
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Akhir-akhir ini pemberitaan tentang kejahatan korupsi semakin masif kita temui di media massa. Masyarakat pun menyikapinya dengan penuh rasa marah dan murka, karena masih sedemikian banyaknya perilaku koruptif di negeri kita. Namun sayangnya, sikap yang sama tidak kita jumpai ketika masyarakat menyikapi dosa syirik. </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">S</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">ungguh ini adalah keberhasilan setan membuat tipu daya di tengah-tengah kaum muslimin. Melalui tulisan ini, kami bermaksud untuk menjelaskan dan mendudukkan permasalahan korupsi ini sesuai dengan porsinya, sehingga kita bersikap dengan sikap yang tepat dan tidak berlebih-lebihan.</span></span></p>
<h4 lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><b>Tingkatan Dosa Korupsi Lebih Rendah daripada Dosa Syirik</b></span></h4>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Sebagaimana yang telah kita ketahui, dosa syirik (akbar) adalah dosa yang paling besar tingkatannya di sisi Allah Ta’ala. Rasulullah </span></span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">bersabda,</span></p>
<p class="arab" align="CENTER"><span lang="id-ID">« </span>أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ <span lang="id-ID">» </span>ثَلاَثًا <span lang="id-ID">. </span>قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ<span lang="id-ID">. </span>قَالَ <span lang="id-ID">«</span>الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ <span lang="id-ID">»</span></p>
<p class="sdfootnote-western" align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Maukah aku beritahukan tentang dosa besar yang paling besar?” </i></span><span lang="id-ID">Beliau mengucapkan pertanyaan ini sebanyak tiga kali. Para sahabat menjawab,</span><span lang="id-ID"><i>”Tentu wahai Rasulullah”. </i></span><span lang="id-ID">Rasulullah bersabda,</span><span lang="id-ID"><i>”</i></span><span lang="id-ID"><i><b>Syirik kepada Allah</b></i></span><span lang="id-ID"><i>, dan durhaka kepada orang tua, …”</i></span> <span lang="id-ID"><b>[1] </b></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Kemusyrikan (syirik akbar) juga merupakan salah satu pembatal Islam </span><span lang="id-ID"><i>(nawaqidhul Islam). </i></span><span lang="id-ID">Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p class="arab" lang="id-ID" align="CENTER">إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, </i></span><span lang="id-ID"><i><b>maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang dzalim itu seorang penolong pun.”</b></i></span><i> </i><span lang="id-ID">(QS. Al-Maidah [5]: 72)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Di dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala tegaskan bahwa </span><span lang="">Dia </span><span lang="id-ID">tidak akan mengampuni dosa syirik jika pelakunya tidak bertaubat sebelum meninggal dunia. Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p class="arab" lang="id-ID" align="CENTER">إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, </i></span><span lang="id-ID"><i><b>dan </b></i></span><span lang=""><i><b>D</b></i></span><span lang="id-ID"><i><b>ia mengampuni segala dosa yang tingkatannya di bawah (syirik) itu,</b></i></span><span lang="id-ID"><i> bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” </i></span><span lang="id-ID">(QS. An-Nisa’ [4]: 48)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Menyadari hal ini, maka tujuan utama setan menggoda dan menyesatkan manusia adalah agar manusia terjerumus ke dalam kemusyrikan karena yang dicari oleh setan adalah “teman” yang abadi di akhirat, yaitu di neraka. Hal ini tidaklah mungkin dicapai kecuali menjerumuskan mereka ke dalam kemusyrikan dan kekafiran yang mengeluarkan pelakunya dari agama Islam. </span><span lang=""><b>[2]</b></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Adapun dosa-dosa besar yang lainnya, seperti zina, mencuri, dan termasuk juga korupsi, maka levelnya masih berada di bawah dosa syirik, dan masih ada kemungkinan Allah Ta’ala ampuni di akhirat kelak, meskipun pelakunya belum bertaubat ketika meninggal dunia. Maka sungguh aneh ketika kita dapati kampanye besar-besaran melawan korupsi, dan menjadikannya sebagai program utama penegakan hukum, namun kita lupa (atau pura-pula lupa) terhadap dosa kesyirikan. Sampai-sampai, dosa korupsi itu diposisikan seolah-olah lebih besar tingkatannya dibandingkan dosa syirik.