
<p>Dalam koperasi simpan pinjam, kita mengenal istilah SHU (Sisa Hasil Usaha). Apakah SHU dari koperasi seperti itu halal dimanfaatkan?</p>
<h4>
<span style="color: #ff0000;">Apa itu SHU?</span><b></b>
</h4>
<p>SHU koperasi adalah pendapatan koperasi yang diperoleh dalam satu tahun buku dikurang dengan biaya, penyusutan, dan kewajiban lain termasuk pajak dalam tahun buku yang bersangkutan.</p>
<p>Adapun perlakuan terhadap SHU adalah sisa hasil usaha setelah dikurangi dana cadangan, dibagikan kepada anggota sebanding dengan jasa usaha yang dilakukan oleh masing-masing anggota dengan koperasi, serta digunakan untuk pendidikan perkoperasian dan keperluan lain dari koperasi, sesuai dengan keputusan rapat anggota.</p>
<h4><span style="color: #ff0000;">SHU dari Simpan Pinjam</span></h4>
<p>Yang kita kritisi adalah sisa hasil usaha dari simpan pinjam.</p>
<p>Jika anggota atau pihak lain yang mengajukan pinjaman pada koperasi, lalu dikenai tambahan dari utang tersebut, ini hakekatnya adalah riba. Karena kaedah yang perlu kita ingat, setiap utang piutang yang ditarik keuntungan, maka itu adalah riba. Dan riba dihukumi haram.</p>
<p>Dalam hadits disebutkan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">كل قرض جر منفعة فهو حرام</p>
<p>“<i>Setiap utang piutang yang di dalamnya ada keuntungan, maka itu dihukumi haram.</i>” Hadits ini adalah hadits <i>dho’if</i> sebagaimana Syaikh Al Albani menyebut dalam <i>Dho’iful Jami’</i> no. 4244. Namun berdasarkan kata sepakat para ulama -sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Mundzir-, perkataan di atas benar adanya.</p>
<p>Ibnu Qudamah <i>rahimahullah </i>berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">وَكُلُّ قَرْضٍ شَرَطَ فِيهِ أَنْ يَزِيدَهُ ، فَهُوَ حَرَامٌ ، بِغَيْرِ خِلَافٍ</p>
<p>“<i>Setiap utang yang dipersyaratkan ada tambahan, maka itu adalah haram. <span style="text-decoration: underline;">Hal ini tanpa diperselisihkan oleh para ulama</span></i>.” (<i>Al Mughni</i>, 6: 436)</p>
<p>Kemudian Ibnu Qudamah membawakan perkataan berikut ini,</p>
<p>“Ibnul Mundzir berkata, “Para ulama sepakat bahwa jika orang yang memberikan pinjaman memberikan syarat kepada yang meminjam supaya memberikan tambahan atau hadiah, lalu transaksinya terjadi demikian, maka tambahan tersebut adalah riba.”</p>
<p>Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab, dari Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Abbas bahwasanya mereka melarang dari utang piutang yang ditarik keuntungan karena utang piutang adalah bersifat sosial dan ingin cari pahala. Jika di dalamnya disengaja mencari keuntungan, maka sudah keluar dari konteks tujuannya. Tambahan tersebut bisa jadi tambahan dana atau manfaat.” Lihat <i>Al Mughni</i>, 6: 436.</p>
<p>Jadi walaupun dinamakan sisa hasil usaha, namun kalau hakikatnya adalah riba, maka hukumnya jelas haram.</p>
<h4>
<span style="color: #ff0000;"><b>Perhatikan Hakekat</b></span><b></b>
</h4>
<p>Seorang muslim harus cerdas melihat hakikat suatu transaksi, yaitu apa yang sebenarnya terjadi, bukan hanya melihat istilah atau nama. Karena istilah dan embel-embel syar’i kadang menipu. Dikatakan bagi hasil atau sisa hasil usaha, namun kalau ditilik, yang nyata itu adalah riba. Karena di dalamnya yang terjadi adalah utang-piutang (bukan jual beli) dan ditarik keuntungan. Itulah riba.</p>
<p>Adapun jika pendapatan koperasi bercampur antara hasil usaha riil dengan simpan pinjam, maka pendapat seperti itu harus dipisahkan. Yang haram tersebut mesti dibersihkan dengan disalurkan pada kemaslahatan kaum muslimin, bukan dimanfaatkan oleh anggota secara pribadi. Tentu saja SHU seperti itu mesti dihapus dan hendaklah semakin bertakwa pada Allah dengan meninggalkan yang haram.</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Ancaman Bagi Para Rentenir</b></span></h4>
<p>Jika koperasi menarik keuntungan dari simpan pinjam, maka hakekatnya koperasi hanyalah sebagai rentenir, namun berkedok usaha resmi. Rentenir ini terkena ancaman laknat dalam hadits,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ.</p>
<p>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba.” Kata beliau, “Semuanya sama dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1598).</p>
<p>Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, “Dalam hadits di atas bisa disimpulkan mengenai haramnya saling menolong dalam kebatilan.” (<em>Syarh Shahih Muslim</em>, 11: 23).</p>
<p style="text-align: center;"><em>Hanya Allah yang memberi taufik.</em></p>
<p>—</p>
<p>Selesai disusun 25 Rabi’ul Awwal 1435 H, di <a href="http://darushsholihin.com/">Pesantren Darush Sholihin, Gunungkidul</a></p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="https://muslim.or.id/">Muslim.Or.Id</a></p>
 