
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan </span><i><span style="font-weight: 400;">ḥafiẓahullāh</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan bahwa kitab tauḥīd termasuk karya terbaik sang penulis dari sekian banyak karya-karya beliau.</span> <span style="font-weight: 400;">Hal ini sebagaimana yang diungkapkan Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan </span><i><span style="font-weight: 400;">ḥafiẓahullāh </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan bahwa</span> <span style="font-weight: 400;">Kitābut Tauḥīd adalah tulisan terbaik dari Syaikh Al-Mujaddid Muḥammad bin ‘Abdul Wahhāb[1. <em>I’ānatul Mustafīd bi Syarḥ Kitābit Tauḥīd</em>, Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan, hal.12].</span><span style="font-weight: 400;"> Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan </span><i><span style="font-weight: 400;">ḥafiẓahullāh </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan</span> <span style="font-weight: 400;">bahwa kitab ini ditulis untuk menjelaskan tauḥīd ulūhiyyah, yaitu mengesakan Allāh dalam peribadatan dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya (syirik) serta berlepas diri dari kesyirikan tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam kitab ini juga dijelaskan mengenai syirik</span> <span style="font-weight: 400;">akbar, sebuah perkara yang bertentangan dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">tauḥīd</span></i><span style="font-weight: 400;">, dan perkara yang mengurangi kesempurnaannya yang wajib, berupa syirik kecil atau yang mengurangi kesempurnaan (tauḥīd) yang sunnah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh (sang penulis) mengkhususkan pada pembahasan tauḥīd jenis ini (</span><i><span style="font-weight: 400;">ulūhiyyah</span></i><span style="font-weight: 400;">), karena tauḥīd jenis inilah yang memasukkan seseorang ke dalam Islam[2. Tentunya maksud Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan disini adalah tauḥīd ulūhiyyah yang mengandung tauḥīd Rububiyyah dan Al-Asma` waṣ ṣifat, karena tidaklah boleh seseorang meninggalkan tauḥīd, walaupun hanya satu macam saja]</span><span style="font-weight: 400;"> dan menyebabkan ia selamat dari azab Allāh.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tauḥīd (</span><i><span style="font-weight: 400;">ulūhiyyah</span></i><span style="font-weight: 400;">) merupakan tujuan diutusnya para rasul (</span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihimuṣ ṣalātu was salām</span></i><span style="font-weight: 400;">) sekaligus tujuan diturunkannya kitab-kitab Allāh serta merupakan jenis tauḥīd yang diselisihi oleh kaum musyrikin pada setiap zaman dan tempat. Adapun jenis tauḥīd </span><i><span style="font-weight: 400;">rubūbiyyah</span></i><span style="font-weight: 400;">, maka kaum musyrikin pun mengakuinya, namun hal itu tidaklah memasukkan mereka ke dalam Islam[3. I’ānatul Mustafīd bi Syarḥ Kitābit Tauḥīd, Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan, hal.12-13].</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Para ulama </span><i><span style="font-weight: 400;">raḥimahumullāh </span></i><span style="font-weight: 400;">memandang Kitab Tauḥīd ini memiliki nilai ilmiyyah yang sangat tinggi, hal itu dapat diketahui dari banyak sisi, di antaranya adalah sebagai berikut.</span></p>
<p><b>1. Bersumber dari Al-Qur`ān dan As-Sunnah Dengan Pemahaman </b><b><i>Salafuṣ Ṣāliḥ</i></b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan ḥafiẓahullāh menjelaskan bahwa pentingnya kitab ini nampak dari sisi ini isinya yang ditulis berdasarkan dalil dari ayat-ayat Al-Qur`ān dan hadis-hadis dari As-Sunnah, sehingga tidaklah bisa dikatakan bahwa kitab ini berasal dari ajaran fulan atau ajaran dari Ibnu Abdil Wahhab (Wahabi). Bahkan yang benar adalah (isi) kitab ini adalah Kalāmullāh, sabda Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dan ucapan para imam kaum muslimin (dari kalangan sahabat dan selain mereka, pent). Demikianlah selayaknya penulisan (tulisan ilmiyyah yang baik)[4. <em>I’ānatul Mustafīd bi Syarḥ Kitābit Tauḥīd</em>, Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan, hal.18.].</span></p>
<p><b>2. Semua Makna Hadis yang Dinukil adalah Sahih</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadis yang beliau bawakan terbagi menjadi dua:</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Sahih atau hasan derajatnya dan ṣahih maknanya.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Tidak sahih atau tidak hasan derajatnya, namun sahih ditinjau dari sisi makna yang menjadi inti pembahasan, karena sesuai dengan kaedah umum dalam syari’at Islam.</span></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan </span><i><span style="font-weight: 400;">ḥafiẓahullāh </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan bahwa </span><span style="font-weight: 400;">penulis tidaklah membawakan dalam kitab ini kecuali</span> <span style="font-weight: 400;">hadis-hadis yang sahih</span><i><span style="font-weight: 400;">,</span></i><span style="font-weight: 400;"> hasan atau</span> <span style="font-weight: 400;"><em>dha’if</em> (lemah) yang memiliki penguat atau (makna secara umum) hadis dha’if tersebut masuk didalam kaedah umum yang didukung Al Quran dan As-Sunnah[5. <em>I’ānatul Mustafīd bi Syarḥ Kitābit Tauḥīd</em>, Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan, hal.13].</span></p>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
<p>___</p>
 