</span><span lang=""> Kemusyrikan dibiarkan dan ditoleransi, dan hanya korupsi yang diberantas.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Realita yang sangat menyedihkan di antara kaum muslimin, </span><span lang="">kita lihat </span><span lang="id-ID">betapa marahnya mereka ketika melihat dosa korupsi diberitakan. Namun, hati siapakah yang marah dan murka ketika melihat hak Allah Ta’ala dilanggar dengan </span><span lang="">adanya ke</span><span lang="id-ID">syirik</span><span lang="">an</span><span lang="id-ID">? Marahkah kita ketika melihat kubur wali disembah, ketika nasi tumpeng dijadikan rebutan untuk diambil berkahnya</span><span lang="">, dan paranormal yang bebas beraksi di televisi</span><span lang="id-ID">? Sayangnya, bukannya marah, justru kita sendiri yang ikut larut menyaksikan acara-acara tersebut di televisi tanpa muncul rasa marah sedikit pun. </span><span lang="id-ID">Demikianlah, kemarahan dan kebencian hati kita ketika melihat kesyirikan mungkin masih kalah jauh daripada rasa marah kita ketika melihat berita tentang korupsi.</span></p>
<h4 lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><b>Jangan Lupa, Ada yang Lebih Penting daripada Memerangi Korupsi</b></span></h4>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Sedemikian dahsyatnya dosa syirik, maka kita dapati teladan kita</span><span lang="">,</span><span lang="id-ID"> Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">menjadikan dakwah tauhid dan memerangi kemusyrikan sebagai prioritas utama beliau dalam berdakwah sebelum menyeru kepada perintah-perintah syariat yang lainnya. </span><span lang="id-ID">Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">menyerukan kepada umatnya,</span></p>
<p class="arab" lang="id-ID" align="CENTER">يَا أَيُّهَا النَّاسُ قُولُوا لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ تُفْلِحُوا</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Wahai manusia, katakanlah ‘laa ilaaha illallah’, niscaya kalian akan beruntung.” </i></span><span lang="id-ID"><b>[</b></span><span lang=""><b>3</b></span><span lang="id-ID"><b>]</b></span><i> </i></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Demikian pula dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari </span><span lang="id-ID">‘Amr bin ‘Abasah As-Sulami </span><span lang="id-ID"><i>radhiyallahu ‘anhu, </i></span><span lang="id-ID">beliau berkata, </span><span lang="id-ID"><i>”Saat aku di masa jahiliyyah, aku menyangka bahwa manusia berada dalam kesesatan. Mereka tidaklah memiliki sesuatu apa pun, mereka menyembah berhala. Aku pun mendengar ada seorang laki-laki di Mekah yang menyampaikan berita-berita. Maka aku pun pergi ke sana dan mendatanginya. Saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersembunyi dari kejahatan kaumnya. Aku pun berjalan perlahan sampai bisa menemuinya di Mekah. Kemudian aku bertanya kepada beliau,’Siapakah Engkau?’ Beliau berkata,’Aku seorang Nabi’. Aku bertanya,’Apakah Nabi itu?’ Beliau menjawab,’Aku diutus oleh Allah’. Aku bertanya lagi,’Dengan apa Engkau diutus?’ Maka beliau menjawab,</i></span></p>
<p class="arab" lang="id-ID" align="CENTER">أَرْسَلَنِى بِصِلَةِ الأَرْحَامِ وَكَسْرِ الأَوْثَانِ وَأَنْ يُوَحَّدَ اللَّهُ لاَ يُشْرَكُ بِهِ شَىْءٌ</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Aku diutus untuk menyambung tali persaudaraan, menghancurkan berhala, dan </i></span><span lang="id-ID"><i><b>agar mentauhidkan Allah serta tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.