
<h3 style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Fatwa Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad <em>h</em><em>afizhahullah Ta’ala </em>[1]</strong></span></h3>
<p><strong><span style="font-size: 14pt;">Pertanyaan:</span> </strong></p>
<p>Apakah saudara-saudara Nabi Yusuf <em>‘alaihis salaam</em> adalah para Nabi?</p>
<p><strong><span style="font-size: 14pt;">Jawaban:</span> </strong></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الإجابة: نص الإجابة: ليسوا بأنبياء، وقد ذكر ذلك ابن كثير وغيره، ومعلوم أن الصفات التي ذكرها الله عنهم في القرآن تدل على أنهم ليسوا بأنبياء</span></p>
<p>Mereka bukanlah Nabi. Ibnu Katsir <strong>[2]</strong> dan ulama lain <em>Rahimahumullah </em>telah menyebutkan perkara ini. Telah diketahui bersama bahwa sifat-sifat mereka yang telah difirmankan Allah <em>Ta’ala </em>menunjukkan bahwa mereka bukanlah Nabi.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/22310-beberapa-faidah-dari-kisah-nabi-yusuf.html" data-darkreader-inline-color="">Beberapa Faidah Dari Kisah Nabi Yusuf</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/21507-manfaat-belajar-sejarah-hidup-nabi-muhammad.html" data-darkreader-inline-color="">Manfaat Belajar Sejarah Hidup Nabi Muhammad</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>[Selesai]</strong></p>
<p>Sumber: <a href="http://iswy.co/e42ls">http://iswy.co/e42ls</a></p>
<p><strong>Penerjemah: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color="">Muhammad Fadhli, ST.</span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color="">www.muslim.or.id</span></strong></p>
<p>_________________________</p>
<p><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<p><strong>[1]</strong> Beliau adalah seorang ahli hadis, ahli fikih, pengajar di masjid Nabawi asy-Syarif. Beliau juga rektor Universitas Islam Madinah periode 1384-1399 H.</p>
<p><strong>[2]</strong> Ibnu Katsir <em>Rahimahullah</em> menjelaskan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَاعْلَمْ أَنَّهُ لَمْ يَقُمْ دَلِيلٌ عَلَى نُبُوَّةِ إِخْوَةِ يُوسُفَ، وَظَاهِرُ هَذَا السِّيَاقِ يَدُلُّ عَلَى خِلَافِ ذَلِكَ، وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَزْعُمُ أَنَّهُمْ أُوحِيَ إِلَيْهِمْ بَعْدَ ذَلِكَ، وَفِي هَذَا نَظَرٌ. وَيَحْتَاجُ مُدّعي ذَلِكَ إِلَى دَلِيلٍ، وَلَمْ يَذْكُرُوا سوَى قَوْلِهِ تَعَالَى: {قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنزلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ} [الْبَقَرَةِ: 136] ، وَهَذَا فِيهِ احْتِمَالٌ؛ لِأَنَّ بُطُونَ بَنِي إِسْرَائِيلَ يُقَالُ لَهُمُ: الْأَسْبَاطُ، كَمَا يُقَالُ لِلْعَرَبِ: قَبَائِلُ، وَلِلْعَجَمِ: شُعُوبٌ؛ يَذْكُرُ تَعَالَى أَنَّهُ أَوْحَى إِلَى الْأَنْبِيَاءِ مِنْ أَسْبَاطِ بَنِي إِسْرَائِيلَ، فَذَكَرَهُمْ إِجْمَالًا لِأَنَّهُمْ كَثِيرُونَ، وَلَكِنَّ كُلَّ سِبْطٍ مِنْ نَسْلِ رَجُلٍ مِنْ إِخْوَةِ يُوسُفَ، وَلَمْ يَقُمْ دَلِيلٌ عَلَى أَعْيَانِ هَؤُلَاءِ أَنَّهُمْ أُوحِيَ إِلَيْهِمْ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.</span></p>
<p>“Ketauilah bahwa tidak ada satu dalil pun yang menunjukkan kenabian dari saudara-saudara laki-laki Nabi Yusuf <em>Alaihissalam</em>. Zahir dari rangkaian ayat-ayat ini (dalam surat Yusuf, red.) bahkan menunjukkan yang sebaliknya. Ada di antara ulama yang mengklaim bahwasanya mereka -para saudara laki-laki Nabi Yusuf <em>Alaihissalam-</em> diberi wahyu setelah itu. Pembawa argumen ini dituntut untuk mendatangkan dalil. Dan mereka tidaklah membawakan dalil kecuali firman Allah <em>Ta’ala</em> (yang artinya), <em>“Katakanlah, kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, </em>dan<em> Al-Ashbath”</em> <strong>(QS. Al-Baqarah: 136).</strong></p>
<p>Terdapat beberapa probabilitas di sini. Karena suku-suku Bani Israil memang disebut dengan <em>al-Ashbath.</em> Sebagaimana suku-suku Arab disebut dengan <em>al-Qaba’il</em> (kabilah-kabilah). Dan di kalangan ‘<em>ajam </em>(non-Arab) disebut dengan <em>syu’ub</em>. Allah <em>Ta’ala</em> menyebutkan bahwa Dia menurunkan wahyu kepada para Nabi dari <em>a</em><em>l-Ashbath </em>di kalangan Bani Israil. Maka di sini, Allah <em>Ta’ala </em>menyebutkannya secara umum saja. Dikarenakan jumlah <em>al-Ashbath</em> itu yang banyak. Dan setiap orang dari kalangan <em>al-Ashbath</em> itu memang termasuk saudara Nabi Yusuf <em>Alaihissalam</em>. Tapi tidak terdapat dalil yang menunjukkan bahwa setiap individu dari mereka diberi wahyu. <em>Wallahu a</em><em>’lam.” </em><strong>(<em>Tafsir Al-Qur’anil Azhim</em>, 4: 327, <em>Asy-Syamilah</em>)</strong></p>
 