
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/47559-rincian-hukum-tauriyah-bag-1.html" data-darkreader-inline-color=""> Rincian Hukum Tauriyah (Bag. 1)</a></span></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Rincian hukum </b><b><i>tauriyah</i></b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam pembahasan sebelumnya telah kami sebutkan dalil-dalil yang menunjukkan diperbolehkannya </span><i><span style="font-weight: 400;">tauriyah. </span></i><span style="font-weight: 400;">Namun, bukan berarti bahwa hukumnya diperbolehkan secara mutlak dalam semua keadaan. Hal ini karena hukum ucapan itu sesuai dengan hukum tujuan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, terdapat rincian hukum </span><i><span style="font-weight: 400;">tauriyah </span></i><span style="font-weight: 400;">dengan menimbang maksud atau tujuan si pembicara. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullahu Ta’ala.</span></i></p>
<h3><span style="font-size: 19pt;"><b>Pertama, </b><b><i>tauriyah </i></b><b>yang hukumnya haram. </b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Yaitu </span><i><span style="font-weight: 400;">tauriyah </span></i><span style="font-weight: 400;">yang mengantarkan kepada kebatilan, baik diambilnya hak orang lain tanpa alasan yang dibenarkan, atau untuk berkelit dari kewajiban yang seharusnya dia tunaikan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Misalnya, seorang pegawai bolos kerja karena malas ke kantor. Keesokan harinya, dia ditanya oleh bosnya ketika sudah masuk kerja kembali, dan menjawab, “Saya sakit.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Si bos memahami bahwa dia betul-betul sakit sehingga bisa dimaklumi ketika kemarin tidak masuk kerja. Padahal, si pegawai sedang ber-</span><i><span style="font-weight: 400;">tauriyah </span></i><span style="font-weight: 400;">karena yang dia maksud adalah “sakit panu”, penyakit yang seharusnya tidak menghalangi masuk kerja. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">tauriyah </span></i><span style="font-weight: 400;">yang haram, karena mengantarkan kepada kebatilan, yaitu tidak adanya amanah.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/31807-hukum-bersumpah-atas-nama-kabah.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Bersumpah atas Nama Ka’bah</a></strong></p>
<h3><span style="font-size: 19pt;"><b>Kedua, </b><b><i>tauriyah </i></b><b>yang hukumnya wajib. </b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Yaitu </span><i><span style="font-weight: 400;">tauriyah </span></i><span style="font-weight: 400;">yang mengantarkan kepada kewajiban atau untuk mencegah kedzaliman. Contoh </span><i><span style="font-weight: 400;">tauriyah </span></i><span style="font-weight: 400;">semacam ini telah kami sebutkan di awal seri tulisan ini, yaitu tentang adanya seseorang yang ingin mendzalimi orang lain. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Juga </span><i><span style="font-weight: 400;">tauriyah </span></i><span style="font-weight: 400;">yang dilakukan oleh para ulama untuk menghindar dari kedzaliman penguasa. Pada masa fitnah Al-Qur’an adalah makhluk, para ulama ahlus sunnah dipaksa untuk mengatakan ucapan kekafiran bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, dan jika tidak mau, mereka akan disiksa atau dibunuh.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu datanglah sejumlah pasukan ke salah seorang ulama, dan beliau pun melakukan </span><i><span style="font-weight: 400;">tauriyah. </span></i><span style="font-weight: 400;">Sang ulama mengatakan, “Al-Qur’an, Taurat, Injil, Zabur, semuanya ini adalah makhluk.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika mengatakan, “Semuanya ini adalah makhluk”; beliau sambil memegang empat jari tangan kiri dengan tangan kanan. Sehingga yang beliau maksud sebenarnya adalah “Semua jari ini adalah makhluk, adapun Al-Qur’an, Taurat, Injil, Zabur, itu bukan makhluk.”</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Tauriyah </span></i><span style="font-weight: 400;">semacam ini hukumnya wajib, karena dengannya jiwa manusia dapat terhindar dari kedzaliman.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/25764-fatwa-ulama-bersumpah-dengan-mengatakan-demi-rasulullah.html" data-darkreader-inline-color="">Bersumpah Dengan Mengatakan “Demi Rasulullah”</a></strong></p>
