
<p>Israil (Ya’qub) dan Bani Israil dahulu masih diperkenankan mengharamkan yang halal dalam bentuk nadzar. Untuk syariat kita saat ini tidak boleh.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلًّا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ إِلَّا مَا حَرَّمَ إِسْرَائِيلُ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ تُنَزَّلَ التَّوْرَاةُ قُلْ فَأْتُوا بِالتَّوْرَاةِ فَاتْلُوهَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ</p>
<p>“<em>Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya’qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah: “(Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kamu orang-orang yang benar.”</em> (QS. Ali Imran: 93)</p>
<p> </p>
<h4>Faedah yang bisa diambil dari ayat di atas:</h4>
<ul>
<li>Hukum asal makanan itu halal sampai datang dalil yang mengharamkannya.</li>
<li>Asalnya makanan, juga minuman halal bagi Israil (Ya’qub) dan keturunannya kecuali yang diharamkan oleh Israil (Ya’qub) dalam bentuk nadzar.</li>
<li>Maksiat itulah yang menyebabkan ujian pada hamba baik ujian yang sifatnya syar’i maupun qadari.</li>
<li>Untuk syariat sebelum kita, masih diperkenankan meninggalkan yang halal dalam rangka ibadah pada Allah. Sedangkan syari’at kita saat ini, setiap yang baik (<em>thayyib</em>) bagi kita itu halal untuk kita konsumsi. Tidak boleh saat ini bernadzar yang bentuknya enggan menyantap yang halal-halal. Yang diharamkan bagi kita saat ini adalah yang <em>khabaits </em>(najis dan kotor).</li>
<li>Keutamaan umat Islam saat ini karena segala yang baik dihalalkan untuk kita.</li>
<li>Dalam syari’at kita saat ini, setiap bentuk ibadah dengan mengharamkan yang halal dilakukan dalam bentuk nadzar, termasuk bid’ah dan kesesatan.</li>
<li>Menghalalkan dan mengharamkan adalah hak Allah <em>Ta’ala</em>.</li>
<li>Ayat ini sebagai bantahan bagi Yahudi yang menganggap tidak ada lagi nasikh dan mansukh (ayat yang menghapus dan dihapus).</li>
</ul>
<p>Dengan merenungkan hal ini, kita akan semakin bersyukur dengan syariat kita. <em>Walhamdulillah.</em></p>
<p>Semoga faedah ayat ini bermanfaat. Semoga semakin semangat untuk merenungkan Al-Qur’an.</p>
<p><strong> </strong></p>
<h4>Referensi:</h4>
<p><em>Tafsir Al-Qur’an Al-Karim (Surat Ali Imran)</em>. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.</p>
<p><em>Tafsir Az-Zahrawain (Al-Baqarah wa Ali ‘Imran).</em> Cetakan pertama, tahun 1437 H. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Al-‘Ubaikan.</p>
<p>—</p>
<p><a href="http://darushsholihin.com/">@ Perpus DS, Panggang</a>, Jumat Pagi, 14 Ramadhan 1438 H</p>
<p>Oleh: <a href="http://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://rumaysho.com">Rumaysho.Com </a></p>
 