berbuat maksiat kepada-Nya (lihat mukadimah </span><i><span style="font-weight: 400;">Syarh Manzhumah fi ‘Alamati Shihhatil Qalbi</span></i><span style="font-weight: 400;">, hal. 5-6)</span></p>
<p><span style="font-size: 18pt;"><b>Mengakui Kebodohan</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnul Qayyim </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menuturkan:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beruntunglah orang yang bersikap inshof/objektif kepada Rabbnya. Sehingga dia mengakui kebodohan yang meliputi ilmu yang dia miliki. Dia pun mengakui berbagai penyakit yang berjangkit di dalam amal perbuatannya. Dia juga mengakui akan begitu banyak aib pada dirinya sendiri. Dia juga mengakui bahwa dirinya banyak berbuat teledor dalam menunaikan hak Allah. Dia mengakui betapa banyak kezaliman yang dia lakukan dalam bermuamalah kepada-Nya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apabila Allah memberikan hukuman kepadanya karena dosa-dosanya maka dia melihat hal itu sebagai bukti keadilan-Nya. Namun apabila Allah tidak menjatuhkan hukuman kepadanya dia melihat bahwa hal itu murni karena keutamaan/karunia Allah kepadanya. Apabila dia berbuat kebaikan, dia melihat bahwa kebaikan itu merupakan anugerah dan sedekah/kebaikan yang diberikan oleh Allah kepadanya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apabila Allah menerima amalnya, maka hal itu adalah sedekah kedua baginya. Namun apabila ternyata Allah menolak amalnya itu, maka dia sadar bahwa sesungguhnya amal semacam itu memang tidak pantas dipersembahkan kepada-Nya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan apabila dia melakukan suatu keburukan, dia melihat bahwa sebenarnya hal itu terjadi disebabkan Allah membiarkan dia dan tidak memberikan taufik kepadanya. Allah menahan penjagaan dirinya. Dan itu semuanya merupakan bentuk keadilan Allah kepada dirinya. Sehingga dia melihat bahwa itu semuanya membuatnya semakin merasa fakir/butuh kepada Rabbnya dan betapa zalimnya dirinya. Apabila Allah mengampuni kesalahan-kesalahannya hal itu semata-mata karena kebaikan, kemurahan, dan kedermawanan Allah kepadanya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Intisari dan rahasia dari perkara ini adalah dia tidak memandang Rabbnya kecuali selalu melakukan kebaikan sementara dia tidak melihat dirinya sendiri melainkan orang yang penuh dengan keburukan, sering bertindak berlebihan, atau bermalas-malasan. Dengan begitu dia melihat bahwasanya segala hal yang membuatnya gembira bersumber dari karunia Rabbnya kepada dirinya dan kebaikan yang dicurahkan Allah kepadanya. Adapun segala sesuatu yang membuatnya sedih bersumber dari dosa-dosanya sendiri dan bentuk keadilan Allah kepadanya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">al-Fawa’id</span></i><span style="font-weight: 400;">, hal. 36)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian sekelumit cuplikan nasihat dan renungan, mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi penulis dan segenap pembaca. </span><i><span style="font-weight: 400;">Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.</span></i><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/51246-metode-mempelajari-ilmu-agama-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Metode yang Benar dalam Mempelajari Ilmu Agama (Bag. 1)</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/50749-ilmu-agama-itu-lebih-berharga-daripada-harta-benda.html" data-darkreader-inline-color="">Ilmu Agama Itu Lebih Berharga daripada Harta Benda</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><span style="font-weight: 400;">Yogyakarta, 23 Syawwal 1441 H / 15 Juni 2020 </span></p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/ariwahyudi" data-darkreader-inline-color="">Abu Muslih Ari Wahyudi</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 