
<p><span style="font-weight: 400;">Islam adalah agama yang sempurna, yang mengatur setiap sendi kehidupan manusia. Urusan yang besar maupun yang kecil, kita temukan bimbingan Islam di dalamnya. Dalam tulisan singkat ini, kami akan membahas masalah rincian hukum tepuk tangan.</span></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Ibadah Orang-Orang Musyrik Jahiliyyah dengan Bertepuk Tangan</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Tepuk tangan merupakan salah tata cara ibadah orang-orang musyrik jajiliyyah. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلَّا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sembahyang mereka di sekitar baitullah itu, </span><b>tidak lain hanyalah siulan dan tepukan tangan.</b><span style="font-weight: 400;"> Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.” </span><b>(QS. Al-Anfaal [8]: 35)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibadah orang-orang musyrik di baitullah, berupa siulan dan tepuk tangan, mereka sebut dengan istilah “shalat” untuk mendekatkan diri kepada Allah <em>Ta’ala.</em> Inilah hasil dari tipu daya setan atas mereka, yang menghias-hiasi perbuatan yang mereka lakukan sehingga tampak sebagai sebuah kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah <em>Ta’ala.</em> Padahal, setiap ibadah haruslah berdasarkan tuntunan dari syariat, bukan hasil kreativitas dan olah pikir inovasi manusia. </span><b>[1]</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/24040-budaya-suap-tradisi-mendarah-daging-bangsa-yahudi.html" data-darkreader-inline-color="">Budaya Suap: Tradisi Mendarah Daging Bangsa Yahudi</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Rincian Hukum Tepuk Tangan </span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Berdasarkan ayat di atas, sebagian ulama mengatakan bahwa hukum tepuk tangan itu haram secara mutlak, karena mengandung unsur menyerupai </span><b><i>(tasyabbuh)</i></b><span style="font-weight: 400;"> dengan orang-orang musyrik. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dari ayat tersebut dapat diambil kesimpulan haramnya dua perkara ini, yaitu siulan dan tepuk tangan, </span><b>meskipun seseorang tidak memaksudkannya dalam rangka ibadah.</b><span style="font-weight: 400;"> Hal ini karena perbuatan tersebut merupakan bentuk tasyabbuh dengan orang-orang musyrik.” </span><b>[2]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tepuk tangan hanya dibolehkan untuk kaum wanita, itu pun hanya jika ada </span><i><span style="font-weight: 400;">hajat </span></i><span style="font-weight: 400;">(kebutuhan). Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tepuk tangan hanyalah dibolehkan oleh Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">untuk wanita secara khusus ketika ada </span><i><span style="font-weight: 400;">hajat. </span></i><span style="font-weight: 400;">Misalnya, mengingatkan imam ketika lupa dalam shalat. Hal ini karena dalam suara wanita -dalam kondisi ada kaum laki-laki- termasuk fitnah. Tidak boleh bagi kaum laki-laki untuk </span><i><span style="font-weight: 400;">tasyabbuh </span></i><span style="font-weight: 400;">dengan orang kafir, demikian pula dengan kaum wanita, dalam masalah tepuk tangan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika tepuk tangan bagi laki-laki itu tidak diperbolehkan meskipun ada </span><i><span style="font-weight: 400;">hajat, </span></i><span style="font-weight: 400;">yaitu mengingatkan imam jika lupa dalam shalat (karena kaum laki-laki hanyalah mengingatkan imam dengan mengucapkan tasbih), maka lebih-lebih lagi tidak boleh tepuk tangan jika tidak ada kebutuhan. Sehingga penjelasan ini adalah bantahan untuk kaum laki-laki yang bertepuk tangan dalam pertemuan-pertemuan, karena tasyabbuh dengan orang-orang kafir.” </span><b>[3]</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/7831-soal-220-apa-hukum-melakukan-acara-syirik-dengan-alasan-budaya.html" data-darkreader-inline-color="">Apa Hukum Melakukan Acara Syirik Dengan Alasan Budaya?