</b></i></span><span lang="id-ID"><i>” </i></span><span lang="id-ID"><b>[</b></span><span lang=""><b>4</b></span><span lang="id-ID"><b>] </b></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Maka jelaslah bahwa dakwah tauhid menjadi prioritas pertama dan utama beliau </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">dalam berdakwah. Hati dan pikiran beliau tidak akan merasa tenang dan damai, sampai hanya Allah Ta’ala saja yang disembah di muka bumi ini dan seluruh kesyirikan telah berhasil dilenyapkan. Pada masa kejayaan Islam, pernah sampai berita kepada Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">bahwa ada sebuah berhala (Dzul Khalashah) yang masih eksis dan disembah di daerah Khats’am negeri Yaman dan dijuluki dengan “Ka’bah Yaman</span><span lang="">i</span><span lang="id-ID">”. Mendengar berita itu, Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">bersabda kepada Jarir bin Abdillah Al-Bajaly </span><span lang="id-ID"><i>radhiyallahu ‘anhu,</i></span></p>
<p class="arab" lang="id-ID" align="CENTER">أَلاَ تُرِيحُنِى مِنْ ذِى الْخَلَصَةِ</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Tidakkah Engkau melegakanku dari (berhala) Dzul Khalashah?”</i></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Jarir bin Abdillah Al-Bajaly kemudian berangkat ke negeri Yaman dengan 150 pasukan berkuda dari kaum Ahmas dan berhasil menghancurkan berhala tersebut dengan cara dibakar. </span><span lang="id-ID"><b>[</b></span><span lang=""><b>5</b></span><span lang="id-ID"><b>] </b></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Ketika mengomentari perkataan Nabi,</span><span lang="id-ID"><i>”Tidakkah Engkau melegakanku …”, </i></span><span lang="id-ID">Ibnu Hajar Al-‘Asqalani </span><span lang="id-ID"><i>rahimahullah </i></span><span lang="id-ID">berkata,</span></p>
<p class="arab" lang="id-ID" align="CENTER">وَالْمُرَاد بِالرَّاحَةِ رَاحَة الْقَلْب ، وَمَا كَانَ شَيْء أَتْعَبَ لِقَلْبِ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ بَقَاء مَا يُشْرَك بِهِ مِنْ دُون اللَّه تَعَالَى</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Yang dimaksud dengan kelegaan di sini adalah kelegaan hati. </i></span><span lang="id-ID"><i><b>Dan tidak ada sesuatu yang lebih memberatkan hati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada tetap eksisnya sesembahan yang disembah selain Allah Ta’ala.</b></i></span><span lang="id-ID"><i>” </i></span><span lang="id-ID"><b>[</b></span><span lang=""><b>6</b></span><span lang="id-ID"><b>]</b></span><i> </i></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Lalu bagaimana mungkin, kita justru disibukkan dengan wacana perang terhadap korupsi, sedangkan </span><span lang="">hati </span><span lang="id-ID">kita tidak tergerak </span><span lang="">dan tidak terpanggil </span><span lang="id-ID">sedikit</span> <span lang="id-ID">pun untuk menyatakan perang memberantas kesyirikan yang masih merajalela di negeri ini? </span><span lang="">Dan juga tidak tergerak untuk menyelamatkan kaum muslimin dari dosa syirik? </span><span lang="id-ID">Maka sungguh jauhlah kita dari teladan Nabi </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</i></span><span lang="id-ID"> Dan sungguh setan telah berhasil memperdaya kita. </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Bukanlah maksud kita dengan uraian ini bahwa dosa korupsi tidak perlu atau tidak penting untuk diberantas. Akan tetapi, hendaknya kita menempatkan segala sesuatu sesuai dengan porsinya masing-masing. Ketika kita memiliki perhatian yang sangat besar terhadap korupsi dan berupaya sekuat tenaga untuk mengampanyekan perilaku “anti-korupsi”, maka perhatian dan upaya yang jauh lebih besar juga harus kita tunjukkan untuk memerangi dosa syirik. Jangan sampai kita tertipu oleh </span><span lang="">makar dan </span><span lang="id-ID">tipu daya setan, sehingga kita lebih perhatian terhadap sesuatu yang kurang urgen, namun lupa terhadap masalah yang lebih urgen dan lebih mendesak untuk diselesaikan.</span><span lang=""> Ketika setan menjadikan syirik sebagai tujuan utama “dakwah”-nya, maka hal ini harus kita lawan dengan menjadikan tauhid dan memberantas syirik sebagai tujuan utama dakwah kita.</span></p>
