
<p>Puasa Tasu’ah dan Asyura (9 dan 10 Muharram) jatuh pada Rabu dan Kamis besok, 13 dan 14 November. Jangan lupa untuk melakukannya karena puasa tersebut memiliki keutamaan yang besar dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu.</p>
<p>  <!--more-->  </p>
<p><span style="line-height: 1.3em;">Dari Abu Qotadah Al Anshoriy, berkata,</span></p>
<p align="center"><span style="font-size: medium;"><span style="color: #800000;">وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ</span></span></p>
<p>“<em>Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu</em>.” (HR. Muslim no. 1162).</p>
<p>Kata Imam Nawawi <em>rahimahullah</em>, yang dimaksudkan pengampunan dosa di sini adalah dosa kecil sebagaimana beliau penerangkan masalah pengampunan dosa ini dalam pembahasan wudhu. Namun diharapkan dosa besar pun bisa diperingan dengan amalan tersebut. Jika tidak, amalan tersebut bisa meninggikan derajat seseorang. Lihat <em>Syarh Shahih Muslim</em>, 8: 46.</p>
<p>Adapun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat secara mutlak setiap dosa bisa terhapus dengan amalan seperti puasa Asyura. Lihat <em>Majmu’ Al Fatawa</em> karya Ibnu Taimiyah, 7: 487-501.</p>
<p>Sebaiknya puasa Asyura ditambahkan dengan puasa tasu’ah, pada hari ke-9 Muharram, tujuannya adalah untuk menyelisihi orang Yahudi yang berpuasa hanya sehari pada tanggal 10 Muharram.</p>
<p>Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ’anhuma</em> berkata bahwa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata, <span style="line-height: 1.3em;">“Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan, </span><span style="line-height: 1.3em;">“Apabila tiba tahun depan –</span><em>insya Allah (jika Allah menghendaki)</em><span style="line-height: 1.3em;">– kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan,</span></p>
<p align="center"><span style="font-size: medium;"><span style="color: #800000;">فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.</span></span></p>
<p>“Belum sampai tahun depan, Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> sudah keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim no. 1134)</p>
<p>Kenapa sebaiknya menambahkan dengan hari kesembilan untuk berpuasa? Kata Imam Nawawi <em>rahimahullah</em>, para ulama berkata bahwa maksudnya adalah untuk menyelisihi orang Yahudi yang cuma berpuasa tanggal 10 Muharram saja. Itulah yang ditunjukkan dalam hadits di atas. Lihat <em>Syarh Shahih Muslim</em>, 8: 14.</p>
<p>—</p>
<p>Tahun ini (1435 H), tanggal 9 dan 10 Muharram jatuh pada hari <strong>Rabu dan Kamis (13 dan 14 November 2013)</strong>. Semoga kita bisa menjalaninya dan jangan lupa sampaikan pada istri, anak, kerabat dan rekan-rekan muslim lainnya.</p>
<p><em>Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.</em></p>
<p><em>—</em></p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel RemajaIslam.Com</p>
 