<h3><span style="font-size: 19pt;"><b>Ketiga, </b><b><i>tauriyah </i></b><b>yang hukumnya diperbolehkan karena adanya maslahat atau karena ada hajat (kebutuhan). </b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika ada kebutuhan atau maslahat tertentu yang ingin dicapai, maka tidak mengapa melakukan </span><i><span style="font-weight: 400;">tauriyah.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Contoh </span><i><span style="font-weight: 400;">tauriyah </span></i><span style="font-weight: 400;">model ini adalah kisah Imam Ahmad </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullahu Ta’ala. </span></i><span style="font-weight: 400;">Ketika itu, beliau kedatangan tamu, yaitu Al-Maruzi. Lalu ada seseorang yang mencari Al-Maruzi sampai ke rumah Imam Ahmad. Namun Al-Maruzi menyampaikan ke Imam Ahmad bahwa dia tidak ingin menemui orang tersebut dengan sebab (alasan) tertentu. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu Imam Ahmad pergi menemui orang yang mencari Al-Maruzi tersebut dan berkata, “Al-Maruzi tidak ada di sini, buat apa Al-Maruzi ada di sini?”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam Ahmad mengatakan hal itu sambil berisyarat dengan tangannya. Sehingga makna yang dimaksud oleh Imam Ahmad adalah, “Al-Maruzi tidak ada di tanganku ini, buat apa dia ada di tanganku ini?” Namun makna yang ditangkap oleh si pencari Al-Maruzi adalah bahwa Al-Maruzi tidak ada di rumah Imam Ahmad.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/20385-fatwa-ulama-bersumpah-sambil-memegang-al-quran.html" data-darkreader-inline-color="">Bersumpah Sambil Memegang Al Qur’an</a></strong></p>
<h3><span style="font-size: 19pt;"><b>Keempat, </b><b><i>tauriyah </i></b><b>yang sekedar main-main, tidak ada kebutuhan, dan juga tidak mengantarkan kepada kebatilan. </b></span></h3>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Tauriyah </span></i><span style="font-weight: 400;">semacam ini diperselisihkan oleh para ulama tentang boleh atau tidaknya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullahu Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah tidak diperbolehkan. Hal ini karena </span><i><span style="font-weight: 400;">tauriayh </span></i><span style="font-weight: 400;">itu sisi lahiriyahnya menyelisihi maksud sebenarnya. Sehingga masih terdapat unsur kebohongan dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">tauriyah. </span></i><span style="font-weight: 400;">Dan juga, terdapat sisi jelek dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">tauriyah </span></i><span style="font-weight: 400;">yang sekedar main-main saja. Yaitu, ketika seseorang mengetahui bahwa jika secara kenyataan apa yang diucapkan oleh seseorang itu berbeda dengan makna yang dia pahami, hal ini akan menyebabkan si pengucap tersebut bisa dituduh berdusta dan tidak bisa dipercaya, juga menimbulkan buruk sangka kepadanya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akan tetapi, yang dipilih oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullahu Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah tidak mengapa, jika kadang-kadang dilakukan, lebih-lebih jika mengabarkan kepada sahabatnya tentang perkara di masa mendatang. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Misalnya, sahabat kita mengatakan, “Kapan ke rumah?” Kita katakan, “Besok.” Padahal yang kita maksud dengan “besok” itu tidak terbatas, tidak dalam waktu dekat ini. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sejenis dengan ini adalah kisah Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersama ‘Umar bin Khaththab </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">ketika di masa perjanjian Hudaibiyah. ‘Umar bin Khaththab </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">bertanya kepada Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَلَيْسَ كَانَ يُحَدِّثُنَا أَنَّا سَنَأْتِي البَيْتَ وَنَطُوفُ بِهِ؟</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Bukankah Engkau mengabarkan kepada kita bahwa kita akan mendatangi baitullah dan thawaf di sana?”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">بَلَى، أَفَأَخْبَرَكَ أَنَّكَ تَأْتِيهِ العَامَ؟</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Iya benar. Akan tetapi, appakah aku mengatakan kalau kita akan mendatanginya tahun ini?” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">‘Umar menjawab, “Tidak.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فَإِنَّكَ آتِيهِ وَمُطَّوِّفٌ بِهِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">‘Sesungguhnya Engkau akan mendatanginya dan thawaf di sana.” </span><b>(HR. Bukhari no. 2731 dan 2732) [1]</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/29341-revolusi-yang-tak-diimpikan.html" data-darkreader-inline-color="">Revolusi Yang Tak Diimpikan</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/27267-gemar-memakmurkan-masjid-sifat-orang-beriman.html" data-darkreader-inline-color="">Gemar Memakmurkan Masjid, Sifat Orang Beriman</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@FK UGM, 13 Syawwal 1440/17 Juni 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.Or.Id</a></span></strong></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Disarikan dari </span><b><i>Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah,</i></b> <span style="font-weight: 400;">karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullahu Ta’ala, </span></i><span style="font-weight: 400;">hal. 379-382.</span></p>
 