<h4 lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><b>Menyikapi Koruptor, Antara Cinta dan Benci</b></span></h4>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Salah kaprah berikutnya adalah bagaimana kita menyikapi pelaku korupsi. Kita dapati sebagian di antara saudara kita yang juga tidak proporsional menyikapi pelaku korupsi. Ketika melihat saudaranya yang muslim melakukan tindak pidana korupsi, maka dia sangat membencinya, dengan kebencian setinggi langit, sehingga seolah-olah tidak ada kebaikan sama sekali pada saudaranya muslim tersebut, padahal dia masih beriman (masih muslim). Rasa cinta kepada saudaranya tersebut pun seakan-akan hilang tidak tersisa. </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">Dan bukannya mendoakan saudaranya dengan hidayah dan kebaikan, namun justru diolok-olok dan direndahkan, misalnya dengan dibuat “meme” di media sosial, dan sebagainya. </span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Sebaliknya, ketika ada pemimpin atau pejabat non-muslim yang (dicitrakan) bersih dari korupsi, maka dia sanjung dan dia puji setinggi langit, sampai-sampai rela memberikan kecintaan dan loyalitas </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">(wala’) </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">kepadanya. Dia berikan kecintaan dan loyalitas kepada orang-orang non-muslim tersebut, hanya karena (dianggap) bersih dari korupsi. Sampai-sampai muncullah slogan bahwa pemimpin non-muslim yang bersih dari korupsi itu lebih baik daripada pemimpin muslim yang korupsi (??). </span></span></p>
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Padahal, semulia apapun orang non-muslim dengan akhlak dan perilakunya di dunia, Allah Ta’ala telah tegaskan bahwa mereka adalah makhluk di muka bumi ini yang paling jelek. Lupakah (??) kita dengan firman Allah Ta’ala,</span></p>
<p class="arab" lang="id-ID" align="CENTER">إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Sesungguhnya orang-orang yang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik, (akan masuk) ke neraka jahannam. Mereka kekal di dalamnya. </i></span><span lang="id-ID"><i><b>Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.”</b></i></span><i> </i><span lang="id-ID">(QS. Al-Bayyinah</span><span lang=""> [98]</span><span lang="id-ID">: 6)</span></p>
<p lang="" align="JUSTIFY">Mereka adalah seburuk-buruk makhluk karena tidak memiliki akhlak sama sekali terhadap Allah Ta’ala, meskipun mereka tampak berakhlak mulia di hadapan manusia. Dan di akhirat, hal itu tidak akan bisa menyelamatkannya dari adzab neraka.</p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Orang-orang non-muslim, baik orang kafir atau orang musyrik, tidak boleh kita cintai sama sekali dan harus kita benci. Kita tidak boleh memberikan loyalitas (wala’) kepada mereka. </span></span><span lang="id-ID">Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">berfirman,</span></p>
<p class="arab" align="CENTER">تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ</p>
<p align="JUSTIFY">”<span lang="id-ID"><i>Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). </i></span><span lang="id-ID"><i><b>Sungguh amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka sendiri, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka, dan mereka akan kekal dalam siksaan.</b></i></span><span lang="id-ID"><i>” </i></span><span lang="id-ID">(QS. Al-Maidah [5]: 80)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Allah pun melarang kita untuk menjadikan orang-orang non-muslim sebagai pemimpin, tanpa memberikan pengecualian apa pun, misalnya “kecuali mereka itu bersih dari korupsi”. Allah </span><span lang="">Ta’ala </span><span lang="id-ID">tidak memberikan pengecualian</span><span lang=""> s</span><span lang="id-ID">ama sekali. Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">berfirman,</span></p>