</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diperbolehkannya tepuk tangan bagi wanita ketika shalat adalah berdasarkan hadits dari sahabat Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">التَّسْبِيحُ لِلرِّجَالِ، وَالتَّصْفِيقُ لِلنِّسَاءِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ucapan tasbih hanyalah buat laki-laki, sedangkan bertepuk tangan buat wanita.” </span><b>(HR. Bukhari no. 1203 dan Muslim no. 422)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari sahabat Sahal bin Sa’ad As-Sa’idi </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَا لِي رَأَيْتُكُمْ أَكْثَرْتُمُ التَّصْفِيقَ، مَنْ رَابَهُ شَيْءٌ فِي صَلاَتِهِ، فَلْيُسَبِّحْ فَإِنَّهُ إِذَا سَبَّحَ التُفِتَ إِلَيْهِ، </span><span style="font-size: 21pt;">وَإِنَّمَا التَّصْفِيقُ لِلنِّسَاءِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Mengapa kalian tadi banyak bertepuk tangan? Barangsiapa menjadi makmum lalu merasa ada kekeliruan dalam shalat, hendaklah dia membaca tasbih. Karena jika dibacakan tasbih, dia (imam) akan memperhatikannya. Sedangkan tepuk tangan itu untuk wanita.” </span><b>(HR. Bukhari no. 684 dan Muslim no. 421)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akan tetapi, pendapat yang lebih tepat adalah memberikan rincian terkait dengan hukum tepuk tangan, tidak mutlak haram untuk kaum laki-laki sebagaimana penjelasan di atas. Oleh karena itu, yang lebih tepat adalah memberikan rincian sebagai berikut. Rincian ini diberikan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">dalam syarh beliau untuk kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Iqtidha’ Shirathal Mustaqim </span></i><span style="font-weight: 400;">karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah.</span></i></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/47974-hukum-berbicara-ketika-makan.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Berbicara Ketika Makan</a></strong></p>
<h3><strong><span style="font-size: 18pt;">Tepuk Tangan dalam Rangka Ibadah</span></strong></h3>
<p><b>Jika dalam rangka ibadah, maka haram, karena termasuk bid’ah. </b><span style="font-weight: 400;">Contoh menjadikan tepuk tangan sebagai bagian dari ibadah adalah yang kita jumpai dari para pengikut </span><i><span style="font-weight: 400;">thariqat shufiyyah</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang bertepuk tangan ketika mereka mengamalkan dzikir-dzikir kepada Allah Ta’ala.</span></p>
<h3><strong><span style="font-size: 18pt;">Tepuk Tangan dalam Rangka Bersenang-Senang</span></strong></h3>
<p><b>Menjadikan tepuk tangan sebagai bagian dari permainan dan senang-senang. </b><span style="font-weight: 400;">Perbuatan semacam ini menyelisihi (merusak) </span><i><span style="font-weight: 400;">muru’ah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (nama baik atau kehormatan) seseorang. Termasuk dalam masalah ini adalah budaya tepuk tangan wanita di sebagian bangsa Arab setelah akad nikah. Namun ada catatan bahwa standar </span><i><span style="font-weight: 400;">muru’a</span></i><span style="font-weight: 400;">h itu berbeda-beda seiring dengan perbedaan negeri, jaman, dan status (kedudukan) seseorang. Sebagaimana pada jaman dahulu, makan di warung pinggir jalan merupakan perbuatan yang dinilai menodai </span><i><span style="font-weight: 400;">muru’ah</span></i><span style="font-weight: 400;"> seorang penuntut ilmu </span><i><span style="font-weight: 400;">(thalibul ‘ilmi).</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, jika tepuk tangan dalam permainan itu tidak merusak </span><i><span style="font-weight: 400;">muru’ah</span></i><span style="font-weight: 400;"> seseorang di suatu jaman atau negeri tertentu, maka hal ini tidak mengapa. Namun jika dinilai merusak atau menodai </span><i><span style="font-weight: 400;">muru’ah, </span></i><span style="font-weight: 400;">maka selayaknya tidak dilakukan. Misalnya, seorang </span><i><span style="font-weight: 400;">thalibul ‘ilmi </span></i><span style="font-weight: 400;">yang bermain dengan loncat-loncat dan tepuk tangan, bisa jadi hal itu menodai </span><i><span style="font-weight: 400;">muru’ah</span></i><span style="font-weight: 400;">-nya sebagai seorang </span><i><span style="font-weight: 400;">thalibul ‘ilmi.</span></i></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/47057-adab-adab-berpakaian-bagi-muslim-dan-muslimah.html" data-darkreader-inline-color="">Adab-Adab Berpakaian Bagi Muslim Dan Muslimah</a></strong></p>