<p lang="id-ID" align="CENTER">يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصارى أَوْلِياءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِياءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Hai orang-orang yang beriman, </i></span><span lang="id-ID"><i><b>janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu).</b></i></span><span lang="id-ID"><i> Sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. </i></span><span lang="id-ID"><i><b>Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.</b></i></span><span lang="id-ID"><i>” </i></span><span lang="id-ID">(QS. Al-Maidah [5]: 51)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Adapun orang-orang </span><span lang="">(pejabat) </span><span lang="id-ID">muslim yang melakukan maksiat dan dosa besar yang levelnya di bawah kemusyrikan, seperti dosa korupsi, maka tidak boleh kita benci secara mutlak</span><span lang=""> atau kita benci 100%</span><span lang="id-ID">. Yang benar, mereka kita cintai karena adanya keimanan dalam diri mereka, namun kita benci atas tindakan maksiat (korupsi) yang mereka lakukan. Sehingga terkumpul dalam diri kita rasa cinta sekaligus rasa benci kepada mereka. Kita tidak boleh membenci mereka saja, dan tidak mencintainya sama sekali, bahkan berlepas diri dari mereka. Sikap seperti ini adalah sikap yang berlebih</span><span lang="">-lebih</span><span lang="id-ID">an dan tidak proporsional. </span><span lang="id-ID"><b>[</b></span><span lang=""><b>7</b></span><span lang="id-ID"><b>]</b></span></p>
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY">Demikianlah pembahasan tentang bagaimana kita menyikapi dosa korupsi dan pelakunya dengan tepat da proporsional. Semoga bermanfaat untuk kaum muslimin.</p>
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY">***</p>
<p lang="id-ID" align="LEFT">Selesai disusun Ahad sore menjelang maghrib, Masjid Nasuha Rotterdam NL, 10 Jumadil Ula 1436</p>
<p lang="id-ID" align="LEFT">Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,</p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Penulis:</span><b> </b><span lang="id-ID">M. Saifudin Hakim</span></p>
<h5 class="sdfootnote-western" lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><b>Catatan kaki:</b></span></h5>
<p class="sdfootnote-western" align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">[1] </span></span><span lang="id-ID">HR. Bukhari no. 2654 dan Muslim no. 269.</span></p>
<p class="sdfootnote-western" lang="" align="JUSTIFY">[2] Silakan sibaca kembali tulisan kami tentang “<em>Tujuan Utama Dakwah Setan</em>” di:</p>
<p class="sdfootnote-western" lang="" align="JUSTIFY">https://muslim.or.id/aqidah/tujuan-utama-dakwah-setan.html</p>
<p class="sdfootnote-western" align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">[</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">3</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">] </span></span><span lang="id-ID">HR. Ahmad no. 16066. Syaikh Syu’aib Arnauth dalam </span><span lang="id-ID"><i>ta’liq</i></span><span lang="id-ID"> beliau terhadap </span><span lang="id-ID"><i>Musnad Imam Ahmad </i></span><span lang="id-ID">(3/492) menyatakan bahwa status hadits ini adalah </span><span lang="id-ID"><i>shahih li ghairihi.</i></span></p>
<p class="sdfootnote-western"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">[</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">4</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">] </span></span><span lang="id-ID">HR. Muslim no. 1967, hadits di atas adalah potongan dari hadits yang panjang.</span></p>
<p class="sdfootnote-western"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">[</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">5</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">] </span></span><span lang="id-ID">HR. Bukhari no. 3076 dan Muslim no. 6521.</span></p>
<p class="sdfootnote-western"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">[</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">6</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">] </span></span><span lang="id-ID"><i>Fathul Baari,</i></span><span lang="id-ID"> 12/165</span><span lang=""> (Maktabah Syamilah).</span></p>
<p class="sdfootnote-western"><span lang="id-ID">[</span><span lang="">7</span><span lang="id-ID">] Silakan disimak tulisan kami sebelumnya tentang <em>al-wala’ wal bara’</em> di:</span></p>
<p class="sdfootnote-western" lang="id-ID">http://muslimah.or.id/aqidah/perayaan-natal-dan-aqidah-al-wala-wal-al-bara-yang-dianggap-usang-1.html</p>
<p class="sdfootnote-western" lang="id-ID">Artikel Muslim.Or.Id</p>
 