<h3><strong><span style="font-size: 18pt;">Tepuk Tangan yang Menyelisihi Syariat</span></strong></h3>
<p><b>Tepuk tangan yang menyelisihi perintah Nabi </b><b><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </i></b><span style="font-weight: 400;">Misalnya, seorang laki-laki yang tepuk tangan untuk mengingatkan imam dalam shalat. Maka hal ini terlarang karena menyelisihi petunjuk Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam.</span></i></p>
<h3><strong><span style="font-size: 18pt;">Tepuk Tangan dalam Rangka Menyemangati</span></strong></h3>
<p><b>Jika dalam rangka menyemangati dan memberikan motivasi (agar makin semangat dalam suatu perlombaan), maka tidak masalah (boleh). Demikian juga untuk menunjukkan sikap setuju dengan orasi yang dia dengar.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tepuk tangan dengan tujuan semacam ini satu hal yang dibenci oleh sebagian ulama. Karena asal muasalnya adalah budaya yang diimpor dari luar kaum muslimin. Sehingga sepatutnya tidak dilakukan, namun kita tidak berani mengatakan hukumnya makruh ataupun haram karena hukum syar’i itu dibangun di atas dalil.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">ditanya tentang tepuk tangan untuk memberikan semangat bagi anak-anak sekolah dan selain mereka, apakah hal itu termasuk dalam tepuk tangan yang tercela?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Ibnu ‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">kemudian menjawab,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لا بأس في التصفيق في هذه المناسبات للتشجيع . والتصْدِية المذكورة في الآية (وَمَا كَانَ صَلاَتُهُمْ عِندَ الْبَيْتِ إِلاَّ مُكَاء وَتَصْدِيَةً) تتعلق بالعبادة فهي محرمة ممنوعة فيها أما ما يقع في الحفلات فليس من هذا الباب كما ظهر لنا .</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidak masalah dengan tepuk tangan dalam kondisi ini untuk memberikan semangat (motivasi). Adapun tepuk tangan yang disebutkan dalam ayat (yang artinya), “Sembahyang mereka di sekitar baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan” (QS. Al-Anfaal [8]: 35), </span><b>maka hal itu berkaitan dengan (menjadikannya sebagai) ibadah.</b><span style="font-weight: 400;"> Dalam kondisi tersebut (dijadikan sebagai ibadah), maka haram dan terlarang. Adapun tepuk tangan yang terjadi dalam perkumpulan-perkumpulan, maka tidak termasuk dalam bab ini (ibadah) sebagaimana yang tampak dalam pandangan kami.” </span><b>[4]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terkait dengan masalah </span><i><span style="font-weight: 400;">tasyabbuh,</span></i><span style="font-weight: 400;"> sesuatu yang telah tersebar di tengah-tengah kaum muslimin dan selain mereka, hal itu berarti tidak lagi menjadi ciri khas orang-orang kafir. Sehingga tidak tepat kalau dinilai tasyabbuh dengan mereka. </span><b>[5]</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/46445-muslim-itu-punya-prinsip-tidak-ikut-ikutan.html" data-darkreader-inline-color="">Muslim Itu Punya Prinsip, Tidak Ikut-ikutan</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/45831-apakah-orang-kafir-terkena-kewajiban-syariat-bag-2.html" data-darkreader-inline-color="">Apakah Orang Kafir Terkena Kewajiban Syariat?</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 24 Dzulqa’dah 1440/21 Juli 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color=""> Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><b>Catatan Kaki</b></span></h2>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Lihat </span><b><i>Syarh Al-Masail Al-Jahiliyyah </i></b><span style="font-weight: 400;">hal. 104, karya Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullah.</span></i></p>
<p><b>[2] </b><span style="font-weight: 400;">Idem., hal. 105.</span></p>
<p><b>[3] </b><span style="font-weight: 400;">Idem., hal. 105.</span></p>
<p><b>[4] </b><b><i>Tsamaraatu At-Tadwiin min Masaaili Ibnu ‘Utsaimin, </i></b><span style="font-weight: 400;">1: 127 (Maktabah Asy-Syamilah)</span></p>
<p><b>[5] </b><span style="font-weight: 400;">Idem., 1: 127 (Maktabah Asy-Syamilah)</span></p>
 